Peringatan 50 Tahun Perang Enam Hari Israel

(Berita Mingguan GITS 3 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Minggu depan adalah momen 50 tahun sejak Perang Enam Hari yang dialami Israel secara ajaib. Dalam perang ini, negara kecil tersebut mengalahkan kekuatan militer koalisi dari Mesir, Yordania, Siria, dan Irak (dengan Arab Saudi, Sudan, Tunisia, Moroko, dan Algeria menyumbangkan tentara dan persenjataan). Israel terpaksa menghadapi perang oleh karena keberingasan negara-negara di atas yang bersumpah untuk menghancurkannya. Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, pemimpin koalisi tersebut, mengatakan, “Tujuan dasar kita adalah kehancuran Israel” (Isi Leibler, The Case For Israel, 1972, hal. 60). Tentara Israel yang sejumlah 275.000 orang menghadapi tentara musuh sejumlah 456.000 orang, pada tiga front. Aliansi Arab memiliki tiga kali lebih banyak tank, dan empat kali lebih banyak pesawat tempur. Sementara Amerika dan Perancis memaksakan embargo senjata pada Israel, Uni Soviet membanjiri negara-negara Arab dengan materi perang senilai $2 milyar. Walaupun menghadapi semua itu, Israel mengalahkan tentara gabungan musuh tersebut. Negara-negara penyerang mengalami kematian 18.000 tentara, dibandingkan dengan 760 dari pihak Israel. Ini adalah salah satu kemenangan yang paling berat sebelah dalam sejarah militer, dan banyak keajaiban terjadi. Sebagai contoh, ketika Yordanis mencoba untuk memberi peringatan kepada Mesir tentang serangan Israel terhadap angkatan udaranya yang segera akan terjadi, terjadi kekacauan dalam kode rahasia yang dipakai, dan peringatan itu akhirnya tidak dipahami. Ketika pasukan Israel memasuki kota strategis Sikhem, orang-orang Palestina di sana mengira itu adalah pasukan Irak, dan mereka bersorak sorai. Ketika mereka menyadari kesalahan mereka, sudah terlambat. Israel memenangkan daerah Sinai, Gaza, dan dataran tinggi Golan, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, sehingga menambah wilayahnya sejumlah lebih dari tiga kali lipat. Untuk perama kalinya dalam 2000 tahun, Israel mengendalikan Yerusalem. Koresponden militer untuk koran berhaluan kiri Israel, Haaretz, mengobservasi, “Bahkan seorang yang tidak beragama pun harus mengakui bahwa perang ini dilaksanakan dengan bantuan Sorga” (“Miracles in the Six-Day War: Eyewitness Accounts,” Arutz Sheva, 14 Mei 2007).

Negara Israel modern sekarang ini bukanlah suatu bangsa yang benar dan eksistensi mereka belumlah menggenapi nubuat tentang Kerajaan. Israel telah melakukan banyak hal luar biasa terhadap tanah tandus mereka melalui kerja keras dan teknologi yang maju, tetapi padang belantara yang bersorak dan berbunga di Yesaya 35 bukanlah membicarakan teknologi irigasi tetes dan mesin desalinasasi. Mayoritas orang Yahudi hari ini adalah “sekuler,” sementara kelompok minoritasnya adalah berbagai macam ortodoks, yang berarti mereka mengikuti Talmud, bukan Kitab Suci. Tel Aviv adalah semacam ibukota homoseksual yang terkenal. Israel belumlah kembali ke tanah mereka dalam penggenapan Janji Kerajaan [Daud]; mereka kembali ke tanah mereka dalam penggenapan nubuat hebat dalam Yehezkiel 37, yang mengajarkan bahw Israel akan kembali dari keterserakan mereka di seluruh dunia, yang digambarkan sebagai suatu lembah kematian, dalam dua tahapan. Dalam tahapan pertama, mereka akan kembali dalam kondisi yang masih mati rohani (ayat 7-10). Ayat 8 berkata, “…lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, TETAPI MEREKA BELUM BERNAFAS” (Yeh. 37:8). Ini persis kondisi Israel hari ini, dan persis menyatakan posisi Israel dalam nubuat hari ini. Situasi Israel saat ini diperlukan untuk mengantarkan pada penggenapan tujuh tahun terakhir dalam nubuat tujuh puluh kali tujuh tahun oleh Daniel (Dan. 9:24-27). Mereka sedang mempersiapkan pembangunan bait suci ketiga, dan mereka sedang mencari seorang “mesias” yang memberikan perdamaian dan membangun kembali Bait, yang akan dilakukan oleh Antikristus pada awal pemerintahannya. Israel hari ini tidak diselamatkan, dan mereka tidak akan diselamatkan hingga mereka bertobat dan mengakui Yesus sebagai Mesias, dan ini akan terjadi di Masa Kesusahan Yakub (Yer. 30:7) yaitu masa Tribulasi. Pertobatan dan kembalinya mereka digambarkan dalam Zakharia 12:9-14. Allah Yehovah mengatakan, “…dan mereka akan memandang kepada dia [dalam bahasa asli: aku] yang telah mereka tikam” (Zak. 12:10). Yang mereka tikam tentu tidak lain dari Yesus orang Nazaret, sang Kristus, Allah yang menyatakan diri dalam daging (Yes. 7:14) dan Allah yang mahakuasa (Yes. 9:6-7).

This entry was posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel. Bookmark the permalink.

1 Response to Peringatan 50 Tahun Perang Enam Hari Israel

  1. Kayla says:

    Amin….saya percaya akan nubuatan dalam Alkitab dan saya juga percaya saya akan ada di sana, di tanah perjanjian walaupun itu mustahil untuk terjadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *