Metode Pembaptisan

Bolehkah Pemercikan, Penuangan, atau Cara-Cara Lain, Menggantikan Pembaptisan?

oleh Dr. Steven E. Liauw

Topik pembaptisan memang adalah topik yang banyak menjadi bahan diskusi, bahkan perdebatan, dalam kekristenan. Ada banyak aspek dari baptisan yang diperdebatkan, misalnya, makna baptisan (apakah perlu untuk keselamatan, untuk apa dibaptis), siapa yang boleh dibaptis (subjek baptisan), metode pembaptisan (selam, tuang, percik, kibar bendera?), atau siapa yang berhak membaptis. Pada artikel ini, pembahasan akan difokuskan pada Metode/Mode Pembaptisan, sedangkan aspek-aspek lain tidak akan dibahas, atau hanya akan disinggung sekilas saja.

Mengenai bagaimana cara membaptis (metode/mode baptisan), ada beberapa posisi, antara lain:

A. Posisi bahwa membaptis berarti menyelamkan/membenamkan, sesuai dengan arti kata baptizo, sehingga jika seseorang tidak dimasukkan ke dalam (air), maka orang itu belum dibaptis (air). Artikel ini memegang posisi pertama ini, dan akan memperlihatkan alasan dan argumen alkitabiahnya.

B. Posisi bahwa memang kata baptizo berarti menyelamkan, tetapi bahwa hal ini tidak terlalu penting untuk dipertahankan, karena yang penting adalah “makna” baptisan, bukan caranya.

C. Posisi bahwa kata baptizo bukan hanya berarti menyelamkan, tetapi bisa berarti hal-hal lain, seperti mencuci, atau bahkan memercik dan menuang. Oleh karena itu, baptisan bisa dengan cara menyelamkan, mencurahkan, atau memercik.

D. Posisi bahwa baptisan yang benar (atau lebih benar) adalah melalui pemercikan/pencurahan, dan bahwa praktek penyelaman justru adalah salah, atau minimal kurang disetujui. Posisi ini sering mengetengahkan bahwa Tuhan Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama dipercik atau dituang.

Posisi A dan D saling bertolak belakang secara fundamental, sedangkan posisi B dan C memperbolehkan baik penyelaman maupun cara-cara lain seperti pemercikan dan pencurahan. Tentunya keempat posisi ini tidak mungkin semuanya benar. Banyak orang yang menentukan posisinya berdasarkan tradisi gerejanya, tetapi kebenaran hanya dapat ditentukan berdasarkan fakta-fakta, dan terutama fakta-fakta dalam Alkitab. Tuhan Yesus memerintahkan agar orang-orang yang percaya padaNya menjadikan segala bangsa muridNya dan menyelamkan mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berikut adalah dasarnya:

I. Alkitab menggunakan kata baptizo

Tidak diperdebatkan bahwa Tuhan memerintahkan agar orang Kristen membaptis. Jadi, langkah yang paling mendasar dan pertama adalah untuk memahami apa arti dari kata “baptis.” Untuk memahami arti suatu kata, diperlukan kamus, atau penyelidikan langsung tentang bagaimana suatu kata dipakai.

Perlu dipahami bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, dan kata “baptis” berasal dari kata Yunani baptizo. Dulu orang pernah berpikir bahwa Alkitab ditulis dengan suatu bahasa Yunani yang spesial, yang ilahi, yang tidak dikenal oleh orang pada umumnya. Tetapi ini adalah asumsi yang salah, dan dengan berkembangnya ilmu Arkeologi, dan ditemukannya berbagai papirus dan dokumen-dokumen Yunani dari sekitar abad pertama, ditemukan bahwa bahasa Yunani dalam Perjanjian Baru sama dengan bahasa Yunani yang umum dipakai pada waktu itu, sehingga disebut Yunani Koine (Koine artinya umum atau biasa). Demikian juga, kata baptizo bukanlah suatu kata yang spesial, melainkan kata yang umum dipakai dan memiliki arti yang umum diketahui orang.

Penting untuk diingat bahwa yang harus dicari adalah makna kata baptizo dalam bahasa Yunani dalam pemakaiannya pada abad pertama, atau pada masa sekitar penulisan Alkitab. Jika seseorang mencari arti kata “baptis” berdasarkan kamus modern, maka ia akan sampai pada kesimpulan yang salah, karena kamus modern mempertimbangkan pemakaian kata “baptis” di dunia kekristenan selama 2000 tahun terakhir, yang bisa jadi memasukkan arti-arti yang tidak ada pada baptizo di abad pertama. Sebagai contoh, dalam kamus Merriam-Webster online (www.merriam-webster.com, Juni 2017), definisi dari “baptize” sebagai kata kerja transitif adalah sebagai berikut:

1 religion : to administer baptism (see baptism 1) to baptize a child in the Episcopal Church was baptized a Catholic as an infant

2a : to purify or cleanse spiritually especially by a purging (see 1purge 1) experience or ordeal … baptized with pain and rapture, tears and fire … — Sidney Lanier

b : initiate Both developments were baptized under last season’s conditions of scanty snow … — New York Times

3 : to give a name to (as at baptism) :  christen They baptized their son “John” after the baby’s grandfather.

Arti pertama yang diberikan oleh Merriam-Webster tidak banyak membantu, karena menggunakan ulang kata “baptisan” dalam definisi apa itu “membaptis.” Selanjutnya, dapat juga terlihat, bahwa kata “membaptis” modern ini bisa berarti memberi nama kepada seorang bayi (arti ketiga), atau memurnikan, membersihkan secara rohani terutama melalui suatu pengalaman yang mengikis, atau bahkan memulai sesuatu (arti kedua). Jelas akan terlihat nanti, bahwa kedua arti ini sama sekali tidak ada dalam kata baptizo pada waktu penulisan Alkitab, melainkan adalah perkembangan arti “membaptis” setelah dipraktekkan oleh berbagai denominasi gereja.

Berikut ini adalah definisi dari baptizo berdasarkan beberapa lexicon/kamus Yunani yang berfokus ke abad pertama:

1. Lexicon Liddell-Scott. Lexicon Liddell-Scott ini sangat berguna, karena ini lexicon Yunani umum, jadi bukan lexicon Alkitab saja. Ada banyak Lexicon Yunani yang hanya berfokus pada Alkitab (yaitu hanya mendefinisikan kata-kata yang ada dalam Alkitab), tetapi Liddell-Scott mencakup semua tulisan Yunani kuno. Liddell-Scott mendefinisikan baptizo sebagai berikut: “to dip in or under water,” dengan kata lain “mencelupkan ke dalam atau ke bawah air.” Liddell-Scott juga memberikan pemakaian metaforik, seperti terbaptis (terbenam) dalam hutang, atau dalam anggur.1

2. Lexicon Thayer.

1. properly, to dip repeatedly, to immerge, submerge (of vessels sunk, Polybius 1, 51, 6; 8, 8, 4; of animals, Diodorus 1, 36). 2. to cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water; in the middle and the 1 aorist passive to wash oneself, bathe; so Mark 7:4 (where WH text ???????????); Luke 11:38 (2 Kings 5:14 ?????????? ?? ?? ???????, for ?????; Sir. 31:30 (Sir. 34:30; Judith 12:7). 3. metaphorically, to overwhelm,

Dalam definisi pertama, Thayer memberikan arti yang proper, yang mendasar dan fundamental, dari kata baptizo, yaitu untuk mencelupkan, membenamkan, menyelamkan. Thayer menambahkan bahwa kata baptizo juga bisa berarti “mencuci” atau “membasuh” dengan cara mencelupkan atau membenamkan. Juga ada arti metaforis, yaitu overwhelm (terlingkupi oleh sesuatu). Terlihat bahwa dalam semua arti ini, arti dasar yaitu “membenam” ke dalam sesuatu, tidaklah hilang.

3. Definisi Strong.

1) to dip repeatedly, to immerse, to submerge (of vessels sunk) 2) to cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water, to wash one’s self, bathe 3) to overwhelm

Definisi yang diberikan oleh Strong tidak jauh berbeda dari Thayer. Arti dasar dari baptizo adalah mencelupkan atau menyelamkan, dan dapat juga berarti membersihkan dengan cara membenamkan.

4. Kumpulan lexicon lain. Berikut adalah ringkasan dari sejumlah lexicon tentang arti baptizo.2

1. Bagster’s Lexicon, baptizo: to dip, immerse.

2. Bass’ Lexicon, baptizo: to dip, immerse, or plunge in water.

3. Bloomfield’s Lexicon, baptizo: to immerse, or sink anything in water, or other liquid.

4. Bretschneider’s Lexicon, baptizo: to immerse into water, to submerge.

5. Bullinger’s Lexicon, baptizo: to immerse for a religious purpose.

6. Constantine’s Lexicon, baptizo: immerse, plunge, dip.

7. Cremer’s Lexicon, baptizo: immerse, submerge.

8. Dawson’s Lexicon, baptizo: to dip or immerse in water.

9. Dunbar’s Lexicon, baptizo: to dip, immerse, submerge, plunge, sink, overwhelm.

10. Green’s Lexicon, baptizo: to dip, immerse, to cleanse or purify by washing.

11. Greenfield’s Lexicon, baptizo: to immerse, immerge, submerge, sink.

12. Grimm’s Lexicon, baptizo: to cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water.

13. Groves’ Lexicon, baptizo: to dip, immerse, immerge, plunge, to wash.

14. Hedericus’ Lexicon, baptizo: plunge, immerse, cover with water.

15. Jones’ Lexicon, baptizo: I plunge-plunge in water, dip.

16. Leigh’s Lexicon, baptizo: the native and proper signification of it is to dip into water, or to plunge under water.

17. Liddell and Scott’s Lexicon, baptizo: to dip in or under water.

18. Maltby’s Lexicon, baptizo: immergo, to plunge, to immerse.

19. Parkhust’s Lexicon, baptizo: to dip, immerge, or plunge in water.

20. Pickering’s Lexicon, baptizo: to dip, to dip under, to plunge, to steep, dye, or color.

21. Robinson’s Lexicon, baptizo: to immerse, to sink.

22. Robson’s Lexicon, baptizo: to dip in, immerse, to tinge, dye.

23. Scapula’s Lexicon, baptizo: to dip, to immerse.

24. Schleusner’s Lexicon, baptizo: properly, to immerse, to dip in, to dip into water.

25. Schrevelius’ Lexicon, baptizo: to baptize, dip, immerse, wash, cleanse.

26. Sophocles’ Lexicon, baptizo: to dip, to immerse, to sink.

27. Stephanus’ Lexicon, baptizo: plunge, immerse, likewise dip which is done by plunging.

28. Stockius’ Lexicon, baptizo: generally and by force of the word it has the notion of dipping in and of immersing.

29. Thayer’s Lexicon, baptizo: to dip repeatedly, to immerge, submerge.  To cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water.

30. Wright’s Lexicon, baptizo: dip, immerse, plunge, saturate, baptize, humble, overwhelm.

5. Kesaksian para pemercik

Ada orang-orang yang mempraktekkan pemercikan (karena tradisi), tetapi cukup jujur untuk mengakui bahwa baptizo memiliki arti menyelamkan. Contoh yang terkenal adalah tokoh-tokoh Reformasi. Kalvin, Luther, dan Beza, adalah tokoh-tokoh reformasi, dan kesaksian mereka signifikan karena pada zaman itu orang-orang terpelajar memang fasih dengan bahasa Yunani karena bahasa Yunani adalah salah satu bahasa akademia yang wajib dipelajari. Jadi, orang-orang ini sangat familiar dengan kata-kata Yunani, termasuk baptizo. Tambahan lagi, mereka ini adalah orang-orang yang memercik, sehingga tidak memiliki kepentingan theologis untuk mendukung posisi kaum Baptis, tetapi ketulusan akademia mereka membuat mereka mengakui arti kata baptizo yang sebenarnya.

Kalvin berkata:

“The word baptize, signifies to immerse; and the rite of immersion was observed by the ancient church.” (Institutes of Christian Religion, book iv, ch. 15). Terjemahan: “Kata membaptis berarti menyelamkan; dan ritus penyelaman dilakukan oleh gereja mula-mula.”

Luther memberi pernyataan berikut:

“The term baptism, is a Greek word. It may be rendered a dipping, when we dip something in water, that it may be entirely covered with water. And though the custom be quite abolished among the generality (for neither do they entirely dip children, but only sprinkle them with a little water,) nevertheless they ought to be wholly immersed, and presently to be drawn out again; for the etymology of the word seems to require it” (dalam karyanya De Sacramento Baptismi dikutip dari karya Dr. Du Veil tentang Kis. 8:38). Terjemahan: “Istilah baptisan, adalah kata Yunani. Ia dapat diterjemahkan suatu pencelupan, [seperti] ketika kita mencelupkan sesuatu ke dalam air, sehingga seluruhnya tertutup oleh air. Dan walaupun kebiasaan ini sudah hampir hilang pada umumnya (karena mereka tidak mencelupkan anak-anak sepenuhnya, tetapi hanya memercik mereka dengan sedikit air,) namun mereka seharusnya sepenuhnya diselamkan, dan segera ditarik keluar lagi; karena etimologi kata ini kelihatannya mengharuskan demikian.”

Beza:

“Christ commanded us to be baptized; by which word it is certain immersion is signified . . . . Nor does baptizein signify to wash, except by consequence: for it properly signifies to immerse . . . To be baptized in water, signifies no other than to be immersed in water, which is the external ceremony of baptism” (Epistola II. ad Thom. Tilium, [apud Spanhem. Dub. Evang. Pars iii. Dub. 24] Annotat. in Marc. vii. 4. Acts xix. 3; Matt. Iii. 11., dikutip dalam Abraham Booth, Paedobaptism Examined, vol 1. hal. 42). Terjemahan: “Kristus memerintahkan kita untuk dibaptis; dengan kata ini sudah pasti penyelaman yang dimaksudkan . . . . Dan baptizein tidak berarti mencuci, kecuali sebagai konsekuensi [dari penyelaman]: karena tepatnya dia berarti menyelamkan . . . Dibaptis dalam air berarti tidak lain dari diselamkan di dalam air, yang adalah seremoni eksternal baptisan.”

 

6. Pemeriksaan Data Literatur

Karena kaum pemercik sering terus mempermasalahkan arti dari baptizo, seorang Kristen yang sekaligus adalah ahli bahasa Yunani, Thomas Jefferson Conant, memutuskan untuk melakukan studi yang menyeluruh (exhaustive) terhadap makna dari kata baptizo. Dia berkonsultasi dengan semua tulisan-tulisan Yunani kuno yang tersedia, dan mencari penggunaan kata baptizo dalam semua literatur Yunani kuno yang tersedia. Dengan demikian, dia mendaftarkan semua penggunaan baptizo dalam literatur waktu itu, dan menyelidiki artinya dalam konteks masing-masing.

Dia menarik kesimpulan berikut setelah menyelesaikan penelitiannya yang menyeluruh, yang melibatkan ratusan kutipan dari buku-buku Yunani kuno: (T.J. Conant, The Meaning and Use of Baptizein, Wakeman Great Reprints, 2002, hal. 105-106).

1. From the preceding examples it appears, that the ground-idea expressed by this word is, to put into or under water (or other penetrable substance), so as entirely to immerse or submerge; that this act is always expressed in the literal application of the word, and is the basis of its metaphorical uses. This ground-idea is expressed in English, in the various connections where the word occurs, by the terms (synonymous in this ground-element) to immerse, immerge, submerge, to dip, to plunge, to inbathe, to whelm.

2. These examples are drawn from writers in almost every department of literature and science; from poets, rhetoricians, philosophers, critics, historians, geographers; from writers on husbandry, on medicine, on natural history, on grammar, on theology; from almost every form and style of composition, romances, epistles, orations, fables, odes, epigrams, sermons, narratives; from writers of various nations and religions, Pagan, Jew, and Christian, belonging to many different countries, and through a long succession of ages.

3. In all, the word has retained its ground meaning, without change.From the earliest age of Greek literature down to its close (a period of about two thousand years), not an example has been found, in which the word has any other meaning. There is no instance, in which it signifies to make a partial application of water by affusion or sprinkling, or to cleanse, to purify, apart from the literal act of immersion as the means of cleansing or purifying.

i. Dari contoh-contoh sebelumnya terlihat bahwa ide dasar yang diekspresikan oleh kata ini adalah, memasukkan ke dalam atau ke bawah air (atau zat lainnya yang dapat ditembusi), sehingga secara keseluruhan membenamkan atau menyelamkan; bahwa aksi ini selalu diekspresikan dalam aplikasi literal dari kata ini, dan adalah dasar dari pemakaian metaforikanya. Ide dasar ini diekspresikan dalam bahasa Inggris, dengan berbagai hubungan dalam munculnya kata ini, dengan istilah-istilah (yang sinonim dengan elemen dasar ini) to immerse, immerge, submerge, to dip, to plunge, to inbathe, to whelm.

ii. Contoh-contoh ini diambil dari penulis-penulis dari hampir semua departemen literatur dan sains; dari pujangga-pujangga, pembicara-pembicara, filsuf-filsuf, kritikus-kritikus, sejarahwan-sejarahwan, ahli-ahli geografi; dari orang-orang yang menulis tentang peternakan, tentang obat-obatan, tentang sejarah alam, tentang grammar, tentang theologi; dari hampir semua bentuk dan gaya komposisi, romansa, surat-surat, orasi, fabel, lagu-lagu, epigram, khotbah-khotbah, narasi-narasi; dari penulis-penulis dari berbagai negara dan agama, Kafir, Yahudi, dan Kristen, yang ada di berbagai negara berbeda, dan melalui zaman-zaman yang panjang.

iii. Dalam semuanya itu, kata ini telah mempertahankan arti dasarnya, tanpa perubahan. Dari zaman literatur Yunani yang paling awal hingga selesainya (suatu periode hampir dua ribu tahun), tidak ada satu contoh pun ditemukan, yang di dalamnya kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Tidak ada contoh, yang di dalamnya kata ini berarti memakai air secara parsial melalui pencurahan atau pemercikan, atau untuk membersihkan, memurnikan, tanpa ada tindakan literal memasukkan ke dalam air, sebagai cara pembersihan atau pemurnian.

Penelitian yang dilakukan oleh Conant ini sudah dipublikasikan sejak tahun 1860an, dan terbuka untuk dikritik ataupun dibantah oleh siapapun. Pada kenyataannya, tidak ada yang sanggup membantahnya hingga hari ini.

Dari data-data di atas, sudah muncul kesimpulan bahwa arti dari baptizo adalah menyelamkan, mencelupkan, atau membenamkan. Medium pencelupan tidak diatur oleh kata baptizo itu dengan sendirinya, tetapi untuk tujuan upacara Kristen, jelas mediumnya adalah air (lihat misal Kis. 10:47; Yoh. 3:23). Dengan demikian, dari empat posisi yang disebut pada awal artikel, posisi D jelas salah.

Namun demikian, orang-orang yang mendukung pemercikan atau pencurahan, terkadang belum bisa menerima fakta ini, dan masih mempermasalahkan definisi dari baptizo. Jadi, berikut ini akan dijawab beberapa sanggahan mereka.

 

7. Menjawab sanggahan terhadap definisi baptizo

a. Markus 7:4 “dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga [dan meja-meja]” (Mar. 7:4 dengan tambahan dari TR di akhir).

Kata “membersihkan” berasal dari kata baptizo dan kata “hal mencuci” berasal dari kata baptismos. Para pemercik sering menggunakan ayat ini untuk berkata bahwa ini bukti baptizo bisa berarti mencuci, atau mencurah, atau memercik. Tetapi, sebenarnya ayat ini tidak mendukung pola pikir seperti itu. Dalam Lexicon dan kamus-kamus Yunani kuno, memang baptizo bisa diartikan mencuci atau membasuh, tetapi dalam konteks mencuci atau membasuh dengan cara mencelupkan atau membenamkan. Dan tidak ada lexicon yang mengatakan bahwa baptizo bisa berarti memercik atau meneteskan atau menuangkan air.

Jadi, apakah Markus 7:4 menimbulkan permasalahan bagi definisi yang tertera di lexicon-lexicon? Sama sekali tidak. Markus 7:4 pertama memberitahu bahwa orang Yahudi, setelah pulang dari pasar, memiliki kebiasaan membaptis diri. Oleh KJV kata ini diterjemahkan “wash,” dan oleh ITB diterjemahkan “membersihkan.” Sesuai dengan informasi linguistik dari lexicon dan ahli bahasa, mencuci atau membersihkan diri di sini dalam konteks membenamkan diri. Apakah hal ini tidak bisa terjadi, sehingga harus dicari arti lain bagi baptizo? Tidak sama sekali. Manusia sejak zaman dulu hingga hari ini banyak yang mandi atau membersihkan diri dengan cara membenamkan diri, baik itu di kolam, di bathtub, atau di sungai, atau di banyak tempat lain. Jadi, tidak ada masalah logis ataupun historis untuk memahami bahwa orang Yahudi sering membersihkan diri dengan cara membenamkan diri. Apalagi jika, bersama dengan banyak komentator Alkitab (misal John Gill), membersihkan diri di sini dipahami sebagai membersihkan tangan, yaitu mencelupkan tangan ke dalam bejana pembersihan. Ini cocok dengan apa yang tertulis dalam Lukas 11:38, “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci [secara literal “mencelupkan,” dari baptizo] tangan-Nya sebelum makan.” Jadi, tidak ada apa-apa yang tidak sesuai dengan arti baptizo dalam informasi pertama ayat ini, dan oleh karena itu tidak meruntuhkan arti dasar baptizo yaitu mencelupkan.

Lalu, Markus 7:4 juga memberitahu kita bahwa orang Yahudi memiliki warisan tradisi berupa pembaptisan cawan, kendi, perkakas tembaga, dan meja (kata meja ada di Textus Receptus, walaupun tidak ada di Critical Text ataupun ITB). Kata ini diterjemahkan “washing” oleh KJV, dan “hal mencuci” oleh ITB. Sekali lagi, menurut lexicon, mencuci di sini dalam konteks mencelupkan ke dalam air. Apakah hal ini tidak mungkin, sehingga harus dicari arti lain bagi baptizo? Sama sekali tidak! Sampai hari ini pun ada banyak orang yang mencuci piring, kendi, bejana, dan barang-barang lain, dengan cara mencelupkannya ke dalam air. Orang Indonesia pasti sering melihat ini dilakukan oleh para penjual makanan kaki lima, seperti tukang siomai, tukang sate, dan lain sebagainya. Jadi, tidak ada masalah sama sekali.

Tetapi, bagaimana dengan meja? Kata meja ini berasal dari kata kline dalam bahasa asli Yunaninya. Banyak pembaca yang membayang meja modern dalam ayat ini, meja dengan ketinggian lebih dari satu meter, tetapi tidaklah demikian. Kata kline (dasar kata “recline” dalam Inggris) lebih seperti tempat pembaringan, dan di ayat-ayat lain diterjemahkan tempat tidur (9 kali diterjemahkan “bed” oleh KJV, 1 kali sebagai “table”). Tempat tidur yang dimaksud juga bukan seperti springbed hari ini. Ini adalah tempat tidur yang dapat ditenteng (portable), yang bisa dibawa-bawa oleh satu orang. “Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya (kline)” (Mat. 9:2). “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu (kline) dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat. 9:6). “Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur (kline)” (Luk. 5:18). Kata ini memang bisa juga diterjemahkan meja, karena cara makan orang Yahudi pada waktu itu adalah dengan berbaring pada sisi mereka. Jadi, adat istiadat mereka sangat berbeda dari kebiasaan hari ini. Meja atau tempat tidur ini mirip suatu “usungan” karenanya rupanya mudah dibawa ke mana-mana. Dan sangatlah mungkin untuk mencelupkan tempat tidur atau meja portable ini dalam proses pencuciannya. Bahkan dalam Perjanjian Lama, jika sesuatu menjadi najis, tidak peduli apapun itu, benda itu harus masuk ke dalam air.

Dan segala sesuatu menjadi najis, kalau seekor yang mati dari binatang-binatang itu jatuh ke atasnya: perkakas kayu apa saja atau pakaian atau kulit atau karung, setiap barang yang dipergunakan untuk sesuatu apapun, haruslah dimasukkan ke dalam air dan menjadi najis sampai matahari terbenam, kemudian menjadi tahir pula. (Imamat 11:32).

Jadi, tidaklah terlalu aneh bagi orang Yahudi untuk mencelupkan kline mereka ini. Tidak ada keharusan untuk mencari arti lain bagi baptizo.

Mengenai ayat Markus 7:4 ini, komentator John Gill, yang fasih dengan adat istiadat Yahudi, memberikan informasi.

So that the evangelist uses the words ??????? and ?????????, most properly, without departing from their primary and literal sense; nor could he have used words more appropriate and fit. Various rules, concerning these things, may be seen in the treatises “Celim” and “Mikvaot”. Hence it appears, with what little show of reason, and to what a vain purpose this passage is so often appealed to, to lessen the sense of the word ???????, “baptizo”; as if it did not signify to dip, but a sort of washing, short of dipping; though what that washing is, is not easy to say, since vessels and clothes are in common washed by putting them into water, and covering them with it: this passage therefore is of no service to those who plead for sprinkling, or pouring water in baptism, in opposition to immersion; nor of any disservice, but of real use to those who practise immersion, and must confirm them in it.

Jadi sang penginjil menggunakan kata-kata ??????? and ?????????, secara sangat benar, tanpa beranjak dari arti mereka yang primer dan literal; dan dia juga tidak bisa memakai kata-kata itu secara lebih cocok dan pantas lagi. Berbagai aturan, mengenai hal-hal ini, dapat dilihat dari tulisan “Celim” dan “Mikvaot”. Jadi terlihat, betapa sedikitnya logika, dan betapa sia-sianya perikop ini begitu sering disebut-sebut, untuk mengurangi arti dari kata ???????, “baptizo”; seolah-olah kata ini tidak berarti mencelupkan, tetapi semacam pencucian, yang tidak mencakup pencelupan; walaupun apa yang dimaksud dengan pencucian itu tidaklah begitu jelas, karena bejana-bejana dan pakaian biasanya dicuci dengan memasukkan mereka ke dalam air, dan menutupi mereka dengannya (air): jadi perikop ini tidak membantu bagi mereka yang mengusahakan pemercikan, atau pencurahan air dalam baptisan, berlawanan dengan penyelaman; dan juga [perikop ini] tidak membebani, tetapi malah berguna bagi mereka yang mempraktekkan penyelaman, dan mengukuhkan mereka dalam hal ini.

II. Alkitab Memberitahu Bahwa Baptisan Melibatkan Air yang Banyak dan Melibatkan Turun ke dalam Air

Setelah dibuktikan bahwa kata baptizo berarti mencelupkan atau membenamkan ke dalam suatu medium, gambaran baptisan Kristen dalam Alkitab mengukuhkan hal yang sama melalui deskripsinya. Pertama, Alkitab memberitahu bahwa upacara pembaptisan memerlukan sejumlah air yang cukup, yang tidak sedikit. Ini terlihat dari ayat-ayat berikut:

Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis (Yohanes 3:23)

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” (Kisah Para Rasul 8:37)

Fakta Alkitab ini mengukuhkan bahwa Yohanes Pembaptis menyelamkan orang-orang yang bertobat oleh khotbahnya. Tidak terbantahkan bahwa hanya metode penyelaman yang membutuhkan banyak air. Pemercikan dan pencurahan tidak memerlukan banyak air. Pemercikan hanya membutuhkan sebaskom air, dan itu cukup untuk ratusan bahkan ribuan orang. Seorang pendukung pemercikan pernah berkata bahwa banyaknya air tidak masalah, dan “lebih banyak iman lebih sedikit air, lebih sedikit iman lebih banyak air .”3 Tetapi, ini pendapat pribadi yang ditimbulkan oleh tradisi, sedangkan Yohanes Pembaptis sengaja mencari tempat yang banyak air, yang rupanya diperlukan untuk pembaptisan. Sebenarnya jumlah air tidaklah mengindikasikan apapun tentang iman seseorang, yang mengindikasikan iman seseorang adalah apakah ia taat kepada Firman Tuhan atau tidak.

Dalam kisah tentang sida-sida dari Etiopia ternyata juga ada prinsip yang sama mengenai air. Setelah percaya pada Yesus Kristus melalui pemberitaan Filipus, sida-sida itu melihat suatu tempat yang ada air, dan meminta dibaptis. Hal ini signifikan, karena jika yang mereka lakukan adalah pemercikan, mereka tidak perlu menunggu sampai bertemu tempat yang berair. Sida-sida tersebut pastinya memiliki persediaan air minum yang cukup banyak, mengingat perjalanan mereka yang cukup jauh, dan tidaklah sulit untuk mengeluarkan segelas untuk tujuan pemercikan atau pencurahan.

Ada sebagian orang yang berdalih dengan berkata bahwa daerah Gaza di sana tidak memiliki sungai, dan air yang dimaksud hanyalah genangan kecil yang diambil airnya untuk pemercikan. Pendapat ini tentu tidak berdasar, karena mereka yang berkata bahwa tidak ada sungai di sana tidak pernah mengecek daerah itu pada zaman Filipus. Sekitar 2000 tahun sudah berlalu, dan banyak sungai yang bisa hilang dan timbul dalam waktu itu, sehingga argumen ini tidak berdasar. Bukan hanya tidak berdasar, pendapat ini juga secara terang bertentangan dengan deskripsi Alkitab, yang berkata bahwa “keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia” (Kis. 8:38). Tentu tidak mungkin dua orang dewasa turun ke air yang hanya genangan kecil saja. Dan juga tidak ada keperluannya untuk turun ke air dan keluar dari air, jika memang hanya perlu mengambil air sedikit untuk pemercikan. Sekali lagi, deskripsi Alkitab mendukung arti kata baptizo, yaitu menyelamkan.

Melanjutkan pemikiran yang baru saja diangkat adalah fakta kedua, yaitu bahwa dalam Alkitab, gambaran pembaptisan dalam Alkitab sering disertai dengan deskripsi orang-orang bersangkutan turun ke air, dan setelah itu keluar dari air.

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya (Mat. 3:16)

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. (Mar. 1:9-10)

Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. (Kis. 8:38-39)

Baik dalam pembaptisan terhadap Tuhan Yesus, maupun pembaptisan terhadap sida-sida dari Etiopia, keduanya masuk ke dalam air, lalu keluar dari air setelah pembaptisan itu selesai. Kaum pemercik sering berargumen bahwa tindakan masuk dan keluar dari air bukanlah tindakan pembaptisan itu sendiri. Mereka berkata bahwa “masuk ke dalam air” adalah sebelum pembaptisan, dan “keluar dari air” adalah setelah pembaptisan. Jadi, bagi mereka pembaptisan itu sendiri bisa saja pemercikan atau penuangan.

Tetapi, bukan saja pemahaman demikian menyalahi arti dari kata baptizo, yang tidak pernah diartikan mencurah atau memercik dalam kamus Yunani, tetapi juga menyalahi akal sehat mengenai “masuk” dan “keluar” dari air ini. Gambaran yang sering diberikan oleh para pemercik adalah bahwa Tuhan Yesus dan sida-sida, dan orang-orang Kristen mula-mula lainnya, masuk ke sungai yang tingginya semata kaki, atau sepaha, lalu melakukan pemercikan di sana. Tetapi ini sungguh tidak masuk akal. Untuk apa, untuk melakukan suatu pemercikan, seseorang masuk ke dalam sungai? Bukankah jauh lebih praktis jika air itu dicedok sedikit dari sungai, lalu pemercikan dilakukan di tepi sungai, atau di tempat lainnya yang kering? Buktinya, gereja-gereja pemercik dan pencurah hari ini tidak mencari sungai atau laut, atau air yang banyak, untuk melakukan praktek mereka! Dan gereja-gereja pemercik dan penuang hari ini tidak masuk ke dalam air, dan tidak keluar dari air! Jika masuk ke dalam air dan keluar dari air tidak penting untuk pembaptisan, mengapa Yohanes Pembaptis, sida-sida dari Etiopia, dan orang-orang Kristen abad pertama melakukannya? Apakah orang zaman dulu senang main basah-basahan? Tentu tidak, itu konyol sekali. Tetapi orang yang paham arti kata baptizo tidak bingung sama sekali. Alasan orang yang dibaptis masuk ke dalam air, dan setelah itu keluar dari air, adalah karena baptizo berarti mencelupkan, dan untuk mencelupkan seseorang ke dalam air, ia perlu masuk dan keluar dari air. Ini akal sehat yang sangat cocok dengan bukti Alkitab.

Lebih lanjut lagi, dalam Markus 1:9-10, dikatakan bahwa Yesus, “Ia dibaptis di sungai Yordan.” Kata depan “di” dalam frase ini berasal dari preposisi Yunani eis. Biasanya, kata baptizo dipadankan dengan preposisi en, yang paling sering berarti “di,” tetapi terkadang diterjemahkan “dengan.” Oleh sebab itu ayat yang berbunyi “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia . . . akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat. 3:11), lebih cocok diterjemahkan “Aku membaptis kamu dalam air…. Ia akan membaptis kamu dalam Roh Kudus dan dalam api.” Tetapi para pemercik berdalih dengan berkata bahwa walaupun kata en dasarnya berarti “dalam,” tetapi juga bisa berarti “dengan.” Dan memang benar demikian. Tetapi, Markus 1:9 adalah ayat yang signifikan, karena di ayat ini kata baptizo bukan dipadankan dengan preposisi en, melainkan dengan preposisi eis. Preposisi eis memiliki arti “ke dalam,” mensinyalir adalah pergerakan ke dalam sesuatu, terutama ketika dipakai dengan kata kerja yang memiliki aksi pergerakan. Jadi, ayat ini paling baik diterjemahkan “Ia dibaptis ke dalam sungai Yordan.” Terlihat jelas bahwa penggunaan preposisi eis dengan kata baptizo, sangat cocok, karena ketika seseorang mencelupkan, ia mencelupkan ke dalam sesuatu.

III. Alkitab Memberitahu Bahwa Baptisan Menggambarkan Mati, Dikuburkan, dan Bangkit bersama dengan Yesus Kristus

Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. (Roma 6:3-4)

…karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. (Kol. 2:12)

Mengapakah Tuhan memerintahkan orang yang percaya kepadaNya untuk diselamkan? Mengapakah Tuhan tidak memerintahkan orang yang percaya untuk diputar-putar tujuh kali, atau dikibari bendara, atau diguling-gulingkan di tanah? Jelas ada elemen penggambaran di sini. Puji syukur kita tidak perlu menebak-nebak maksud Tuhan, karena Ia menyingkapkannya di dalam FirmanNya. Baik dalam Roma 6:3-4 maupun dalam Kolose 2:12, dengan jelas terlihat bahwa tindakan memasukkan seseorang ke dalam air, lalu menaikkannya kembali, menggambarkan mati bersama Tuhan, dikuburkan bersama Tuhan, untuk kemudian dibangkitkan bersama Tuhan.

Gambaran di atas cocok dengan makna baptisan, yaitu suatu kesaksian dan pengumuman tentang perubahan status seseorang. Pada waktu Yohanes Pembaptis mulai membaptis, ia menyerukan pertobatan, dan orang-orang yang menerima perkataannya memberi diri dibaptis. Jadi, baptisan merupakan tanda pertobatan (Mat. 3:11). Orang yang bertobat, dituntut untuk melakukan sesuatu secara publik, yaitu memberi diri dibaptis, untuk menunjukkan pertobatannya. Oleh sebab itulah, ketika Yohanes Pembaptis melihat sekelompok orang ingin dibaptis dengan motivasi yang diragukan (Mat. 3:7-8), ia menuntut adanya bukti pertobatan.

Setelah Yesus Kristus memulai pelayananNya, dan terutama setelah Ia menyelesaikan jalan keselamatan di atas kayu salib, orang yang bertobat secara benar di hadapan Allah, juga mempercayai Yesus Kristus. Bertobat dan percaya menjadi satu paket rohani (Kis. 19:4; 20:21). Oleh sebab itu, dalam Kisah Para Rasul 8:37, syarat baptisan bagi seseorang adalah jika orang itu telah sungguh percaya kepada Yesus Kristus.

Jadi, orang yang sudah bertobat dan percaya, memberi diri dibaptis untuk menjadi kesaksian publik tentang imannya. Dan pembaptisan itu sendiri menggambarkan apa yang terjadi pada dirinya, yaitu ia kini berada dalam Kristus. Ketika Kristus mati di atas kayu salib, orang percaya yang ada dalam Kristus, juga dihitung telah mati bersama Kristus. Dan ia dikuburkan bersama Kristus, dan seperti Kristus dibangkitkan, ia juga memiliki kebangkitkan. Masuk ke dalam air menggambarkan mati dan dikuburkan, lalu naik keluar dari air menggambarkan bangkit bersama Kristus. Itulah mengapa Tuhan memerintahkan pembaptisan, yaitu penyelaman. Pemercikan, penuangan, atau hal-hal lain, tidak dapat menggambarkan hal ini.

 

IV. Menjawab Beberapa Sanggahan dari Pihak Pemercik

A. Bahwa Baptisan Roh Kudus Terjadi dengan Cara Pencurahan, Sehingga Hari Ini Kita Dapat Mencurahkan, Tidak Perlu Menyelamkan

Salah satu argumen dari kelompok pemercik yang sering mereka pakai adalah bahwa “baptisan Roh Kudus” terjadi melalui cara pencurahan. Dengan demikian, mereka mau membenarkan praktek pemercikan mereka (walaupun pencurahan dan pemercikan adalah dua hal yang berbeda juga).

Setelah bangkit dari kubur, dan sebelum Ia naik ke Sorga, Tuhan Yesus berjanji kepada murid-muridNya: “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:5). Janji baptisan Roh Kudus ini digenapi pada hari Pentakosta, sekitar 10 hari kemudian. Dan, ketika berkhotbah, Petrus mengutip kitab Nabi Yoel untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada hari Pentakosta. “Tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: Akan terjadi pada hari-hari terakhir demikianlah firman Allah bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia” (Act 2:16-17). Jadi, pada hari Pentakosta, terjadi pembaptisan Roh Kudus, dan juga terjadi pencurahan Roh Kudus! Apakah ini berarti argumen para pemercik/pencurah menjadi benar, bahwa hari ini kita tidak perlu menyelamkan, melainkan boleh hanya memercik/mencurah?

Jawabannya tentu saja tidak! Ada beberapa hal yang salah dipahami oleh para pemercik mengenai pencurahan Roh Kudus dan baptisan Roh Kudus. Pertama, kembali ke arti kata secara mendasar, “menyelamkan” dan “mencurahkan” adalah dua kata yang berbeda. Teks Alkitab menggunakan kata yang berbeda. “Membaptis” adalah baptizo, artinya menyelamkan atau membenamkan, sebagaimana kesaksian begitu banyak leksikon yang sudah dikutipkan di bagian sebelumnya. Kata “mencurahkan” adalah dari kata Yunani ekkheo. Jika anda membaca dua kalimat bahasa Indonesia berikut: “Tangki air itu bocor, dan air yang deras tercurah ke lantai dan perabotan. Perabotan-perabotan terbenam dalam air,” tetap tidak ada seorang pun yang paham bahasa Indonesia, yang akan menyimpulkan bahwa pembenaman sama dengan pencurahan. Demikian juga dalam bahasa Yunani, baptizo adalah pembenaman/penyelaman, sedangkan ekkheo adalah pencurahan. Hanya karena dua tindakan ini bersinggungan dan berkaitan dalam satu peristiwa tidak lalu menjadikannya sinonim.

Nah, mengenai baptisan Roh Kudus, LAI menerjemahkannya “dibaptis dengan Roh Kudus,” tetapi frase ini sebenarnya paling tepat diterjemahkan “dibaptis dalam Roh Kudus” (????????????? ?? ???????? ????), karena menggunakan preposisi en yang makna primer-nya adalah “di dalam.” Baptisan dalam Roh Kudus adalah penggunaan abstrak/metaforis dari kata baptizo, dan penggunaan abstrak memiliki banyak contoh dalam literatur Yunani klasik. Seseorang bisa terbaptis (terbenam) dalam hutang, terbaptis (terbenam) dalam kesedihan, ataupun hal-hal lain yang abstrak. Roh Kudus adalah salah satu pribadi Allah Tritunggal, jadi tentu bukan literal seperti air. Dibaptis dalam Roh Kudus adalah terlingkupi sedemikian rupa oleh Roh Kudus sehingga seseorang terbenam di dalamNya.

Rupanya, pada hari Pentakosta, ada baptisan Roh Kudus, dan juga ada pencurahan Roh Kudus. Kedua tindakan ini berhubungan, tetapi tidak sinonim, karena kata-kata yang dipakai (baptizo dan ekkheo) memiliki definisi tegas masing-masing. Jadi, pencurahan dan pembaptisan itu dua hal yang berbeda, tetapi dalam kasus ini berkaitan karena tindakan yang satu menghasilkan tindakan yang kedua. Tuhan mencurahkan Roh Kudus dari Sorga, dengan hasil orang-orang percaya waktu itu dibaptis (dibenamkan) dalam Roh Kudus.

Lalu, bukankah berarti baptisan air juga boleh menggunakan pencurahan, jika baptisan Roh Kudus juga melibatkan pencurahan? Ada perbedaan yang mendasar. Pada baptisan air, air berupa kolam atau sungai atau laut, berada pada posisi di bawah. Jadi, orang yang mau dibaptislah yang turun ke air! Tetapi, pada baptisan Roh Kudus, Roh Kudus berasal dari atas, dari Sorga, manusianya di bawah, jadi Roh Kuduslah yang turun (dicurahkan) ke manusia. Itulah mengapa dalam baptisan air, selalu dikatakan manusia turun ke air, sedangkan dalam baptisan Roh Kudus, sebaliknya Roh Kudus yang turun. Itu adalah karena posisi awal air dan Roh Kudus berbeda. Tetapi hal ini sama sekali tidak menganggu-gugat arti dari baptizo yang artinya menyelamkan/membenamkan. Jika itu baptisan air, maka manusia yang turun ke air dan dibenamkan dalam air. Jika itu baptisan Roh Kudus, maka Roh Kudus dicurahkan dari atas, hingga manusia itu “terbenam” dalam Roh Kudus. Oleh sebab itulah, pada hari Pentakosta, teks mengatakan bahwa Roh Kudus dicurahkan sedemikian rupa, sehingga “penuhlah mereka dengan Roh Kudus” (Kis. 2:4), dan fenomena ini disebut juga dibaptis dalam Roh Kudus.4

B. Yang Penting Adalah “Dalam Nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” Bukan Caranya

Satu lagi argumen yang paling sering disuguhkan oleh kelompok pemercik, adalah bahwa “cara” pembaptisan tidak penting, tetapi yang paling penting adalah dalam nama Siapa. Mereka berargumen bahwa selama memakai nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, hal lain menjadi tidak penting.

Tentu saja argumen ini salah, dan kesalahan dapat terlihat jelas jika kita menarik argumen ini sampai kepada kesimpulan yang paling ekstrimnya. Jika yang penting hanyalah dalam nama “Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” sedangkan metodenya tidak penting, maka seharusnya bisa saja “membaptis” dengan cara mengibar bendera atas seseorang, atau memotong rambut seseorang, atau menceploki seseorang dengan balon air, atau memukul seseorang, dll., asal diiringi dengan formula “dalam nama…” Tentu kelompok pemercik tidak akan setuju dengan cara-cara yang disebut di atas ini. Tetapi itulah konsekuensi logis dari argumen mereka jika diteruskan kepada kesimpulan akhirnya.

Sebenarnya, ketika Tuhan memberikan suatu perintah kepada kita, seberapa kita harus memperhatikan cara melakukan perintah itu adalah tergantung seberapa spesifik “cara” dirumuskan dalam perintah. Karena Tuhan berkata “baptislah,” maka kita sungguh harus membaptis, yaitu menyelamkan. Jika kita tidak menyelamkan, melainkan memercik, maka kita belum melakukan perintah tersebut, sekalipun ada pemakaian nama “Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Jika saya menginstruksi anak saya untuk pergi ke toko dan mengembalikan uang atas nama saya, maka saya tidak akan senang jika anak saya pergi ke toko dan meminjam uang, sekalipun atas nama saya! Selain penggunaan nama siapa, yang penting untuk dicermati adalah apa isi perintah itu! Perintahnya adalah: Baptislah! Kita belum melakukan perintah itu jika kita baru dipercik, atau dicurahkan air.

Sebaliknya, Tuhan memang tidak menspesifikasikan lebih lanjut lagi mengenai bagaimana cara menyelamkan, tetapi yang penting diselamkan. Oleh karena ini dalam gereja-gereja yang melakukan penyelaman, ada berbagai teknik. Ada yang orang yang dibaptisnya ditumbangkan ke belakang ke dalam air. Ada yang orang yang dibaptisnya didorong turun (sehingga jongkok) ke dalam air. Itu semua tidak masalah, karena Firman Tuhan hanya menspesifikasikan: baptislah! Selamkanlah! Tidak lebih spesifik lagi dari itu.

C. Bagaimana Di Tempat Tidak Ada Air?

Satu lagi yang sering ditanya adalah bagaimana jika ada orang yang perlu dibaptis di tempat yang tidak ada air? Biasanya diberikan contoh di padang gurun, di lokasi minim air, dll. Sebenarnya di dunia modern ini, pertanyaan ini lebih ke arah pertanyaan teoritis dan hipotetis, karena inisiden seperti ini jarang sekali, kalaupun ada. Di negara-negara yang penuh padang gurun, tetap ada kota-kotanya dan pusat masyarakatnya, dan di tempat-tempat itu pasti dapat ditemui air. Untuk membaptis satu hingga beberapa orang, hanya diperlukan air sebanyak bak air. Yang penting orang itu bisa masuk ke dalam air dalam posisi jongkok, atau posisi berbaring, itu sudah cukup. Seseorang bisa dibaptis dengan cara mengisi bathtub sampai hampir penuh, lalu yang bersangkutan dibenamkan seluruhnya di dalam bathtub itu. Sulit untuk membayangkan suatu kota atau bahkan desa yang tidak mampu menyediakan hal seperti itu.

Tetapi, andai kata memang muncul suatu situasi, di mana air sedemikian tidak bisa diperoleh, maka solusinya adalah menunggu sampai air demikian dapat diperoleh. Manusia tidak punya hak untuk mengubah perintah Tuhan karena situasi. Toh baptisan bukanlah faktor keselamatan, dan orang yang mau taat pada Tuhan dapat menunggu untuk melakukan baptisan yang benar. Dan itulah motivasi kita melakukan baptisan, yaitu untuk menaati perintah Tuhan, masuk ke dalam air, sebagai kesaksian umum bahwa kita teridentifikasi bersama dengan Kristus yang mati, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Sudahkah anda melaksanakan langkah ketaatan ini?

1Liddell-Scott juga memberikan arti kedua dari kata baptizo, yaitu “to baptize,” yang tidak banyak membantu, tetapi merupakan observasi mereka bahwa kata ini dipakai untuk kegiatan religius dalam teks Perjanjian Baru. Tentunya makna dasar dari kata ini, yaitu “mencelupkan” tidak hilang.

3Kata-kata ini diucapkan oleh John Sung, seorang ahli kimia yang menjadi penginjil di Cina. Walaupun seorang penginjil yang hebat, John Sung dibesarkan dalam tradisi pemercikan, dan oleh karena itu membuat pernyataan yang salah ini.

4Baptisan Roh Kudus tidak sama persis dengan “penuh Roh Kudus.” Setiap kali terjadi baptisan Roh Kudus (yang adalah peristiwa historis yang tidak untuk diulang lagi hari ini, dan yang tidak dapat diusahakan manusia), pasti ada “penuh Roh Kudus,” tetapi tidak semua penuh Roh Kudus adalah baptisan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus hanya terjadi empat kali (sesuai catatan Alkitab, di Yerusalem pada Pentakosta, di Kaisarea rumah Kornelius, di Samaria, dan di Efesus [Kis. 19]). Sedangkan setiap orang Kristen diperintahkan untuk penuh Roh Kudus (Ef. 5:18). Istilah ketiga yang berbeda adalah dimeteraikan oleh Roh Kudus, yang terjadi pada setiap orang beriman pada saat percaya (Ef. 1:13)

 

Save

Save

This entry was posted in Gereja, Theologi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *