Polinasi

(Berita Mingguan GITS 15 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sistem polinasi adalah suatu sistem simbiosis yang telah dikalibrasi secara halus, dan melibatkan tak terhitung jumlah bunga, serangga, dan burung, yang berbeda-beda tipe, yang semuanya terintegrasi secara sempurna untuk mempertahankan kehidupan. Tanaman yucca bergantung pada ngengat yucca untuk melakukan pembuahan, dan larva ngengat tersebut bergantung pada tanaman yang spesifik untuk makanan. Lili voodoo meningkatkan temperaturnya sebanyak 25 derajat (Fahrenheit) dan mengeluarkan sejenis bau-bauan yang mirip dengan bau daging busuk, untuk dapat menarik kumbang tertentu. Ketika kumbang itu mengeriap di sekitar bunga itu sambil mencari makanan, ia tertutup oleh pollen, yang ia sebarkan dari bunga ke bunga. Perhatikan anggrek. “Dalam banyak kasus, perkembangannya sedemikian rupa sehingga bunga dan serangga saling cocok satu sama lain seperti sarung tangan dengan tangan. Dalam kasus-kasus tertentu, desainnya sedemikian pintar sehingga lebah atau serangga lain tertarik oleh bau dan nektar ke dalam sebuah ruangan [dalam bunga], yang hanya memiliki satu jalan keluar, dan ketika melewati jalan keluar itu, serangga harus pertama menyentuh stigma bunga, lalu stamen bunga, dan sambil ia meneruskannya ke bunga berikutnya, ia membawa pollen ke stigma berikutnya. Tetapi desain-desain seperti ini hampir tidak terhitung jumlahnya. Ada lebih dari tujuh ribu spesies yang diketahui…” (Robert Broom, The Coming of Man: Was It Accident or Design?). Anggrek ember misalnya [bucket orchid], menarik dua jenis lebah yang tergiur kepada cairannya karena dapat menarik lebah betina untuk kawin. Karena permukaan anggrek ini basah, sang lebah terperosok ke dalam suatu lorong yang akan menutup, memerangkap lebah itu sambil menempelkan kantong-kantong pollen kepadanya, sebelum melepaskannya. Lebah yang sama akan jatuh ke dalam perangkap yang sama di anggrek kedua, tetapi anggrek kedua ini tidak akan menempelkan kantong-kantong pollen lagi, tetapi akan melepaskan kantong-kantong itu, sehingga melengkapi proses polinasi (Geoff Chapman, “Orchids … a Witness to the Creator,” Creation Ex Nihilo, Dec. 1996-Feb. 1997). Evolusi buta harus “menciptakan” DNA bagi setiap dari desain yang ajaib ini; dan bukan hanya itu saja, evolusi harus “menciptakan” saling keterkaitan yang sempurna antara tumbuhan dan serangga yang melakukan polinasi. Bagaimana ini bisa terjadi tanpa adanya desainer, ketika bunga tidak dapat mempelajari serangga dan serangga tidak mampu mempelajari bunga, tetapi masing-masing saling tergantung kepada yang lainnya untuk dapat bertahan hidup dan masing-masing dilengkapi secara sempurna untuk tugasnya dalam proses yang rumit ini? “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rom. 1:20).

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *