Robot Imam Dapat Mengucapkan Berkat dalam Lima Bahasa

(Berita Mingguan GITS 08 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah gereja Protestan di Jerman telah mengembangkan sebuah robot yang dapat melafalkan “berkat-berkat” dalam lima bahasa, sambil menyinarkan cahaya dari tangannya (“Robot Priest Introduced,” WorldReligionNews.com, 31 Mei 2017). Robot imam yang konyol ini dibangun oleh Nassau and Hesse Evangelical Church untuk perayaan 500 tahun pemakuan 95 Thesis oleh Martin Luther di pintu gereja Katolik di Wittenberg. Berkat dapat dipesan melalui sebuah layar sentuh (touchscreen) di bagian dada robot tersebut, dan pemohon dapat memilih suara lelaki atau suara perempuan. “Mesin elektronik itu akan menyinarkan cahaya, mengangkat tangannya dan mengucapkan sebuah ayat Alkitab yang sesuai. Ia akan mengakhiri setiap permintaan berkat dengan kata-kata pujian bahwa Allah melindungi dan memberkati pemohon.” Menurut seorang perwakilan dari Nassau and Hesse Evangelical Church, “Idenya adalah untuk membuat orang mempertimbangkan apakah mungkin menerima bahwa suatu mesin dapat memberikan berkat, atau haruskah ada unsur manusia untuk tugas seperti ini.” Jawaban kami adalah bahwa sebuah robot tentu bisa memberikan berkat, yaitu yang sama efektifnya dengan berkat yang diberikan seorang pengkhotbah Protestan yang sesat. Fakta sebenarnya, satu-satunya yang dapat “memberikan berkat,” adalah Allah Mahakuasa, dan berkatNya telah dibayarkan oleh AnakNya di Golgota dan ditawarkan kepada setiap orang berdosa yang mempercayai Injil dalam keselamatan. EDITOR: Walaupun Martin Luther memprotes banyak kesalahan Katolik, masih ada beberapa kesalahan besar Katolik yang belum dia protes, dan akibatnya masih berlanjut dalam suatu bentuk atau lainnya. Salah satunya adalah masalah keimamatan. Dalam Perjanjian Baru, imamat Harun sudah dihentikan, dan Tuhan mengumumkan bahwa tidak ada lagi keimamatan spesial di kalangan orang percaya, karena semua orang percaya sudah diangkat menjadi imam (1 Petrus 2:9). Gereja Katolik melakukan kesalahan dengan terus mempertahankan keimamatan yang spesial. Banyak gereja Prostestan juga masih memiliki konsep yang serupa, dan oleh karena itu para “pendeta” mereka dianggap imam, yang pada akhir kebaktian mengangkat tangan untuk memberkati “umat,” mirip praktek imam di Perjanjian Lama. Padahal, dalam Perjanjian Baru, tidak ada lagi perbedaan antara “imam” dan “umat.”

This entry was posted in Gereja. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *