Kesalahan-Kesalahan Advent-Hari-Ketujuh

Menyelidiki Kesesatan Advent-Hari-Ketujuh

Penulis: Dr. David Cloud

Diterjemahkan, diedit dan dimodifikasi oleh: Dr. Steven Liauw

Dalam pembelajaran berikut, kita menganalisa tujuh kesesatan doktrin Advent-Hari-Ketujuh dan membandingkannya dengan kebenaran Alkitab. Bukan hanya ini semua kesesatan yang diajarkan oleh Advent-Hari-Ketujuh, tetapi ini adalah tujuh yang paling menyolok.

 

KESESATAN #1: MENGUBAH DEFINISI KASIH

KARUNIA DALAM KESELAMATAN DENGAN

MENAMBAHINYA DENGAN PEKERJAAN

HUKUM TAURAT

Dalam hal keselamatan, Advent-Hari-Ketujuh menjalankan permainan yang sama yang dimainkan oleh semua gerakan palsu kekristenan. Mereka mengaku mengajarkan keselamatan oleh kasih karunia melalui iman, tetapi mereka mengubah definisinya sedemikian rupa, sehingga bertentangan dengan yang diajarkan dalam Alkitab Perjanjian Baru.

Walaupun mereka sering menyangkal hal ini, denominasi Advent mengajarkan bahwa keselamatan adalah oleh kasih karunia plus hukum, iman plus perbuatan. Kasih karunia, menurut theologi Advent, adalah kuasa dan pengampunan yang Allah berikan untuk memungkinan seorang berdosa untuk menaati hukum dan berdasarkan itu membangun suatu karakter yang kudus yang pantas untuk Sorga. Siapa pun yang gagal untuk membangun karakter yang benar oleh kasih karunia Allah tidak akan pernah melihat Sorga. Iman dan pekerjaan adalah dua dayung yang dipakai oleh orang percaya untuk meluncur menuju kemuliaan.

Doktrin keselamatan Advent adalah campuran yang terselubung antara kasih karunia dan hukum yang tidak akan pernah memberikan jaminan keselamatan sebagaimana di dalam Alkitab. Sederhananya, doktrin mereka adalah sebagai berikut: Orang berdosa tidak mampu untuk hidup seturut dengan standar Allah yang kudus, yaitu Hukum. Dia tidak ada dan tidak mampu untuk memiliki dalam dirinya sendiri, karakter yang Allah tuntut. Jadi, Allah telah menolongnya melalui pengorbanan Kristus dan melalui kuasa Roh Kudus. Allah kini menawarkan, karena penebusan PutraNya, untuk memampukan orang berdosa, sehingga dia diberi kuasa untuk menaati Hukum. Darah Kristus menutupi semua kekurangan, (hanya) jika semuanya secara benar diakui dan ditinggalkan.Allah menawarkan kasih karunia dan kuasa; orang percaya harus mengambil hal-hal ini dan membangkitkan dalam dirinya sendiri karakter yang dituntut oleh hukum, atau, minimal – dengan kata-kata bidat ini – membiarkan Yesus melakukan pekerjaan ini. Orang berdosa yang percaya yang gagal untuk berjalan dengan benar bersama Tuhan dalam kuasa Roh Kudus akan pada akhirnya terhilang, walaupun dia beriman dalam Kristus.

Doktrin keselamatan yang demikian, tidak ada dan tidak dapat memberikan jaminan kepada para pengikutnya. Tidak bisa ada keyakinan akan hidup yang kekal bagi para bidat, karena pada prakteknya, mereka tidak percaya bahwa keselamatan kekal SECARA TOTAL adalah pemberian Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus yang telah diselesaikan. Sebaliknya, bidat ini yakin bahwa dia juga memiliki andil dalam mendapatkan hidup yang kekal. Dia harus dengan benar bertekun dalam Hukum Allah dan dalam pekerjaan gerejanya. Jika dia gagal mengembangkan karakter yang benar, dia tidak akan mewarisi hidup yang kekal. Jadi, dia tidak bisa memiliki kepastian keselamatan sampai setelah pemeriksaan pada hari penghakiman. Bidat yang tertipu tidak dapat berdiri dan bermegah “dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5:2). Karena pekerjaan memainkan peran dalam keselamatannya, dia tidak pernah bisa bersaksi dengan sukacita, “saya SEKARANG telah dibenarkan … saya PASTI AKAN diselamatkan dari murka Allah” (Roma 5:9).

Tujuan dari pada bidat ketika mendekati seorang individu adalah untuk membawa jiwa itu kepada perhambaan hukum dan untuk menutup daripadanya kasih karunia Allah yang sejati. Mereka tentu saja menyangkali hal ini, tetapi doktrin mereka membuktikan hal ini benar.

Perhatikan seseorang yang telah menaruh imannya pada karya penebusan Tuhan Yesus Kristus. Menurut Alkitab, orang semacam itu telah dibersihkan dari dosa, dibenarkan, ditempatkan dalam keluarga Allah, didiami oleh Roh Kudus. Ia adalah orang berdosa yang telah diselamatkan, berjalan dalam kebebasan kekal anak-anak Allah yang ditebus, dengan bahagia melayani Tuhan dan Juruselamatnya, Yesus Kristus – untuk karena takut ditolak, takut tidak mewarisi keselamatan, tidak menyelesaikan keselamatannya – tetapi dalam ucapan syukur kepada Juruselamatnya karena kehidupan kekal yang telah diberikan kepadanya dengan cuma-cuma.

Lalu datanglah guru palsu. Bukannya bersukacita bersama dengan orang berdosa yang telah ditebus ini karena ia menemukan keselamatan dan mendorong dia untuk terus berlanjut dalam kasih karunia Kristus dalam sebuah gereja yang alkitabiah, dia sebaliknya mendecakkan lidahnya dengan penuh keprihatinan dan berkata: “Tidak cukup; tidak cukup. Iman dalam Kristus tidak cukup! Agar benar-benar diselamatkan, hai sobatku, kamu harus melakukan ini dan itu dan yang satu itu; ya, jika kamu sungguh-sungguh ingin diselamatkan, kamu harus datang bersama kami ke kelompok kami. Kamu memerlukan Sabat. Kamu memerlukan sakramen. Kamu memerlukan bahasa roh. Kamu memerlukan baptisan yang kami berikan. Kamu memerlukan berkat kedua. Kami akan menunjukkan jalannya padamu.”

Guru palsu seperti demikian dengan jitu digambarkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Galatia: “Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita” (Gal. 2:4).

Penting bagi kami untuk mendokumentasikan doktrin keselamatan SDA secara menyeluruh, karena sifatnya sangat terselubung. Seringkali, dalam literatur mereka yang diproduksi bagi publik secara umum, SDA mengubah apa yang benar-benar percayai, termasuk doktrin keselamatan, dalam usaha untuk tampil ortodoks. Orang Kristen perlu sadar akan sifat tipu daya dari berbagai bidat. Mereka siap dan mampu, seperti bunglon, untuk mengubah warna sesuai dengan situasi yang bervariasi. Di satu sisi, mereka mencoba untuk tampil ortodoks penuh. Mereka mengklaim dianiaya dan disalah mengerti oleh orang-orang Kristen lainnya karena kesesatan mereka. “Kami sama seperti kalian,” demikian mereka memprotes. Di sisi yang lain mereka mempromosikan berbagai macam pengajaran yang sesat dan berbicara dengan lantang melawan doktrin-doktrin Alkitab yang lurus dan mencoba untuk menarik orang keluar dari gereja-gereja alkitabiah. Hal demikian seharusnya tidak mengagetkan bagi kita. Perjanjian Baru sering menyinggung penipuan yang dilakukan oleh guru-guru palsu:

“yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat. 7:15).

“menyesatkan banyak orang” (Mat. 24:4, 5, 11, 24).

“pekerja-pekerja curang” (2 Kor. 11:13).

“saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam” (Gal. 2:4).

“permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” (Ef. 4:14).

“roh-roh penyesat” (1 Tim. 4:1).

“menyelundup ke rumah orang lain” (2 Tim. 3:6).

“penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan” (2 Tim. 3:13).

“dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka” (2 Pet. 2:3).

“banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (2 Yoh. 1:7).

“ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu” (Yud. 1:4).

“mengajar dan menyesatkan” (Wah. 2:20).

YANG ADVENT AJARKAN: Doktrin SDA tentang keselamatan telah didokumentasikan. Perhatikan dengan seksama pernyataan-pernyataan berikut dari Advent-Hari-Ketujuh, berkaitan dengan keselamatan. Sementara mereka mengaku menjunjung keselamatan melalui kasih karunia saja dan melalui iman saja, mereka sebenarnya mendefinisikan ulang istilah-istilah ini sehingga berlawanan dengan pewahyuan yang diterima para rasul. Hasilnya adalah injil palsu yang dengan terselubung mencampurkan kasih karunia dan hukum.

Dari sebuah traktat SDA yang secara menipu diberi judul Saved by Grace (Selamat karena Anugerah): “Kristus mengatakan kepada setiap orang di dunia ini apa yang telah Ia katakan kepada pemimpin muda yang kaya itu: ‘Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah,’ Matius 19:17. Dengan kata lain, STANDAR PENERIMAAN KE DALAM SORGA ADALAH KARAKTER YANG DIBANGUN MENURUT SEPULUH SPESIFIKASI, ATAU PERINTAH, DARI HUKUM ALLAH. …Ia dapat menaikkan anda ke posisi di mana tuntutan-tuntutan hukum dipenuhi dalam diri anda. …SANG MASTER PEMBANGUN AKAN BERDIRI BERSAMA ANDA DAN DI DALAM ANDA, DAN AKAN MEMASTIKAN SECARA PRIBADI BAHWA HIDUPMU AKAN MENCAPAI TUNTUTAN HUKUM ALLAH” (Charles T. Everson, Saved By Grace, hal. 45-46).

Dari kelas-kelas korespondensi SDA. “Bukanlah tujuan Injil untuk melemahkan klaim-klaim hukum Allah yang kudus, tetapi untuk meninggikan manusia ke posisi dapat menaati aturan-aturan tersebut” (Prophetic Guidance Correspondence Course, Lesson 10, hal. 36).

“Apakah anda ingin menjadi seorang Kristen? … Langkah-langkah kepada Kristus hanya sedikit dan sederhana dan mudah dipahami, dan sekarang kita akan kembali ke Buku Penuntun Allah untuk informasi … Percaya; ini adalah langkah pertama menuju menjadi seorang Kristen. … langkah kedua adalah pertobatan … pertobatan sederhananya adalah menyesali dosa-dosa kita dan meninggalkan mereka … langkah selanjutnya menjadi seorang Kristen adalah pengakuan … pertobatan dan pengakuan yang sejati bukan hanya berarti berhenti berdosa, tetapi untuk melakukan segala yang bisa dilakukan untuk membenarkan kesalahan-kesalahan lampau … Langkah berikutnya adalah baptisan, dan buktinya ditemukan dalam Kis. 2:38-39 … Kelima, ketaatan melalui Kristus di dalam kita … Jadi kita telah dengan jelas memberikan kerangka langkah-langkah yang kita perlu lakukan untuk menjadi seorang Kristen: percaya pada Allah; bertobat dan mengakui dosa kita, dibaptiskan, DAN MENAATI SELURUH PERINTAH TUHAN. … Ia bisa jadi terhuyung dan terjatuh, teapi ia bangkit kembali dan terus maju, bertekad untuk menang dengan kuasa Allah yang memampukan. Kejatuhan seperti ini tidak akan dihitung melawan dia ketika dia bertobat dan meminta pengampunan dan pertolongan ilahi untuk menjalani hidup yang benar” (New Life Voice of Prophecy Guide, #12).

“Sebelum Kristus datang kedua kali untuk membawa kita ke rumah BapaNya di sorga di atas, kita harus mengizinkan Dia untuk menaklukkan dosa dalam kehidupan kita. …Karena dalam kehidupan ini kita telah memilih untuk menerima kasih karunia Kristus yang indah ini sebagai milik kita, transformasi yang mendadak pada saat kemunculan Kristus akan memeteraikan karakter kita. …HANYA MEREKA YANG MENGHIDUPI KEHIDUPAN KRISTUS YANG DAPAT DIBEBASKAN DOSA. …Yesus menasihati orang kaya yang mencari hidup yang kekal, ‘jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah’ … Yesuslah yang menyelamatkan kita dari dosa tetapi bukan di dalam dosa. KITA HARUS MENERIMA DIA DAN MELALUI KUASANYA DALAM KITA DIPISAHKAN DARI KETIDAKMURNIAN, KETIDAKKUDUSAN, KENAJISAN – SEMUA KETIDAKTAATAN PADA PERINTAH-PERINTAH” (New Life Guides, #10).

Dari sebuah katekismus SDA. “…Kita tadinya hamba-hamba dosa. Yesus turun dan menderita bersama kita, dan untuk kita, dan menyelamatkan kita. Sambil kita memandang Dia dalam firmanNya, dan dalam doa dan meditasi, dan melayani pribadiNya dalam pribadi orang-orang lain, KITA DAPAT DIUBAH LEBIH DAN LEBIH LAGI KEPADA KEMULIAAN KESERUPAAN DENGAN DIA; LALU, JIKA SETIA, SUATU HARI KITA AKAN MELIHAT DIA MUKA DENGAN MUKA” (Bible Footlights, 1960, hal. 17).

Dari sebuah bahan studi doktrinal ADA. “Kepada siapakah Allah akan memberikan ketidakbinasaan? ‘Kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan’ (Rom. 2:7). Apa yang akan menjadi pahala mereka? ‘Hidup kekal’ (Rom. 2:7). Dengan syarat apakah manusia dapat memperoleh berkat ini? ‘Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal’ (1 Tim. 6:12). …Apakah tujuan akhir seseorang akan sesuai dengan kehidupan yang telah ia jalani? ‘Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya’ (Gal. 6:7)” (C.B. Haynes, When A Man Dies, hal. 46-47).

Dari salah satu buku karya Ellen White. Ketika mendiskusikan doktrin tentang Penghakiman Investigatif, Ny. White membeberkan pengajaran berikut tentang keselamatan: “Orang-orang benar yang mati tidak akan dibangkitkan sampai setelah penghakiman, pada saat mana mereka akan dihitung layak akan ‘kebangkitan kepada kehidupan.’ …Sambil kitab-kitab catatan dibuka pada penghakiman, kehidupan semua orang yang telah percaya pada Yesus akan direview di hadapan Allah. …setiap nama disebutkan, setiap kasus dengan teliti diinvestigasi. Ada nama-nama yang akan diterima, ada nama-nama yang akan ditolak. Jika ada orang yang masih memiliki dosa yang tersisa dalam kitab-kitab catatan, yang belum ditobati dan belum diampuni, nama mereka akan dihapuskan dari kitab kehidupan, dan catatan tentang perbuatan baik mereka akan dihapuskan dari kitab ingatan Allah. …semua yang mau namanya dipertahankan dalam kitab kehidupan seharusnya saat ini, dalam sedikit hari-hari sisa pengujian mereka ini, menyiksa jiwa mereka di hadapan Allah dengan kedukaan karena dosa dan pertobatan sejati … pekerjaan persiapan adalah pekerjaan individu. Kita bukan diselamatkan dalam kelompok. Kemurnian dan devosi seseorang tidak akan menimpali kekurangan kualitas-kualitas dalam bidang lain” (Ellen G. White, The Great Controversy, hal. 425, 431).

Adventisme menyebut doktrin ini “keselamatan melalui kasih karunia,” tetapi ini adalah jenis kasih karunia yang sangat aneh, jenis yang asing bagi Injil sejati Yesus Kristus.

YANG ALKITAB AJARKAN:

  1. Keselamatan adalam karena kasih karunia SAJA, melalui iman SAJA, tanpa pekerjaan hukum dalam pengertian apapun. Berlawanan dengan doktrin Advent, kasih karunia dan iman di satu sisi, hukum dan pekerjaan di sisi lain, adalah dua sistem yang tidak dapat saling bercampur.

“Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Rom. 3:19-20).

“Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat’” (Gal. 3:10).

“Tetapi sekarang, TANPA HUKUM TAURAT kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan DENGAN CUMA-CUMA karena penebusan dalam Kristus Yesus. 25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Rom. 3:21-24).

“Kristus telah MENEBUS KITA DARI KUTUK HUKUM TAURAT dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’ Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu” (Gal. 3:13-14).

“Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan TIDAK MEMPERHITUNGKAN PELANGGARAN MEREKA. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. DIA YANG TIDAK MENGENAL DOSA TELAH DIBUAT-NYA MENJADI DOSA KARENA KITA, SUPAYA DALAM DIA KITA DIBENARKAN OLEH ALLAH” (2 Kor. 5:18-21)

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan BUKAN KARENA IA MELAKUKAN HUKUM TAURAT” (Rom. 3:28).

“Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi KALAU ADA ORANG YANG TIDAK BEKERJA, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Rom. 4:4-5).

“Tetapi JIKA HAL ITU TERJADI KARENA KASIH KARUNIA, MAKA BUKAN LAGI KARENA PERBUATAN, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” (Rom. 11:6).

“Dan bahwa TIDAK ADA ORANG YANG DIBENARKAN DI HADAPAN ALLAH KARENA MELAKUKAN HUKUM TAURAT adalah jelas, karena: ‘Orang yang benar akan hidup oleh iman’” (Gal. 3:11).

Kabar Baik Kristus bukanlah keselamatan melalui kasih karunia sambil menghasilkan pekerjaan-pekerjaan hukum Taurat. Injil adalah hidup kekal melalui kasih karunia saja, melalui iman saja, TANPA HUKUM TAURAT. Semua yang mau diselamatkan haruslah melalui jalan ini, bersandar pada darah yang telah dicurahkan saja untuk keselamatan penuh.

Orang-orang yang, setelah mulai beriman pada Kristus, berusaha untuk kembali ke hukum Musa untuk menyempurnakan keselamatan mereka, melakukan kesalahan yang sama dengan orang-orang Galatia di abad pertama.

“Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia! Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil? Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham” (Gal. 3:1-7).

Mereka yang bersikukuh menaruh diri mereka di bawah Hukum Musa walaupun sudah ada pengajaran terang Perjanjian Baru, berarti berada di luar dari keselamatan yang sebenarnya. Para pemimpin Advent-Hari-Ketujuh yang mempercayai pengajaran denominasi mereka sendiri sebagaimana tertulis dalam terbitan mereka seperti bahan-bahan korespondensi, misal New Life Voice of Prophecy, termasuk ke dalam kelompok ini; mereka adalah para penyesat di Galatia zaman modern.

“Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia” (Gal. 4:9-11).

“Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu. Betapa rinduku untuk berada di antara kamu pada saat ini dan dapat berbicara dengan suara yang lain, karena aku telah habis akal menghadapi kamu” (Gal. 4:19-20).

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan” (Gal. 5:1-5)

  1. Ada jaminan keselamatan setelah pertobatan. Hanya Injil yang sejati yang dapat memberikan jaminan. Perhatikan bagaimana Alkitab menegaskan doktrin yang berharga ini.

Keselamatan adalah hal yang terjamin karena ia adalah hadiah cuma-cuma, sama sekali tidak dikerjakan oleh orang berdosa (Ef. 2:8-9).

Keselamatan adalah hal yang terjamin karena melibatkan dideklarasikan sepenuhnya benar oleh Allah (Rom. 3:21-24). Kata Yunani yang diterjemahkan “dibenarkan” berarti dijadikan benar. Perhatikan bagaimana istilah “dibenarkan” dan “kebenaran Allah” dipakai secara silih berganti dan bertukaran di Roma 3:21-24 yang dikutip di atas. Perhatikan juga, bahwa kebenaran ini didapatkan “karena iman,” “dengan cuma-cuma,” dan “oleh kasih karunia.” Apa masalah dan kutuk bagi orang berdosa? Bukankah karena ia tidak punya kebenaran? Jadi, jika Allah membenarkan orang berdosa yang percaya, apa lagi yang diperlukan orang yang berbahagia itu? Dibenarkan artinya menjadi benar di hadapan Allah, sama benarnya dengan Yesus. Dibenarkan berarti diselamatkan dan selamat. Haleluya!

Keselamatan itu terjamin karena menjadi milik saat ini juga.

Pembenaran adalah milik orang percaya saat ini (Rom. 5:9)

Damai dengan Allah adalah milik orang percaya saat ini (Rom. 5:1)

Pendamaian adalah milik orang percaya saat ini (Rom. 5:10)

Penebusan (atonement) adalah milik orang percaya saat ini (Rom. 5:11)

Hidup yang kekal adalah milik orang percaya saat ini (1 Yoh. 5:11-13)

Menjadi anak Allah adalah milik orang percaya saat ini (Ef. 1:6)

Diterima dalam Kristus adalah milik orang percaya saat ini (Ef. 1:6)

Pengampunan dosa adalah milik orang percaya saat ini (Ef. 1:7)

Dijadikan hidup dalam Kristus adalah milik orang percaya saat ini (Ef. 2:1)

Menjadi layak untuk sorga adalah milik orang percaya saat ini (Kol. 1:12)

Terlepas dari kuasa kegelapan adalah milik orang percaya saat ini (Kol. 1:13)

Berpindah ke kerajaan Yesus adalah milik orang percaya saat ini (Kol. 1:13)

Beroleh belas kasihan adalah milik orang percaya saat ini (1 Pet. 2:10)

Disembuhkan dari dosa adalah milik orang percaya saat ini (1 Pet. 2:24)

Sobat, apakah anda sedang menikmati harta rohani yang mulia ini? Sudahkah anda mengakui bahwa dirimu orang berdosa dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadimu? Seseorang hanya punya dua alternatif, selamat atau terhilang – selamat sepenuhnya atau terhilang sepenuhnya. Tidak ada titik tengah, tidak ada setengah selamat, atau sedang dalam proses selamat. Apakah ada bersandar pada darah Kristus, dan HANYA darah Kristus untuk keselamatan? Jika ya, Alkitab mengatakan bahwa anda memiliki semua berkat rohani yang tertera di atas, dan banyak lagi yang lain. Ini adalah berkat-berkat yang dijamin dalam Kristus!

Keselamatan adalah terjamin karena bersifat posisional. Hanya ada dua tipe orang dalam hubungan dengan keselamatan – orang yang di luar Kristus dan orang yang di dalam Kristus. Semua adalah orang berdosa. Adalah posisi orang berdosa tersebut dalam hubungan dengan Tuhan Yesus Kristus yang menentukan posisi dia di hadapan Allah. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Ef. 1:3). Lihat juga Rom. 6:11; Ef. 1:6; 1 Yoh. 5:12.

Keselamatan adalah terjamin karena diperoleh berdasarkan penghitungan dan penggantian. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor. 5:21). “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Gal. 3:13).

Orang berdosa memiliki dua masalah di hadapan Allah. Dia berdosa dan memerlukan pengampunan, tambahan lagi dia tidak benar dan memerlukan kebenaran. Dia memerlukan dosanya diambil dan kebenaran dihitungkan ke atas dirinya. Inilah yang Allah berikan dalam Tuhan Yesus. Melalui kematian Kristus yang menggantikan, Dia membayar harga yang dituntut dari dosa kita. Jadi, Dia menawarkan pengampunan penuh. Ini adalah penebusan berdasarkan penggantian – Yesus mati bagi dosa-dosa manusia. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Pet. 2:24).

Allah memberikan orang berdosa kebenaran (status benar) dengan cara menghitungkan kebenaran Yesus ke dalam akun-nya. Ini bukanlah kebenaran yang Allah kerjakan (secara bertahap/perlahan) di dalam orang berdosa, tetapi kebenaran yang Allah taruh ke dalam akun orang berdosa itu. Ini dihitungkan, bukan diinfuskan masuk. “Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rom. 3:24).

Para bidat membenci doktrin tentang kebenaran yang dihitungkan ini. Mereka membenci pengajaran bahwa posisi seorang yang diselamatkan di hadapan Allah, sama sekali TIDAK BERHUBUNGAN dengan pekerjaan pribadinya, tetapi bergantung SEMATA-MATA pada pekerjaan dan kebenaran Kristus yang Allah hitungkan kepadanya karena karyaNya. Namun Alkitab mengajarkan hal ini. Roma pasal empat menggunakan kata “memperhitungkan” atau “diperhitungkan” sebanyak sepuluh kali, menekankan kebenaran indah bahwa kebenaran Kristus telah diperhitungkan ke dalam akun orang berdosa yang percaya.

Ada posisi seseorang dalam Tuhan, ada cara hidup selanjutnya. Ada status, dan ada lagi praktek. Ada hubungan, dan ada persekutuan. Jika tidak membedakan kedua aspek ini, Injil akan terselewengkan. Kedua aspek ini terlihat secara jelas dalam kitab Efesus. Pasal 1-3 menjabarkan tentang posisi orang percaya dalam Kristus; pasal 4-6 menjabarkan kehidupan yang harus ia jalani di dunia. Ayat kuncinya ada di Efesus 4:1, yang berbunyi, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef. 4:1). Paulus menasihati orang-orang percaya untuk hidup sesuai dengan posisi mereka yang terjamin dalam Kristus. Posisi tidak berubah, tetapi kehidupan bisa berubah. Efesus 5:8 berkata, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi SEKARANG kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (Ef. 5:8). Orang percaya memiliki posisi yang aman dalam Kristus, tetapi dipanggil untuk hidup sepadan dengan posisi ini dalam dunia dengan cara taat kepada Allah. Kolose 3:1, 3 mengatakan hal yang sama: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah . . . Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Dalam hal posisi, si Kristen sudah mati bagi dosa dan bangkit bersama Kristus; dalam praktek ia harus hidup sepadan dengan panggilan kekal ini dengan mencari hal-hal yang di atas.

Seorang Kristen sudah memiliki posisi dan hubungan dengan Tuhan yang menjamin keselamatannya pada saat ia dilahirkan kembali, yaitu pada saat ia percaya. Posisi ini tidak dipengaruhi oleh pertumbuhan imannya. Dia memang dinasihatkan untuk hidup sepadan dengan posisinya yang mulia. Tetapi orang percaya ditantang untuk menaati Tuhan, bukan untuk mendapatkan posisi orang benar, tetapi supaya bisa sepadan dengan posisi benar yang Allah telah berikan kepadanya.

Betapa keselamatan yang indah! Semakin mantap seorang beriman memahami kebenaran-kebenaran ini, semakin dia rindu untuk melayani Allah juruselamatnya.

Keselamatan adalah terjamin karena pengudusan terdiri dari dua bagian. Perjanjian Baru memberikan dua aspek berbeda dari pengudusan orang percaya, atau pemisahan dirinya dari dosa bagi Allah – yaitu pengudusan posisional dan pengudusan praktikal. Kata-kata “pengudusan,” “kudus,” dan “orang kudus,” semua diterjemahkan dari akar kata Yunani yang sama.

Ada dua aspek pengudusan orang percaya. Pertama, orang percaya secara posisi sudah merupakan orang kudus. Dia memiliki status orang kudus karena dosanya sudah diselesaikan seluruhnya oleh Yesus Kristus. Beberapa perikop yang mengajarkan hal ini adalah Kis. 20:32; 1 Kor. 1:2,30; 6:9-11; Ibr. 10:14; dan 1 Pet. 1:2. Pengudusan posisi ini adalah karunia gratis dari Allah yang diterima melalui iman sederhana pada Kristus.

Kedua, orang percaya diinstruksikan untuk menjadi kudus dalam artian praktek sehari-hari. Ini adalah pertumbuhan Kristen – menanggalkan manusia lama dan mengenakan Kristus, meninggalkan dosa dan menuju kesalehan. “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan” (1 Tes. 4:3-4). Perikop-perikop lain tentang pengudusan karakter adalah 1 Pet. 1:14-16 dan Rom. 6:19, 22.

Dari pembelajaran di atas, terlihat bahwa keselamatan yang sejati dalam Alkitab bukanlah sesuatu yang tidak pasti dan tercampur oleh keharusan melakukan Taurat, sebagaimana dalam “injil” Advent. Injil SDA adalah palsu.

  1. Keselamatan karena kasih karunia, melalui iman, dan terjaga juga melalui iman

“Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir” (1 Pet. 1:5). Dari awal hingga akhir, Alkitab konsisten mengajarkan bahwa Allah telah memberikan keselamatan kepada manusia sebagai hadiah, dan bahwa hadiah ini diterima dengan cara percaya atau beriman.

Oleh karena itu, setelah seseorang diselamatkan, ia tidak mempertahankan keselamatannya melalui melakukan pekerjaan baik, atau menaati hukum Taurat, atau berbakti, atau melayani, atau menjaga kekudusan hidup. Semua hal-hal ini memang dilakukan oleh orang yang diselamatkan, sebagai hasil dan buah dari keselamatan, bukan untuk mempertahankan keselamatan. Keselamatan sudah menjadi milik orang percaya yang terjamin baginya.

Alkitab hanyalah mengingatkan orang yang percaya untuk tetap percaya, tetap beriman. Oleh karena itu Petrus berkata bahwa orang Kristen “dipelihara, dalam kekuatan Allah karena imanmu” (1 Pet. 1:5).

APAKAH JAMINAN KESELAMATAN DALAM KRISTUS BERARTI SEORANG YANG MENGAKU PERCAYA DAPAT TERUS HIDUP DALAM DOSA DAN MASUK SORGA? Perlu untuk memahami apa yang dimaksud dengan jaminan keselamatan dalam Kristus. Apakah keselamatan Alkitabiah yang sejati berarti seseorang bisa mengaku Yesus dan hidup “seenak dia” dan masuk Sorga? Sama sekali tidak.

  1. Keselamatan menuntut pertobatan (Kis. 17:30). Pertobatan berarti suatu perubahan pikiran yang menghasilkan perubahan hidup, dan Yesus Kristus berkata “ Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:3). Orang yang tidak pernah mengubah pikirannya tentang Allah, dosa, Kristus, dan Alkitab, tidak pernah berbalik dari dosa dan kehendak diri sendiri kepada Allah, dan tidak pernah diselamatkan. Individu yang mengaku diselamatkan, namun tidak mengalami perubahan hidup apapun, bukanlah seseorang yang benar-benar diselamatkan.
  1. Kelahiran baru mengubah kehidupan seseorang. Alkitab mengatakan bahwa orang yang benar-benar diselamatkan itu mengalami kelahiran baru. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”(2 Kor. 5:17). Kelahiran baru adalah tindakan Allah memberikan orang berdosa natur yang baru. Orang yang diselamatkan memiliki kerinduan-kerindua yang baru. Karakter ilahi dalam dirinya membuat dia rindu hidup dengan cara Allah. Roh Kudus yang mendiami dia menginginkan kekudusan dan kebenaran. Orang yang mengaku diselamatkan tetapi tidak ada cinta pada Kristus sama sekali, adalah pendusta yang tidak pernah diselamatkan.
  1. Iman sejati yang menyelamatkan adalah iman yang menghasilkan pekerjaan. “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak. 2:17). Iman yang tidak bekerja adalah iman yang mati. Individu yang mengaku diselamatkan, tetapi yang tidak tertarik kepada Kristus dan hal-hal ilahi, memiliki “iman” yang aneh. Yang jelas bukanlah iman yang menyelamatkan.

Kita setuju dengan kaum Advent bahwa keselamatan menghasilkan pekerjaan, tetapi kita sama sekali tidak setuju bahwa pekerjaan-pekerjaan itu menyempurnakan keselamatan dengan cara apapun. Membuktikan keselamatan melalui pekerjaan kita adalah satu hal; menyempurnakan keselamatan kita dengan pekerjaan adalah hal yang berbeda. Membuktikan keselamatan melalui pekerjaan adalah Injil; bekerja menaati Hukum untuk menyempurnakan/menggenapi keselamatan adalah penyelewengan Injil.

 

 

KESESATAN #2: MEMELIHARA SABAT

Mari kita selidiki apa persisnya yang diajarkan Advent-Hari-Ketujuh (Seventh-day Adventism, disingkat SDA), tentang Sabat. Berikut ini penjabaran tentang pengajaran mereka dari materi-materi terbitan mereka sendiri.

 

PERTAMA

YANG ADVENT AJARKAN: Sabat itu mengikat secara kekal bagi manusia sejak penciptaan. Advent-Hari-Ketujuh mengatakan bahwa Sabat diciptakan untuk manusia pada umumnya dan diberikan kepada Adam di Taman Eden. Jadi, memelihara-Sabat, adalah tanda kesetiaan kepada Allah, sang Pencipta.

“Allah menginstitusikan Sabat di Eden; dan selama fakta bahwa Dia adalah Pencipta kita terus menjadi alasan mengapa kita harus menyembahNya, selama itu juga Sabat akan berlanjut sebagai tanda dan peringatannya. …Memelihara Sabat adalah tanda kesetiaan kepada Allah yang sejati” (Ellen White, The Great Controversy, hal. 386).

“Sabat dipelihara oleh Adam dalam ketidakberdosaannya di Eden yang suci; juga dipelihara Adam yang telah jatuh namun bertobat, ketika dia diusir dari tempatnya yang bahagia. Sabat dipelihara oleh semua bapa-bapa patriarkh, dari Habel hingga Nuh yang benar, ke Abraham, ke Yakub” (Ibid., hal. 398)

 

YANG ALKITAB AJARKAN:

  1. Sabat, walaupun disebutkan dalam Kej. 2:2-3, tidak diberikan kepada manusia sampai zaman Israel di padang gurun (Neh. 9:13-14).
  2. Sabat diberikan, bukan kepada umat manusia secara umum, tetapi kepada Israel saja sebagai suatu tanda perjanjian spesial antara Israel dan Allah (Kel. 31:13, 17).
  3. Ellen White menambahi Kitab Suci ketika ia mengajar bahwa Adam dan para patriarkh memelihara Sabat. Alkitab sama sekali tidak menyebut apa-apa tentang hal ini. Bahkan, tidak mungkin ini benar. Jika Sabat telah dipelihara oleh manusia pada umumnya sejak penciptaan, tidak mungkin Sabat diberikan sebagai peringatan perjanjian khusus kepada Israel.

 

 

KEDUA

YANG ADVENT AJARKAN: Sabat terus mengikat bagi orang-orang percaya di zaman Perjanjian Baru.

“…dari hal ini menjadi jelas bahwa keseluruhan Sepuluh Hukum mengikat dalam dispensasi Kristen, dan bahwa Kristus tidak punya pikiran untuk mengubah satupun dari antaranya. Salah satu perintah ini adalah pemeliharaan hari ketujuh sebagai Sabat…” (Bible Footlights, hal. 37).

 

YANG ALKITAB AJARKAN:

  1. Perjanjian Baru adalah satu-satunya pedoman yang tiada salah mengenai bagian mana dari Hukum Musa yang berlanjut secara mengikat dalam pengertian apapun pada orang-orang percaya zaman gereja. Perjanjian Baru secara tegas mengajarkan bahwa orang percaya hari ini tidak terikat pada hukum Sabat! “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kol. 2:16-17).

Tambahan Editor: Para Adventis sering mencoba untuk berkelit dari ayat ini dengan berkata bahwa Sabat yang dimaksud di Kolose 2:16-17, bukanlah Sabat hari, tetapi mengenai Sabat tahunan. Jadi, menurut Advent, Sabat tahun (yaitu mengistirahatkan tanah setiap tahun ketujuh) sudah selesai, tetapi Sabat hari berlanjut terus. Ide ini tentu saja sangat konyol, dan dengan mudah dipatahkan, sebagai berikut:

  1. Dalam Alkitab (LAI maupun KJV, dan dalam banyak versi lain), jelas-jelas tertulis “HARI Sabat.” Adventis akan berkelit lagi dan berkata bahwa dalam bahasa aslinya, tidak ada kata “hari” melainkan hanya “Sabat” saja. Tetapi, kata “Sabat” muncul 68 kali dalam Perjanjian Baru, dan tidak pernah mengacu kepada tahun, melainkan selalu kepada hari Sabat. Dalam perikop-perikop di empat Injil, sering dikatakan Yesus melakukan sesuatu di hari Sabat (misal Mat. 12:1, Mar. 1:21; 6:2; Luk. 13:14; Yoh. 5:16, dan masih banyak lagi), dan di ayat-ayat itu, juga hanya memakai kata “Sabat” tanpa kata “hari.” Faktanya, ketika kata Sabat dipakai dalam PB, sudah pasti yang dimaksud adalah hari. Mencoba untuk mengubahnya menjadi “tahun” dalam Kolose 2:16, tanpa ada bukti kontekstual apapun, adalah pemelintiran Firman Tuhan demi doktrin sendiri. Sekali lagi, dalam Perjanjian Baru, tidak pernah disinggung tentang Sabat tahun.
  2. Konsep Sabat tahunan sebenarnya didasarkan pada prinsip yang sama dengan hari Sabat. Pada Sabat harian, ada enam hari untuk bekerja, dan hari ketujuh adalah istirahat. Demikian juga orang Israel boleh mengerjakan tanah enam tahun, lalu mengistirahatkan tanah pada tahun ketujuh. Prinsipnya sama dan saling terkait. Oleh karena itu, tidak masuk akal jika Sabat tahun dihilangkan, tetapi Sabat hari tidak.
  3. Konteks Alkitab secara keseluruhan menyatakan bahwa “hari” Sabat sudah tidak mengikat bagi orang percaya. Jelas sekali adalah Yohanes 5:18, tetapi juga Roma 14:5.

 

  1. Menurut surat-surat Perjanjian Baru, masalah Sabat sama sekali tidak relevan bagi jemaat-jemaat Tuhan. Dalam semua instruksi yang Allah berikan kepada jemaat-jemaat dalam surat-surat, hanya ada satu kali menyebut kata “Sabat,” yaitu Kolose 2:16, dan satu kali penyebutan itu adalah untuk mengatakan bahwa Sabat tidak lagi mengikat bagi orang-orang percaya Perjanjian Baru. Bukankah aneh, dalam terang fakta bahwa surat-surat PB menyebutkan Sabat hanya satu kali dan hanya untuk mengatakan bahwa Sabat tidak mengikat, bahwa Advent-Hari-Ketujuh memberi penekanan yang begitu besar pada pemeliharaan Sabat? Jelas sekali, denominasi SDA (Advent) memiliki pemahaman tentang Sabat yang sangat berbeda dari Rasul-Rasul! Rasul-Rasul, dalam tulisan mereka, sama sekali tidak memberi penekanan apapun kepada Sabat. Advent, dalam tulisan-tulisan mereka, memberi penekanan yang begitu besar pada hal ini. Waktu mengikuti salah satu mata kuliah jarak jauh mereka, SDA mengirimkan kepada saya sebuah poster print yang cantik dengan gambar loh-loh yang berisikan Sepuluh Hukum. Ini diprint pada kertas foil-emas yang mahal, dan hukum tentang Sabat di-highlight, katanya sama seperti dalam penglihatan Ellen White. Saya berasumsi bahwa mereka mengirimkan barang ini kepada saya agar saya sedemikian menghargainya. Tidak, sobat, saya tidak bermegah dalam Sabat. Rasul Paulus berkata bahwa Sabat bukan untuk saya.
  2. Sabat adalah tipologi keselamatan. “ Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibr. 4:9-10). Para Adventis mengakui bahwa tipologi dan bayangan dalam Perjanjian Lama, seperti korban-korban keimamatan, telah digenapi dalam hidup dan kematian Tuhan Yesus Kristus, namun mereka mempertahankan bahwa Sabat mingguan bukanlah suatu tipologi yang digenapi oleh Kristus. Tetapi, dalam Ibrani 4, Sabat dinyatakan sebagai suatu tipologi keselamatan. Sebagaimana Allah beristirahat pada hari ketujuh dari pekerjaan penciptaanNya, orang percaya yang sejati hari ini beristirahat dalam karya Tuhan Yesus Kristus yang sempurna. Untuk memasuki peristirahatan Allah, seseorang harus dengan rendah hati menerima pekerjaan Allah dan berhenti dari pekerjaannya sendiri. Keselamatan adalah pemberian Allah, bukan pekerjaan kita.

 

 

 

KETIGA

YANG ADVENT AJARKAN: Hukum Sabat telah diubah, dan tuntutan-tuntutan yang keras dalam sistem Musa, tidak lagi mengikat. Para Adventist tidak memelihara berbagai syarat dan ketentuan Sabat yang ada dalam Perjanjian Lama; tetapi mereka mengklaim bahwa mereka tidak perlu melakukannya, karena ketentuan yang berhubungan dengan Sabat katanya telah diubah pada zaman ini. Salah satu penglihatan Ellen White dijadikan bukti akan hal ini.

“Dalam tempat yang paling kudus, dia [Ellen White] melihat tabut yang mengandung hukum itu, dan tercengang memperhatikan bahwa ‘yang keempat, perintah Sabat, bersinar di atas semua yang lain; karena Sabat telah dipisahkan untuk dipelihara demi kehormatan nama Allah yang kudus…’ Di sana juga ditunjukkan kepadanya perubahan terhadap Sabat, signifikansi pemeliharaan Sabat….” (Messenger to the Remnant, hal. 34).

“Institusi-institusi yang Allah telah dirikan adalah untuk kepentingan manusia. …Hukum Sepuluh Perintah, yang Sabat menjadi bagian di dalamnya, Allah berikan kepada umatNya sebagai suatu berkat…” (Ellen White, The Desire of Ages, hal. 245-246).

 

YANG ALKITAB AJARKAN:

  1. Hukum Sabat waktu itu sangatlah ketat dan keras. (1) Tidak boleh bekerja, Kel. 20:10; 31:14-15; (2) tidak boleh mengangkat barang, Yer. 17:21; (3) tidak boleh menyalakan api, Kel. 35:3. Hanyalah di tempat-tempat dengan iklim relatif hangat, seperti di Israel, perintah ini dapat dijalankan. Hukum Sabat sedemikian keras sehingga Allah memerintahkan seorang Israel dirajam mati karena mengumpulkan kayu untuk menyalakan api, karena itu melanggar hukum Sabat (Bil. 15:32-36). Hukum ini tidak diberikan sebagai berkat. Rasul Petrus pernah hidup di bawah hukum sepanjang hidupnya, sampai dia ditobatkan waktu dia dewasa, dan dia menyebutnya suatu kuk perhambaan “yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” (Kis. 15:10).

Yakobus 2:10 memberitahu kita bahwa Hukum tidak dapat dipilah-pilah. Jadi, siapapun yang mau memelihara Hukum Musa tentang Sabat, harus memeliharanya persis sebagaimana Allah tuntut dalam Perjanjian Lama. Dan orang seperti itu harus memelihara setiap detil dari hukum tersebut. Hukum Perjanjian Lama bukanlah standar orang Kristen; standar kita adalah Kristus!

Dengan mengurangi tuntutan hukum Sabat, gereja Advent merusak kuasa dan tujuan hukum Musa untuk menyingkapkan keperluan akan Juruselamat. Hukum Musa tidak pernah dimaksudkan sebagai tata cara kehidupan bagi orang yang sudah dibenarkan – “dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar” (1 Tim. 1:9). Hukum dimaksudkan sebagai guru yang membawa orang berdosa kepada Juruselamat dan keselamatanNya.

 

  1. Tidak ada otoritas Alkitab untuk mengubah hukum Sabat [sehingga Advent mau memelihara Sabat tapi tidak semua detil tentang Sabat]. Tuhan Yesus tidak mengubah Hukum. Tuhan hanya menghakimi tradisi orang Farisi yang menambah-nambahi Hukum. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat. 5:17-18).
  2. Ini adalah contoh lain Ellen White menambahi pewahyuan yang diilhami. Ny. White melihat hukum Sabat sebagai lebih penting dair semua yang lain; ia “bersinar di atas semua yang lain.” Para Rasul yang diilhami tidak melihat ada kepentingan apapun mengenai Sabat bagi orang percaya PB.

 

 

 

KEEMPAT

YANG ADVENT AJARKAN: Karena Yesus dan para Rasul memelihara Sabat, orang Kristen juga perlu memelihara Sabat hari ini.

“Contoh Yesus sangatlah jelas dan konsisten. KebiasaanNya adalah kebiasaan memelihara Sabat. …Namun walaupun demikian, kita menemukan situasi yang aneh di dunia hari ini. Karena walaupun kita memiliki Kristus yang sama sebagai teladan kita, Alkitab yang sama sebagai pedoman kita, kita menemukan dua jenis hari Sabat yang dipelihara orang Kristen…” (George Vandeman, Planet in Rebellion, hal. 277).

“Pengikut-pengikut Kristus dengan seksama memelihara Sabat, pada hari mana Tuhan mereka yang dikuburkan beristirahat dari pergumulan mautNya dengan dosa” (New Life Bible Correspondence Course, Guide #16).

 

YANG ALKITAB AJARKAN:

  1. Yesus memelihara Sabat karena Dia lahir di bawah Hukum Taurat untuk memenuhi tuntutan Hukum. “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal. 4:4-5). Tuhan Yesus dengan rela hati membuat diriNya hamba, lahir di bawah hukum Musa, supaya Dia dapat menebus orang-orang berdosa dari kutuk dan perbudakan Hukum, masuk ke dalam kebebasan kekal anak. Dalam Matius 5:17-20, Yesus membeberkan tuntutan Hukum, yaitu kesempurnaan. Kristus datang, bukan untuk meniadakan Hukum, tetapi untuk menggenapinya, yang Ia memang lakukan. Yesus ada di bawah Taurat, supaya orang percaya tidak perlu berada di bawah Taurat.

 

  1. Tidak dapat dibuktikan bahwa Rasul Paulus dan jemaat-jemaat awal memelihara Sabat. Para Adventis mengajarkan ini sebagai fakta, tetapi ini hanyalah perkiraan dan tebakan saja. Benar bahwa Paulus bertemu di sinagog-sinagog pada hari Sabat untuk berkhotbah kepada orang-orang Yahudi yang berkumpul di sana, tetapi ini tidak berarti bahwa dia memelihara sistem hukum Sabat Musa. Sebaliknya, Paulus bersaksi tentang masalah Sabat, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” (Kol. 2:16).

Rasul Paulus dengan gamblang mengajarkan bahwa pemeliharaan Sabat tidak mengikat pada orang percaya PB. Memelihara atau tidak memelihara hari-hari tertentu adalah bagian dari kebebasan individu Kristen. “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri” (Rom. 14:5).

Menurut Alkitab, alasan Paulus mengunjungi sinagog-sinagog pada hari Sabat adalah untuk memberitakan Injil. Beban Paulus setelah pertobatannya adalah untuk memberitakan Kristus. Dia terbeban untuk bangsanya sendiri, orang Yahudi. Jadi, dia pergi ke tempat orang Yahudi untuk memberitakan Kristus kepada mereka. Perhatikan Kisah Para Rasul 13:14-44; 16:13-14; 17:2-4; and 18:4. “Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci” (Kis. 17:2).

Fakta bahwa Paulus pergi ke sinagog-sinagog pada hari Sabat tidak membuktikan bahwa dia memelihara Sabat, sama seperti dia pergi ke berbagai perayaan Yahudi di Yerusalem tidak membuktikan bahwa dia percaya dirinya terikat oleh hukum tentang hari-hari raya Yahudi. Dia tidak merasa terikat kepada satu pun dari hal-hal ini. Dia bebas dalam Kristus. Dia pergi sebagai pemenang jiwa untuk bersaksi kepada orang-orang sebangsanya tentang kebebasan dalam Kristus yang dia sendiri nikmati.

 

  1. Ada banyak bukti dalam Alkitab dan dalam sumber-sumber sejarah lainnya bahwa orang-orang Kristen awal, sejak dari zaman Rasul-Rasul, bertemu dan kebaktian pada hari pertama minggu, bukan pada hari Sabat. Para pembaca sekalian bisa mengecek dokumentasi yang disediakan pada poin berikutnya.

 

 

KELIMA

YANG ADVENT AJARKAN: Roma mengubah hari penyembahan dari Sabat menjadi Minggu pada abad keempat. Para Adventis berargumen bahwa hukum Sabat dipelihara oleh orang-orang Kristen hingga Konstantin, kaisar Roma, mengharuskan semua orang untuk memelihara Minggu. Para pemimpin Adventis melihat Konstantis sebagai tipologi dari antikristus di masa depan, yang (mereka percayai) akan membuat penyembahan Minggu suatu hukum yang mengikat semua manusia.

“Konstantin adalah kaisar Romawi. Dia adalah seorang penyembah matahari, tetapi dia juga adalah seorang politikus pintar. Dia mau menyenangkan semua orang. Sewaktu dia masih seorang kafir, dia mendekritkan bahwa semua kantor pemerintah harus ditutup pada hari pertama minggu – ‘hari penghormatan matahari.’ Gereja, yang kini telah berdiri di Roma, dengan cepat melihat keuntungan duniawi dalam kompromi dengan kekafiran … jadi demikianlah setelah beberapa tahun singkat, ketika hari Minggu telah masuk bercokol, gereja Roma dalam Konsili Laodikia mengesampingkan perintah Allah yang jelas dan mendekritkan perubahan dari hari ketujuh menjadi hari pertama minggu” (Planet in Rebellion, hal. 290).

 

YANG ALKITAB AJARKAN: Ada banyak bukti dalam Alkitab dan dalam sumber-sumber serjah lainnya bahwa orang-orang Kristen awal, sejak zaman Rasul-Rasul, bertemu dan kebaktian pada hari pertama minggu, bukan pada hari Sabat.

 

Bukti-bukti Alkitab berkaitan dengan hari pertama minggu.

 

  1. Pada hari pertama Yesus bangkit dari kematian (Mar. 16:9)
  2. Pada hari pertama Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya (Mar. 16:9)
  3. Pada hari pertama Yesus bertemu dengan murid-muridNya di berbagai tempat dan berulang kali (Mar. 16:9-11; Mat. 28:8-10; Luk. 24:34; Mar. 16:12-13; Yoh. 20:19-23).
  4. Pada hari pertama Yesus memberkati murid-murid (Yoh. 20:19)
  5. Pada hari pertama Yesus memberikan kepada murid-murid karunia Roh Kudus (Yoh. 20:22)
  6. Pada hari pertama Yesus mengamanatkan murid-murid untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia (Yoh. 20:21; dengan Mar. 16:9-15)
  7. Pada hari pertama banyak orang kudus yang dibangkitkan dari kubur (Mat. 27:52-53)
  8. Hari pertama menjadi hari sukacita dan bagi murid-murid (Yoh. 20:20; Luk. 24:41).
  9. Pada hari pertama Injil tentang kebangkitan Kristus pertama kali diberitakan (Luk. 24:34)
  10. Pada hari pertama Yesus menjelaskan Kitab Suci kepada murid-murid (Luk. 24:27, 45)
  11. Pada hari pertama, pembenaran kita diselesaikan (Rom. 4:25)
  12. Pada hari pertama Roh Kudus turun (Kis. 2:1). Pentakosta adalah pada hari ke-50 setelah Sabat waktu persembahan unjukan (Im. 23:15, 16). Jadi, Pentakosta selalu adalah hari Minggu.
  13. Orang-orang Kristen bertemu untuk acara jemaat pada hari pertama (Kis. 20:6, 7; 1 Kor. 16:2). Hari Minggu adalah “hari Tuhan” (Wah. 1:10) (D.M. Canright, Seventh-day Adventism Renounced).

 

Sejak zaman itu, mayoritas besar orang-orang Kristen telah selalu berkumpul pada hari Tuhan, yaitu hari pertama minggu. Mereka melakukan ini untuk menghormati kebangkitan Juruselamat mereka. Kristus ada dalam kubur pada hari Sabat, dan bangkit sebagai yang pertama dari antara orang mati pada hari pertama. Sabat menandakan hari terakhir dari ciptaan lama (Kej. 2:2). Minggu adalah hari pertama dari ciptaan baru.

 

Bukti Sejarah bahwa Orang Kristen Awal Berjemaat pada Hari Minggu

 

Epistle of Barnabas (sekitar 100 M): “Oleh karena itu, juga kita memelihara hari kedelapan dengan sukacita, hari saat Yesus bangkit lagi dari kematian.”

Epistle of Ignatius (sekitar 107 M). “Jangan tertipu oleh doktrin-doktrin aneh, atau dengan dongeng-dongeng kuno, yang tidak bermanfaat. Sebab jika kita masih hidup menurut Hukum Yahudi, kita mengakui bahwa kita belum menerima kasih karunia … Oleh sebab itu, jika, mereka yang dibesarkan dalam tatanan lama telah menjadi pemilik dari pengharapan yang baru, tidak lagi memelihara Sabat, tetapi hidup dalam pemeliharaan Hari Tuhan, dalam hal mana hidup kita juga muncul lagi oleh Dia dan oleh kematianNya.”

 

Justin Martyr (sekitar 140 M). “Dan pada hari yang disebut Minggu, semua yang tinggal di kota-kota atau di desa berkumpul di satu tempat, dan catatan-catatan para Rasul atau tulisan-tulisan para nabi dibacakan. …Tetapi Minggu adalah harinya, pada waktu mana kita semua berkumpul bersama; karena ini adalah hari pertama minggu, saat Allah … menciptakan dunia; dan Yesus Kristus Juruselamat kita pada hari yang sama bangkit dari kematian.”

Bardesanes, Edessa (180 M). “Pada hari pertama minggu, kita berkumpul bersama.”

Clement of Alexandria (194 M). “Dia, untuk menggenapi aturan, menurut Injil, memelihara hari Tuhan … memuliakan kebangkitan Tuhan dalam dirinya.”

Tertullian (200 M). “Kita mengkhusyukkan hari setelah Sabtu, berlawanan dengan mereka yang menyebut hari ini sebagai Sabat mereka.”

Irenaeus (sekitara 155-202 M). “Misteri Kebangkitan Tuhan tidak boleh dirayakan pada hari lain selain hari Tuhan, dan pada hari ini sajalah kita dapat memelihara pemecahan Pesta Paskah.”

Sangatlah jelas bahwa orang-orang Kristen berjemaat pada hari Minggu jauh sebelum abad keempat.

 

 

KEENAM

YANG ADVENT AJARKAN: Gereja telah mengubah Sabat menjadi Minggu tanpa otoritas Alkitab.

“Orang-orang Kristen pada generasi-generasi lampau memelihara Minggu, dengan pemahaman bahwa dengan cara demikian mereka memelihara Sabat dalam Alkitab; dan kini ada orang-orang Kristen sejati di setiap gereja, tidak terkecuali dalam persekutuan Roma Katolik, yang secara jujur percaya bahwa hari Minggu adalah Sabat yang ditentukan Allah” (Ellen White, The Great Controversy, hal. 394).

 

YANG ALKITAB AJARKAN: Hari Minggu bukanlah Sabat; hari Minggu bahkan bukan hari yang kudus. Orang-orang Kristen tidak memelihara hari pertama sebagai Sabat ketika mereka berkumpul pada hari Minggu. Orang percaya PB, yang telah ditebus dari kewajiban hukum Musa, bebas untuk memelihara atau tidak memelihara hari-hari kudus, sesuai dengan hati nuraninya. (Tentu saja orang Kristen tidak seharusnya meninggalkan perkumpulan bersama pada hari Minggu atau hari lainnya, tetapi setiap orang Kristen bebas untuk menghormati atau tidak menghormati hari-hari tertentu). Roma 14:1-13 dan Kolose 2:16 dengan jelas menyatakan bahwa orang percaya tidak akan dihakimi dalam hubungan dengan hari-hari kudus. Bahkan cara orang-orang Galatia memelihara hari-hari kudus membuat Rasul Paulus khawatir bahwa mereka bahkan belum diselamatkan!

“Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. 11 Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia….Betapa rinduku untuk berada di antara kamu pada saat ini dan dapat berbicara dengan suara yang lain, karena aku telah habis akal menghadapi kamu” (Gal. 4:10-11, 20).

“Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri” (Rom 14:4-5).

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” (Kol. 2:16).

 

 

KETUJUH

YANG ADVENT AJARKAN: Adventisme sedang memenuhi nubuat dengan memberitakan tentang Sabat. Para Adventis percaya bahwa Allah telah membangkitkan mereka sebagai gereja sisa di akhir zaman untuk memberitakan kebenaran Sabat sebagai suatu ujian bagi umat manusia. Pekerjaan ini akan berpuncak pada Kesusahan Besar, demikian mereka percayai, dan pada kedatangan kedua Kristus. Untuk bukti Alkitab mengenai hal ini, para Adventis menunjuk kepada empat perikop utama: Yes. 58:12-14; Mat. 24:14; Wah. 14:6-12; dan Wah. 12:17.

“Sejak awal, Advent-Hari-Ketujuh telah dengan berani memproklamirkan tiga pesan dalam Wahyu 14:6-12 sebagai panggilan terakhir Allah bagi orang berdosa untuk menerima Kristus, dan dengan rendah hati yakin bahwa gerakan mereka adalah yang disebut di sini sebagai ‘sisa.’ Tidak ada badan rohani lainnya yang memproklamirkan pesan gabungan ini, dan tidak ada yang lain yang cocok dengan spesifikasinya … Para Adventis telah menemukan ulang permata-permata kebenaran ini dan merestorasi mereka kepada setting mereka yang sebenarnya … Contoh … berharganya nilai kebenaran Sabat, berlawanan dengan Minggu kepausan. Terutama adalah perintah Sabat harus direstorasi ke tempatnya yang sebenarnya dalam sepuluh perintah Hukum Allah. Yesaya mendeklarasikan bahwa sisa umat Allah akan memperbaiki ‘celah’ yang terjadi pada hukum Allah ketika kepausan merobek hukum keempat dari jantung Sepuluh Hukum…” (Prophetic Guidance Correspondence Course, hal. 46).

 

YANG ALKITAB AJARKAN:

  1. Ayat-ayat yang dipakai oleh SDA untuk mendukung ide ini, sama sekali tidak mendukungnya sebenarnya. Baik Perjanjian Lama maupun Baru sama sekali tidak berbicara mengenai suatu kelompok agama/rohani yang akan muncul di hari-hari terakhir sebelum kedatangan kedua Kristus untuk memproklamirkan Sabat. Walaupun Wahyu 14:12 memang menyebut sisa pada masa Kesusahan Besar akan “menuruti perintah Allah,” sama sekali tidak ada disinggung bahwa ada penekanan khusus pada Sabat. Penafsiran yang dipaksakan pada ayat ini oleh guru-guru Advent mengilustrasikan kebiasaan mereka memelintir Kitab Suci.

Lagi, Yesaya 56:1-7 dan 58:1-13, yang dipakai oleh para Adventis untuk mendukung doktrin tentang suatu gereja sisa akhir zaman yang memberitakan Sabat, sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang hal demikian. Dalam ayat-ayat ini, Allah secara sederhana menasihatkan bangsa Israel untuk memelihara sabat mereka, sama seperti yang telah Ia lakukan sepanjang sejarah Israel. Yesaya 56 dan 58 berbicara tentang Israel nasional, bukan gereja di zaman sekarang ini. “Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!” (Yes. 58:1). Bahwa Yesaya akan menasihati Israel tentang Sabat adalah cocok dengan perikop-perikop lain yang mengajarkan bahwa Sabat diberikan kepada negara/bangsa Israel sebagai tanda perjanjian yang spesial (Yes. 66:20-23). Israel akan selalu memelihara Sabat perjanjiannya. Namun, gereja bukanlah Israel, dan gereja tidak menggenapi nubuat-nubuat Israel dalam Yesaya. Ada tiga kelompok umat yang disebut secara terpisah dalam Alkitab – Israel, bangsa-bangsa, dan jemaat-jemaat Tuhan. Rasul Paulus mengajarkan hal ini ketika ia menulis, “Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah” (1 Kor. 10:32). Rencana Allah bagi bangsa Israel, sebagaimana dinyatakan sejak dulu dalam Perjanjian Lama, masih akan digenapi secara literal oleh bangsa Israel, bukan oleh jemaat Tuhan.

 

  1. Sumber sejati dari ide ini adalah penglihatan-penglihatan Ellen White, bukan Alkitab.

“… tujuh bulan setelah keluarga White mulai memelihara dan mengajarkan Sabat, Tuhan memberikan suatu penglihatan yang menekankan pentingnya hal tersebut … dalam penglihatan ini, Ny. White sepertinya dipindahkan ke sorga dan dibawa melalui tempat kudus sorgawi.

Dalam tempat yang maha kudus, dia melihat tabut tersebut yang mengandung hukum, dan tercengang memperhatikan bahwa ‘yang keempat, perintah tentang Sabat, bercahaya di atas mereka semua; karena Sabat dipisahkan untuk dipelihara demi menghormati nama Allah yang kudus. SABAT YANG KUDUS TERLIHAT MULIA – ADA LINGKARAN KEMULIAAN MELINGKUPINYA…’

JUGA DITUNJUKKAN KEPADANYA PERUBAHAN PADA SABAT, SIGNIFIKANSI PEMELIHARAAN SABAT, PEKERJAAN DI HADAPAN MEREKA UNTUK MEMPROKLAMIRKAN KEBENARAN SABAT, hubungan pemeliharaan Sabat ke waktu kesusahan di hadapan umat Allah yang setia, yang berklimaks pada kedatangan kedua Kristus, yang membawa keselamatan akhir..

Hubungan Sabat dengan pesan malaikat ketiga juga disingkapkan: ‘Saya ditunjukkan pentingnya hal ini dan tempatnya pada pesan malaikat ketiga’ (E.G. White surat 2, 1874).

 

‘Saya ditunjukkan bahwa malaikat ketiga, memproklamirkan perintah-perintah Allah dan iman kepada Yesus, mewakili orang yang menerima pesan ini dan mengangkat suara peringatan kepada dunia, untuk menjaga perintah-perintah Allah seperti biji mata sendiri, dan bahwa sebagai respons terhadap peringatan ini banyak orang akan memeluk Sabat Tuhan’ (Ellen White, Testimonies, Vol. 1, hal. 77; Messenger to the Remnant, hal. 34).

Walaupun disangkali oleh para Adventis, jelas bahwa yang diklaim sebagai penglihatan-penglihatan Ellen White ini adalah otoritas sejati dari doktrin mereka bahwa merekalah gereja sisa pada akhir zaman yang dibangkitkan Allah untuk memproklamirkan penyembahan pada hari Sabat kepada seluruh dunia. Di sini sekali lagi kita menemukan suatu doktrin kunci dalam sistem Advent terbentuk dari penglihatan nabiah mereka.

Kami mengulangi: tanpa Ellen White, tidak akan ada Gereja Advent-Hari-Ketujuh. Banyak dari doktrin-doktrin utama mereka secara sederhana tidak bisa didapatkan dari Alkitab saja, karena memang tidak ditemukan, kecuali jika seseorang mendekati Kitab Suci dengan ide-ide yang sudah tertanam sebelumnya dari sumber luar Alkitab – misal dari penglihatan seseorang. SDA (Seventh-day Adventism), sama seperti kelompok tidak alkitabiah lainnya, memandang Kitab Suci hanya dari kacamata doktrin mereka yang sesat. Tanpa “kacamata” Mary Baker Eddy, tidak akan ada kelompk Christian Scientists. Tanpa “kacamata” Joseph Smith, tidak akan ada Mormonisme. Tanpa “kacamata” Charles Taze Russell tidak akan ada Saksi Yehovah. Semua pribadi-pribadi ini telah memberikan kepada pengikut-pengikut mereka suatu set pandangan yang sesat, dan mereka membaca Alkitab dengan lensa pandangan tersebut. Advent-Hari-Ketujuh membeli kacamata sesat mereka dari laboratorium Ellen White.

 

 

KEDELAPAN

YANG ADVENT AJARKAN: Memelihara Sabat akan menjadi tes ketaatan selama masa Kesusahan Besar. Adventisme bersikukuh bahwa pada masa Kesusahan Besar, pemeliharaan hari Minggu akan menjadi tanda binatang itu. Mereka mengatakan bahwa adalah Paus, sebagai tipologi antikristus, yang mengubah Sabat menjadi Minggu. Semua yang memelihara penyembahan pada Minggu di masa Kesusahan Besar adalah menerima tanda binatang itu, dan oleh karena itu akan terhilang.

“Pada penafsir Adventis memahami tanda antikristus bukan sebagai suatu cap yang literal, tetapi semacam tanda kesetiaan yang mengidentifikasikan pemilik tanda sebagai orang yang setia kepada sistem yang diwakili oleh sang Binatang. Kontroversi pada waktu itu akan berpusat pada hukum Allah, dan terutama pada hukum keempat. …Jadi, pemeliharaan hari Minggu akan menjadi tanda seperti itu” (News From Jesus— bagian dua, hal. 28, Adult Sabbath School Lessons, third quarter, 1974).

“…dihilangkannya salah satu perintah dalam Sepuluh Perintah, dan menggantikannya dengan suatu hari yang tidak pernah Allah perintahkan, diklaim oleh kuasa ini sebagai tanda otoritasnya untuk mengikat hati nurani manusia. Betapapun mengerikannya penyingkapan ini, dikukuhkannya hari pertama minggu sebagai hari penyembahan, berlawanan dengan firman Allah yang jelas bahwa hari ketujuh adalah SabatNya – ini, dengan bukti yang berkelimpahan dan pengakuan yang tidak malu-malu, adalah tanda yang akan segara dipaksakan pada manusia!” (Planet in Rebellion, hal. 386).

 

YANG ALKITAB AJARKAN: Ide bahwa pemeliharaan hari Minggu akan menjadi tanda binatang itu, jelas tidak ditemukan, dan juga tidak didukung oleh Kitab Suci. Ini adalah ide yang dimunculkan dan disebarkan oleh Ellen White, dan diterima sebagai dogma oleh denominasi Advent-Hari-Ketujuh. Benar, Antikristus akan “berusaha untuk mengubah waktu dan hukum,” tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa ini melibatkan Sabat atau Minggu. Alkitab sederhananya tidak menyingkapkan secara persis hukum-hukum apa yang akan Antikristus ubah.

Dari manakah datangnya doktrin Advent-Hari-Ketujuh ini, kalau begitu? Sampul belakang dari buku The Great Controversy menyatakan bahwa penulisnya, Ellen G. White, “dianggap telah diilhami oleh Allah.” Dia juga disebut “komentator Alkitab yang diilhami.” Dalam buku ini, White menyatakan secara mendetil, doktrin-doktrin yang menurut dia diajarkan oleh malaikat-malaikat dalam beberapa penglihatan. Di sinilah, seiring dengan doktrin-doktrin aneh lainnya dan penambahan-penambahan kepada pewahyuan Allah, Ellen White mengembangkan ide bahwa pemeliharaan Minggu adalah tanda binatang antikristus. Ny. White menulis:

“Melalui dua kesalahan besar, yaitu immortalitas jiwa dan kekudusan Minggu, Setan akan membawa orang-orang ke bawah penipuannya … Kaum Protestan di Amerika Serikat akan menjadi yang pertama dalam mengulurkan tangan mereka melewati jarak untuk menggenggam tangan spiritualisme; mereka akan menjangkau melewati jurang untuk bergenggaman tangan dengan kuasa Romawi …

… akan dideklarasikan bahwa manusia melawan Allah dengan melanggar Sabat Minggu; bahwa dosa ini telah membawa kehancuran yang tidak akan berhenti sampai pemeliharaan hari Minggu diterapkan dengan ketat; dan mereka yang menyatakan klaim-klaim hukum keempat, sehingga menghancurkan penghormatan kepada hari Minggu, akan orang-orang yang mengganggu umat. …

Orang-orang yang menghormati Sabat Alkitab akan dihakimi sebagai musuh hukum dan keteraturan. … Sambil gereja-gereja Protestan menolak argumen-argumen jelas Kitab Suci yang mempertahankan hukum Allah, mereka akan sangat rindu untuk melenyapkan orang-orang yang imannya tidak dapat mereka kalahkan melalui Alkitab. … Para pejabat gereja-gereja dan negara akan bersatu untuk menyogok, meyakinkan, atau memaksa semua kalangan untuk menghormati hari Minggu … bahkan di Amerika yang bebas ini (The Great Controversy, hal. 515, 517- 519).

 

Tidak dapat disangkal, Ny. White memiliki imajinasi yang luar biasa!

Tambahan Editor: Ini adalah satu lagi dari daftar panjang nubuat/prediksi palsu Ny. White. Hari ini Amerika Serikat sama sekali tidak menghormati hari Minggu, banyak gerejanya saja tidak, apalagi orang-orang sekulernya.

 

 

Save

Save

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *