Majalah “Oprah” Mengatakan Allah Menyetujui Aborsi

(Berita Mingguan GITS 7 Oktober 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam isu bulan Mei dari majalah Oprah, yang diambil dari nama Oprah Winfrey, ada artikel yang mengklaim bahwa Allah “ada dalam” aborsi. Artikel tersebut berjudul “Parker’s Choice: How a doctor’s Christianity led him to perform abortions” oleh Natalie Beach. Dia mengutip Willie Parker, seornag dokter, sebagai berikut: “Meringankan penderitaan yang tidak perlu adalah tanggung jawab kudus seorang Kristen. Jika Allah ada dalam segala sesuatu, dan dalam semua orang, maka Allah ada dalam wanita yang membuat keputusan untuk mengakhiri kehamilan sama seperti Ia ada di dalam Alkitab.” Jadi Parker memegang pandangan panentheistic, bahwa Allah ada dalam segala sesuatu, dan oleh karena itu Ia ada dalam keputusan seorang wanita untuk membunuh bayinya. Ini cocok dengan pandangan New Age yang dipegang Oprah, tetapi pandangan seperti ini akan membuat Allah menjadi sumber kejahatan dan akan menghasilkan fatalisme. Para fans wanita Oprah harus memikirkan ini dengan jernih. Jika Allah ada dalam kamu ketika kamu “mengakhiri” anakmu yang belum lahir, maka Allah ada dalam si pencuri yang menggondol dompetmu dan pemerkosa yang menodai putrimu dan pembunuh yang menyembelih temanmu. Jika Allah ada dalam semua orang dalam pemahaman bahwa Ia ada dalam keputusan semua orang, maka berarti bahwa apapun yang manusia putuskan, adalah kehendak Allah, dan ini adalah omong kosong yang konyol. Bagi orang yang percaya Alkitab, isu aborsi bukanlah isu yang membingungkan. Perhatikan beberapa kebenaran Alkitab yang jelas: Pertama, Allah pegang kendali atas pembuahan (Kej. 20:18; 29:31 30:22) dan membentuk anak di dalam rahim.(Maz. 139:13-16). Alkitab mengatakan bahwa anak-anak adalah milik pusaka Tuhan (Maz. 127:3). Anak dalam rahim bukanlah, secara ultimat, milik sang ibu, tetapi milik Allah. Kedua, hukum Allah menuntut hukuman jika seorang bayi yang belum lahir dicelakakan (Kel. 21:22-23). Melukai atau membunuh anak yang belum lahir dianggap sebagai kejahatan yang serius. Ketiga, dua puluh kali Alkitab melarang menumpakan “darah yang tidak bersalah” (mis. Ul. 19:10-13; 2 Raj. 21:16). Ini mengacu kepada membunuh seseorang tanpa sebab yang adil dan benar (1 Sam. 19:5). Menghukum mati seorang pembunuh, misalnya, adalah alasan yang adil dan benar, tetapi membunuh seseorang yang tidak bersalah adalah tidak adil. Allah membenci penumpahan darah orang yang tidak bersalah (Ams. 6:16-17). Mana lagi ada orang yang lebih tidak bersalah daripada anak yang belum lahir?

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *