Mitos Evolusi yang Terus Bertahan

(Berita Mingguan GITS 14 Oktober 2017, sumber: www.creationmoments.com)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 22 Agustus 201: “Ernst Haeckel terkenal karena membuat diagram-diagram embrio, untuk menunjukkan kemiripannya. Ide dia adalah bahwa “ontogeni merekapitulasi filogeni.” Dengan kata lain, tahapan-tahapan perkembangan, yang dilalui oleh sebuah embrio (ontogeni), adalah semacam rekapitulasi (pengilasan ulang) dari evolusi organisme tersebut (filogeni). Saya dengan jelas masih ingat diajarkan hal ini, sebagai bukti evolusi, ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar. Ketika saya mengingat guru mana yang mengajarkan hal ini, saya tahu bahwa saya diajarkan hal ini pada tahun 1971. Gambar-gambar Haeckel yang terkenal ini dipublikasikan tahun 1874, tetapi menuai kritik hampir pada saat yang bersamaan. Teori Haeckel telah diketahui sebagai kesalahan sejak minimal 1965 (Simpson and Beck, An Introduction to Biology, hal. 241). Gambar-gambar yang dia buat itu bukan saja suatu kesalahan. Gambar-gambar itu secara sengaja dimanipulasi, untuk mendukung teori rekapitulasinya, walaupun bentuk sebenarnya dari embrio-embrio tidak menunjukkan kesamaan yang dimaksud. Namun, ketika saya menjadi seorang guru tahun 1983, mengajar di sebuah sekolah pemerintah di Inggris, saya diberikan suatu kurikulum IPA, yang menyertakan konsep ini, 20 tahun setelah diketahui bahwa ini konsep yang salah, dan 12 tahun setelah saya diajar konsep ini. Dalam kantor saya, saya memiliki sejumlah buku teks ilmu pengetahuan tingkat SMP-SMA. Salah satu buku teks Biologi yang paling terkenal adalah yang diterbitkan oleh Prentice Hall. Edisi yang saya miliki adalah edisi 2002, hampir 40 tahun setelah ide-ide Haeckel telah dibuktikan salah. Namun, buku ini masih menyertakan konsep Haeckel itu sebagai salah satu bukti evolusi Darwin (Miller and Levine, Biology, hal 385). Ini memaksa kita untuk menyimpulkan bahwa para evolusionis menipu diri mereka sendiri, karena mereka desperate mencari bukti untuk ide mereka, padahal memang tidak ada buktinya.”

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *