Penganiayaan oleh Kaum Protestan (bagian 2)

KAUM BAPTIS DIANIAYA PADA ZAMAN RATU ELIZABETH I

Ratu Elizabeth I mengambil alih takhta dari Ratu Mary yang berhaluan Roma Katolik, dan Elizabeth menyetir Gereja Inggris ke atas dasar yang lebih Protestan.

1. Walaupun Elizabeth memberikan kebebasan kepada kaum Protestan dan memperlakukan kaum Katolik dengan toleran (walaupun mereka terus menerus berkomplot melawan tahktanya dan bahkan nyawanya), dia memperlakukan kaum Baptis dengan keras.

2. Kaum Baptis bertambah banyak di Inggris dan tersebar di banyak bagian negeri itu. Langley, dalam bukunya English Baptists, sebelum tahun 1602, menyebut gereja-gereja di sembilan wilayah county yang berasal dari sekitar 1576 hingga 1600. Jemaat-jemaat ini tumbuh dari pemberitaan Injil orang Inggris asli yang telah berlangsung untuk waktu yang lama. Mereka juga mulai ber-emigrasi dari Belanda, dan Perancis, dan tempat-tempat lain, dengan harapan bahwa Ratu Protestan di Inggris akan memberikan mereka lebih banyak kebebasan daripada negara asal mereka.

3. Didukung oleh para uskup Gereja Inggris, dalam hitungan bulan dia naik takhta, Elizabeth mengeluarkan sebuah proklamasi bahwa kaum Anabaptis harus ditemukan dan ditransportasi keluar dari Inggris, dan jika mereka tidak pergi, mereka akan dihukum. Dia mengatakan bahwa kaum Anabaptis “terjangkit oleh pendapat-pendapat yang berbahaya.”

Pada 4 Februari 1559, High Commision Court (sejenis Pengadilan Tinggi) dibentuk oleh Parlemen. Sang Ratu mengeluarkan larangan untuk mengkhotbahkan doktrin apapun yang bertentangan dengan Gereja Inggris. Dia melarang penerbitan buku “sesat” manapun. Dia juga memulai “pembesukan kerajaan,” yaitu perwakilan Raja/Ratu akan mengelilingi negara dalam satu putaran, dengan kuasa untuk mencari semua penyesat.

Pada akhir tahun 1559, Undang-Undang Keseragaman Agama diberlakukan. Undang-undang ini membuat doktrin dan praktek Gereja Inggris menjadi hukum bagi negeri itu.

 

4. Pada Juni 1575, dua orang Anabaptis Belanda dibakar hingga mati di Smithfield. Awalnya sebelas orang dihukum bakar setelah sebuah pengadilan dewan gereja di Katedral St. Paul, tetapi sembilan orang lainnya akhirnya diusir saja.

Salah satu yang dibakar adalah HENDRICK TERWOOKT. Dia adalah seorang muda, sekitar 25 tahun, yang baru saja menikah beberapa minggu. Dia telah lari ke Inggris untuk menghindari penganiayaan di Fleming, dengan anggapan bahwa Ratu Elizabeth yang Protestan akan lebih berbelas kasihan.

Orang yang satu lagi, JAN PIETERS, adalah seorang yang lebih tua, dengan seorang istri dan sembilan anak yang bergantung pada hasil kerjanya. Istrinya yang pertama telah dimartir di Flanders, dan istrinya yang sekarang adalah janda seorang martir. Sekarang wanita itu menjadi janda seorang martir untuk kedua kalinya.

Surat pemutusan kematian bagi kedua orang tersebut, yang dikeluarkan oleh sang Ratu Protestan, hampir sama persis dengan yang dikeluarkan oleh Ratu Katolik, Mary.

“Sang Ratu tidak mau mengalah. Pada tanggal 15 Juli, dia menandatangani surat eksekusi untuk dua orang dari antara mereka, memerintahkan para sheriff London untuk membakar mereka hidup-hidup di Smithfield. Sebuah salinan surat tersebut saat ini ada di hadapan saya. Juga ada di hadapan saya sebuah salinan surat pembakaran Uskup Agung Cranmer dari zaman Ratu Mary. Kedua surat ini secara substansi sangat mirip. Bahkan, mereka memakai gaya bahasa yang hampir sama, kata demi kata. Mary, sang pemuja Paus, mematikan sang Protestan, dan Elizabeth, sang Protestan, memerintahkan pembunuhan sang Baptis, menggunakan alasan-alasan yang sama dan memakai bentuk tulisan yang sama. Keduanya menyebut korban-korban mereka sebagai “penyesat.” Keduanya mengasumsikan diri ‘berjuang demi keadilan.’ Keduanya adalah ‘pembela iman yang Katolik’ (Editor: universal maksudnya). Keduanya mendeklarasikan keteguhan mereka untuk ‘mempertahankan dan membela gereja yang kudus, hak-hak dan kebebasan gereja itu.’ Keduanya menegaskan kegigihan mereka untuk ‘mencabut dan membinasakan kesesatan dan kesalahan.’ Keduanya menyatakan bahwa para penyesat yang disebut dalam surat telah diadili dan dijatuhi hukuman ‘sesuai dengan hukum-hukum dan kebiasaan-kebiasaan negeri.’ Keduanya memerintahkan para sheriff untuk membawa orang-orang tahanan mereka ke ‘tempat yang publik dan terbuka,’ dan di sana untuk ‘menyerahkan mereka ke dalam api,’ di hadapan orang-orang, dan untuk membuatkan mereka ‘sungguh terbakar’ dalam api yang disebut di atas. Keduanya memperingatkan para sheriff akan bahaya bagi mereka jika mereka gagal” (John Cramp, Baptist History, 1852).

 

Sang ratu tidak memiliki alasan untuk mengklaim bahwa orang-orang ini berbahaya bagi takhtanya. Mereka telah menyerahkan kepada sang ratu pernyataan iman berikut:

“Kami percaya dan mengakui bahwa para magistrasi (hakim-hakim) telah ditetapkan oleh Allah, untuk menghukum kejahatan dan melindungi yang baik; dan magistrasi itu hendak kami taati dari hati kami, sebagaimana tertulis dalam 1 Petrus 2:13, ‘Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia.’ ‘Karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang’ (Roma 13:4). Dan Paulus mengajari kita untuk menaikkan ‘permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan’ (1 Tim. 2:1-4). Lebih lanjut lagi dia mengajarkan kita untuk ‘tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik’ (Titus 3:1). Jadi, kami memohon kepada paduka yang mulia, untuk dengan baik memahami maksud kami; yaitu, bahwa kami tidak merendahkan sang ratu yang eminen, terhormat dan penuh kurnia, dan juga dewannya yang bijak, tetapi kami menganggap mereka pantas untuk segala kehormatan, dan kepada mereka kami mau taat dalam segala hal yang dapat kami perbuat. Sebab kami mengaku, sama seperti Paulus di atas, bahwa sang ratu adalah hamba Allah, dan bahwa jika kami menolak kuasa ini, kami menolak perintah Allah; sebab ‘pemerintah bukanlah musuh kebaikan, tetapi musuh kejahatan.’ Jadi kami mengakui berada di bawah dia, dan siap untuk memberikan, penghargaan, pajak, hormat, dan rasa takut, sebagaimana Kristus sendiri telah mengajar kita, dengan berkata, ‘Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah’ (Mat. 22:21). Jadi, karena Ratu adalah hamba Allah, kami dengan lembut memohon kepadanya yang mulia, agar ia berkenan untuk menyatakan belas kasihan kepada kami tahanan-tahanan yang menderita, sama seperti Bapa kita di sorga juga penuh belas kasihan (Luk. 6:36). Kami dengan cara yang sama tidak setuju dengan orang-orang yang menentang magistrasi; tetapi mengakui dan mendeklarasikan dengan seluruh hati bahwa kami taat dan berada di bawah mereka, sebagaimana kami tulis di sini” (Von Braght, Martyr’s Mirror, hal. 929).

5. Pada tahun 1593, dua pelayan puritan, Copping dan Thacker, digantung karena mengajarkan yang tidak sesuai (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. xxx).

6. Sekitar waktu kekalahan armada Spanyol pada tahun 1588, Elizabeth menunjuk John Whitgift sebagai Uskup Agung Canterbury. Dalam semangatnya untuk membuat semua orang tunduk kepada Gereja Inggris, dia memenuhi penjara dengan kaum Baptis. “…pada akhirnya, sekitar lima puluh dua ditahan untuk periode waktu yang lama dalam ‘liang-liang penjara yang paling buruk dan kotor,’ tanpa tempat tidur atau bahkan jerami untuk berbaring.” Dalam khotbahnya, Whitgift menyebut kaum Anabaptis “orang-orang yang melenceng dan sombong.” Ada yang melarikan diri dari negeri, tetapi banyak yang tetap tinggal dan dianiaya.

 

7. Penganiayaan secara umum memaksa kaum Baptis untuk menghilangkan diri dari pandangan umum semasa pemerintahan Elizabeth, tetapi kita tahu bahwa mereka terus eksis. Sejarahwan Strype menggambarkan sebuah gereja di London pada tahun 1588 dengan pandangan “anabaptis.” Dia berkata bahwa mereka berkumpul secara rutin pada hari Minggu, mengkhotbahkan Firman Allah, mengambil persembahan, mengirimkan bantuan kepada saudara-saudari mereka yang dianiaya dalam penjara, tidak menganggap gereja Inggris sebagai gereja yang sejati, menolak baptisan bayi, dan berpendapat bahwa negara tidak seharusnya mencampuri masalah kepercayaan iman.

 

KAUM BAPTIS DIANIAYA SELAMA MASA RAJA JAMES I

Ketika Elizabeth meninggal, James I (1603-25) naik ke atas takhta Inggris. Dia adalah raja yang mengotorisasi penerjemahan maha karya Kitab Suci Inggris itu, Alkitab King James, yang muncul pada tahun 1611.

1. Dia juga menganiaya kaum Baptis dengan berapi-api. Mereka dipenjarakan, barang-barang mereka disita, dan satu orang dibakar.

2. Orang terakhir yang dibakar hidup-hidup di Inggris oleh karena iman kepercayaannya adalah EDWARD WIGHTMAN, seorang Baptis, di Smithfield pada tanggal 11 April 1612, di bawah pemerintahan James I. (Satu bulan sebelumnya, Bartholomew Legate juga telah dibakar. Dikatakan bahwa ia adalah seorang Arian, yang berarti dia menyangkali keilahian Kristus). Ada banyak jenis “kesesatan” yang dituduhkan pada Wightman, tetapi sebagaimana Thomas Crosby, penulis dari The History of the English Baptists (1738) mengobservasi: “Banyak dari kesesatan yang mereka tuduhkan padanya adalah hal yang sedemikian konyol dan tidak konsisten, sehingga membatalkan apa yang mereka katakan. Jika ia sungguh berpegang pada kepercayaan seperti itu, pastinya ia seorang idiot atau seorang gila, dan mestinya didoakan dan dibantu, daripada dimatikan dengan sedemikian kejam” (Crosby, I, hal. 108). Tiga hal yang karenanya Wightman dibakar adalah sebagai berikut: ‘Bahwa pembaptisan bayi adalah suatu kebiasaan yang keji: Bahwa Perjamuan Tuhan dan Baptisan tidak seharusnya dirayakan sebagaimana sekarang ini dipraktekkan dalam gereja Inggris: Bahwa kekristenan tidak sepenuhnya diakui dan diberitakan di gereja Inggris, melainkan hanya sebagiannya saja.” Mengenai ketiga hal ini, saya setuju dan berdiri teguh bersama dengan sang martir Baptis kuno ini! Adalah fakta yang menarik bahwa baik martir pertama maupun martir terakhir yang dibakar di Inggris karena agamanya adalah orang Baptis. “Yang pertama yang dimatikan dengan cara yang kejam ini di Inggris adalah William Sawtre, katanya karena dapat dibuktikan ia menolak baptisan bayi; dan lalu orang ini, yang terakhir yang mendapat kehormatan merasakan kemartiran seperti ini, juga secara tegas dikecam karena pendapat yang sama: sehingga sektenya mendapat kehormatan untuk membuka jalan, sekaligus menjadi penutup dari semua martir yang dibakar hidup-hidup di Inggris” (Crosby, I, hal. 109).

3. Orang-orang lain ada yang mati selama pemerintahan James I, tetapi bukan dengan cara pembakaran. Mereka mati dalam penjara. Ini bukan karena kebaikan hati sang raja, tetapi karena teriakan protes publik melawan pembakaran. Sejarahwan Thomas Fuller mencatat, “Raja James, karena alasan politik, lebih suka agar setelah ini para penyesat, walaupun sudah dijatuhi hukuman, lebih baik dengan senyap dan tersendiri habis dalam penjara, daripada mendapat kehormatan, sekaligus menjadi tontonan publik, untuk menghadapi eksekusi publik, yang menurut penilaian populer mirip dengan penganiayaan” (Fuller, The Church History of Britain). Thomas Crosby setuju: “Raja James memilih agar di masa depan, hanya untuk menyita rumah dan tanah mereka, dan menghabiskan kehidupan mereka secara tersembunyi di penjara-penjara yang kotor, daripada memberi mereka kehormatan kemartiran publik, yang tidak terhindarkan akan disebut sebagai penganiayaan” (The History of the English Baptists, I, hal. 110).

4. Pada tahun 1610, kaum Baptis mengajukan petisi ke House of Lords, untuk dilepaskan dari penjara, tempat mereka ditahan karena hati nurani.

Mendekat kepada sidang dengan rendah hati dan lembut, petisi Baptis tersebut mengandung kata-kata menyentuh berikut: “Sebuah permohonan yang rendah hati dari berbagai tahanan miskin, dan banyak lagi yang lain dari antara rakyat Raja yang pribumi dan setia, yang siap untuk bersaksi dengan sumpah kesetiaan dengan segala ketulusan, yang permasalahannya sungguh disayangkan, hanyalah karena masalah hati nurani.”
Petisi ini disimpan oleh Perpustakaan House of Lords, dan ditandai, “Telah dibaca dan ditolak.”

5. Sedikitnya enam orang yang terlibat dalam penerjemahan Alkitab King James berpartisipasi dalam penganiayaan terhadap kaum Baptis dan kaum separatis lainnya pada tahun 1590an.

Richard Bancroft, yang membuat instruksi untuk penerjemahan tersebut, telah bekerja secara erat dengan Uskup Agung Canterbury, Whitgift, “mencabut jemaat-jemaat Separatis di London” (Adam Nicholson, God’s Secretaries, hal. 86). Bancroft sangat agresif dalam aktivitas ini, mengirimkan berbagai mata-mata untuk mencari kaum separatis [Editor: separatis di sini bukan dalam pengertian politik, tetapi orang yang tidak mau bergabung dengan gereja Inggris]. Ketika Bancroft mengambil alih sebagai Uskup Agung Canterbury menggantikan Whitgift, dia meneruskan pekerjaan penganiayaan melawan semua kaum “non-conformist” [Editor: kaum yang tidak mau menurut].

Sangat menyedihkan bahwa Lancelot Andrewes terlibat dalam urusan yang parah ini. Dia bertanggung jawab untuk menginterogasi para separatis [Editor: bukan separatis negara, tetapi separatis dari Gereja resmi], di bawah Bancroft, dan dia turun secara pribadi ke “sel-sel yang buruk,” dalam usaha untuk menemukan kesesatan dalam diri korban-korban inkuisisi Anglikan tersebut. Dia menginterogasi Henry Barrow, seorang pemimpin separatis, pada bulan Maret 1590 di Penjara Fleet. Barlow memulai dengan menekankan bahwa satu-satunya standar yang dia pegang adalah Alkitab, bahwa “Kitab Allah seharusnya menentukan secara damai semua kontroversi kita.” Dia bersaksi, “Saya dengan rela menyerahkan seluruh iman saya untuk dicobai dan diadili oleh firman Allah.” Andrewes menjawab bahwa orang Kristen harus membiarkan “gereja” untuk menafsirkan Kitab Suci dan bahwa mereka tidak boleh menuntut hak untuk penafsiran pribadi, tidak boleh, meminjam istilah yang dia pakai, memiliki “roh pribadi.” Barrow mengeluh tentang pemenjaraan selama tiga tahun dan bahwa “kesendirian, hilangnya sensasi, kondisi lingkungan yang sangat buruk, telah membuat dia masuk ke dalam depresi yang mendalam” (Nicholson, hal. 91). Respons Andrewes terhadap permintaan yang penuh kesedihan ini, adalah sesuatu yang memalukan baginya. Dia berkata: “Untuk pemenjaraan ini, kamu paling berbahagia. Kehidupan yang sendirian dan penuh perenungan adalah kehidupan yang saya anggap paling bahagia. Itu adalah kehidupan yang saya sendiri akan pilih.” Barlow memahami betapa bodohnya pernyataan tersebut dan menjawab: “Anda berbicara secara filosofis, tetapi tidak secara Kristiani. Sedemikian manisnya harmoni kasih karunia Allah bagi saya dalam jemaat, dan juga dalam persekutuan orang-orang kudus dalam segala waktu, sehingga saya membayangkan diri saya seekor burung pipit di atap rumah ketika saya diusir sama sekali. Akankah anda juga bahagia, Mr. Andrewes, jika tidak mendapat olahraga dan udara segar sedemikian lama? Hal-hal ini juga penting untuk tubuh alamiah.” Andrewes sungguh telah menjawab secara filosofis, tetapi tidak secara Kristiani. Tidaklah Kristiani untuk menganiaya mereka yang percaya hal yang berbeda, untuk melemparkan mereka ke dalam sel-sel penjara dan untuk membakar mereka. Barrows dimatikan pada tanggal 6 April 1593, setelah enam tahun pemenjaraan, dan Andrewes berbicara dengan dia lagi pada malam kematiannya. Barrows dihukum mati karena “menyangkali otoritas para uskup, menyangkali kekudusan gereja Inggris dan liturginya dan menyangkali otoritas ratu atas gereja.”

Henry Saville juga terlibat dalam interogasi-interogasi ini. Dia menginterogasi Daniel Studley di Penjara Fleet.

Thomas Sparkes menginterogasi Roger Waters yang berusia 18 tahun, yang ditaruh dalam penjara selama setahun “dalam rantai-rantai dalam lubang-lubang paling bau di penjara Newgate, yang dikenal sebagai Limbo” (Nicholson, God’s Secretaries, hal. 88).

Thomas Ravis menggantikan Bancroft sebagai uskup London, dan melanjutkan jejak penganiayaannya. “Segera setelah ia naik ke posisinya di London, dia mengulurkan tangannya untuk mempersulit kaum Puritan yang tidak mau tunduk [pada gereja resmi]. Di antara lain, dia memanggil ke hadapannya, orang yang kudus dan diberkati itu, Richard Rogers, yang selama lima puluh tahun telah melayani dengan setia di Weathersfield, dang yang tentangnya diberikan kesaksian, ‘Tuhan tidak menganugerahi kepada orang lain lebih lagi dari pada dia, dalam hal pemenangan jiwa.’ Dalam hadirat orang yang hebat ini, yang karena kedekatannya pada Allah dijuluki Henokh zaman itu, Uskup Ravis memprotes, ‘Dengan bantuan Yesus, saya tidak akan membiarkan ada satu pengkhotbah pun dalam wilayah ini, yang tidak tunduk dan ikut.’ Namun petinggi gereja itu harus mengalami kekecewaan; karena dia mati, sebelum misinya itu dia mulai dengan sungguh, pada tanggal 14 Desember 1609” (Alexander McClure, The Translators Revived, 1855).

George Abbot, yang menjadi Uskup Agung Canterbury, adalah seorang penganiaya. “Dia tidak akan bertangguh, belakangan dalam karirnya, untuk menggunakan siksaan terhadap pada penjahat, dan untuk menghukum mati pada Separatis” (Nicholson, hal. 157).

6. Pada tahun 1615, kaum Baptis menyampaikan petisi kepada Raja James untuk kebebasan beragama. Mereka menyatakan doktrin mereka secara gamblang dan membuktikannya lewat Kitab Suci bahwa bukanlah kehendak Kristus bahwa orang-orang Kristen menganiaya mereka yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Hal ini juga ditolak.

7. Joseph Ivimey mengobservasi bahwa kaum Baptis “menderita amat sangat dari tahun 1590 hingga 1630.” Berikut ini adalah sebuah gambaran yang ditulis oleh seorang Baptis dalam tahanan:

“Kesengsaraan kami adalah pemenjaraan yang panjang dan berkelanjutan selama banyak tahun di berbagai county di Inggris, dan dalam semua itu banyak yang mati dan meninggalkan janda-janda dan anak-anak kecil; penyitaan barang-barang kami, dan hal-hal sejenis, yang sebenarnya dapat kami jelaskan dengan baik; bukan karena kurangnya kesetiaan kepada raja, atau untuk melukai manusia manapun, biarlah musuh-musuh kami dapat menjadi hakim; tetapi hanya karena kami tidak berani untuk menyetujui, dan mempraktekkan dalam penyembahan pada Allah, hal-hal yang sama sekali kami tidak imani, karena itu adalah dosa terhadap Yang Mahatinggi” (dari traktat “Permohonan yang Paling Rendah Hati dari Rakyat Raja yang Setia; yang dianiaya (hanya karena berbeda dalam hal agama), berlawanan dengan kesaksian ilahi dan manusia,” dikutip oleh John Cramp, Baptist History).

8. Sikap yang kejam dari banyak pelayan Anglikan terhadap kaum Baptis, terlihat dalam contoh pada tahun 1644, dengan penerbitan “THE DIPPERS DIPT; atau, Kaum Anabaptis Dicemplungkan dan Dibenamkan melewati Kepala dan Telinga dalam Perdebatan di Southwark.” Penulis Anglikan yanb berpengaruh, Daniel Featley, menggambarkan kaum Anabapstis di Vienna, diikat bersama dengan rantai, dan ditenggelamkan di sungai. Dia lalu mengobservasi dengan dingin, “Di sini anda melihat tangan Allah dalam menghukum anggota-anggota sekte ini untuk dosa-dosa mereka….” Berikut adalah contoh lain dalam publikasi tersebut:

“Dari semua penyesat dan pemecah belah, kaum Anabaptis harus diperhatikan paling seksama dan dihukum dengan berat, jika bukan dicabut sepenuhnya dan diusir dari gereja dan negara. … Mereka mengkhotbahkan, dan mencetak, dan mempraktekkan ketidakkudusan mereka yang sesat secara terbuka; mereka menggelar pertemuan mereka secara mingguan di kota-kota terbesar kita dan daerah-daerah sekitarnya, dan di sana mereka bergiliran bernubuat [Editor: dalam pengertian menyampaikan firman Tuhan di sini]. …Mereka bergerombol dalam jumlah besar ke sungai-sungai Yordan mereka, dan baik lelaki maupun wanita masuk ke dalam sungai, dan dicelupkan sesuai dengan cara mereka seolah di bawah sihir, yang berisikan paham-paham mereka yang salah. … Dan sambil mereka menajiskan sungai-sungai kita dengan pemandian mereka yang kotor, dan mimbar-mimbar kita dengan nubuat palsu mereka dan antusiasme mereka yang fanatik, demikianlah percetakan-percetakan mengeluh di bawah beban penghujatan mereka” (Featley, The Dippers Dipt).

(berlanjut di minggu-minggu berikut)

This entry was posted in Penganiayaan / Persecution, Sejarah dan Doktrin Baptis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *