Tidak Mungkinnya Metamorfosis Kupu-Kupu Berasal dari Evolusi

(Berita Mingguan GITS 16 Desember 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolutions Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Michael Pitman, yang mengajar biologi di Cambridge, bertanya bagaimana mungkin metamorfosis dapat muncul dari evolusi: ‘Di dalam cangkang yang kering ini, organ-organ sang ulat diluluhkan dan direduksi menjadi bubur. Tuba-tuba pernafasan, otot-otot dan saraf-saraf menghilang; makhluk itu sepertinya sudah mati. Tetapi proses-proses sedang berjalan yang akan membentuk ulang bubur itu menjadi bagian-bagian yang berbeda namun berkoordinasi, dan dalam waktu yang tepat serangga tersebut, yang tidak bertumbuh atau berkembang dalam pengertian yang normal, akan muncul kembali sebagai kupu-kup dewasa yang indah. Ini adalah semacam kebangkitan. Jelas hal ini memperlihatkan betapa konyolnya untuk mencoba menjelaskan proses yang sedemikian jelas, walaupun terselubung, telah diprogram tersebut, dengan menggunakan seleksi alam melalui mutasi berturut-turut. Mengapakah, dengan dasar demikian, nenek moyang serangga ini bertahan hidup menghadapi mutasi yang membuat dia masuk dalam tahap chrysalid, namun yang belum mampu untuk menjadi bentuk dewasanya? Di manakah seleksi alam pada waktu itu? Bagaimana mungkin metamorfosis yang telah diprogram sejak awal, dalam serangga, amfibi, ataupun krustasea, dapat berevolusi dari keacakan? Sungguh, bagaimana mungkin perkembangan demikian dapat muncul melalui evolusi satu bagian demi satu bagian? Jelas beban untuk menjawab hal ini ada pada pundak evolusionis, bagaikan bola yang kusut dalam jaringan kesulitan’ (Adam and Evolution, hal. 71).

Bahkan jika kita berasumsi bahwa seekor ulat bulu dapat berevolusi dari makhluk lain, bagaimana mungkin evolusi berlanjut lagi ke fase pupa dan kemudian kupu-kupu? Mengapakah seekor ulat bulu kecil yang bahagia mau ‘berevolusi,” sambil ia dengan senangnya menghabiskan daun-daun yang renyah, lalu memutuskan untuk memintal suatu tatakan sutra dan membentuk dirinya sendiri menjadi pupa? Dan jika hal ini masuk dalam pola pikirnya, bagaimanakah ia dapat mempelajari hal yang sedemikian kompleks luar biasa? Dan mengapa? Dan bahkan jika semua ini entah bagaimana bisa terjadi, dan ulat bulu secara misterius meluluh menjadi sup biologis, maka akan berakhir di sana. Bagaimana mungkin ulat bulu yang telah meluluh merancang ulang dirinya sendiri menjadi suatu makhluk yang berbeda, kecuali jika keseluruhan proses ini telah diprogramkan ke dalam struktur genetikanya? Mutasi gen dan seleksi alam harus berdiam diri di hadapan metamorfosis. Lebih lanjut lagi, sang ulat bulu tidak bisa bereproduksi. Ia tidak memiliki organ seks. Jika ia tidak melalui proses kematian dan kebangkitan dalam metamorfosis, dan menjadi seekor kupu-kupu, ia tidak memiliki cara untuk melanjutkan dirinya. Ia harus memliki kemampuan untuk menjalani metamorfosis ejak dari awalnya untuk dapat eksis! Proses metamorfosis harus sudah sempurna sejak awalnya. Suatu metamorfosis yang setengah jalan saja berarti kematian bagi makhluk itu. Proses tersebut harus membentuk kupu-kupu yang sempurna yang dapat menjalankan mekanisme reproduksi yang kompleks.”

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *