Kompromi Billy Graham

Pada tanggal 21 Februari 2018, Billy Graham, seorang yang dijuluki “penginjil Kristen Injili yang paling terkenal” meninggal dunia. Pujian baginya mengalir dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai presiden dan mantan presiden, politikus, maupun tokoh masyarakat. Ada yang bahkan menyebutnya sebagai “penginjil yang paling berpengaruh sejak Rasul Paulus.”

Tidak diragukan bahwa Billy Graham memiliki pengaruh yang luas. Tetapi apakah pengaruh itu positif? Jawaban ini tergantung pada seberapa kita mempercayai dan memahami Alkitab. Billy Graham memulai pelayanannya sebagai seorang penginjil Baptis yang konservatif, tetapi perlahan-lahan bergeser dalam berbagai posisi. Untuk mendapatkan audiens yang lebih besar, ia bekerja sama dengan berbagai kaum, seperti Gereja Katolik, kaum Unitarian, juga kaum liberal dan modernis. Terakhir posisi dia bahkan menyatakan bahwa manusia bisa diselamatkan tanpa mengenal Yesus Kristus. Sungguh suatu perjalanan rohani yang menurun dan penuh kompromi. Berikut adalah salah satu riset dokumenter tentang langkah-langkah kompromi dalam hidup Billy Graham.

 

Sumber: Dr. David Cloud, dari www.wayoflife.org

Kompromi dan ketidaktaatan Billy Graham sudah dimulai sejak awal dalam pelayanannya. Dia lahir tahun 1918, dalam sebuah rumah tangga Presbyterian, dan melacak pertobatannya kepada khotbah seorang penginjil bernama Mordecai Ham pada tahun 1934. Dia lulus dari SMA pada Mei 1936 dan masuk ke Bob Jones College (yang belakangan menjadi Bob Jones University) pada tahun itu juga, tetapi kemudian pindah ke Florida Bible Institute setelah hanya satu semester di sana, karena dia tidak suka dengan disiplin ketat di Bob Jones.

Dia mencatat dalam biografinya bahwa “satu hal yang membuat saya senang [tentang Florida Bible Institute] adalah adanya berbagai variasi sudut pandang yang disuguhkan kepada kami dalam kelas, suatu campuran pemikiran ekumenisme dan injili yang indah, yang sungguh lebih maju dari zamannya” (Graham, Just As I Am, hal. 46).

Pada waktu dia di Florida itulah Graham merasakan panggilan untuk berkhotbah. Pada akhir tahun 1938, dia dibaptis secara selam di sebuah gereja Baptis, dan pada awal 1939, dia ditahbiskan untuk berkhotbah oleh sebuah jemaat Southern Baptist.

Graham lulus dari Florida Bible Institute pada bulan Mei 1940, dan bergabung dengan Wheaton College pada bulan September tahun itu, dan lulus dari sana tahun 1943. Pada Mei 1944, dia mulai berkhotbah untuk Chicagoland Youth for Christ yang baru terbentuk waktu itu, dan pada Januari 1945, dia ditunjuk sebagai penginjil full-time pertama bagi Youth for Christ International.

Dia adalah presiden dari Northwestern Schools (didirikan oleh W.B. Riley) sejak Desember 1947 hingga Februari 1952, walaupun dia terus berpergian dan berkhotbah bagi Youth for Christ, dan akhirnya membuka pelayanannya sendiri yang independen.

Billy Graham Evangelistic Association didirikan tahun 1950 dan acara radio Hour of Decision dimulai pada tahun yang sama. Graham pertama kali mengadakan KKR penginjilan (disebut crusade) atas suatu kota, di Grand Rapids, Michigan, pada bulan September 1947. Dan crusade dia pada bulan Oktober 1948 di Augusta, Georgia, menandakan mulainya suatu program yang jelas-jelas ekumenis. Ini adalah crusade pertama yang disponsori oleh asosiasi ministerial kota tersebut. Organisasi Graham mulai menuntut dukungan luas dari berbagai denominasi untuk crusade-crusade yang dia lakukan.

Selama crusade Graham tahun 1949 di Los Angeles, pelayanannya mulai mendapatkan sorotan media massa nasional. Namun demikian, perpecahan final Graham dengan kebanyakan pemimpin fundamentalis baru akan terjadi tahun 1957. Hal ini terjadi karena sponsor terbuka dari Protestant Church Council yang liberal di New York City. Komite crusade Graham di New York mengikutsertakan 120 theolog modernis yang menyangkali ketiadasalahan Kitab Suci. Istri dari Norman Vincent Peale, seorang modernis, memimpin kelompok doa wanita untuk crusade tersebut. Tokoh-tokoh modernis seperti Dr. Martin Luther King, Jr., duduk di panggung mimbar dan memimpin doa. Dalam National Observer, 30 Des. 1963, King mengatakan bahwa kelahiran Kristus dari perawan adalah “suatu cerita mitos” yang diciptakan oleh orang-orang Kristen awal. Dalam majalah Ebony, Januari 1961, King berkata: “Saya tidak percaya pada neraka sebagai tempat yang literal dengan api yang membakar.”

NAMUN, SEBENARNYA KOMPROMI SUDAH MULAI JAUH LEBIH AWAL DARI 1957. BAHKAN SEJAK 1944, BILLY GRAHAM SUDAH DIDEKATI OLEH SALAH SATU PEMIMPIN KATOLIK PALING BERPENGARUH DI AMERIKA, FULTON SHEEN.

Ketika Sheen meninggal pada Desember 1979, Graham bersaksi bahwa dia “telah mengenal dia sebagai seorang sahabat selama lebih dari 35 tahun” (Religious News Service, 11 Des. 1979). Sheen adalah seorang putra Roma yang setia. Dalam bukunya Treasure in Clay, Sheen berkata bahwa salah satu rahasia rohaninya adalah mengadakan Misa setiap Sabtu “untuk menghormati Ibu yang Diberkati, untuk meminta perlindungannya terhadap keimamatan saya.” Sheen menghabiskan satu pasal dalam biografinya untuk Maria, “Wanita yang Aku Cintai.” Dia mengatakan, “Ketika saya ditahbiskan, saya berketetapan hati untuk mempersembahkan Persembahan Kudus Ekaristi setiap Sabtu kepada Ibu yang Diberkati … Semua ini membuat saya sangat yakin bahwa ketika saya akan tampil di hadapan takhta pengadilan Kristus, Ia akan berkata pada saya dalam KemurahanNya: ‘Saya mendengar Ibu saya menyebut engkau.’ Selama hidup saya, saya telah melakukan kira-kira tiga puluh kali ziarah ke kuil Our Lady of Lourdes, dan sekitar sepuluh kali ke kuilnya di Fatima” (Fulton Sheen, Treasure in Clay, hal. 317).

Dalam otobiografinya, tahun 1997, Graham menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Sheen, walaupun dia tidak memberikan tanggal pastinya. Dia berkata bahwa waktu itu dia sedang berperjalanan dalam sebuah kereta api dari Washington ke New York dan hampir saja tertidur ketika Sheen mengetuk kabin tidurnya dan meminta untuk “masuk dan ngobrol sedikit dan berdoa” (Graham, Just As I Am, hal. 692). Graham mengatakan: “Kami berbicara mengenai pelayanan kami dan komitmen kami yang sama kepada penginjilan, dan saya memberitahu dia betapa bersyukur saya akan pelayanan dia dan fokusnya pada Kristus. …Kami berbicara lebih lanjut dan kami berdoa; dan setelah dia pergi, saya merasa sudah mengenal dia seluruh hidup saya.”

Jadi, Graham mengakui bahwa dia sudah menerima injil sakramental yang dianut oleh Fulton Sheen sebagai kebenaran, bahkan pada tahun itu. Dalam semua ini terkandung suatu masalah dan penipuan yang serius. Sementara Graham bertemu dengan Fulton Sheen dan menganggap dia seorang teman sepenginjilan, Graham sedang meyakinkan pada pemimpin fundamentalis, seperti Bob Jones, Sr., dan John R. Rice, bahwa dia menentang katolikisme dan bahwa dia adalah seorang fundamentalis. Namun sangatlah jelas, bahwa Billy Graham tidak pernah berkomitmen pada posisi fundamentalis dalam hatinya.

Ketika Graham bertemu Sheen pada tahun 1944, itu adalah tiga tahun sebelum crusade se-kota yang pertama yang ia lakukan. Graham telah mulai berkhotbah bagi Youth for Christ pada tahun 1944, dan waktu itu adalah seorang muda yang tidak dikenal. Mengapakah seorang pemimpin Katolik yang terkenal seperti Fulton Sheen mau bergerak dan bersahabat dengan seorang pengkhotbah Baptis fundamentalis yang tidak penting seperti Billy Graham? Graham baru delapan tahun lulus SMA waktu itu.

Uskup Agung wilayah Boston, Richard Cushing, juga “memegang pengaruh yang spesial atas Billy Graham, mulai dari 1950.” Cushing mencetak kata-kata ‘BRAVO BILLY’ di halaman depan majalah keparokiannya, dalam kampanye Januari 1950. Dalam sebuah wawancara tahun 1991, Graham menyebut hal ini sebagai salah satu titik tinggi dalam pelayanannya:

“Satu hal lagi yang signifikan terjadi di awal 50an di Boston. Kardinal Cushing, dalam majalahnya, The Pilot, menulis ‘BRAVO BILLY’ di halaman depan. Hal ini menjadi berita di seluruh negeri. Dia dan saya menjadi teman yang dekat dan luar biasa. Itu adalah kali pertama saya benar-benar paham situasi Protestan/Katolik secara keseluruhan. Saya mulai memahami bahwa ada orang Kristen di mana-mana. Mereka bisa saja disebut modernis, Katolik, atau apapun juga, tetapi mereka adalah orang Kristen” (Bookstore Journal, Nov. 1991).

Sampai dengan akhir 1950, Graham telah membentuk sebuah tim anggota staf permanen yang mengatur semua pertemuannya. Willis Haymaker adalah orang garis depan yang akan pergi ke kota-kota dan mengatur struktur organisasi yang diperlukan untuk melakukan crusade-crusade tersebut. Salah satu tugasnya, bahkan pada tahun-tahun itu, adalah sebagai berikut:

“Dia juga akan menghubungi uskup Katolik setempat atau pelayan lainnya untuk memberitahukan kepada mereka rencana Crusade dan mengundang mereka untuk ikut pertemuan-pertemuan itu; mereka biasanya akan menunjuk seorang imam untuk ikut hadir dan melaporkan hasilnya. Ini terjadi banyak tahun sebelum [konsili] Vatikan II yang membuat Katolik lebih terbuka pada Protestan, tetapi KAMI SANGAT INGIN MEMBIARKAN PARA USKUP KATOLIK UNTUK MELIHAT BAHWA TUJUAN SAYA BUKANLAH UNTUK MEMBUAT ORANG-ORANG MENINGGALKAN GEREJA MEREKA; sebaliknya, saya mau mereka menyerahkan hidup mereka kepada Kristus” (Graham, Just As I Am, hal. 163).

Dalam otobiografinya, Graham mengakui bahwa dia mulai mendekat kepada Roma sangat awal dalam pelayanannya:

“Pada waktu itu [Maret 1950], Protestanisme di daerah New England adalah lemah, sebagian karena perbedaan theologis antara beberapa denominiasi, pengaruh ide-ide Unitarian dalam denominasi-denominasi lain, dan kekuatan Gereja Roma Katolik. Walaupun ada semua faktor itu, sejumlah imam Roma Katolik dan rohaniawan Unitarian, bersama dengan sebagian anggota jemaat mereka, hadir dalam pertemuan-pertemuan itu, bersama dengan yang dari gereja-gereja Injili. Dengan latar belakang Injili saya yang terbatas, ini adalah ekspansi lebih lanjut dari pandangan ekumenis saya. Saya sekarang mulai berteman dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan mengembangkan rasa cinta pada sistem kerohaniawan mereka” (Graham, Just As I Am, hal. 167).

Saya perlu mengingatkan para pembaca bahwa “kerohaniawan” Katolik dan Unitarian dan modernis yang Graham belajar untuk cintai pada akhir 1940an dan awal 1950an, adalah orang-orang yang menyangkali iman yang katanya Graham percayai. Kerohaniawan Katolik yang Graham cintai, menolak bahwa keselamatan adalah melalui kasih karunia Kristus saja, melalui iman saja, tanpa pekerjaan atau sakramen, dan mereka lebih lanjut lagi menyangkal bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas untuk iman dan praktek. Kerohaniawan modernis yang Graham cintai menyangkal bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tiada salah, dan secara terbuka mempertanyakan atau menyangkali kelahiran Kristus dari perawan, mujizat-mujizat, penebusan Kristus yang menggantikan manusia, dan kebangkitan Yesus Kristus. Kerohaniawan Unitarian yang Dr. Graham cintai adalah orang-orang yang menyangkal keilahian dan penebusan Yesus Kristus, dan yang menertawakan ketiadasalahan Kitab Suci.

Mengapakah Graham tidak sebaliknya mengasihi orang-orang yang berada dalam bahaya ditipu oleh para guru-guru palsu ini? Mengapakah dia tidak sebaliknya cukup mengasihi Firman Allah untuk berdiri melawan musuh-musuh Alkitab? Mengapakah dia tidak lebih mengasihi Kristus dalam Alkitab sehingga menolak orang-orang yang telah menolak Kristus yang sejati dan mengikuti kristus-kristus palsu? Kasih Graham termotivasikan ke arah yang salah. Dia mengasihi gembala-gembala palsu, tetapi dia tidak mengasihi kawanan domba yang dipimpin ke kehancuran kekal oleh gembala-gembala tersebut.

Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar pengaruh guru-guru palsu seperti Fulton Sheen dan Richard Cushing terhadap penginjil muda tersebut. Sampai dengan awal 1950an, Graham juga sangat bersahabat dengan theolog-theolog modernis.

Dalam sebuah ceramah di Union Theological Seminary pada bulan Februari 1954, Graham bersaksi bahwa pada tahun 1953, dia telah mengunci dirinya sendiri dalam sebuah kamar di New York City untuk satu hari penuh, bersama dengan Jesse Bader dan John Sutherland Bonnell, supaya dia bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka dan mendapatkan nasihat mereka. Melalui tindakan ini, Graham sebenarnya mengunci dirinya sendiri bersama dengan Iblis, karena orang-orang tersebut sungguh adalah pelayan-pelayan Iblis (2 Kor. 11:13-15). Bader dan Bonnell, keduanya adalah orang yang sangat liberal, yang menyangkali banyak doktrin-doktrin iman Perjanjian Baru. Dalam sebuah artikel dalam majalah Look (23 Maret 1954), Bonnell telah menyatakan bahwa dia dan kebanyakan pelayan Presbyterian lainnya, tidak percaya ada kelahiran perawan dan kebangkitan tubuh Kristus, pengilhaman Kitab Suci, surga dan neraka yang literal, dan banyak doktrin lainnya.

Allah telah memperingatkan Graham untuk menandai dan menghindari orang-orang yang mengajarkan berlawanan dengan kebenaran rasuli (Roma 16:17). Allah memperingatkan ahwa kesalahan adalah seperti kanker (2 Tim. 2:16-18) dan seperti ragi (Gal. 5:9), bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33), tetapi sang penginjil populer ini mengabaikan peringatan-peringatan demikian.

Sampai dengan 1950, Billy Graham sudah sedemikian jatuh ke bawah pengaruh Katolik, sehingga ia berpaling kepada mereka untuk mendapatkan penghiburan selama menderita penyakit. Selama kampanye New England tahun 1950 yang ia lakukan, Graham jatuh sakit selama beberapa hari di Harford, Connecticut. Sekretaris Eksekutif, Gerald Beavan “tinggal di samping tempat tidurnya dan membacakan kepadanya dari buku Uskup Fulton Sheen ‘Peace of Soul’ (Wilson Ewin, The Assimilation of Evangelist Billy Graham into the Roman Catholic Church).

Kita telah melihat bahwa Sheen adalah seorang yang sangat mencintai Maria [versi Katolik yang palsu], dan yang yakin bahwa kemurahan Allah hanyalah karena devosinya kepada Maria. Mengapakah seorang pengkhotbah Baptis fundamental berpaling kepada tulisan-tulisan seorang yang demikian untuk penghiburannya?

Pertemuan KKR penginjilan Graham yang pertama yang bersifat satu kota, dilaksanakan di Los Angeles, California, 1949. Dan, di awal 1950an saja sudah mulai beredar rumor bahwa Graham bekerja sama dengan Roma Katolik.

Pada tahun 1950, Dr. Robert Ketcham, dari General Association of Regular Baptist Churches, menemui sebuah artikel koran yang mengindikasikan bahwa Graham mengharapkan orang-orang Katolik dan Yahudi untuk berkooperasi dalam sebuah KKR di Oregon, dan artikel lain yang melaporkan bahwa Graham menyerahkan kartu data orang-orang yang membuat keputusan selama KKR, kepada gereja-gereja Roma Katolik. Surat Ketcham [yang ditulisnya untuk mempertanyakan hal ini] mendapat kecaman yang keras dari sekretaris eksekutif Graham, Jerry Beavan. Sebagian dari jawaban Beavan adalah sebagai berikut:

“Sebagai contoh, anda bertanya apakah Billy Graham telah mengundang orang-orang Roma Katolik dan Yahudi untuk bekerjasama dalam pertemuan-pertemuan penginjilan. PIKIRAN SEMACAM INI, BAHKAN JIKA WARTAWAN MENGIRA BAHWA INI BERASAL DARI MR. GRAHAM, NAMPAK SANGAT KONYOL BAGI SAYA. SEMESTINYA ANDA TAHU BAHWA INI TIDAK BENAR. …LEBIH LANJUT, BAHWA ANDA BISA MEMPERCAYAI IDE BAHWA MR. GRAHAM AKAN MENYERAHKAN KARTU-KARTU KEPUTUSAN KEPADA GEREJA ROMA KATOLIK, SANGATLAH TIDAK TERBAYANGKAN” (John Ashbrook, New Neutralism II).

Graham tidak lama kemudian akan melakukan secara terbuka apa yang Mr. Beaven katakan “konyol” dan “tidak terbayangkan” itu. Pada tanggal 6 September 1952, wartawan William McElwain, menulis untuk Pittsburgh Sun-Telegraph, berkomentar tentang aktivitas ekumenis Graham dengan Roma:

“Graham menekankan bahwa crusade dia di Pittsburgh akan bersifat interdenominasi. Dia mengatakan bahwa dia berharap akan mendengar khotbah Uskup Fulton J. Sheen di salah satu Misa di Katedral St. Paul besoknya. Graham mengatakan, ‘Banyak orang yang telah mengambil keputusan bagi Kristus dalam pertemuan-pertemuan kami yang telah bergabung dengan gereja Katolik, dan kami telah menerima pujian dari publikasi-publikasi Katolik karena dibangkitkannya ketertarikan pada gereja mereka setelah salah satu kampanye kami. Hal ini terjadi di Boston maupun Washington. Pada akhirnya, salah satu tujuan utama kami adalah untuk membantu gereja-gereja di sebuah komunitas.’”

Sungguh tidak ada yang konyol dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Dr. Ketcham di atas. Graham secara publik mengakui bahwa dia sudah menyerahkan orang-orang kepada Gereja Katolik sejak awal 1950an.

Dalam sebuah wawancara dengan Religious News Service, tahun 1986, Billy Graham yang berusia 67 tahun waktu itu mengakui bahwa pelayanannya memang sudah sengaja bersifat ekumenis sejak awal. Dia memberitahu pewawancara bahwa salah satu dari “penasihat dan sahabat dekat dia” adalah Dr. Jesse Bader yang telah disinggung di atas, seorang rohaniwan Disciples of Christ yang liberal, yang menjadi sekretaris dari National Council of Churches yang radikal (Christian News, 31 Maret 1986).

Sejak waktu itu, Graham telah bergerak semakin dekat dalam persekutuan dengan Roma Katolik dan modernisme theologis. Sebagaimana diobservasi oleh John Ashbrook, penulis dari buku New Neutralism II: Exposing the Gray of Compromise, “Kompromi selalu membawa seseorang lebih jauh dari yang dia maksudkan.” Alkitab memperingatkan bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33).

Bagaimanakah hubungan ekumenis Graham telah mempengaruhi dia? Dalam edisi Januari 1978 dari majalah McCall, ada sebuah wawancara atas Graham oleh James Michael Beam. Graham mengakui perubahan yang terjadi dalam pola pikirnya:

“Saya jauh lebih toleran terhadap tipe-tipe kekristenan yang lain daripada sebelumnya. Kontak saya dengan Katolik, Lutheran, dan pemimpin-pemimpin lain – orang-orang yang jauh dari tradisi Southern Baptis saya – telah membantu saya, saya harap, untuk bergerak ke arah yang benar. Saya telah menemukan bahwa kepercayaan saya secara essensial sama dengan kaum ortodoks Roma Katolik, misalnya. Mereka percaya kelahiran perawan, saya juga. Mereka percaya Kebangkitan Yesus dan datangnya penghakiman Allah, dan saya juga. Kami hanya berbeda dalam beberapa hal tradisi gereja yang belakangan.”

Ini adalah kata-kata yang aneh. Kesalahan-kesalahan Gereja Roma Katolik bukan hanya masalah “tradisi gereja yang belakangan.” Roma Katolik adalah penyelewengan total terhadap Injil dan gereja Perjanjian Baru melalui pencampuran kebenaran alkitabiah dengan paganisme dan Yudaisme. Injil sakramental Roma yang berupa kasih karunia plus pekerjaan, patut kita nyatakan sebagai terkutuk oleh Allah (Gal. 1:6-10), tetapi Dr. Graham telah sejak lama menetapkan hati untuk menganggap Roma Katolik sebagai kekristenan yang sejati, dan dia telah memimpin banyak orang kepada kesesatan karena keputusan itu.

 

ADDENDUM:

Berikut adalah kutipan dari surat yang dilayangkan oleh Kardinal Roger Mahoney, Uskup Agung Los Angeles, berkaitan dengan Rose Bowl Crusade yang akan adakan oleh Billy Graham Evangelistic Association (BGEA) bulan November 2004 waktu itu:

 

Saudara-saudara imam yang terkasih,

Suatu kesempatan besar, untuk menginjili dan menyambut kembali orang-orang Katolik yang telah terasingkan, kembali kepada kehidupan sakramental penuh [yaitu Gereja Roma Katolik], kini muncul bagi kita bulan November ini.

Mahoney melanjutkan:

Para pejabat ini [dari BGEA] telah memastikan bagi saya, bahwa, sesuai dengan kepercayaan dan kebijakan Dr. Graham, tidak akan ada usaha penobatan [terhadap orang Roma Katolik], dan bahwa siapapun yang mengidentifikasi diri sebagai Katolik, akan direferensikan kepada kita untuk reintegrasi ke dalam hidup gereja [Roma] Katolik…. Dr. Graham mengkhotbahkan Injil dengan kepiawaian tinggi dan roh ekumenis yang sejati.

 

Berikut adalah kutipan dari sebuah wawancara antara Robert Schuller dengan Billy Graham, dalam acara Schuller “Hour of Power,” program #1426, yang pertama kali disiarkan tanggal 31 Mei 1997.

Schuller: Katakan pada saya, apa pendapatmu tentang masa depan kekristenan?

Graham: Ya, kekristenan dan menjadi seorang percaya sejati – kamu tahu, saya pikir ada yang namanya Tubuh Kristus. Ini berasal dari semua kelompok Kristen di seluruh dunia, dan di luar kelompok-kelompok Kristen. Saya rasa semua orang yang mengasihi Kristus, atau mengenal Kristus, apakah mereka sadar akan hal itu atau tidak, adalah anggota dari Tubuh Kristus. Dan saya tidak merasa bahwa kita akan melihat suatu kebangkitan rohani yang besar-besaran melanda, yang akan menobatkan seluruh dunia kepada Kristus, kapan pun. Saya rasa Yakobs menjawab bahwa, Rasul Yakobus dalam konsili pertama di Yerusalem, ketika dia berkata bahwa rencana Allah bagi zaman ini adalah memanggil keluar suatu umat bagi namaNya.

Dan itulah yang Allah sedang lakukan hari ini, Dia sedang memanggil keluar umat dari dunia bagi namaNya, apakah mereka dari dunia Islam, atau dunia Buddha, atau dunia Kristen, atau dunia yang tidak percaya, mereka adalah anggota Tubuh Kristus karena mereka telah dipanggil oleh Allah. Mereka mungkin saja bahkan tidak mengenal nama Yesus tetapi mereka tahu dalam hati mereka bahwa mereka memerlukan sesuatu yang mereka tidak miliki, dan mereka berpaling kepada satu-satunya terang yang mereka miliki, dan saya rasa bahwa mereka diselamatkan, dan bahwa mereka akan bersama kita di Sorga.

Schuller: Apa, apa yang saya dengar anda katakan adalah bahwa dimungkin bagi Yesus Kristus untuk masuk ke dalam hati dan jiwa dan kehidupan manusia, bahkan jika mereka lahir dalam kegelapan dan tidak pernah terpapar kepada Alkitab. Apakah ini pemahaman yang benar dari apa yang anda katakan?

Graham: Ya, ini benar, karena mempercayai hal ini. Saya telah bertemu berbagai orang di berbagai bagian dunia dalam situasi suku-suku, yang belum pernah melihat suatu Alkitab atau mendengar tentang Alkitab, dan belum pernah mendengar Yesus, tetapi mereka percaya dalam hati mereka bahwa ada Allah, dan mereka mencoba menjalani kehidupan yang terpisah dari komunitas di sekitar mereka hidup.

 

 

This entry was posted in Ekumenisme, New Evangelical (Injili). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *