Musik: Karunia dari Allah

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Jonathan O’Brien, Creation Ministries, 6 Feb. 2018: “Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa otak kita didesain untuk musik – bahwa apresiasi musik yang mendalam adalah aspek mendasar dari seorang manusia (Music on the Brain, Australian Broadcasting Network’s Catalyst). Mengapakah kita memiliki hubungan yang spesial ini dengan musik, walaupun kera dan binatang “tingkat tinggi’ lainnya yang berotak besar, tidak membuat, atau bahkan menginginkan musik, seperti kita? Sama seperti berbicara dan menulis dalam bahasa yang grammatis, musik adalah ciri yang khas dan khusus dari manusia saja. Dari manakah datangnya kebiasaan dan kesukaan kita yang misterius ini? … Menariknya, apresiasi terhadap musik sepertinya sudah tertanam atau ter-install ke dalam semua bagian otak. Para ilmuwan menemukan bahwa musik sepertinya terikat erat dengan kasih dan hubungan pribadi – bahwa musik membawa efek fisiologis yang jelas dan kuat terhadap proses pertalian sosial. Mereka menyimpulkan bahwa musik sedemikian penting bagi struktur fisik otak kita, sehingga musik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari arti dasar menjadi seorang manusia. … Harmoni dan melodi, keduanya melibatkan hukum-hukum ilmiah dan matematika yang tidak berubah, jadi yang tertulis dalam bahan dasar alam semesta itu sendiri – tetapi hanyalah manusia yang mampu untuk peduli tentang hal ini. …Karena Darwinisme hanyalah suatu filosofi materialistik, bukan ilmu pengetahuan sejati, ia tidak mampu untuk menjelaskan arti musik. Musik mampu melingkupi kita dengan emosi karena terhubung dengan aspek rohani kita, dan ini adalah bukti yang baik tentang eksistensi jiwa. … Banyak orang, dari berbagai latar belakang dan kepercayaan, telah berbicara tentang ‘jiwa’ musik. …Vishal Mangalwadi mencatat, ‘Menyangkali realitas suatu inti rohani sebagai esensi dari setiap manusia, akan membuat sulit untuk dapat memahami musik, karena musik, sama seperti moralitas, adalah masalah jiwa.’ …Tubuh manusia seolah dirancang untuk musik. Sebagai makhluk yang berkaki dua dan berdiri tegak, tangan kita bebas untuk membuat karya kreatif yang memerlukan skill – yang lalu didorong oleh keinginan dalam pikiran dan hati kita. Kita memainkan instrumen-instrumen yang sulit, seperti violin, gitar, dan piano, membuat komposisi musik yang kompleks, dan bernyanyi, karena otak dan kepribadian kita berjuang untuk berekspresi dalam format rohani musik. Tangan kita adalah hasil mujizat desain, dirancang secara sempurna untuk menghasilkan gerakan yang paling halus, dan sentuhan yang paling sensitif, dan adalah karya luar biasa ‘genius, fleksibel, dan mobilitas’ … Telinga kita juga adalah instrumen yang telah dirancang secara ahli, untuk menerima dan meneruskan suara-suara musikal. …Kita juga memiliki pita suara yang mampu menghasilkan nada-nada musik yang terbaik yang dapat dibayangkan. …Sangatlah jelas bagi barangsiapa yang mau melihat, bahwa musik, secara jasmani maupun rohani adalah bagian dari desain Allah bagi dunia ciptaan.”

This entry was posted in musik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *