Darah Hijau, Darah Biru, Darah Jernih, Darah Kuning, Darah Ungu

(Berita Mingguan GITS 2 Juni 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sang Pencipta yang Mahabesar telah membuat berbagai macam ragam makhluk hidup dengan berbagai sistem kehidupan agar cocok dengan tujuan ilahi dan lingkungan mereka. Kebanyakan binatang yang memiliki tulang akan memiliki sel-sel DARAH MERAH yang terdiri dari hemoglobin, suatu bio-molekul yang mengandung zat besi (Fe) yang dapat mengikat oksigen, dan yang memberikan darah warna merahnya. Sel-sel ini seperti kantong-kantong hemoglobin yang kecil. Sel-sel baru diproduksi di sumsum tulang dengan laju sekitar 2,4 juta sel per detik! Mereka akan bersirkulasi di seluruh tubuh sekitar sekali per menit, selama 100-120 hari, melakukan pekerjaan mereka yang luar biasa dan memungkinkan kehidupan, yaitu mengangkut oksigen dari paru-paru. Setelah sel-sel darah ini menjadi tua, komponen mereka akan didaur ulang secara efisien. Sel darah merah didesain dengan bentuk yang sempurna untuk dapat menyelip melewati kapiler-kapiler kecil dalam tubuh.

Kepiting horseshoe, beberapa moluska, gurita, dan cumi, memiliki DARAH BIRU, karena darah mereka menggunakan protein yang berbeda, yaitu hemocyanin, untuk mengikat oksigen. Hemocyanin ini menggunakan sebuah atom tembaga/copper (Cu), bukan besi, untuk proses ini, dan ini menyebabkan darah mereka menjadi biru ketika ter-oksigenisasi. Skink prasinohaema, suatu kadal di New Guinea, memiliki DARAH HIJAU. Warna hijau berasal dari suatu racun bernama biliverdin, yang adalah produk sampingan dari daur ulang sel-sel darah merah. Jadi, biliverdin juga eksis dalam tubuh manusia, tetapi organ hati akan menyaringnya keluar. Pada pasien gagal hati, jumlah biliverdin yang sangat sedikit saja sudah akan menimbulkan sakit kuning. Jumlah biliverdin dalam kadal-kadal New Guinea itu adalah fatal bagi manusia, tetapi kadal-kadal kecil tersebut justru nyaman dengan darah hijau yang beracun. Ikan bercorak mata memiliki DARAH JERNIH. Ikan kecil yang aneh ini, yang tidak memiliki sisik, hidup di kedalaman satu kilometer di lautan dingin lepas Antartika. Ilmuwan tidak tahu bagaimana ikan ini bisa bertahan hidup tanpa hemoglobin, tetapi mereka berspekulasi bahwa “jantungnya yang lebih besar dari biasanya, membantu oksigen bergerak di tubuhnya menggunakan plasma darah, bukan hemoglobin” (“Why Does This Fish Have Gin-Clear Blood?” Live Science, 5 Apr. 2013). Banyak serangga memiliki DARAH KUNING. Darah membawa nutrien dan hormon-hormon ke sel-sel mereka, tetapi tidak mengangkut oksigen dan tidak memerlukan hemoglobin. Oksigen ditransportasi langsung oleh suatu sistem tuba dari udara luar ke sel-sel. Warna kuning (atau hijau) pada darah serangga, berasal dari pigmen tanaman yang mereka makan (“Why Is Insect Blood Green or Yellow?” 30 Mei 2013, IndianaPublicMedia.org). Dalam pepancut laut dan teripang, darah kuning disebabkan oleh konsentrasi zat kimia vanabin. Pepancut laut dan brachiopoda dan beberapa jenis cacing laut memiliki DARAH UNGU karena protein hemerytherin, yang mengangkut oksigen, sebagai ganti hemoglobin. Karena kulit tembus pandang yang dimiliki cacing peanut, darah ungu ini dapat dilihat tanpa membelek kulitnya. Sementara para ilmuwan evolusionis dengan sia-sia mencoba memikirkan bagaimana semua hal ini berevolusi, orang yang percaya Alkitab melihat karya dari Allah Mahakuasa.

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *