Dawkins Membidik Remaja dan Anak-Anak dengan Atheisme

(Berita Mingguan GITS 11 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Richard Dawkins, salah satu pemimpin dari gerakan “atheis baru,” kini membidik para remaja dan anak-anak dengan propaganda atheis. Dawkins, penulis dari buku The God Delusion, mengatakan bahwa buku untuk remaja akan diberi judul Outgrowing God (Bertumbuh Melewati Allah), sementara yang untuk anak-anak belum diberi judul. Orang ini sedang dalam perang yang konyol melawan sang Pencipta, sementara dia sendiri mengakui bahwa dia tidak tahu sama sekali bagaimana caranya kehidupan bisa mulai. Dalam sebuah wawancara dengan Ben Stein, yang dipublikasikan di dokumentari Expelled: No Intelligence Allowed, Dawkins mengatakan bahwa kehidupan bisa saja “ditaburkan di planet ini” oleh alien. Ini bukan ilmu pengetahuan, ini sains fiksi; ini “Negeri Dongeng.” Injil yang mulia menurut Richard Dawkins adalah bahwa manusia itu hasil keacakan saja, bahwa manusia tidak memiliki tujuan akhir, dan tidak terikat oleh hukum absolut, dan ketika ia mati maka ia mati. Dalam dunia Dawkins yang menyedihkan ini, manusia sendirian dalam alam semesta yang tanpa arti dan menuju kematian; sendirian, tanpa pertolongan dan tanpa pengharapan. Injil menurut Richard Dawkins ini adalah resep menuju keputusasaan dan bunuh diri, dan jika “injil” ini benar, maka tindakan menulis dan menerbitkan buku sama sekali tidak ada gunanya. Jika apa yang Dawkins percayai itu benar, tidak ada sesuatupun dalam kehidupan ini yang memiliki arti, pada akhirnya, dan tidak ada bedanya apapun yang dipercayai seseorang. Ia tidak memiliki dasar dogmatis untuk mengatakan sesuatu itu benar atau sesuatu itu salah. Sebagai sekedar binatang, pendapat dia tidak lebih signifikan dari pendapat seekor cacing. Tetapi Richard Dawkins salah. Dia dengan sengaja membutakan diri. Ada banyak bukti-bukti yang tak terbantahkan tentang adanya Pencipta yang Mahakuasa dan Maha-berhikmat, dan bukti-bukti yang begitu banyak bahwa Alkitab adalah penyingkapan Allah yang penuh kasih terhadap manusia. Keluarga-keluarga dan gereja-gereja yang percaya Alkitab harus bangun dan mempersiapkan anak-anak mereka untuk menghadapi skeptikisme parah yang melanda zaman ini. Saya secara pribadi kenal dengan putra seorang gembala yang menjadi seorang atheis karena dia membaca renungan-renungan menipu para “atheis baru” ini secara online. Alkitab dua kali berkata, “orang bebal berkata dalam hatinya, tidak ada Allah…” (Maz. 14:1; 53:1). Editor: Penting sekali bagi orang muda untuk berada di gereja yang benar, yang berdiri teguh atas Firman Allah, dan memberikan lingkungan yang sehat rohani.

This entry was posted in Atheisme/Agnostikisme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *