Laporan Mengidentifikasikan Lebih dari 1000 Korban Abuse Imam di Pennsylvania

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah grand jury (Editor: di Amerika, grand jury adalah kumpulan orang yang meneliti sebuah kasus, dan menentukan apakah kasus ini layak untuk dilanjutkan ke pengadilan) telah menyimpulkan bahwa lebih dari 1000 anak-anak mengalami abuse oleh imam-imam Roma Katolik dalam enam keparokian di Pennsylvania saja, sealam beberapa dekade terakhir. Laporan itu, yang adalah hasil penyelidikan selama dua tahun, mengidentifikasi 300 imam dan “bruder” awam yang menjadi pelaku abuse, dan menemukan bukti-bukti adanya penyembunyian sistematis oleh para pemimpin gereja senior di Pennsylvania, dan di Vatikan di Roma (“Report Identifies More Than 1,000,” Associated Press, 14 Agus. 2018). Dalam sebuah konferensi berita, Penuntut Umum Pennsylvania, Josh Shapiro, mengatakan, “Penyembunyian dilakukan secara canggih. Dan, yang mengejutkan adalah, sambil itu berlangsung para pemimpin gereja menyimpan catatan mengenai abuse dan penyembunyiannya. Dokumen-dokumen tersebut, dari ‘Arsip Rahasia’ milik keparokian itu sendiri, menjadi tulang punggung penyelidikan ini.” Enam keparokian tersebut mewakili hanya setengah dari gereja-gereja Katolik di Pennsylvania. Kebanyakan korbannya adalah anak-anak lelaki. Gereja Roma Katolik di Amerika telah membayar lebih dari $2 milyar untuk menyelesaikan berbagai tuntutan hukum terhadap imam-imam yang imoral. Organisasi Bishop Accountability mengatakan bahwa lebih dari 4000 imam telah dituduh melakukan abuse terhadap anak-anak (“US Church to Pay 12.6 Million,” AFP, 11 Agus. 2008). Sebuah organisasi Katolik konservatif mendokumentasikan hal yang jahanam ini di majalah Ad Majorem Dei Gloriam, edisi musim semi/dingin 2002, dengan observasi: “… mayoritas besar kasus-kasus sexual abuse di Gereja Katolik – sekitar 90% – melibatkan imam-imam yang homoseksual yang memangsa anak-anak remaja. Media dan kebudayaan AS secara umum mau menyangkal atau menghilangkan faktor homoseksual dari skandal ini.” Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Kardinal Raymod Burke mengatakan, “Saya percaya bahwa ada keperluan untuk kesadaran yang terbuka bahwa kita memiliki masalah yang sangat parah, yaitu budaya homoseksual di dalam Gereja, terutama di antara para imam dan hirarki…” (“Cardinal Burke Addresses the Clergy Scandal,” Catholic Action for Faith and Family, 16 Agus. 2018). Ini bukanlah masalah yang terbatas hanya di Amerika saja. Pada tahun 2003, Gereja Roma Katolik di Irlandia sepakat untuk membayar $110 juta untuk menghindari tuntutan hukum mengenai skandal seks. Pada tahun 2013, Paus Fransiskus mengakui bahwa ada “lobi gay” yang eksis di level-level tertinggi di Katolikisme. “Dalam Curia, ada orang-orang kudus. Tetapi juga ada aliran yang korup. ‘Lobi gay’ disebut-sebut, dan memang benar, ada. Kita perlu melihat apa yang bisa kita lakukan” (“Pope Francis,” CNN Belief Blog, 11 Juni 2013). Paus waktu itu sedang merujuk kepada laporan-laporan yang muncul di koran-koran Italia, tahun 2012, yang didasarkan pada bocoran-bocoran kepada wartawan dari orang-orang dalam Vatikan. La Repubblica mengatakan bahwa ada “keimamatan level tinggi di Vatikan yang terlibat dalam skandal-skandal homoseksual.” Doktrin Roma yang mengharuskan “selibasi” adalah bertentangan dengan Firman Allah dan adalah kekacauan yang konyol.

This entry was posted in Katolik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *