Tekanan Tiada Henti Menuju Persatuan

(Berita Mingguan GITS 11 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Ini adalah era tekanan yang tak putus-putusnya menuju persatuan Kristiani. Ini terlihat jelas di mana-mana: di Dewan Gereja-Gereja Sedunia, di dewan-dewan nasional, di organisasi-organisasi “injili” baik global maupun regional, di asosiasi-asosiasi “pendeta” di berbagai kota. Persatuan dipromosikan oleh organisasi-organisasi parachurch, dan adalah fokus utama dalam berbagai “krusade” penginjilan. Persatuan didengungkan oleh Gereja Roma Katolik, oleh kaum Protestan, oleh kaum Pantekosta, oleh kaum Kharismatik, dan oleh kebanyakan Baptis. Topik adalah salah satu tema utama dalam musik kristen kontemporer, dan juga menjadi fokus dari berbagai organisasi misi global. Persatuan adalah prinsip yang dipegang oleh kebanyakan sekolah Alkitab dan seminari. Separasi telah menjadi konsep yang asing bagi kebanyakan besar orang-orang yang mengaku Kristen. Perpecahan secara instingtual dijelekkan. Para pengkhotbah yang menyebabkan perbedaan karena berpegang pada dogmatisme doktrinal dianggap sebagai musuh-musuh Yesus Kristus, yang katanya berdoa untuk persatuan ekumenis di Yohanes 17. Dorongan ekumenis yang terbaru, seolah yang selama ini ada belum cukup, adalah pembentukan Congress of Christian Leaders (CCL), sebuah “badan inter-denominasi yang akan berupaya untuk membina persatuan.” Didirikan oleh “pemimpin-pemimpin injili,” yaitu Samuel Rodriguez dan Johnnie Moore, dewan perdana dari organisasi ini mencakup gembala-gembala megachurch, Greg Laurie, Jack Graham, dan Jentezen Franklin (“Greg Laurie, Jack Graham among Global Pastors Named to Board,” Christian Post, 5 Agus. 2018). Keenam belas pemimpin yang duduk di dewan tersebut, “memiliki pengaruh kolektif yang melebihi jutaan orang Kristen di enam benua.” Para pendiri menyatakan bahwa salah satu “faktor kunci penentu” dari CCL adalah bahwa organisasi ini “tidak akan eksklusif bagi kaum injili saja.” Terlepas dari popularitasnya, persatuan ekumenis berlawanan dengan pengajaran Firman Tuhan, yang melarang bersatunya kebenaran dan kesalahan, terang dan kegelapan. Firman Allah dengan lantang dan jelas memperingatkan tentang injil-injil palsu, kristus-kristus palsu, dan roh-roh palsu. Ia memperingatkan tentang kesesatan akhir zaman dan penipuan rohani. Persatuan dari semua denominasi adalah kesesatan. Ini adalah ketidaktaatan terhadap Allah dan akan menghasilkan “gereja” esa-sedunia milik Antikristus. Mereka yang memimpin persatuan ini adalah orang-orang buta yang memimpin orang buta. Tidaklah mungkin untuk menaati Alkitab dan mengejar persatuan Kristen pada hari ini. Semua orang harus membuat pilihan yang jelas. Ketaatan pada perintah Alkitab untuk sungguh-sungguh berjuang demi iman yang sudah satu kali disampaikan kepada orang-orang kudus, akan menghancurkan persatuan antar denominasi apapun. Kita tidak bisa mengejar persatuan ekumenis sambil secara antusias berjuang dan mengejar kemurnian doktrin. “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 1:3).

This entry was posted in Ekumenisme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *