“Theybies”

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Boy or girl? Parents raising ‘theybies’ let kids decide,” NBCNews.com, 19 Juli 2018: “Anak kembar berusia tiga tahun, Zyler dan Kadyn Sharpe berkeliaran di sekitar rak baju-baju anak laki dan perempuan di dalam sebuah toko yang sempit yang penuh dengan mainan. Zyler, yang sedang memakai kaus kaki panjang dengan motif pelangi, memperhatikan sepasang sendal dengan warna pink dan ungu mentereng. Kadyn, yang sedang memakai kaos T-Rex, terfiksasi pada sebuah kotak musik yang memendarkan lampu warna-warni. Sekilas nampak, satu-satunya perbedaan yang terlihat antara kedua kembar fraternal (kembar tidak identik) ini adalah rambut mereka – punya Zyler warna coklat, sedangkan Kadyn pirang. Apakah Zyler seorang anak lelaki atau perempuan? Bagaimana dengan Kadyn? Ini adalah pertanyaan, yang menurut orang tua mereka, Nate dan Julia Sharpe, hanya dapat ditentukan oleh para kembar tersebut. Pasangan dari Cambridge, Massachussets tersebut, mewakili sekelompok kecil orang tua yang kini membesarkan ‘theybies’ (bukan babies) – yaitu anak-anak yang dibesarkan tanpa dinyatakan jenis kelaminnya sejak lahir. Sebuah komunitas Facebook bagi para orang tua demikian, saat ini sudah mengklaim adanya 220 anggota di seluruh AS. … Orang tua di AS semakin sering membesarkan anak di luar dari norma-norma gender tradisional – membiarkan anak lelaki dan perempuan bermain dengan mainan yang sama dan memakai pakaian yang sama – walaupun para ahli mengatakan bahwa hal-hal ini terjadi kebanyakan di kantong-kantong yang progresif dan makmur. Tetapi hal yang membuat gaya membesarkan anak ‘gender-open’ ini mencuat, dan bahkan kontroversial dalam beberapa lingkaran, adalah bahwa orang tua tidak memberitahukan jenis kelamin anak mereka kepada siapa pun. Bahkan anak-anak itu sendiri, yang sadar akan bagian tubuh mereka dan bagaimana mereka berbeda satu sama lain, tidak diajarkan untuk mengasosiasikan bagian tubuh tersebut dengan identitas sebagai lelaki ataupun perempuan. Jika tidak ada yang tahu jenis kelamin anak itu, demikian para orang tua ini berteori, maka mereka tidak bisa dipaksakan ke dalam stereotip gender manapun.”

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age, LGBT. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *