Kekosongan dalam Ketidakpercayaan

(Berita Mingguan GITS 29 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini adalah kesaksian dari B. H. Carroll, yang meninggalkan warisan iman Kristen-nya pada masa muda, menjadi orang yang tidak percaya, dan menemukan bahwa di sana hanya ada kekosongan: “Pada masa-masa kegelapan saya, saya berpaling sepenuhnya kepada ketidakpercayaan. Kali ini saya membawa kepadanya hati yang hancur dan hidup yang kecewa, mencari terang dan damai dan istirahat. Ini bukan lagi sekedar rasa ingin tahu; ini bukan pemeriksaan tentatif secara intelektual. Ini adalah suatu jiwa yang terpukul, dengan gemetar dan sungguh mencari terang. … Saya membawa suatu hati yang hancur dan berdarah, tetapi tulus, kepada setiap nabi ketidakpercayaan yang terkenal. Saya tidak meminta kehidupan atau ketenaran atau kesenangan. Saya hanya meminta cahaya untuk menyinari jalan kebenaran. Sekali lagi saya memandangi filosofi-filosofi anti-Kristen, bukan lagi untuk mengagumi mereka mengenai apa yang mereka bisa hancurkan, tetapi untuk menyelidiki apa yang mereka bangun, apa yang mereka tawarkan bagi hati yang lapar dan kehidupan yang capek. Kini tiba bagi saya suatu penyingkapan, yang sama parahnya dengan ketika Mokanna, dalam cerita ‘Lalla Rookh’ karangan Moore, mengangkat cadarnya bagi Zelica. Mengapa saya tidak pernah menyadarinya sebelumnya? Mengapa saya sedemikian buta terhadapnya? Filosofi-filosofi ini, satu per satu dan semuanya, hanyalah menyerang. Mereka menghancurkan, tetapi tidak membangun. Mereka menyatakan salah dan membongkar bangkir; tetapi, demi jiwa saya yang hidup, mereka tidak membangun apa-apa di bawah seluruh kolong langit, untuk menggantikan apa yang mereka hancurkan. Saya katakan tidak ada apa-apa; itu persis yang saya maksudkan, tidak ada sesuatu pun. Bagi jiwa yang tidak merana, yang hanya penasaran, mereka indah seperti aurora borealis, menyinari keping-keping es di kutub. Tetapi bagi saya, mereka tidak menghangatkan sedikitpun dan tidak melumerkan apa-apa. Tidak ada bunga yang mekar dan tidak ada buah yang ranum di bawah sinar mereka yang dingin. Mereka memandangi hati saya yang berdarah sama seperti bintang-bintang telah memandangi seluruh penderitaan manusia dari jauh dan tanpa kepedulian. Siapapun, yang pada masa ia sungguh-sungguh membutuhkan, mengambil filosofi abstrak sebagai alas kepalanya, sama saja membuat batu granit yang dingin dan keras sebagai bantalnya. Siapapun yang dengan penuh harap memandangi wajah-wajahnya yang palsu, sama dengan memandangi wajah Medusa, dan diubahkan menjadi batu. Mereka semua adalah sumur-sumur tanpa air, awan-awan yang kering. …suatu awan tanpa air adalah bentuk apapun ketidakpercayaan bagi jiwa, pada saat ia sangat memerlukan. Siapakah yang dapat menghasilkan sesuatu dengan nama Voltaire? Apa gunanya pada saat itu Epicurus atau Zeno, Huxley atau Darwin?” (disadur dari B.H. Carroll, “My Infidelity and What Became of It,” Sermons and Life Sketch, 1893).

This entry was posted in Atheisme/Agnostikisme, Renungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *