Orang Kristen dan Minuman Beralkohol: Pergeseran Nilai (Updated)

Orang Kristen Minum-minum Adalah

Topik yang Memperlihatkan Pergeseran

Perubahan cepat sikap orang Kristen “yang percaya Alkitab” terhadap minum minuman keras adalah salah satu tanda zaman yang jelas.

Ketika Amendemen ke-18 [Undang-Undang AS], yang “melarang pembuatan, penjualan, atau pemindahan minuman yang memabukkan,” disahkan pada Januari 1919, Konvensi Baptis Selatan menyebutnya “kemenangan terbesar bagi reformasi moral di Amerika sejak Deklarasi Kemerdekaan” (“Prohibition and Baptists 100 Years Later,” Baptist Press, 17 Jan. 2019). Mulai dari tahun 1880an, Baptis Selatan [disingkat SBC, Southern Baptist Convention] memimpin kampanye negara bagian maupun nasional untuk pelarangan [minuman keras]. Pada tahun 1896, SBC mengatakan bahwa “tidak ada seorang pun yang boleh dipertahankan dalam persekutuan dengan sebuah gereja Baptis, jika ia terlibat dalam pembuatan atau penjualan minuman beralkohol.” Orang-orang Baptis Selatan “percaya bahwa sulit untuk menemukan faktor tunggal lainnya yang menimbulkan penderitaan, cidera dan kerusakan dalam skala yang sedemikian luas, seperti penggunaan alkohol yang luas.” Setelah Amendemen ke-18 dicabut pada tahun 1933, SBC menegaskan ulang komitmennya “yang tidak berubah” terhadap prinsip “penolakan total” dari minuman alkohol sebagai satu-satunya cara hidup yang masuk akal bagi seorang individu.”

Sejarahwan Baptis, Gregory Wils, mengatakan bahwa sejak pertengahan 1800an, orang-orang Baptis telah berprinsip bahwa “seorang hamba Tuhan yang minum alkohol tidak memenuhi syarat untuk berkhotbah” (The Southern Baptist Theological Seminary 1859-2009).

Pada tahun 1870, The Religious Herald, koran resmi dari kaum Baptis Virginia, mengatakan bahwa “bertarak total dari minuman memabukkan, dengan pembatasan tertentu, dianjurkan oleh kebijaksanaan, pengalaman khalayak ramai, pendapat dari banyak orang yang bijak dan baik, dan oleh penerapan yang baik dari beberapa prinsip Firman Tuhan” (18 Agus. 1870).

Ketika saya seorang bocah yang tumbuh besar di sebuah gereja Baptis Selatan, para Injili dan Baptis di Amerika tidak pergi minum-minum dan tidak pergi ke bar. Ada pengecualian, tetapi jarang. Sekolah-sekolah seperti Wheaton dan Baylor memiliki aturan yang tidak memperbolehkan minum-minum.

Pada tahun 1960an, oleh karena pengaruh dari filosofi Injili Baru yang anti-separasi dan longgar, para Injili mulai menerima “minum-minum sosial.” Pada tahun 1978, Richard Quebedeaux mendokumentasikan perubahan dramatis yang sedang terjadi waktu itu di dalam tubuh Injili, hanya 30 tahun setelah berkobarnya semangat “Injili Baru.” Dia mengamati bahwa “kebudayaan luas telah berpengaruh mendalam terhadap gerakan Injili secara keseluruhan” (The Worldly Evangelicals, 1978, hal. 115). Walaupun Quebedeaux tidak menghubungkannya, ini sesungguhnya adalah hasil dari penolakan terhadap separasi. Dia mengatakan:

“Dalam usaha mereka untuk menjadi terhormat dalam pandangan masyarakat luas, para Injili telah menjadi semakin sulit dan semakin sulit dibedakan dari orang-orang lain. Pergerakan sosial ke arah atas telah membuat tabu-tabu kebangkitan rohani yang lama tidak lagi fungsional. …COCKTAIL [campuran minuman keras] semakin sulit untuk ditolak. Anak-anak muda Injili BELAJAR BAGAIMANA BERDANSA DAN SECARA TERBUKA ‘BERGOYANG’ TERHADAP MUSIK ROCK. …Dan majalah-majalah dan koran-koran Injili mulai ME-REVIEW BERBAGAI FILM DAN PERTUNJUKAN. …Poll Gallup benar ketika mereka menyatakan bahwa orang-orang Kristen ‘percaya akan kode moral yang ketat.” TETAPI BAHWA KEKETATAN ITU TELAH DIMODIFIKASI CUKUP BANYAK DALAM BEBERAPA TAHUN BELAKANGAN …Banyak orang-orang Injili muda yang terkadang memakai KATA-KATA KASAR dalam tulisan dan percakapan mereka … Beberapa buku-buku teknik-seks dari kalangan Injili mengasumsikan bahwa pembaca mereka melihat dan mengamati PORNOGRAFI, dan memang mereka melakukan itu. …Sangatlah signifikan secara mendalam bahwa kaum Injili, bahkan yang konservatif di antara mereka, TELAH MENERIMA MUSIK ROCK. Penerimaan mereka ini, jelas, mengindikasikan semakin parahnya kematian sifat penyangkalan diri dan penolakan akan dunia di antara mereka. …Ketika orang-orang muda yang ditobatkan dalam gerakan Yesus, banyak di antara mereka sederhananya tidak meninggalkan kebiasaan, kelakuan, dan sikap budaya lama mereka – MINUM-MINUM, MEROKOK, DAN BERPAKAIAN DAN BERBAHASA YANG KHAS. …Orang-orang Injili muda MINUM-MINUM, tetapi hal itu juga dilakukan oleh Injili konservatif seperti Hal Lindsey dan John Warwich Montgomery (yang adalah anggota dari International Wine and Food Society). …Tetapi BAHKAN MARIJUANA, yang sekarang sah di beberapa bagian Amerika Serikat, tidak sedemikian terlarang lagi di kalangan Injili muda seperti dulu kala. Beberapa di antara mereka, terutama kaum intelektual, terkadang menghisapnya…” (The Worldly Evangelicals, hal. 14, 16, 17, 118, 119).

Pada tahun 1980an dan 1990an, Musik Kontemporer Kristen (CCM, Contemporary Christian Music) terus mendorong batas-batas korupsi moral dan keduniawian. Pada tahun 1993, Michael W. Smith, salah satu suara paling prominen dalam CCM, mengeluh dalam sebuah wawancara, “…selalu akan ada orang-orang yang sangat konservatif itu. Mereka berkata tidak boleh begini, tidak boleh begitu … bahwa anda tidak boleh MINUM-MINUM, tidak boleh merokok. …Ini cara berpikir yang sangat aneh” (The Birmingham News, Feb. 1993, hal. 1B).

Sampai dengan pergantian abad 21, para Injili generasi baru (emerging) telah menyambut minum-minum dengan antusias. Buku Listening to the Beliefs of the Emerging Churches: Five Perspectives, mengandung mungkin selusin referensi kepada sukacitanya minum-minum. Para penulis adalah Karen Ward, Mark Driscoll, John Burke, Dan Kimball, dan Doug Pagitt. Mereka bertemu di bar-bar dan kedai minum untuk diskusi theologis. Mereka bertukaran resep membuat bir. Gereja Mars Hill yang digembalakan Driscoll di Seatlle, ketika masih besar-besarnya sebagai suatu megachurch, mendirikan sebuah “bar champagne” untuk perayaan tahun baru mereka dan para peserta diingatkan untuk membawa KTP mereka untuk memastikan mereka cukup dewasa untuk menikmati minuman beralkohol yang disediakan.

Gereja Riverview Community, di Holt, Michigan, membuat malam RiverBrew, dengan acara membuat bir sendiri dan diskusi rohani (“Holt Ministry Celebrates Its Love of God and Beer,” Lansing State Journal, 29 Feb. 2008).

The Journey di St. Louis, Missouri, menjadi tuan rumah acara “Theology at the Bottleworks.” Dalam acara tersebut, para peserta “mengambil sebotol bir dan mendiskusikan topik-topik politik atau rohani” (“Brewing Battle Missouri Baptists frown on beer as evangelistic hook,” Christianity Today, 29 Juni 2007).

Worship at the Waters bertemu setiap hari Minggu di Flora-Bama Lounge, Bar Package and Oyster, di Perdido Key, Florida, sebuah bar yang terkenal akan kontes bikini dan perkelahian bar. Orang-orang datang dengan pakaian renang dan menikmati belajar Alkitab sambil minum Bloody Mary atau wiski. Jack de Jarnette, seorang gembala sidang dari Perdido Bay United Methodist Church, mengatakan bahwa jika Yesus kembali ke dunia, Dia kemungkinan akan bersantai di Flora-Bama (“Florida Church Mixes Bibles and Booze,” The Blaze, 15 Agus. 2012).

Christ Church di Oxford, Connecticut, setiap minggu mengadakan pertemuan “Beer, Bible, and Brotherhood” di sebuah bar lokal. Gembalanya, John Donnelly, minum segelas Samuel Adams Boston Lager sambil memimpin pembelajaran (“Pastor Drinks Beer in the Name of Jesus,” Charisma News, 11 Okt. 2013).

Pada tahun 2003, Wheaton Colege (sebuah STT) mengumumkan bahwa mereka telah mengubah aturan mereka, sehingga mengizinkan minum alkohol, merokok, dan berdansa bagi para mahasiswa pasca-sarjana dan anggota dewan dosen (Chicago Sun-Times, 20 Feb. 2003). Juru bicara sekolah tersebut, Pat Swindle mengatakan bahwa “merokok dan penggunaan tembakau bukanlah urusan sekolah kami.” Lisa Nudd, editor utama dari koran kampus tersebut, mengatakan, “Kami intinya merasa bahwa ini perubahan yang baik, sesuatu yang sudah lama dinantikan.”

Pada tahun 2007, sebuah survei Lifeway Research menemukan bahwa 29% dari umat “awam” Baptis Selatan minum alkohol (“Baptists & Alcohol,” Baptist Press, 2 Nov. 2018).

Pada tahun 2013, Moody Bible Institute mencabut larangan mereka yang sudah ada selama 127 tahun, terhadap penggunaan alkohol dan tembakau oleh dewan dosen dan staf. Penekanan baru adalah pada penciptaan suatu “lingkungan kepercayaan tingkat tinggi yang menekankan nilai-nilai, bukan aturan-aturan” (“Moody Bible Institute Drops,” Christianity Today, 20 Sept. 2013). Pada tahun 2014, Dallas Theological Seminary menghilangkan larangan mereka terhadap alkohol.

Evan Lenow, seorang profesor etika di Southwestern Baptist Theological Seminary, mengatakan, “Saya percaya kita sedang menyaksikan suatu perubahan dari bertarak total menjadi suatu tren penerimaan alkohol di kalangan Baptis Selatan. Penekanan telah bergeser dari memperingati terhadap alkohol, menjadi menggarisbawahi kebebasan Kristiani” (“Baptists & Alcohol,” Baptist Press, 2 Nov. 2018).

 

Untuk alasan-alasan berikut ini, kami percaya bahwa Alkitab mengajarkan agar orang percaya Perjanjian Baru bertarak dari minuman beralkohol, terutama dalam waktu sekarang ini:

Adalah mendasar untuk memahami bahwa kata “anggur” (wine) dalam Alkitab adalah istilah yang generik, sama seperti kata cider (dalam Indonesia, semacam jus, bisa jus segar, bisa jus fermentasi/beralkohol). Kadang-kadang istilah ini mengacu kepada jus anggur; kadang-kadang kepada anggur beralkohol. Kata wine sering mengacu kepada anggur beralkohol, tetapi tidak selalu.

Ayat-ayat berikut membuktikan bahwa kata “wine” bisa berarti jus anggur segar: Ulangan 11:14; 2 Tawarikh 31:5; Nehemia 13:15; Amsal 3:10; Yesaya 16:10; 65:8; Yeremia 48:33. Anggur yang tidak beralkohol disebut juga “hasil pokok anggur” (fruit of the vine, Mat. 26:29).

Almarhum Dr. Bruce Lackey mengatakan, “Konteks akan selalu menunjukkan kapan ‘anggur’ mengacu kepada minuman beralkohol. Dalam kasus-kasus demikian, Allah mendiskusikan efek buruknya dan memberi peringatan terhadapnya. Sebagai contoh adalah Kejadian 9, yang menggambarkan pengalaman Nuh setelah Air Bah. Ayat 21, ‘Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya,’ jelas mengacu kepada minuman beralkohol.

1. Alkitab memperingatkan bahwa anggur adalah pencemooh dan menipu manusia (Amsal 20:1)

Mengatakan bahwa minuman beralkohol dapat dikonsumsi dalam takaran yang seimbang, terdengar sangat masuk akal, tetapi sangat sedikit pemabuk yang sejak awal memang ingin menjadi pemabuk. Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa seseorang yang tidak pernah minum-minum, tidak akan pernah mabuk dan pastinya tidak akan pernah menjadi pemabuk.

Seperti yang dikatakan oleh Bruce Lackey, “Bagaimanakah caranya anggur yang beralkohol menipu? Dengan cara yang sama yang didukung oleh banyak orang hari ini, yaitu dengan mengatakan bahwa minum sedikit tidak akan berbahaya. Semua orang mengakui bahwa minum terlalu banyak adalah hal yang buruk. Bahkan perusahaan-perusahaan minuman keras akan memberitahu kita untuk tidak minum lalu mengemudi, tetapi mereka bersikeras bahwa minum dalam jumlah yang sedikit itu baik-baik saja. Namun, justru poin ini yang sangat menipu. Siapa yang bisa tahu berapa sedikit ia harus minum? Para ahli memberitahu kita bahwa tiap orang berbeda. Untuk satu orang, diperlukan satu ons, sementara bagi yang lain jumlah yang diperlukan lebih banyak. Orang yang sama juga bereaksi terhadap alkohol secara berbeda dalam situasi yang berbeda, antara lain tergantung pada jumlah makanan yang telah dia konsumsi. Jadi, ide bahwa ‘sedikit tidak akan merusak’ adalah menipu, dan siapapun yang tertipu tidaklah bijak!”

Saya ragu bahwa Nuh berencana untuk menjadi mabuk dan mendatangkan banyak kesulitan bagi cucunya, kesulitan yang masih berlanjut hingga hari ini – tetapi anggur adalah pencemooh.

Kakek dari pihak ibu saya berasal dari keturunan panjang pemabuk, dan sebelum nenek saya menikah dengan dia, nenek membuatnya berjanji untuk tidak menyentuh setetes miras-pun lagi, dan ia membuat janji tersebut. Tetapi suatu hari dia dan seorang tukang kayu lainnya sedang bekerja di sebuah rumah, dan tukang lain itu meyakinkan kakek saya untuk menyeruput saja minuman keras ‘untuk mendinginkan lidah.’ Mereka berdua menjadi mabuk habis-habisan dan berakhir di penjara, dan kakek saya waktu itu seorang diaken di sebuah gereja Baptis! Dia sangat menyesal dan akhirnya dipulihkan dan tidak pernah minum setetes pun miras lagi sejauh yang diketahui semua orang, tetapi contoh ini adalah peringatan keras bahwa anggur adalah pencemooh.

Alkohol memiliki kemampuan untuk menipu dan mengkorupkan. Seseorang tidak akan pernah tahu apakah ia akan mengendalikannya, atau alkohol itu akan mengendalikan dirinya. Instruksi dalam Amsal 20:1 memberitahu saya bahwa orang bijaksana akan menjauhinya sama sekali.

Berikut ini adalah pernyataan yang bijak dari buku John G. Paton: Missionary to the New Hebrides, 1891:

“Dari pengamatan, sejak usia dini, saya telah menjadi yakin bahwa sekedar Gerakan Minum Terkendali (disebut Temperance Societies) saja, adalah kegagalan, dan bahwa bertarak total, dengan kasih karunia Allah, adalah satu-satunya cara pencegahan sekaligus pengobatan. Apa yang disebut minum terkendali bagi satu orang, adalah kemabukan bagi orang lain; dan semua pemabuk berasal dari, bukan orang yang bertarak total, tetapi dari mereka yang mempraktekkan, atau mencoba mempraktekkan, minum dengan terkendali. Saya telah melihat orang-orang yang minum ‘terkendali’ minum di hadirat orang-orang lain yang minum berlebihan, dan saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana mereka bisa merasa diri mereka tidak ada andil salah di sana. Dan saya ada mengenal Hamba-Hamba Tuhan dan orang-orang lain, yang pernah menjadi pendukung kuat ‘minum terkendali,’ akhirnya jatuh karena ‘terkendali’ ini, dan menjadi pemabuk. Jadi, sepanjang hidup saya telah nyata bagi saya tanpa diragukan, berhubungan dengan zat memabukkan apapun, bahwa satu-satunya ‘pengendalian’ yang rasional adalah Bertarak Total (Total Abstinence) dari zat-zat itu sebagai minuman, dan hanya menggunakan mereka dalam pengobatan, dan itupun dengan kehatian-hatian, karena mereka adalah racun yang menipu dan berbahaya dan merusak moral.

Perhatikan kesaksian berikut dari Gembala Robby Gallaty, Long Hollow Baptist Church, Hendersonville, Tennessee.

“Gembala dari Tennessee, Robby Gallaty, mendorong orang-orang percaya untuk memegang posisi tradisional Baptis. Dia sangat menyesal bahwa waktu dia muda dia tidak melakukan hal tersebut. Gallaty dibesarkan di New Orleans dalam suatu budaya bahwa minum miras adalah bagian dari kehidupan. Dia mulai minum alkohol sejak umur 15, dan menjadi seorang pecandu alkohol, dan sedang dalam usaha rehabilitasi kedua pada waktu dia akhirnya menemukan kesadaran dari alkohol – dan juga Tuhan Yesus. Setelah tidak lagi mabuk selama 16 tahun, Gallaty mengatakan bahwa dia mendiskusikan alkohol dalam khotbah-khotbahnya ‘setiap waktu.’ Dia mengatakan, ‘Saya dulunya berpikir bahwa saya dapat minum secara ‘terkendali … Masalahnya adalah bahwa garis antara minum secara seru dengan kemabukan, adalah garis yang tidak kabur, jadi saya bertarak penuh dari alkohol.’ Dia menambahkan, ‘Saya belum pernah bertemu seseorang yang menjadi lebih kudus karena minum alkohol. Namun saya telah melihat banyak orang yang merusak hidup mereka karena hal itu’” (“Baptists & Alcohol,” Baptist Press, 2 Nov. 2018).

Bahkan orang-orang dari gereja kekinian mengakui bahwa Alkitab melarang kemabukan, tetapi bagaimanakah mereka dapat menjamin bahwa mereka dan teman-teman minum mereka tidak akan pernah mabuk? Dapatkah mereka menjamin bahwa mereka tidak akan kecanduan pada minuman itu? Dapatkah mereka menjamin bahwa mereka tidak akan menggoda seseorang untuk menjadi seorang ‘pecandu alkohol,’ atau menggoda seorang mantan pemabuk untuk ‘turun dari kereta’ mereka dan menghancurkan diri mereka sendiri? Tidak, mereka tidak bisa menjamin semua ini, karena anggur adalah pencemooh.

Ada pemimpin gereja kekinian yang prominen yang telah jatuh ke dalam kemabukan dan kehinaan, yang tidak akan pernah terjadi jika mereka tidak mendukung minum ‘secara terkendali.’ Salah satu contoh adalah Perry Noble, yang pada tahun 2016 dipecat setelah 16 tahun di NewSpring Church di Anderson, South Carolina, karena ‘penyalahgunaan alkohol.’

2. Minuman beralkohol harus dihindari karena berhubungan dengan banyak kejahatan dan bahaya (Amsal 23:19-23, 29-35)

Perikop ini dimulai dengan sang ayah mendorong anaknya untuk mendengarkan orang tuanya dan untuk membeli kebenaran dan jangan menjualnya (Amsal 23:22-23). Sang ayah menguatkan anaknya untuk membeli kebenaran dengan mengarahkan seluruh hati dan kekuatan dan hidupnya ke arah itu, dan untuk tidak menjualnya demi segala godaan Iblis yang dangkal dan menipu. Hal inilah yang akan melindungi orang tersebut dari godaan aktivitas-aktivitas duniawi dan tempat-tempat yang mempromosikan ‘minum-minum sosial,’ seperti pesta-pesta dansa, bar-bar, nightclub, dan tempat-tempat minum.

Sang peminum anggur memiliki kemiskinan (Amsal 23:19-21). Amsal menasihati orang muda untuk menjauhi pergaulan dengan peminum anggur dan pelahap, karena mereka terhubung kepada kemiskinan. Sudah pasti mereka akan menghasilkan kemiskinan rohani, tetapi mereka juga sering menghasilkan kemiskinan finansial juga.

Sang peminum anggur memiliki aduhan, keluhan dan pertengkaran (Amsal 23:29). Banyak keluhan-keluhan dalam masyarakat disebabkan oleh minum miras. Contoh-contoh adalah pernikahan yang rusak, persahabatan yang hilang, kejatuhan dari posisi sosial, kerugian materi, kecelakaan udara dan darat, penyakit, tindakan kriminal, penusukan, penembakan, penelantaran anak, kehamilan remaja, kebangkrutan, dan bunuh diri. Salah satu dari saudara kakek saya adalah seorang kaya yang memiliki dua bar dan juga seorang peminum berat. Suatu hari dia mengendarai mobil Cadillacnya ke sebuah rumah duka, menempelkan pistol di kepala, dan membunuh dirinya sendiri.

Sang peminum anggur memiliki keluh kesah (Amsal 23:29, dalam KJV: babbling). Si pemabuk berbicara hal-hal yang bodoh dan tidak dapat dimengerti.

Sang peminum anggur mendapat cidera tanpa sebab (Amsal 23:29). Si pemabuk tidak dapat ingat di mana dia pergi atau apa yang dia lakukan dan tidak tidak tahu dari mana dia mendapat cidera pada dirinya. Dia tidak mengingat perkelahian atau kejatuhan atau kecelakaan itu. Ayah istri saya menabrakkan mobilnya satu malam di Alaska ketika dia tidak melihat ada belokan tajam, dan dia menabrak jembatan. Dia ditemukan terhuyung-huyung di jalan dan bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi.

Sang peminum anggur memiliki mata merah (Amsal 23:29). Tubuhnya terpengaruh. Matanya terpengaruh; ginjalnya terpengaruh; hatinya terpengaruh; otaknya terpengaruh.

Sang peminum anggur akan melihat hal-hal yang aneh (Amsal 23:33, dalam KJV: strange women). Ini adalah gambaran dari immoralitas yang secara intim terhubung kepada minuman beralkohol. Rem-rem moral dari si pemabuk diperlemah, dan dia tertarik kepada wanita-wanita yang gampangan. Telah dikatakan bahwa ‘anggur adalah minyak dari api hawa nafsu.’

Sang peminum anggur, hatinya mengucapkan kata-kata yang kacau (Amsal 23:33), seperti sumpah serapah dan kepahitan, dan penghujatan, dan lelucon-lelucon jorok.

Sang peminum anggur tidak berhati-hati dan secara bodoh tidak memiliki rasa takut (Amsal 23:34). Dia akan berbaring dan tidur sementara terapung di laut atau sementara di atas tiang kapal, jauh di atas dek. Tiang utama sebuah kapal yang besar bisa 60an meter. Si pemabuk mengendarai mobil dan pesawat ketika ia mabuk; dia terhuyung-huyung di jalanan yang ramai; dia masuk ke bar-bar yang ramai yang biasanya dia hindari; dia menantang orang-orang lain untuk berkelahi. Pada Juli 2010, seorang pemabuk Australia memaksa masuk ke sebuah penangkaran hewan liar dan mencoba untuk naik ke atas seekor buaya berukuran 5 meter, dan secara ajaib masih bisa selamat hanya dengan gigitan di satu kakinya. Si peminum anggur sangat tidak berhati-hati dalam menggunakan uang. Dia tidak hati-hati dalam moral. Dia tidak hati-hati dalam pergaulan dengan kelompok yang salah. Dia tidak hati-hati dalam merusak hubungan dan persahabatan yang berharga.

Sang peminum anggur tidak merasakan rasa sakit (Amsal 23:35). Si pemabuk tidak merasakan kesakitan yang dihasilkan oleh kebodohan kemabukannya, sampai dia sadar dan mabuknya itu.

Sang peminum anggur diperbudak secara aneh (‘bilakah aku siuman? Aku akan mencari anggur lagi’ Amsal 23:35). Sebelum satu episode kemabukan benar-benar selesai, dia sudah mau mencarinya lagi. Bahkan ketika minuman telah merusak kesehatannya dan menghancurkan pernikahannya dan mengacaukan karirnya, dia biasanya tidak berhenti. ‘Hal ini seperti suatu parit yang dalam, dan lubang yang sempit, yang hampir tidak mungkin orang keluar dari dalamnya; dan oleh karena itu adalah bijak untuk menjaga jarak dari bibir lubang itu. Berhati-hatilah untuk tidak mendekat kepada dosa ini, karena sulit untuk mundur daripadanya, karena hati nurani, yang harusnya memimpin langkah mundur itu, telah dirusakkan olehnya, dan kasih karunia ilahi ditinggal’ (Matthew Henry).

Mengutip beberapa penelitian, industri alkohol dengan lantang mempromosikan bahwa minum secara ‘terkendali’ membawa manfaat-manfaat kesehatan, tetapi sebuah penelitian baru oleh Institute for Health Metrics di University of Washington, telah menemukan bahwa manfaat apapun yang didapat dari alkohol, dikalahkan oleh kerusakannya. Dr. Max Griswold, kepala peneliti itu, mengatakan, ‘Kami telah menemukan bahwa kombinasi resiko kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, meningkat dengan jumlah alkohol berapapun’ (“Study shows women in Ireland have three alcoholic drinks a day,” RTE, Ireland’s national public service broadcaster, 24 Agus. 2018). ‘Para ilmuwan mengumpulkan data-data dari 592 penelitian, dengan total 28 juta peserta, untuk meninjau resiko kesehatan global yang terkait dengan alkohol.’ ‘Setiap tahun, 2,2% wanita, dan 6,8% laki-laki, mati dari masalah kesehatan yang terkait alkohol, termasuk kanker, tuberkulosis, dan penyakit hati. Konsekuensi merugikan lainnya dari minum alkohol termasuk kecelakaan dan kekerasan. Secara mendunia, minum alkohol adalah faktor resiko ketujuh untuk kematian dini dan penyakit pada tahun 2016, demikian hasil penelitian itu.”

 

3. Alkitab memerintahkan orang percaya untuk tidak menjadi batu sandungan dalam hal apapun.

Saya berhenti merokok beberapa bulan setelah saya diselamatkan, bukan karena saya merasa merokok itu salah dari sananya atau karena saya peduli dengan kesehatan saya; saya berhenti merokok karena saya tahu hal itu dapat menjadi syak (sandungan) bagi orang lain. Saya ingin kesaksian saya murni dan tidak membahayakan orang lain, seingga Allah dapat memakai saya dan saya akan memiliki buah yang kekal. Saya tidak mau sedang bersaksi kepada seseorang, dan orang itu bisa jadi mengabaikan saya atau terganggu karena mereka melihat satu pak rokok di kantong saya.

Jika prinsip ini benar untuk dosa merokok, dan memang benar demikian, maka lebih benar lagi mengenai masalah minum minuman beralkohol. Adalah fakta bahwa banyak orang yang tidak beriman berpendapat bahwa seorang Kristen tidak seharusnya minum-minum. Mereka memiliki standar yang lebih tinggi untuk orang Kristen daripada standar sebagian orang Kristen bagi diri mereka sendiri. Perhatikan Utah [salah satu negara bagian AS], bahkan para Mormon di sana percaya bahwa adalah salah untuk minum alkohol! Bagiamana orang Mormon akan memandang ornag Kristen non-Mormon yang minum minuman keras?

Bahkan adanya kemungkinan seseorang dapat tersandung karena minum alkohol, seharusnya adalah alasan yang cukup bagi seorang percaya untuk menghilangkan hal ini dari kehidupannya. Dan kemungkinan ini adalah kemungkinan yang besar di masyarakat modern ini. Paulus rela untuk berhenti makain daging sepenuhnya di dunia ini jika dia merasa ada orang yang dapat tersandung dan kesaksiannya rusak (1 Kor. 8:13), padahal makan daging adalah suatu aktivitas yang sepenuhnya diperbolehkan. Betapa lebihnya lagi seorang percaya seharusnya rela melepaskan minuman beralkohol, yang dalam situasi terbaik pun sangat dipertanyakan, dan berpotensi untuk merusak secara jasmani (padahal daging tidak demikian)!

David Pratte mengeluarkan tantangan penting berikut dalam laporannya, “Alkitab dan Penggunaan Minuman-Minuman Beralkohol.”

Jika kamu minum alkohol, pertimbangkan pengaruh anda pada orang-orang berikut:

  • Pengaruh terhadap orang-orang muda; kebanyakan mereka mulai minum alkohol karena pengaruh teman atau orang tua
  • Pengaruh terhadap mantan pecandu alkohol; jika mereka minum sedikit lagi, mereka akan ‘kecanduan’ lagi
  • Pengaruh terhadap orang-orang yang mau kita Injili; bagaimana kita dapat menginjili pemabuk atau orang-orang yang tahu bahwa orang Kristen seharusnya tidak minum?
  • Pengaruh terhadap semua orang; 1 dari antara 10 orang yang minum akan menjadi pecandu, dan persentasenya jauh lebih tinggi lagi yang akan menjadi mabuk.

 

4. Alkitab memerintahkan orang percaya untuk menjauhi segala sesuatu yang nampak jahat (1 Tesalonika 5:22, KJV: “abstain from all appearance of evil)

Ini adalah nasihat yang memiliki dampak luas. Minuman beralkohol adalah suatu kejahatan dan kutukan besar di masyarakat modern. Perhatikan berbagai kecelakaan mobil, kesehatan yang hancur dan kuburan awal, perzinahan, percabulan, perceraian, anak-anak yang terbengkalai, istri-istri yang teraniaya, pelecehan seksual, pemborosan uang, perjudian, penghujatan, dan kebodohan yang terjadi karenanya. Perhatikan iklan-iklan bir dan miras, bagaimana rata-rata mempertontonkan sensualitas dan sikap tidak bertanggung jawab.

Pada Januari 2005, Royal College of Physicians di Inggris, memperingatkan bahwa Inggris sedang mengalami suatu epidemi masalah yang berhubungan dengan alkohol, yang menuntun kepada kekerasan dan penyakit di seluruh negeri (The Telegraph, 3 Jan. 2005). Epidemi yang sama sedang merajalela di seluruh dunia. Orang Rusia rata-rata minum 15 hingga 18 liter minuman keras setiap tahunnya, yang menurunkan angka harapan hidup rata-rata sebanyak satu dekade. Bagi para lelaki Rusia, angka harapan hidup adalah hanya 61,8 tahun. Pada tahun 2014, World Health Organization melaporkan bahwa 3,3 juta orang mati setiap tahun karena alkohol. Angka ini lebih dari AIDS, tuberkulosis, dan kematian karena kekerasan digabungkan. “Termasuk mengemudi sambil mabuk, kekerasan dan abuse karena alkohol, dan berbagai penyakit dan kelainan, alkohol menyebabkan 1 dari 20 kematian secara global setiap tahunnya.” Itu berarti satu kematian setiap sepuluh detik. Penelitian lainnya menemukan bahwa penggunaan alkohol menyebabkan 1 dari 10 kematian di kalangan orang dewasa yang bekerja. Itu berarti 88.000 kematian antara 2006 dan 2010, dan hidup orang-orang yang mati itu diperpendek sekitar 30 tahun (“Drinking behind 1 in 10 deaths of working-age adults, USA Today, 26 Juni 2014).

Jika ada hal yang nampak jahat hari ini, jelas minuman beralkohol masuk di dalamnya, dan Alkitab tidak sekedar menyarankan agar kita menjauhinya, Alkitab memerintahkannya!

 

5. Ada perbedaan antara kadar alkohol di anggur hari ini dengan pada zaman Alkitab.

Anggur beralkohol di zaman Alkitab, seringkali kadar alkoholnya lemah. Tidaklah jarang pada waktu itu untuk mencampurkan satu bagian anggur dengan dua atau tiga bagian air. Anggur yang tidak dicampur adalah anggur yang sangat kuat dengan kadar alkohol tinggi (Wah. 14:10).

“Banyak orang Kristen yang minum alkohol hari ini, dengan salah berasumsi bahwa yang dimaksud oleh Perjanjian Baru dengan anggur adalah persis sama dengan anggur hari ini. Namun, ini adalah hal yang salah. Pada kenyataannya, wine hari ini, sudah masuk dalam definisi minuman keras dalam Alkitab, yang dilarang oleh Alkitab. … Bahkan orang-orang kafir kuno tidak minum apa yang diminum sebagian orang Kristen hari ini” (Norman Geisler, Focus in Missions, Sept. 1986).

“Meminum kadar alkohol yang terkandung dalam dua gelas martini hari ini, jika dikonversikan ke wine zaman dulu, yang tiga bagian air dan satu bagian anggur (rasio zaman Alkitab dulu), seseorang harus minum dua puluh dua gelas” (Robert Stein, Ibid.).

“Satu ‘shot’ wiski (50% alkohol) sejumlah satu ons, mengandung alkohol sama banyaknya dengan satu gelas wine modern (10-23% alkohol), atau satu kaleng atau botol bir (4-6% alkohol). Bolehkan seorang Kristen minum satu ‘shot’ wiski? Jika tidak boleh, mengapa boleh minum segelas wine atau sekaleng anggur?” (“The Bible and Use of Alcoholic Beverages,” GospelWay.com).

 

6. Orang percaya Perjanjian Baru adalah seorang raja dan imam (Wah. 1:6; 5:10), dan oleh karena itu dilarang untuk minum. Lihat Imamat 10:8-11; Amsal 31:4-5.

Kelly Whiting berkomentar:

“Kedua perikop Perjanjian Lama ini berfokus pada tanggung jawab imam-imam dan raja-raja untuk tidak menyelewengkan Hukum Allah dan perikop-perikop ini mengidentifikasikan penggunaan alkohol sebagai sesuatu yang berpotensi memimpin ke arah itu, dan OLEH KARENA ITU, sepenuhnya dilarang oleh Allah untuk mereka pakai. Sebagai orang-orang percaya Perjanjian Baru, kita telah dijadikan, oleh penentuan Allah, ‘raja-raja dan imam-imam.’ Kaum Baptis zaman dulu kuat menekankan keimamatan orang percaya, walaupun orang Baptis modern jarang menyebutnya. Tetapi kita sungguh adalah imam, baik melalui deklarasi Allah dalam Wahyu 1:6, dan juga melalui panggilan kita untuk memimpin orang berdosa kepada Allah, membawa mereka kepada Kristus dan berdoa bagi mereka. Hal ini memerlukan perhatian yang sama dalam pemakaian Hukum (Kitab Suci) yang diperlukan juga oleh raja-raja dan imam-imam Perjanjian Lama. Tidak ada argumen lain yang lebih meyakinkan bagi saya karena argumen ini bergantung pada bahasa yang jelas dalam Kitab Suci ketika dibandingkan konteksnya. Saya tidak disuruh untuk ‘berhati-hati’ atau ‘bijaksana,’ walaupun kedua hal itu adalah sifat yang baik. …Dengan sederhana dikatakan, bahwa Allah mendeklarasikan saya sebagai raja dan imam, dan kedua jabatan itu dilarang untuk minum alkohol. Ini adalah perintah sederhana dari Allah.”

 

7. Kita percaya bahwa anggur yang dibuat Tuhan Yesus dalam pernikahan di Yohanes 2, bukanlah anggur beralkohol. Itu adalah jus anggur murni.

Berikut adalah alasan-alasan kita tidak percaya Tuhan Yesus membuat anggur beralkohol pada hari itu:

a. Tidaklah diperbolehkan bagi raja dan imam untuk minum anggur beralkohol, sedangkan Tuhan Yesus adalah imam dan raja (Amsal 31:4; Imamat 10:8-11).

b. Tidaklah diperbolehkan untuk memberikan anggur kepada orang lain untuk membuat mereka mabuk (Habakuk 2:15).

c. Tidaklah bijak untuk mnium anggur beralkohol (Amsal 20:1), dan kita tahu bahwa Tuhan Yesus, yang adalah sang Hikmat yang menjadi manusia, tidak akan melakukan sesuatu yang tidak bijak.

d. Anggur beralkohol adalah pencemooh dan peribut (Amsal 20:1), dan kita tahu bahwa Kristus tidak datang untuk mencemooh orang.

e. Jika Tuhan Yesus memberikan anggur beralkohol pada saat itu dalam pernikahan itu, maka Ia dan orang-orang itu akan melanggar perintah Allah untuk tidak “duduk dengan anggur sampai jauh malam” (Amsal 23:29-30).

f. Kristus tidak datang untuk sengaja menjadi batu sandungan bagi orang (Roma 14:21). Almarhum Bruce Lackey mengobservasi, “Siapapun yang pernah mempelajari masalah alkoholisme telah menyadari bahwa sebagian orang tidak bisa minum alkohol dalam jumlah berapapun, sementara orang lain lagi bisa minum satu atau dua minuman ‘sosial’ dan berhenti. Para ahli tidak tahu mengapa demikian; berbagai teori telah dikemukakan. Ada yang berkata bahwa ini karena perbedaan kimiawi, ada yang berkata bahwa ini psikologis. Faktanya adalah, kita tidak tahu pasti. Dalam sekelompok orang manapun, bisa saja di dalamnya ada orang-orang yang potensi menjadi pemabuk. Betapa memalukannya jika seseorang, yang berpotensi kecanduan alkohol, untuk mendapatkan cicipan pertamanya di dalam gereja atau lingkungan Kristen, dan lalu akan terjerumus ke perjalanan seorang pemabuk hingga kematiannya! Saya jelas tidak mau anak-anak saya untuk mendapatkan cicipan pertama alkohol mereka saat makan keluarga, dan juga tidak di gereja. Salah satu atau lebih dari antara mereka bisa saja adalah seorang yang berpotensi menjadi pemabuk. Sebagai bukti bahwa hal ini bisa terjadi, kita harus memperhatikan bahwa beberapa denominasi yang menyajikan anggur beralkohol dalam kebaktian mereka, juga mengoperasikan rumah-rumah rehabilitasi untuk imam-imam mereka yang ketergantungan alkohol! Tetapi kita bisa sangat pasti bahwa Kristus tidak datang untuk sengaja membuat orang tersandung!”

g. Fakta bahwa orang-orang pada pernikahan itu menyadari bahwa anggur yang dibuat Tuhan Yesus adalah superior dari yang sebelumnya, menunjukkan bahwa mereka tidak mabuk (Yohanes 2:10). Seandainya mereka mabuk, mereka tidak mungkin bisa membedakan bahwa anggur yang Tuhan buat adalah lebih baik.

h. Mujizat ini memuliakan Tuhan Yesus sebagai Mesias (Yohanes 2:11). Seandainya Dia membuat dan membagikan anggur beralkohol untuk membuat orang-orang di sana semakin mabuk, hal ini tidak akan memuliakan Dia sebagai Mesias yang suci dan benar. “Seandainya Kristus membuat anggur beralkohol dan seandainya orang-orang telah minum anggur beralkohol sebelumnya, Dia akan membuat orang-orang itu semakin mabuk, atau orang-orang yang hampir mabuk menjadi mabuk penuh! Tindakan seperti itu pastinya tidak akan mendatangkan kemuliaan apapun bagiNya” (Bruce Lackey).

i. Kita tahu bahwa Roh Allah tidak akan menaruh apapun dalam Alkitab untuk membenarkan para pemabuk, untuk membuat manusia bersalah dalam dosa (Rom. 14:21; 1 Kor. 10:31-33), tetapi ide bahwa Tuhan Yesus membuat anggur beralkohol untuk dibagikan di suatu pernikahan, adalah persis hal semacam itu. Pemabuk yang tahu sedikit Alkitab pun, mempercayai bahwa Tuhan Yesus membuat anggur beralkohol dan menggunakan hal ini sebagai pembenarannya.

 

Kesimpulan

1. Walaupun benar bahwa orang Israel diperbolehkan minum anggur beralkohol dan minuman keras dalam momen-momen tertentu (mis. Ulangan 14:26), ini tidak berarti bahwa adalah kehendak Allah bagi umatNya untuk melakukan hal itu hari ini. Orang percaya Perjanjian Baru memiliki standar kehidupan yang lebih tinggi. Hukum Musa membuat aturan tentang poligami, misalnya, tetapi Perjanjian Baru sama sekali tidak merestui hal tersebut.

2. Tidak ada keperluan bagi seorang Kristen untuk minum minuman beralkohol. Benda ini tidak menambahkan nilai apapun dalam kehidupan.

3. Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan bahaya rohani dan moral (1 Pet. 5:8). Kita memiliki musuh-musuh rohani yang ganas: dunia, daging, dan Iblis. Adalah bijak untuk menghindari apapun yang dapat menghasilkan kelemahan rohani dan menaruh kita dalam bahaya.

4. Kita hidup dalam masa-masa kesesatan besar (2 Tim. 4:3-4). Alasan gereja “zaman now” sangat suka minum alkohol adalah karena mereka bermegah tentang kebebasan dan hidup menurut hawa nafsu mereka, dengan demikian menggenapi nubuat Paulus. Ini adalah contoh yang bodoh untuk diikuti.

“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Timotius 4:3-4).

 

 

This entry was posted in New Evangelical (Injili), Separasi dari Dunia / Keduniawian. Bookmark the permalink.

4 Responses to Orang Kristen dan Minuman Beralkohol: Pergeseran Nilai (Updated)

  1. luke says:

    Bagaimana dengan konteks kita Indonesia, misalnya tuak? (etnis Batak terutama)

  2. Dr. Steven says:

    Sama saja, mau itu tuak, wiski, arak, dll., semua tidak baik untuk dikonsumsi sebagai minuman.

  3. luke says:

    Berarti kalau misalnya anda ke Jepang tidak akan minum sake dan menolak jika ditawari… bagus.

  4. Dr. Steven says:

    Benar. Ini posisi yang paling aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *