Bukti Sejarah untuk Yesus (Updated)

Oleh: Dr. David Cloud,  Maret 2017 (revisi 22 Februari 2019)
Diterjemahkan: Dr. Steven Liauw

Beberapa orang skeptis yang lebih radikal menyangkal bahwa Yesus adalah seorang tokoh yang benar-benar ada dalam sejarah. Pandangan ini disebut “mitos Yesus.” Sebagai contoh, pada tahun 2012, Timothy Freke menerbitkan buku The Jesus Mysteries: Was the ‘Original Jesus’ a Pagan God?

Berikut ini adalah pembantahan terhadap mitos bahwa Yesus adalah mitos:

 

1. Historisitas Yesus tidak dipertanyakan hingga belakangan ini.

Jika ada keraguan sedikitpun tentang apakah Yesus benar-benar eksis atau tidak, para musuh kekristenan di abad-abad awal sudah pasti akan memakai hal ini untuk menyerang kesahihan kekristenan. Tetapi serangan seperti ini tidak pernah dilakukan.

Ensiklopedia Britannica mengatakan:

“Kisah-kisah yang independen ini membuktikan bahwa di masa-masa kuno, bahkan pada lawan kekristenan sekalipun tidak pernah meragukan historisitas dari Yesus, yang dipermasalahkan untuk pertama kalinya, dan tanpa alasan yang memadai, oleh beberapa penulis di akhir abad 18, selama abad 19, dan pada awal dari abad 20” (“Jesus Christ,” Encyclopedia Britannica, 1974).

Sejarahwan Jaroslav Pelikan mengobservasi:

“Tidak peduli apapun yang seseorang secara pribadi pikirkan atau percayai mengenai Dia, Yesus dari Nazaret telah menjadi tokoh dominan dalam sejarah budaya Barat selama hampir dua puluh abad” (Jesus Through the Centuries, hal. 1).

 

2. Perjanjian Baru, yang adalah saksi utama tentang Yesus, adalah catatan sejarah dengan otoritas tertinggi, bahkan dari sudut pandang sekuler.

Bukti bahwa Perjanjian Baru ditulis segera sesudah kematian Yesus, tidak dapat dibantah. Kita telah mempelajari bukti ini dalam bagian “Sifat Alkitab” (Ini mengacu kepada buku An Unshakeable Faith, yang mengandung juga artikel “Bukti Sejarah untuk Yesus” ini).

Dalam bukunya Redating the New Testament, John A. T. Robinson menyimpulkan bahwa keseluruhan Perjanjian Baru telah ditulis sebelum kejatuhan Yerusalem pada tahun 70 M. [Editor: Sebenarnya kitab Wahyu ditulis tahun 90an M].

William Ramsay, salah satu arkeolog yang terkenal, menulis:

“Kita sudah dapat berkata secara tegas bahwa tidak ada lagi alasan kuat untuk menempatkan kitab Perjanjian Baru manapun, lebih dari tahun 80 M, dua generasi penuh sebelum tanggal 120 dan 150 M yang diberikan oleh para kritik PB radikal hari ini” (Recent Discoveries in Bible Lands, 1955, hal. 136) [Editor: Pengecualian adalah kitab Wahyu yang ditulis tahun 90an]

“Dalam pendapat saya, setiap buku dalam Perjanjian Baru telah ditulis oleh seorang Yahudi yang telah dibaptis, antara tahun empat puluhan hingga delapan puluhan, abad pertama Masehi.” (Christianity Today, 18 Jan. 1963).

Mulai dari abad pertama itu sendiri, kita memiliki bukti sejarah yang kuat bahwa Perjanjian Baru telah eksis dan secara umum diakui sebagai Kitab Suci oleh orang-orang percaya. Kita memiliki tulisan-tulisan yang masih ada sampai sekarang, yang ditulis orang-orang yang mengenal para Rasul secara pribadi. Termasuk di dalamnya adalah tulisan Clement dari Roma, Ignatius, dan Polycarpus. Jadi tidak ada jeda antara penulisan Perjanjian Baru dengan catatan historis tentang Perjanjian Baru itu.

Sudah ditemukan bagian-bagian dari Perjanjian Baru yang berasal dari akhir abad pertama dan awal abad kedua, hanya beberapa dekade setelah kitab-kitab itu ditulis. Tidak ada kitab kuno lainnya yang bahkan mendekati memiliki otoritas manuskrip yang sejelas ini.

Perhatikan beberapa bukti sejarah awal yang bersaksi tentang otentisitas Perjanjian Baru:

Clement dari Roma diajar langsung oleh beberapa Rasul. Dia adalah seorang penatua di jemaat di Roma mulai dari tahun 88 M, hanya 30 tahun setelah Paulus menulis suratnya ke Roma. “Clement dari Roma, yang surat pertamanya kepada orang-orang Korintus biasanya ditanggali 96 Masehi, memakai Kitab Suci secara bebas, mengasumsikan otoritasnya, dan memakai materi Perjanjian Baru berdampingan dengan materi Perjanjian Lama. Dia dengan jelas mengutip dari kitab Ibrani, 1 Korintus, dan Roma, dan bisa jadi juga dari Matius, Kisah Para Rasul, Titus, Yakobus, dan 1 Petrus. Jadi di sini ada seorang penilik [gembala] di Roma, sebelum akhir abad pertama, menuliskan sebuah surat resmi kepada jemaat di Korintus, yang dalam tulisannya sejumlah buku Perjanjian Baru diakui dan dinyatakan oleh otoritas kepenilikan sebagai Kitab Suci, termasuk kitab Ibrani” (Wilbur Pickering, The Identity of the New Testament Text).

Ignatius (sekitar 110 M), mengacu kepada “semua surat-surat Paulus.”

Polycarpus secara priabdi mengenal Rasul Yohanes dan orang-orang percaya lainnya yang menjadi saksi mata kebangkitan Yesus. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi sekitar tahun 115 M, Polycarpus “menganyam secara hampir tak terputus, sederetan kutipan jelas dan acuan kepada tulisan-tulisan Perjanjian Baru. … Barangkali ada lima puluh kutipan yang diambil dari Matius, Lukas, Kisah Para Rasul, Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, 1 dan 2 Petrus, dan 1 Yohanes, dan banyak acuan lainnya, termasuk ke Markus, Ibrani, Yakobus, dan 2 dan 3 Yohanes. (Satu-satunya penulis PB yang tidak termasuk adalah Yudas!)” (Pickering).

Justin Martyr (meninggal tahun 165 M) bersaksi bahwa gereja-gereja di zaman dia berkumpul pada hari Minggu dan “membaca tulisan-tulisan peninggalan para Rasul dan tulisan-tulisan para nabi” (Apology, I, hal. 67).

Irenaeus (meninggal 202 M) meninggalkan banyak karya yang masih kita dapat hari ini. Penerjemahan karya Irenaeus ke dalam bahasa Inggris menghasilkan antara 600-700 halaman dalam Perpustakaan Ante-Nicea. “Irenaeus menyatakan bahwa para Rasul mengajarkan Allah adalah Penulis dan kedua Perjanjian (Against Heretics IV, 32.2) dan ia terbukti menganggap tulisan-tulisan Perjanjian Baru membentuk Kanon kedua. Dia mengutip dari semua pasal dalam kitab Matius, 1 Korintus, Galatia, Efesus, Kolose dan Filipi, dari semua kecuali satu atau dua pasal dari Lukas, Yohanes, Roma, 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, dan Titu, dan dari kebanyakan pasal dalam Markus (termasuk dua belas ayat terakhir), Kisah Rasul, 2 Korintus, dan Wahyu, dan dari semua kitab salin kecuali Filemon dan 3 Yohanes. Kedua kitab ini sedemikian pendek sehingga Irenaeus tidak memiliki kesempatan untuk mengacu kepada mereka dalam seluruh karyanya yang tersimpan hingga hari ini – bukan berarti ia tidak tidak tahu tentang mereka atau menolak mereka. Rupanya dimensi dari Kanon Perjanjian Baru yang diakui oleh Irenaeus sangat mirip dengan yang kita pegang hari ini” (Pickering).

Irenaeus mendengar Polycarpus berkhotbah dan menceritakan kisah-kisah dari waktunya bersama Rasul Yohanes dan orang-orang Kristen abad pertama lainnya. Dalam suratnya kepada Florinus, Irenaeus menuliskan yang berikut ini: “Saya bisa memberitahu kepadamu tempat Polycarpus yang diberkati itu duduk untuk memberitakan Firman Allah. Sampai saat ini masih segar dalam pikiran saya caranya yang berwibawa berjalan ke sana ke mari; betapa kudus pembawaannya, keagungan ekspresinya; dan bagaimana ajakan-ajakannya yang kudus bagi umat. Saya seolah masih bisa mendengar dia saat ini menceritakan bagaimana dia bercakap-cakap dengan Yohanes dan banyak lainnya yang telah melihat Yesus Kristus, kata-kata yang ia dengar dari mulut mereka.”

Jadi kita memiliki tulisan-tulisan dari orang-orang yang mengenal secara pribadi para Rasul dan orang-orang Kristen abad pertama, dan yang mengutip dari kitab-kitab Perjanjian Baru.

Ini adalah bukti yang tidak terbantahkan bahwa Perjanjian Baru eksis pada waktu itu dan sama dengan Perjanjian Baru yang kita miliki hari ini.

Bahkan beberapa kritik tekstual yang naturalistik [tidak percaya hal supranatural], telah menyimpulkan bahwa Perjanjian Baru dalam bentuknya sbagai kanon 27-buku, eksis dalam bahasa Yunani tidak lebih lama dari pertengahan abad kedua. Lihat David Trobisch, The First Edition of the New Testament, Oxford/New York: Oxford University Press, 2000.

Dari abad kedua kita memiliki bukti bahwa adalah hal yang biasa bagi setiap jemaat untuk memiliki salinannya sendiri akan tulisan para Rasul sehingga mereka bisa membaca dan berkhotbah dari tulisan-tulisan itu. “Dan pada hari yang disebut Minggu, ada pertemuan di satu tempat bagi mereka yang tinggal di kota atau desa, dan tulisan-tulisan para Rasul atau tulisan-tulisan pada nabi dibacakan sepanjang waktu memungkinkan. Ketika sang pembaca telah selesai, presiden dari acara tersebut mendorong dan mengajak kita untuk meniru hal-hal yang mulia tersebut” (Justin Martyr, Apology).

Dr. Wilbur Pickering mengobservasi: “Baik Justin Martyr maupun Irenaeus mengklaim bahwa Gereja sudah tersebar di seluruh dunia, pada zaman mereka …MENJADI JELAS BAHWA PASTINYA SUDAH ADA RIBUAN SALINAN PERJANJIAN BARU YANG DIPAKAI SAMPAI DENGAN TAHUN 200 MASEHI” (The Identity of the New Testament Text).

Pada tahun sekitar 208, Tertullian menyinggung gereja-gereja yang didirikan oleh para Rasul dan mengindikasikan bahwa “tulisan-tulisan asli” masih tersedia dan adalah standar absolut yang dapat dipakai untuk mengukur kebenaran di gereja-gereja yang percaya. Dia mendorong para penyesat untuk “berlari ke gereja-gereja rasuli, di tempat mana takhta para rasul masih menonjol di tempat mereka, DI TEMPAT MANA TULISAN-TULISAN MEREKA SENDIRI YANG OTENTIK DIBACA, MEMPERDENGARKAN SUARA DAN MEWAKILI WAJAH SETIAP DARI MEREKA MASING-MASING. Akhaya ada di dekat kalian, (di mana) kalian akan menemukan KORINTUS. Karena kalian tidak jauh dari Makedonia, kalian memiliki FILIPI; (dan di sana juga) kalian memiliki TESALONIKA. Karena kalian bisa menyeberang ke Asia, kalian mendapatkan EFESUS. Lebih lanjut lagi, karena kalian dekat ke Italia, kalian memiliki ROMA, dari mana sampai ke tangan kita otoritas itu sendiri (dari para Rasul sendiri)” (Tertullian, Prescription against Heretics, 36, dikutip dari Pickering).

Pickering mengobservasi: “Beberapa orang berpendapat bahwa Tertullian mengklaim bahwa autograf yang ditulis Paulus masih dibaca pada zamannya (208), tetapi minimal yang dia maksudkan pastilah bahwa mereka menggunakan salinan-salinan yang akurat dan setia. Adakah hal yang yang diharapkan? Misalnya, ketika orang-orang Kristen Efesus melihat bahwa autograf surat Paulus kepada mereka semakin rusak, bukankah mereka akan secara hati-hati membuat salinan yang identik untuk dapat mereka pakai terus? Akankah mereka membiarkan Autograf itu binasa tanpa membuat salinan seperti itu? (Pastinya ada aliran orang yang konstan datang untuk membuat salinan surat mereka itu atau untuk memastikan kata-kata yang asli). Saya percaya kita harus menyimpulkan bahwa pada tahun 200, Gereja Efesus masih mampu untuk menjadi saksi tentang kata-kata orisinal dari surat kepadanya (dan juga yang lainnya)….”

Bandingkan kekayaan bukti-bukti kuno yang mendukung Alkitab ini, dengan buku-buku terkenal lainnya dari zaman kuno:

Waktu Penulisan Salinan Tertua Jeda Waktu
Plato 350 SM 900 M 1250 tahun
Herodotus 450 SM 900 M 1350 tahun
Euripedes 450 SM 1100 M 1500 tahun
Caesar 50 SM 900 M 950 tahun
Tacitus 100 M 1100 M 1000 tahun
Aristotle 350 SM 1100 M 1450 tahun
Sophocles 450 SM 1000 M 1550 tahun
Homer (Iliad) 900 SM 400 SM 500 tahun

Perhatikan Iliad dan Odyssey yang ditulis oleh Homer. Kedua karya ini digubah pada abad kedelapan SM, tetapi fragmen manuskrip tertua adalah minimal 500 tahun kemudian. Dan manuskrip penuh yang tertua dari tulisan Homer adalah dari abad 10 dan 11 Masehi, minimal 1800 tahun setelah penulisan mere.a Ada berbagai edisi yang berbeda dari cerita-cerita ini, dan tidaklah mungkin untuk mengetahui apa yang tertulis dalam tulisan aslinya secara mendetil.

Perhatikan tulisan Konfusius, filsuf kuno Cina yang paling terkenal. Buku utamanya yang mengandung pengajarannya adalah Analects, tetapi buku ini terbentuk selama periode waktu ratusan tahun, mulai dari sekitar 470 SM hingga 200 M. Bagian tertua yang ada pada kita hari ini ada dari sekitar 50 SM, yang adalah lebih dari 400 tahun setelah kematian Konfusius.

Hal yang sama berlaku bagi kitab-kitab Hindu. Teks Vedic, seperti Upanishads, diteruskan secara oral selama ratusan tahun sebelum dituliskan, dan tidak ada cara absolut untuk mengetahui apakah teks yang ada hari ini adalah perwakilan yang akurat dari pernyataan-pernyataan orisinal. Bahkan tidak diketahui pasti siapa yang menciptakan mereka, kapan, di mana, dan dalam kondisi apa.

J. Harold Greenlee mengobservasi:

“Karena para ahli secara umum menerima tulisan-tulisan klasik kuno ini sebagai sesuatu yang dapat dipercaya, walaupun manuskrip paling awal mereka adalah manuskrip yang ditulis lama sekali setelah tulisan asli, dan jumlah manuskrip yang masih ada sangat kecil, maka jelaslah bahwa sangat terjamin tingkat kepercayaan pada teks-teks Perjanjian Baru” (Introduction to the New Testament Criticism, hal. 16).

Kritik-kritik Alkitab yang liberal memakaikan kepada Alkitab standar yang tidak mereka pakaikan kepada tulisan-tulisan kuno lainnya.

 

 

3. Ada bukti tentang eksistensi Yesus dari sumber-sumber luar Alkitab

Berikut adalah beberapa bukti dari buku Johs McDowell, The New Evidence That Demands A Verdict:

Cornelius Tacitus (59-117 M), seorang sejarahwan Romawi di awal abad kedua:

“Christus, yang dari namanya [kekristenan] bermula, menderita hukuman ekstrim selama pemerintahan Tiberius di tangan salah satu procurator kita, Pontius Pilatus…” (Annals XV.44, sekitar 115 M).

Suetonius, sekretaris utama untuk Kaisar Hadrian (yang memerintah dari 117-138 M):

“Sambil orang-orang Yahudi terus menerus membuat kekacauan karena masalah Chrestus, dia mengusir mereka dari Roma” (Life of Claudius, 25:4).

Werner Keller mengobservasi:

“Penulis Orosius menyebut bahwa perintah pengusiran ini terjadi pada tahun kesembilan pemerintahan Claudius, yaitu 49 M. Itu berarti bahwa ada komunitas Kristen yang terbukti di Roma, tidak lebih dari lima belas hingga dua puluh tahun setelah Penyaliban. Ada, di dalam Kisah Para Rasul, suatu penguatan yang luar biasa tentang bukti Romawi ini. Ketika Paulus datang dari Athena ke Korintus, dia ‘berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma’ (Kis. 18:2)” (The Bible as History, hal. 390, 391).

Josephus (37-100 M)

Josephus adalah seorang pemimpin Yahudi yang bekerja di bawah kaisar-kaisar Romawi dan menulis dua sejarah tentang orang Yahudi: Jewish Wars dan Antiquities of the Jews. Dalam perikop-perikop berikut, dia mengakui keberadaan Yesus, adanya Yohanes Pembaptis dan baptisannya, dan Yakobus saudara Yesus beserta kemartirannya. Pernyataan-pernyataan berikut ini secara luas diterima sebagai sesuatu yang asli:

“Tetapi Ananus yang lebih muda, yang sebagaimana kita katakan, menerima jabatan imam besar, memiliki sifat sangat berani; dia mengikuti partai Saduki, yang memiliki penilaian paling keras di atas semua orang Yahudi, sebagaimana telah kita tunjukkan. Oleh karena Ananus memiliki sifat seperti itu, dia berpikir bahwa kini ia memiliki suatu kesempatan baik, karena Festus sekarang sudah mati, dan Albinus masih dalam perjalanan; jadi dia mengumpulkan suatu konsili hakim-hakim, dan menghadapkan kepada mereka saudara dari Yesus yang disebut Kristus, yaitu yang bernama Yakobus, bersama dengan beberapa lainnya, dan setelah menuduh mereka sebagai pelanggar hukum, dia menyerahkan mereka untuk dilempari batu” (Antiquities, 20.9.1.).

“Nah, sebagian orang Yahudi berpendapat bahwa hancurnya pasukan Herodes berasal dari Allah, dan sangat adil, sebagai hukuman terhadap apa yang ia lakukan pada Yohanes, yang disebut Pembaptis; karena Herodes membunuh dia, yang adalah seorang yang baik, yang memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menjalankan kebaikan, baik itu sebagai kebenaran terhadap sesama dan maupun kesalehan terhadap Allah, dan dengan demikian untuk datang dibaptis” (Antiquities, 28.5.2).

Ada pernyataan lain lagi tentang Yesus dalam buku Josephus, Antiquities, sebagai berikut, tetapi keasilan yang berikut ini dipertanyakan:

“Sekitar waktu itu ada Yesus, seorang manusia yang bijaksana, jika memang sah untuk menyebut dia manusia, karena dia adalah seorang pekerja hal-hal yang luar biasa, seorang pengajar orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Dia menarik bagi dirinya sendiri banyak orang Yahudi, dan juga banyak non-Yahudi. Dia adalah sang Kristus, dan ketika Pilatus, dengan anjuran dari orang-orang terkemuka di antara kami, telah menghukum dia ke atas salib, mereka yang mengasihinya sejak awal tidak meninggalkan dia; karena dia muncul kepada mereka hidup lagi pada hari yang ketiga; sebagaimana dinyatakan dahulu oleh para nabi ilahi seiring juga dengan sepuluh ribu hal-hal ajaib lainnya mengenai dia. Dan kelompok orang Kristen yang disebut demikian karena dia, tidaklah punah hingga hari ini” (Antiquities, 18.3.3).

“Sangat sedikit ahli yang menganggap seluruh perikop ini asli. Namun juga sangat diragukan bahwa seluruh perikop ini direkayasa, tetapi sepertinya ada beberapa hal yang ditambahkan belakangan” (“Did Jesus Exist?” knowwhatyoubelieve.com).

Mara Bar-Serapion

Dia adalah seorang filsuf Syria yang menulis sekitar tahun 70 M. Dalam sebuah surat kepada putranya, dia berkata:

“Keuntungan apa yang didapat orang-orang Yahudi dari membunuh raja mereka yang bijak? Setelah peristiwa itulah kerajaan mereka dihancurkan” (Robert Van Voorst, Jesus Outside the New Testament, hal. 53-55).

Pliny yang Muda (61-113 M)

Dia adalah seorang penulis dan administrator Romawi. Dalam sebuah surat kepada Kaisar Trajan, sekitar tahun 106 M, dia menyebut Kristus dan praktek-praktek penyembahan orang-orang Kristen mula-mula.

“Mereka terbiasa bertemu pada hari tertentu sebelum hari terang, dan mereka menyanyikan ayat-ayat himne secara bergantian kepada Kristus, seolah kepada seorang ilah, dan mengikat diri mereka dengan sumpah yang serius, untuk tidak melakukan hal-hal jahat, untuk tidak melakukan kecurangan, pencurian atau perzinahan, untuk tidak memalsukan kata-kata mereka, atau melanggar kepercayaan ketika tiba waktunya bagi mereka untuk menepati; dan setelah itu adalah kebiasaan mereka untuk berpisah, dan lalu berkumpul kembali untuk makan bersama – tetapi makanannya adalah tipe biasa dan lugu” (Pliny’s Letters, Buku 10, Surat 96).

Talmud

Tulisan-tulisan Talmud Yahudi, berasal dari antara tahun 70 sampai 200 Maeshi, menyebut Yesus. Jika ada keraguan tentang eksistensi Yesus, kita bisa pastikan bahwa para penulis rabi Yahudi itu tentunya sudah akan mengungkitnya!

“Telah diajarkan: Pada malam Paskah, Yeshu digantung. …setelah tidak menemukan apa-apa yang dapat menolongnya, mereka menggantung dia pada malam Paskah” (Babylonian Talmud, Sanhedrin 43a).

Dalam tulisannya Sejarah Talmud (1918), ahli Talmud, Michael Rodkinson mengakui eksistensi Yesus. Dia menyebut Rabi Johanan Zakkai, yang hidup pada masa kehancuran Bait Kedua, yang terjadi tahun 70 M. Kita dapat melihat dari pernyataan berikut bahwa Zakkai berdebat dengan para kaum “Messiahis” yang mengikuti ajaran Yesus.

“Jadi, pembelajaran akan Talmud berkembang pesat setelah kehancuran Bait, walaupun terkendala oleh kesulitan besar dan pergumulan berat. Sepanjang umurnya, Rabi Johanan bin Zakkai terpaksa berdebat dengan kaum Saduki dan Bathueian, dan tidak diragukan lagi, juga dengan kaum Messiahis; sebagai walaupun yang terakhir adalah Farisi, mereka berbeda dalam banyak poin dari pengajaran Talmud setelah guru mereka, Yesus, keluar dari kaum Farisi” (Rodkinson, The History of the Talmud, volume 1, pasal 2).

Rodkinson menyatakan bahwa Talmud awalnya mengandung perikop-perikop tentang Yesus dan pengajarannya, tetapi kemudian dihapuskan karena penganiayaan oleh Katolik karena cara Yesus disebut dianggap penuh fitnah. Rodkinson mengatakan bahwa Talmud menyebut kelahiran Yesus (yang dijelaskan sebagai hasil perzinahan Maria dengan seorang tentara Romawi bernama Pantera), klaimnya sebagai Allah, murid-muridnya, mujizat-mujizatnya (yang dijelaskan sebagai sihir), dan penyalibannya pada malam Paskah. Dalam Talmud, Yesus disebut “Yeshu,” “yang satu itu,” “Pantera,” dan “ben Pantera” (anak Pantera).

Dalam buku Christianity in Talmud and Midrash, R. Travers Herford menyatakan bahwa Talmud menyebut Maria sebagai “lahir dari jalur pangeran-pangeran dan penguasa-penguasa.”

Lucian dari Samosata (sebelum 120 M)

Lucian adalah seorang penulis Yunani abad kedua yang mengejek orang-orang Kristen sebagai berikut:

“Orang-orang Kristen, kalian ketahui, menyembah seorang manusia hingga hari ini – orang terhormat yang memperkenalkan ritual-ritual baru mereka, dan disalibkan oleh karena itu. … Kalian lihat, makhluk-makhluk yang tersesat ini bermulai dengan keyakinan umum bahwa mereka tidak akan mati untuk selamanya, yang menjelaskan sikap mereka yang memandang rendah kematian dan kesukarelaan pengabdian diri yang begitu jamak di antara mereka; dan kemudian ditekankan kepada mereka oleh pemberi hukum awal mereka bahwa mereka semua adalah saudara, sejak mereka bertobat, dan menyangkali dewa-dewi Yunani, dan menyembah sang orang kudus yang tersalib itu, dan hidup sesuai hukum-hukumnya. Semua ini mereka lakukan dengan iman, dan sebagai hasil mereka merendahkan semua hal-hal duniawi, menganggapnya hal-hal yang biasa” (Lucian, The Passing of Peregrinus).

Norman Geisler merangkumkan bukti-bukti sebagai berikut:

Sumber utama tentang kehidupan Kristus adalah keempat Injil, Tetapi ada laporan yang cukup banyak dari sumber-sumber non-Kristen yang melengkapi dan cocok dengan catatan Injil. Sumber-sumber ini terutama dari tokoh-tokoh Yunani, Romawi, Yahudi, dan Samaria pada abad pertama. Singkatnya, mereka memberitahu kita berikut ini:

  • Yesus adalah seseorang yang historis yang berasal dari Nazaret
  • Dia menjalani hidup yang bijak dan saleh
  • Dia disalibkan di Palestina, di bawah kekuasaan Pontius Pilatus pada zaman Kaisar Tiberius, pada waktu Paskah, dan dianggap raja orang Yahudi
  • Dia dipercayai oleh murid-muridnya telah bangkit kembali dari kematian tiga hari kemudian
  • Para musuhnya mengakui bahwa dia melakukan berbagai hal yang luar biasa, yang mereka sebut ‘sihir.’
  • Kelompok kecil murid-muridnya itu bertambah banyak dengan luar biasa, menyebar bahkan hingga ke Roma
  • Murid-muridnya menolak politeisme, menjalani hidup yang bermoral, dan menyembah Kristus sebagai Allah

Gambaran ini mengkonfirmasi pandangan tentang Kristus yang terdapat dalam Injil-Injil Perjanjian Baru (Geisler, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics).

Edwin Yamauchi, profesor sejarah di Miami University, mengatakan bahwa kita memiliki dokumentasi sejarah tentang Yesus yang lebih baik dan lebih banyak daripada tentang pendiri agama lain manapun (misal Zoroaster, Buddha, atau Muhammad) (“Jesus Outside the New Testament: What Is the Evidence?” Jesus Under Fire, edited by Michael Wilkins and J.P. Moreland, 1995).

Ada pengejek-pengejek yang menolak semua bukti-bukti ini, tetapi itu adalah hasil dari pengerasan diri dalam kebutaan. Hati manusia adalah rusak, sehingga bisa saja seseorang bertahan dalam ketidakpercayaan bahkan di hadapan segunung bukti. “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9).

Di sisi lain, banyak lelaki maupun perempuan yang telah berniat untuk mempersalahkan Alkitab dan membuktikan bahwa Yesus Kristus bukanlah Anak Allah, yang pada akhirnya menerima bukti-bukti yang mereka temukan sebagai sesuatu yang tidak terbantahkan dan telah berlutut di bawah kaki Kristus dan mengakuiNya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kami telah memberikan beberapa contoh orang-orang seperti ini dalam laporan “Men Who Were Converted Trying to Disprove the Bible,” tersedia di www.wayoflife.org.

 

4. Bahkan kebanyakan theolog liberal mengakui eksistensi Yesus

Pandangan “mitos Yesus” adalah pandangan minoritas ekstrim yang banyak berkoar. Dua orang yang telah menulis bantahan terhadap bukunya Timothy Freke, The Jesus Mysteries, adalah Bart Ehrman dan John Dominic Crossan, yang termasuk theolog-theolog yang sangat liberal.

“Perdebatan tentang eksistensi Yesus telah mengakibatkan pertukaran peran yang menarik. Dua ahli Perjanjian Baru yang memimpin dalam mempertahankan eksistensi Yesus, memiliki reputasi sebagai penyerang, bukan pelindung, kekristenan tradisional. Ehrman, sebagai contoh, adalah seorang agnostik yang telah menulis buku-buku yang berargumen bahwa hampir setengah Perjanjian Baru adalah dokumen palsu. Seorang lagi yang mempertahankan eksistensi Yesus adalah John Dominic Crossan, seorang ahli Perjanjian Baru yang telah disebut sebagai penyesat karena buku-bukunya menantang beberapa pengajaran Kristen tradisional. Tetapi mengenai eksistensi Yesus, Crossan berkata, bahwa dia merasa pasti” (“The Jesus Debate: Man vs. Myth,” CNN Belief Blog, 7 April 2012).

Ehrman mengatakan bahwa kebanyakan orang yang menyangkal eksistensi Yesus adalah para pengacau di internet, dan membandingkan mereka dengan para penyangkal adanya Holocaust.

 

5. Yesus Kristus hidup dan dapat dikenal secara pribadi

“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Timotius 1:12).

Rasul Paulus, yang menuliskan kata-kata di atas, tadinya adalah seorang penentang berat Yesus dan kekristenan. Secara manusiawi, dia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari pengakuannya tentang Yesus sebagai Kristus dan Tuhan. Fakta bahwa dia melakukannya adalah bukti dari kebangkitan Yesus.

Selama berabad-abad, begitu banyak orang lain yang telah bersatu suara dengan Paulus dalam berkata, “aku tahu kepada siapa aku percaya.”

Kekristenan sejati bukanlah sekedar suatu agama. Ia adalah suatu hubungan pribadi dengan Allah yang kekal melalui Yesus Kristus.

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3).

Untuk informasi lebih mengenai topik ini, bisa melihat berikut ini:

– Norman Geisler — Baker Encyclopedia of Christian Apologetics, When Critics Ask, When Skeptics Ask
– Gary Habermas — The Historical Jesus
– Josh McDowell – The New Evidence that Demands a Verdict

This entry was posted in Apologetika, Arkeologi, Kristologi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *