Mahkamah Agung AS Berpihak pada Pengadilan Negeri untuk Melawan Kebebasan Beragama

(Berita Mingguan GITS 30 Maret 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Christian B&B Owner Forced to Serve Gay Couples,” CBNNews.com, 19 Mar. 2019: “Mahkamah Agung AS menolak untuk mendengarkan ajuan kasasi dari seorang pemilik motel Kristen yang diperintahkan oleh pengadilan negeri untuk melayani sepasang wanita lesbian, walaupun hal itu melanggar kepercayaan agamanya. Mahkamah Agung menolak ajuan banding tersebut pada hari Senin, jadi mempertahankan keputusan pengadilan negeri yang memenangkan pasangan lesbbian tersebut. Kini, kasus penuntutan itu akan berlanjut untuk menentukan hukuman yang harus dihadapi oleh pemilik bisnis Kristen tersebut. Phyllis Young, pemilik dari Aloha Bed & Breakfast di Honolulu, Hawaii, menolak untuk menyewakan sebuah kamar di rumahnya kepada Diane Cervili dan Taeko Bufford pada tahun 2007, karena kepercayaan imannya tentang pernikahan. Cervili dan Bufford menuntut Young atas tindakannya dan menuduhnya telah mendiskriminasikan mereka seksualitas mereka. Alliance Defending Freedom mewakili Young dan berargumen bahwa karena dia ‘hanya menyewakaan 1-3 kamar di rumah pribadinya, dia tidak masuk di bawah hukum akomodasi publik Hawaii yang membuat diskriminasi orientasi seksual sesuatu yang melanggar hukum.’ Advokat hukum konservatif tersebut juga menunjukkan bahwa Konstitusi (UUD) AS melindungi hak Young untuk tidak mempromosikan perilaku yang bertentangan dengan imannya atau berasosiasi dengan orang-orang yang tidak mau menghargai imannya. Namun, sebuah pengadilan negeri memutuskan bahwa Young melanggar hukum akomodasi publik yang dibuat oleh Komisi Hak Asasi Hawaii. Hukum tersebut beraplikasi kepada pelayanan penyambutan, entertainment, dan transportasi. Hukum mengatakan bahwa adalah ‘ilegal untuk tidak memberikan seseorang akses atau memperlakukan mereka secara tidak sama di suatu tempat akomodasi publik’ karena ‘agama,’ ‘orientasi seksual,’ dan ‘identitas atau ekspresi gender’ seseorang.

This entry was posted in LGBT, Penganiayaan / Persecution. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *