Siswi-Siswi SMA Protes Bahwa Lelaki Biologis Diizinkan Ganti Baju di Tempat Ganti Baju Wanita

(Berita Mingguan GITS 13 April 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “High School Girls,” The Stream, 21 Maret 2019: “Ada minimal 787 murid di Honesdale High School (SMA Honesdale), Pennsylvania, tetapi hanya satu dari semua murid itu yang sepertinya tahu akan perubahan besar dalam aturan sekolah tersebut. Semua murid yang lain menjadi tahu dengan cara yang paling traumatis – yaitu ketika mereka masuk ke ruang ganti wanita, dan menemukan seorang remaja laki-laki dengan pakaian dalam wanita. … Ternyata, para murid itu bukanlah satu-satunya yang tidak pernah diberitahu tentang kebijakan baru tersebut. Masih dalam syok, para orang tua menelpon kepala sekolah dan pengawas Wayne County. Keduanya tidak terlihat menyesal akan pengalaman yang menimpa para siswi tersebut. Dan untuk membuktikannya, mereka sama sekali menolak untuk membantu. Satu-satunya pilihan bagi para murid perempuan adalah untuk menunggu di luar ruang ganti – suatu tempat yang mestinya adalah untuk mereka – sampai laki-laki yang di dalam selesai. … Tidak jauh di sebelah selatan dari tempat itu, di Boyertown, Alexis Lightcap menemukan situasi yang serupa. ‘Tidak ada seorang pun yang mempersiapkan kami, memperingatkan kami, atau menasihati kami’ tentang para lelaki yang akan mereka temukan di WC dan kamar ganti mereka. Dan mereka sama sekali tidak bersimpati ketika para siswi melayangkan komplain. Alexis berpikir bahwa adalah tugas orang-orang dewasa di sekolah itu untuk melindungi para murid. Ternyata, dia hanya dicuekin oleh administrator sekolah, yang sepertinya lebih mementingkan tidak terlihat salah secara politis daripada menjaga privasi dari para siswi mereka. Oleh karena itu, para murid perempuan ini ditaruh dalam posisi yang serba salah, demikian argumen pengacara Andrea Shaw dalam komplain resmi dia kepada Departemen Pendidikan AS. ‘Karena perlakuan budaya terhadap isu LGBT, [si perempuan] harus memilih antara privasinya atau pengucilan.’ Karena Wayne County berpihak kepada si lelaki itu, para perempuan ‘sangat tidak nyaman’ — dan bukan hanya klien yang dia perjuangkan. Murid-murid lain telah muncul dari tim cross-country, dan mengatakan bahwa mereka keberatan jika harus ganti baju di hadapan si lelaki itu. Para orang tua khawatir tentang ‘perjalanan menginap, dan apakah si lelaki akan diberikan kamar hotel yang sama.’ Para siswi tidak lagi memakai WC selama di sekolah, karena mereka khawatir akan bertemu teman sekolah lelaki di dalam WC. Dan yang lainnya khawatir bahwa ‘para guru akan membalas’ jika mereka mengungkit betapa tidak nyamannya mereka. … para anggota Kongres Demokrat . . . mau membuka semua kamar ganti, tempat mandi, dan WC, kepada lelaki, dalam rancangan undang-undang yang diebut Equality Act.” “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri . . . tidak tahu mengasihi . . . tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik . . . berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (2 Tim. 3:1-4).

This entry was posted in LGBT. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *