Kebaktian dengan Musik Rock yang Pertama Kali Disiarkan, Memiliki Semua Ciri-Ciri CCM

(Berita Mingguan GITS 11 Mei 2019, sumber: www.pulpitandpen.org)
Kebaktian dengan musik rock yang pertama kali disiarkan lewat televisi, setengah abad yang lalu, memiliki semua ciri-ciri Musik Kristen Kontemporer (CCM) hari ini, dan semua tanda-tanda bahaya bagi semua orang Kristen dan gereja-gereja yang bijak dan percaya Alkitab. Tanggalnya adalah 27 April 1969, pada tahun yang sama saya masuk Angkatan Darat AS. Band musik yang bermain adalah The Mind Garage; stasiun yang menyiarkan adalah ABC (American Broadcasting Corporation); forumnya adalah Gereja Episcopal St. Mark di Bowery, Manhattan. Acaranya disebut “Misa Elektrik ke-14.” Acara itu disaksikan oleh ribuan orang di Amerika Serikat dan ditayangkan ulang hingga tahun 1980an (classicchristianrockzine.com). Perhatikan ciri-ciri dari proto-kebaktian rock ini:

Pertama, sejak dari permulaannya, kebaktian musik rock memiliki bunyi yang kafir. Musik dari band kebaktian rock pertama ini diimpor langsung dari dunia sekuler. Tidak ada yang kudus atau terpisah tentang musik ini. Musik ini digambarkan sebagai musik yang “psychedelic,” yang adalah musik obat-obatan terlarang tahun 1960an. Jurnalis Joyce Tracewell digambarkan sebagai “musik yang sengaja terasa alien, yang membuat seseorang merinding.” Dia berkata, “mereka menyanyi dengan suara yang seperti mirip orang Druid atau Inca atau Gypsy” (“Mind Garage Deliberate Alien Music,” Mindgarage.com, 19 Apr. 1970). Saya kenal dengan musik ini. Saya menghidupi musik seperti ini ketika saya seorang “hippie” pemakai obat sebelum saya diselamatkan. Tidak ada yang saleh mengenai musik ini. Musik ini “rohani” hanya dalam pengertian mengandung roh dunia ini. Sejak saat itu hingga hari ini, Musik Kristen Kontemporer telah mengimpor seenaknya dari kubangan musik pesta dunia ini, dengan alasan bahwa mereka memiliki kebebasan, tetapi ini bukanlah kebebasan yang dibenarkan oleh Firman Allah. Ini adalah kekacauan; ini adalah meninggalkan iman; adalah pemberontakan untuk memasukkan gaya-gaya musik yang terseksualisasi dan dipengaruhi roh-roh jahat dari dunia yang jahat ini, ke dalam acara berjemaat atau kebaktian untuk menyenangkan Allah yang maha kudus, Allah yang memerintahkan umatNya untuk tidak “menjadi serupa dengan dunia ini” (Rom. 12:2).

Kedua, sejak dari permulaannya, kebaktian musik rock bersifat ekumenikal. Anggota-anggota dari band The Mind Garage terdiri dari orang-orang Baptis, Katolik, dan Protestan. “Tidaklah jarang melihat orang-orang Episkopal, Katolik, Protestan, dan Yahudi, bersama-sama, melakukan Perjamuan Kudus bersama” (“The Electric Liturgy of ‘The Mind Garage,’” Classic Christian Rockzine, 2015). Band Mind Garage tampil di gereja-gereja Episkopal, Katolik, Presbyterian, Baptis, dan Methodis. Ekumenisme membutuhkan suatu sikap tidak menghakimi yang tidak alkitabiah terhadap doktrin dan kelakuan, dan suatu sikap terbuka terhadap kesesatan dan kemurtadan. Tidak ada hal yang lebih efektif dalam membangun “gereja esa sedunia” daripada Musik Kristen Kontemporer. Bahkan orang-orang dari kalangan musik kontemporer yang lebih konservatif, seperti keluarga Getty, juga bersifat ekumenikal (misal, hubungan mereka yang non-kritis terhadap Matt Maher yang Katolik). Sungguh menyingkapkan bahwa kebaktian rock pertama yang disiarkan di televisi diadakan di gereja Episkopal, mengingat bahwa para Episkopal berada di garis terdepan modernisme theologis dan kesesatan. Di awal 1960an, Uskup Episkopal, James Pike, menyebut kelahiran Kristus dari perawan sebagai suatu “mitos yang primitif” dan mengatakan bahwa Yusuf barangkali adalah ayah Yesus yang sebenarnya (majalah Redbook, Agustus 1961). Dia juga mengatakan bahwa Adam dan Hawa, taman Eden, surga, dan neraka, semua adalah mitos. Pada tahun 1963, theolog Episkopal, Paul van Buren, memulai gerakan Allah-kini-mati, dengan penerbitan The Secular Meaning of the Gospel.

Ketiga, sejak dari permulaannya, kebaktian musik rock bersifat duniawi. Orang-orang berambut panjang dalam band The Mind Garage “tidaklah terlalu agamawi” dan tidak peduli tentang konsep-konsep alkitab melawan unisex dan fashion yang tidak sopan, pemakaian alkohol dan obat-obatan, dan pemisahan dari hal-hal kotor seperti musik rock sekuler. Mind Garage terasosiasikan dengan dan melakukan performa dengan band-band kotor seperti Iron Butterfly, Sly dan Family Stone, dan Canned Heat. Dalam prakteknya, mereka merobek ayat-ayat seperti yang berikut ini dari Alkitab mereka: Roma 12:2; 1 Korintus 11:14-15; 2 Korintus 6:14-18; Efesus 5:11; 1 Timotius 2:9; Yakobus 4:4; and 1 Yohanes 2:15-17. Keduniawian terus menjadi fitur yang prominen dari Musik Kristen Kontemporer, seperti yang sudah kami dokumentasikan dalam Baptist Music Wars dan A Directory of Contemporary Worship Musicians, yang keduanya dapat di-download gratis sebagai eBooks dari www.wayoflife.org.

Keempat, sejak dari permulaannya, kebaktian musik rock berfokus pada perasaan. Sebuah iklan untuk band Mind Garage mengatakan, “Kami menyambut anda ke liturgi listrik, suatu festival perasaan.” Kita diingatkan bahwa sejak permulaannya, musik Kristen kontemporer selalu berorientasi perasaan, yang sebagian besarnya adalah karena asosiasi intimnya dengan gerakan kharismatik. Musik penyembahan kontemporer adalah suatu pesta rock & roll. Ia dedesain untuk menciptakan suatu pengalaman emosional, suatu pengalaman sensual, berlawanan dengan suatu gaya musik yang kudus yang membangun lewat pikiran dan hati. Kita diajar untuk belajar dari Kristus, bukan untuk merasakan Kristus (Mat. 11:28-30). Tetapi Graham Kendrick, salah satu nama terbesar dalam musik Kristen kontemporer, mengatakan, “Cara lama berkhotbah dan bernyanyi mulai berubah menjadi suatu pengharapan bahwa Allah akan melawat kita, dan kita akan MENGALAMI HADIRATNYA DENGAN SUATU CARA YANG DAPAT DIRASAKAN” (wawancara 11 Juni 2002 dengan Chris Davidson dari Integrity Music). Matt Crocker dari Hillsong United mengatakan, “Tujuan saya adalah untuk menciptakan suatu atmosfir bagi orang-orang untuk dapat masuk ke dalam hadirat Allah” (“Seeing the World in Wonder with Hillsong United’s Matt Crocker,” WorshipMusician.com, 21 Juli 2017). Pencarian akan perasaan tertentu dalam penyembahan telah mendorong pilihan kepada suatu gaya musik rock. Tidak seperti gaya-gaya musik tradisional, musik rock menghasilkan perasaan-perasaan sensual yang kuat. Seorang penulis musik rock dengan baik menggambarkannya dengan istilah “kecanduan akan suatu perasaan.” Suatu gereja yang percaya Alkitab yang bermain-main dengan musik Kristen kontemporer, sama saja dengan bermain api. Tindakan itu adalah tindakan membangun jembatan kepada “gereja” esa-sedunia, dan kepada dunia itu sendiri, jembatan yang pada akhirnya akan menghancurkan karakter alkitabiah dan musafir apapun yang dimiliki oleh gereja tersebut saat ini.

This entry was posted in musik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *