Paus Fransiskus Menyerukan Satu Pemerintahan Dunia, Menyerang Konsep Tembok Perbatasan dan Kedaulatan Negara

(Berita Mingguan GITS 4 Mei 2019, sumber: www.pulpitandpen.org)

“Maka demikianlah katanya: Binatang yang keempat itu ialah kerajaan yang keempat yang akan ada di bumi, yang akan berbeda dengan segala kerajaan dan akan menelan seluruh bumi, menginjak-injaknya dan meremukkannya” (Daniel 7:23)

Paus Fransiskus, sama seperti paus-paus lain sebelum dia, menginginkan suatu pemerintahan global. Ini terlihat jelas dalam seruannya demi globalisme pada hari Kamis, dalam sebuah pidato di hadapan anggota-anggota Pontifical Academy of Social Sciences, di dalam Istana Kepausan. Fransiskus menuntut agar dibentuk suatu “badan supra-nasional yang legal” yang baru, yang akan memastikan diterapkannya Target-Target Pertumbuhan yang Dapat Dipertahankan yang dibuat oleh PBB (yaitu intinya kendali populasi) dan kebijakan-kebijakan climate change mereka.

Dengan kata lain, PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations) belumlah cukup berkuasa, dan suatu badan global lainnya perlu dibentuk untuk mengatur negara-negara.

Sesi pleno tersebut diberi judul “Nation, State, Nation-State,” dan mengikutsertakan pembicara-pembicara dari dalam Roma Katolik yang menuntut agar semua Negara-Negara dikendalikan oleh suatu pemerintahan global yang mendunia. Para pembicara antara lain adalah Hans Joachim Schellnhuber, seorang Marxis dan climatologis (ahil cuaca) Jerman yang mengklaim bahwa tanpa suatu pemerintahan glocal, iklim dunia akan rusak tanpa dapat diperbaiki, dan juga Kardinal Walter Kasper yang berbicara mengenai Keadilan Sosial.

Tidak menyerukan dibubarkannya Negara-Negara yang sudah ada, Paus sebaliknya menekankan agar negara-negara tunduk kepada otoritas-otoritas global yang eksternal yang mengendalikan dunia.

Paus berkata, “Negara-negara satu per satunya, harus diberikan kuasa untuk beroperasi sejauh mereka dapat beroperasi …[tetapi] sekelompok negara yang bertetanggaan – seperti yang sudah terjadi sekarang ini – dapat memperkuat kerja sama mereka dengan memberikan pelaksanaan fungsi-fungsi dan pelayanan tertentu kepada institusi-institusi antar-negara yang mengelola kepentingan bersama.”

Fransiskus mengklaim bahwa pemerintah global ini diperlukan untuk memastikan kesejahteraan orang-orang yang bermigrasi dan “kebaikan umum yang universal.” Fransiskus berlanjut dengan menyerang negara-negara yang memiliki tembok di perbatasan mereka.

Sang Paus berkomentar, “…Gereja telah memperingatkan pribadi-pribadi, orang-orang dan negara-negara tentang penyimpangan dari ketertarikan ini, yaitu tentang mengucilkan dan membenci orang lain, ketika adalah nasionalisme yang berkonflik yang membangun tembok, atau bahkan rasisme atau anti-Semitisme.”

Dia berlanjut, “Gereja memperhatikan dengan kekhawatiran munculnya kembali, hampir di seluruh dunia, sikap-sikap yang agresif terhadap orang asing, terutama immigran, dan juga bangkitnya nasionalisme yang mengabaikan kebaikan umum.”

This entry was posted in Ekumenisme, Katolik. Bookmark the permalink.

4 Responses to Paus Fransiskus Menyerukan Satu Pemerintahan Dunia, Menyerang Konsep Tembok Perbatasan dan Kedaulatan Negara

  1. luke says:

    Berani bahas artikel tentang isu mafia hutan, sawit dan tambang? Atau hak atas tanah?

  2. Dr. Steven says:

    Biasanya artikel yang diangkat yang ada hubungan ke rohani atau orang Kristen, atau Alkitab. Bisa saja hal-hal tersebut, tetapi tunggu ada kaitannya dulu.

  3. luke says:

    Tanpa bermaksud menafikan, tetapi bukannya Kerajaan Allah termasuk juga keadilan di bumi? (makanya saya menyebutkan isu tersebut. Sebut saya postmillenial, tetapi belakangan ini saya mengarah ke hal demikian)

  4. Dr. Steven says:

    Keadilan di bumi baru akan terjadi setelah bumi menerima Raja di atas segala Raja. Selama sang Raja (Yesus Kristus) ditolak, mana mungkin ada keadilan.
    Oleh karena itu, urusan orang percaya hari ini adalah pemberitaan Injil.
    Keadilan di bumi akan tercipta saat sang Raja datang memerintah.
    Post Millenialisme tidak dapat dipertahankan secara alkitabiah, dan juga gagal total jika dibandingkan dengan realita dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *