Dokter Kristen di Inggris Kehilangan Pekerjaannya Karena Bahasa Transgender

(Berita Mingguan GITS 3 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Christian Doctor,” The Telegraph, 10 Juli 2019: “Seorang dokter Kristen kehilangan pekerjaannya di sebuah departemen pemerintah setelah dia menolak untuk menyebut ‘seorang lelaki 180an cm yang berjenggot’ sebagai ‘madam,’ demikian laporan di tribunal. Dr. David Mackereth, 56 tahun, mengklaim bahwa dia dipecat dari posisinya sebagai penilai bantuan disabilitas oleh Departemen Kerja dan Pensiun karena kepercayaan imannya. Ayah empat orang anak itu mengklaim bahwa dia ditanyai dalam sebuah percakapan dengan seorang manajer: ‘Jika kamu mendapatkan seorang lelaki 180an cm yang berjenggot, dan dia mengatakan bahwa dia mau disebut seorang wanita, seorang nyonya atau ibu, maukah engkau melakukannya?’ Dr. Mackereth, seorang penginjil yang kini bekerja sebagai dokter gawat darurat di Shropshire, mengklaim bahwa kontraknya diputuskan karena dia menolak untuk menggunakan bahasa transgender tersebut. Dia berargumen bahwa dia dipecat ‘bukan karena ada kekhawatiran yang realistis mengenai hak-hak dan sensitivitas individu transgender, tetapi karena dia menolak untuk membuat suatu janji ideologis yang abstrak.’ Dokter tersebut sekarang menuntut pemerintah dalam pengadilan tenaga kerja dengan alasan diskriminasi terhadap kepercayaan imannya. Sesi pengadilan di Birmingham diberitahu bahwa Dr. Mackereth percaya transgenderisme adalah suatu ‘kepercayaan yang delusional’ dan suatu ideologi ‘yang tidak saya percayai dan yang saya benci.’ Dalam sebuah pernyataan yang dimasukkan dalam alat-alat bukti, dia memberitahu pengadilan, ‘Jika kamu percaya bahwa jenis kelamin itu dapat berubah-ubah, maka jenis kelamin tidak lebih dari fantasi seseorang tentang dirinya sendiri.’ …Dalam sebuah pernyataan di hadapan pengadilan, Dr. Mackereth mengatakan: ‘Saya mengapresiasi bahwa dalam iklim politik sekarang ini, sebagian orang, termasuk sebagian yang percaya bahwa diri mereka adalah transgender (berganti jenis kelamin), akan menganggap kepercayaan saya ini menyinggung mereka. Tetapi, dalam suatu masyarakat yang bebas, ini bukanlah alasan yang cukup untuk mensensor kepercayaan saya dan memaksa saya untuk bertindak berlainan dengan hati nurani saya. Lebih lanjut lagi, sebagai seorang dokter, tanggung jawab saya selalu adalah untuk bertindak dengan hati nurani yang baik untuk kepentingan terbaik dari pasien-pasien – bukan untuk mengadopsi berbagai imajinasi, prejudis, atau waham, hanya untuk tidak menyinggung siapa pun.’ Dr. Mackereth menambahkan bahwa secara mendasar dia percaya transgenderisme adalah ‘pemberontakan terhadap Allah, yang tidak ada gunanya dan berdosa.’ Dia menambahkan: ‘Saya, tentu saja, sadar bahwa ada lelaki dan perempuan yang merasa bahwa mereka terperangkap dalam tubuh yang salah, dan saya tidak mempertanyakan keseriusan dari keyakinan mereka. Sejumlah kecil orang-orang semacam itu telah ada sejak dulu. Sampai dengan akhir-akhir ini, kepercayaan demikian dianggap oleh profesi medis sebagai suatu waham (delusi) dan suatu gejala kelainan medis. Hanyalah baru-baru ini transgenderisme diakui sebagai sesuatu yang normal dan kepercayaan yang delusional seperti ini diterima begitu saja. Hal yang menimbulkan perubahan ini adalah tekanan politik, bukan bukti ilmiah.’”

This entry was posted in LGBT. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *