Ilmuwan Lain Lagi Menyatakan Diri Melawan Darwinisme

(Berita Mingguan GITS 7 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ‘Renowned Yale Computer Science Prof Leaves Darwinism,” The Stream, 21 Agus. 2019: “David Gelernter bukanlah seseorang yang anda kira akan menolak Darwin. Dia hidup dan bekerja di jantung suatu organisasi intelektual. Dia adalah seorang ilmuwan komputer ternama di Yale University – koran New York Times menyebut dia seorang ‘rock star’ — dan dia tergabung dalam National Council on the Arts. Dia menjelaskan dalam sebuah esai baru-baru ini, dalam Claremont Review of Books, mengapa dia tidak lagi mempercayai teori evolusinya Charles Darwin. Dia membuat poin-poin yang serupa dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Peter Robinson dari Hoover Institution. Mungkin kelemahan terbesar dengan Darwinisme, demikian dia tulis, adalah betapa sulitnya untuk secara ac ak membuat protein-protein baru yang fungsional. Evolusi Darwin bergantung pada sejumlah besar protein-protein demikian. Pemahaman kita tentang biologi molekuler telah berkembang pesat sejak Darwin. Teorinya tidak cocok lagi dengan pemahaman baru ini. Gelernter dengan seksama me-review bukti-bukti, dan artikel yang dia tulis memberikan pedoman pendek terhadap masalah yang muncul. Dia mengutip Douglas Axe, seorang ilmuwan ternama, yang telah menghitung kemungkinan menghasilkan suatu protein yang stabil yang menjalankan suatu fungsi yang berguna, dan yang oleh karena itu dapat dipertahankan oleh seleksi alam, dan hasilnya hanya 1 dalam 1077. Itu hanya untuk satu dari antara begitu banyaknya protein yang dibutuhkan oleh organisme manapun. Gelernter merangkumkan bukti-bukti yang ada. ‘Hal yang besar adalah sedemikian besar, dan hal yang kecil adalah sedemikian kecil, dan evolusi neo-Darwinian – sejauh ini – gagal total. Cobalah untuk membuat mutasi dari 150 rantai kacau balau untuk menjadi suatu protein yang berfungsi dan bekerja, dan anda dijamin akan gagal. Cobalah dengan sepuluh mutasi, seribu, sejuta – anda gagal. Kecilnya kemungkina akan mengubur anda. Ini tidak bisa dilakukan.’ Dia memiliki banyak masalah lain dengan Darwinisme. …Gelernter mengakui bahwa desain intelektual adalah suatu ‘argumen yang sangat serius.’ Ini adalah ‘[alternatif] pertama, dan yang paling jelas paling intuitif yang muncul dalam pikiran.’ Hal ini harus diperlakukan secara intelektual. Ia tidak bisa disingkirkan begitu saja karena sikap anti agama. Teman-temannya telah memperlakukan dia dengan sopan sejak dia mengubah posisinya dalam isu ini, katanya. Namun tetap saja, bagi mereka Darwinisme telah melampaui sekedar suatu argumen ilmiah. ‘Anda mempertaruhkan hidup anda jika anda menantang [Darwinisme] secara intelektual. Mereka akan menghancurkan anda.’ Dia tidak adalah melihat adanya ‘sesuatu yang mendekati kebebasan berbicara dalam topik ini.’ Ini bukanlah suatu diskusi ilmiah atau intelektual. Mereka berpikir bahwa ia sedang menyerang ‘agama’ mereka. Sayangnya, dia tidak terlalu berharap bahwa Darwinisme akan dihilangkan dari akademia dalam waktu dekat.”

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *