Kemerosotan Bob Jones University ke dalam Kalvinisme Reformed Baru

(Berita Mingguan GITS 30 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Sejak tahun 2006, kami telah mendokumentasikan pergerakan menuju Kalvinisme Reformed yang dilakukan oleh banyak tamatan BJU, tetapi belumlah jelas di posisi mana sekolah itu sendiri berdiri. Kini gambarannya sudah menjadi jelas, dan ternyata lebih buruk dari yang kita bayangkan. Pada bulan Oktober, Presiden dari BJU, Steve Pettit, berpartisipasi dalam “Greenville Conference on Reformed Theology” di Gereja Second Presbyterian. Dua orang pembicara lainnya adalah Joel Beeke dan Richard Phillips. Beeke adalah seorang profesor di Puritan Reformed Theological Seminary, dan Phillips melayani di dewan The Gospel Coalition. Pada tanggal 11-12 November, Andy Naselli adalah pembicara tamu di BJU untuk Seri Kuliah Stewart Custer. Naselli adalah seorang profesor di Bethlehem College & Seminary milik John Piper, dan adalah seorang penatua di Bethlehem Baptist Church. Naselli juga adalah anggota staf dari The Gospel Coalition. Kini semakin jelas mengapa Bob Jones University membangun jembatan kepada Keith Getty, yang adalah seorang Kalvinis Reformed dan yang gembala sidangnya, Alistair Beggs, adalah seorang anggota prominen dari The Gospel Coalition. TGC merepresentasikan Kalvinisme Reformed baru. Tidak seperti Kalvinisme Reformed lama, Kalvinisme Reformed baru bersifat ekumenis. Orang-orang Reformed yang lama percaya bahwa Roma adalah pelacur besar di Wahyu 17, yang mabuk oleh darah para martir, tetapi Reformed yang baru memiliki hubungan ekumenis dengan Roma, atau minimal simpatik terhadapnya. Pada halaman web TGC yang berjudul “Haruskah Orang Kristen Ekumenis,” kita menemukan pernyataan berikut ini: “Dapatkah orang-orang Injili dan Katolik benar-benar bersatu? … Doa Yesus untuk persatuan dalam Tubuh mengharuskan saya untuk melihat tugas ekumenisme sebagai tugas yang penting bagi kekristenan” (oleh Trevin Wax, seorang profesor Southern Baptist Wheaton College yang berasosiasi dengan keluarga Getty). Ini adalah salah. Doa Yesus dalam Yohanes 17 tidak ada hubungan dengan ekumenisme. Faktanya, Kristus menekankan ketaatan kepada Firman Allah dan pentingnya kebenaran (Yoh. 17:6, 8, 14, 17, 19), yang tidaklah cocok dengan ekumenisme. Lou Martuneac membuat observasi berikut, “Apa yang telah ditunjukkan oleh presiden BJU, Steven Pettit, kepada kita dengan cara mengambil peran aktif dalam konferensi ini, dengan para pembicara ini? Pertama, ia telah menghilangkan segala keraguan yang masih tersisa bahwa ia telah memimpin Universitas ini untuk memeluk Theologi Reformed. Kedua, The Gospel Coalition (TGC), mengandung orang-orang di dalam kepemimpinannya, yang adalah pelaku-pelaku kompromi ekumenis yang paling berat di dalam apa yang disebut kalangan Injili ‘konservatif.’ … Bagi pengamat objektif manapun, sudah ada cukup bukti untuk menghilangkan keraguan yang tersisa, bahwa BJU telah mencampakkan prinsip-prinsip separatisnya yang merupakan landasannya. … Universitas tersebut memang dari dulu memiliki rentang theologi yang lebar. Jadi, dalam hal ini, itu bukan barang baru. Tetapi yang baru adalah pergaulan dengan denominasi-denominasi yang sudah berkompromi yang tidak pernah memegang fundamentalisme” (“This Is Not Your Father’s Bob Jones University, A Continuation,” In Defense of the Gospel, 14 Nov. 2019).

This entry was posted in Ekumenisme, Fundamentalisme, Kalvinisme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *