Gerakan Injili dan Universalisme

Gerakan Injili dan Universalisme

Oleh Dr. David Cloud

Diterjemahkan oleh Dr. Steven Liauw

Dalam sebuah surat terbuka kepada seorang editor surat kabar, Paus Fransiskus mengatakan bahwa orang-orang atheis yang tulus akan diterima oleh Allah. Menulis kepada Eugenio Scalfari, pendiri dari La Repubblica, sang Paus berkata: “Kamu bertanya kepada saya apakah Allah orang Kristen mengampuni orang-orang yang tidak percaya dan yang tidak mencari iman. Saya mulai dengan mengatakan – dan ini adalah hal mendasarnya – bahwa belas kasihan Allah tidak memiliki batasan jika kamu pergi kepadaNya dengan hati yang tulus dan rendah. Hal utama bagi orang-orang yang tidak percaya ada Allah adalah menaati hati nurani mereka” (“Pope Francis Assures Atheists,” The Independent, UK, 11 Sept. 2013).

Pernyataan ini membuat berita yang heboh, tetapi apa yang dikatakan di sini sudah dikatakan oleh kaum “Injili” selama puluhan tahun. Faktanya, ini hanyalah salah satu cara lainnya kaum Roma Katolik dan injili “sedang menjadi satu.” Ini adalah aspek lainnya dari pembangungan “gereja” esa-sedunia akhir zaman.

Sebuah buku yang diterbitkan oleh Zondervan Publishing House tahun 1996, berisikan tulisan berbagai theolog mengenai subjek apakah ada keselamatan dalam agama-agama kafir. Buku itu, berjudul More Than One Way? diberi judul kecil “empat pandangan tentang keselamatan dalam dunia yang pluralistik.”

Tiga dari pandangan-pandangan yang dimunculkan mendukung semacam inklusivisme atau universalisme. Para penulis dari pandangan-pandangan tersebut adalah John Hick, Clark Pinnock, Alister McGrath, R. Douglas Geivett, dan W. Gary Phillips. Buku itu diedit oleh Dennis Okholm dan Timothy Phillips, profesor theologi assosiat di Wheaton College. Berbagai pandangan tersebut dibagi menjadi empat kelompok: 1) Normatif Pluralisme, 2) Inklusivisme, 3) Agnostikisme mengenai orang-orang yang belum pernah mendengar Injil, dan 4) Eksklusivisme – keselamatan hanya melalui iman pribadi kepada Kristus.

Gerakan Injili yang sangat akademis telah sejak lama menolak untuk memandang doktrin sebagai sesuatu yang hitam putih, benar dan salah, kebenaran dan kesesatan. Gerakan “emerging church” hanyalah versi terbaru dalam kesesatan gerakan “Injili” ini.

Para Injili yang akademis biasanya melihat segala sesuatu dalam berbagai gradasi abu-abu. Theologi lebih dilihat sebagai suatu hobi intelektual, bukan masalah hidup dan mati, Surga dan neraka. Kaum injili mengklaim bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas, tetapi dalam prakteknya ia tidak memiliki otoritas absolut, karena dia rela menerima penafsiran-penafsiran sesat mengenai Alkitab sebagai “model-model” yang dapat diterima.

Para editor dari More Than One Way memberi catatan bahwa persentase yang besar dari mahasiswa di berbagai sekolah theologi Injili, tidak lagi percaya bahwa orang-orang di luar Yesus Kristus, itu terhilang.

“Kerelaan yang baru untuk menjadikan pewahyuan sesuatu yang dapat dipengaruhi oleh perasaan kontemporer telah mengikis dasar-dasar theologis bagi iman yang missioner. Kuesioner yang dibuat Hunter mendapatkan bahwa hanya dua per tiga dari mahasiswa di sekolah-sekolah Injili yang percaya bahwa satu-satunya harapan untuk Surga adalah melalui iman pribadi dalam Yesus Kristus. Semakin banyak mahasiswa di sekolah-sekolah tinggi Kristen yang tersinggung ketika mendengar klaim tradisional bahwa keselamatan hanyalah di dalam Yesus Kristus saja” (Editors, More Than One Way, hal. 11).

CLARK PINNOCK

Perhatikan beberapa kutipan dari pernyataan-pernyataan Clark Pinnock:

“Ketika saya adalah seorang percaya muda pada tahun 1950an, C.S. Lewis membantu saya memahami hubungan antara kekristenan dengan agama-agama lain dalam suatu cara yang inklusif. Karena saya mempercayai dia sebagai seorang pemikir ortodoks, saya terbuka untuk mendengar dia berkata bahwa dia dapat mendeteksi kehadiran Allah di antara iman-iman yang lain dan bahwa dia percaya orang-orang dapat diselamatkan dalam agama lain karena Allah bekerja di antara mereka. Pandangan dia dengan indahnya dirangkumkan bagi saya dalam insiden di The Last Battle, buku terakhir dalam seri Narnia, ketika pasukan kafir Emeth tiba-tiba diberitahu bahwa Aslan (singa yang menggambarkan Yesus Kristus) menganggap penyembahannya kepada Tash sebagai penyembahan yang ditujukan kepada dirinya. Siapapun yang mengapresiasi insiden tersebut sudah masuk dalam perjalanan pemikiran yang inklusif.

“Pengaruh yang lain adalah Sir Norman Anderson, seorang pakar hukum Islam dan pemimpin sejak lama di InterVarsity Fellowship di Inggris Raya. Pada tahun 1970, dia menulis sebuah buku yang berjudul Christianity and Comparative Religion, yang direvisi tahun 1984 dan diganti judulnya menjadi Christianity and World Religions. Anderson mengajarkan bahwa manusia dapat diselamatkan sambil menjadi anggota dari iman-iman ian, sama seperti orang-orang diselamatkan dalam masa Perjanjian Lama walaupun belum membuat pengakuan Kristen. Kedua ahli ini membantu saya sebagai seorang pelajar muda untuk menghindari cara pandang sempit terhadap iman-iman lain, yang biasanya menjadi ciri khas dari gerakan Injili”(More Than One Way, hal. 107).

“Berpindah dari aspek keparokian dan pribadi, ke panggung dunia, pengaruh kunci yang historis bagi inklusivisme adalah tidak diragukan lagi, karya Konsili Vatikan Kedua, dalam caranya mengungkapkan pengajaran ini. Roh dari keseluruhan konsili ini adalah roh keterbukaan terhadap dunia dan pencarian persatuan manusia. … Titik pandangnya adalah melihat agama-agama sebagai sesuatu yang muncul dari dimensi rohani kehidupan yang diciptakan dan untuk mencari hadirat Allah yang tersembunyi dalam lingkup itu. …Sebagai seorang inklusivis, saya mengakui hutang saya kepada Gereja Katolik untuk kepemimpinannya dalam masalah ini, dan sebagai seorang Injili, saya peduli bahwa model ini dapat diperlihatkan cocok dengan Kitab Suci. Saya setuju dengan Konsili, bahwa saya mau model ini bukan hanya koheren secara theologis, tetapi juga memiliki dasar eksegesis yang baik” (More Than One Way, hal. 108,109).

“Allah telah bekerja menyelamatkan umat manusia sebelum Yesus lahir dan kini pun melakukannya di tempat-tempat Yesus tidak disebut. …Iman dalam Yesus sebagai Juruselamat dunia memberikan ruang bagi kita untuk terbuka dan murah hati kepada tradisi-tradisi agama lain. Kitab Suci mendorong kita untuk melihat gereja bukan sebagai suatu bahtera, yang di luarnya tidak ada harapan keselamatan, tetapi sebagai pasukan garis depan dari orang-orang yang telah mengalami kepenuhan kasih karunia Allah yang disediakan bagi semua orang dalam Yesus Kristus. …Saya menyambut literatur Saiva Siddhanta dalam Hinduisme, yang merayakan pribadi Allah yang kasih, dan penekanan pada kasih karunia yang saya lihat dalam sekte Jepang, Shin-Shu Amida. Saya juga menghormati Buddha sebagai seorang yang benar (Mat. 10:41) dan Muhammad sebagai seorang figur nabi dalam gaya Perjanjian Lama” (More Than One Way, hal. 110-111).

Ini adalah kesesatan. Pinnock mengakui bahwa dia dipengaruhi oleh C.S. Lewis dan Konsili Vatikan II Roma Katolik. Sangat menarik untuk melihat berapa dalamnya orang “injili” ini telah minum dari air mancur Katolikisme.

ROB BELL

Rob Bell adalah contoh dari dari kaum “injili” yang mengajarkan suatu bentuk universalisme. Dalam sebuah wawancara tahun 2005 dengan Beliefnet, Bell mengatakan “berhentilah melihat semua orang terutama dalam kategori di luar atau di dalam, selamat atau tidak selamat, orang percaya atau orang tidak percaya.” Dalam bukunya yang berpengaruh, Velvet Elvis, yang populer di banyak kalangan Baptis Selatan, Bell menggambarkan sebuah pernikahan yang dia lakukan untuk dua orang kafir yang tidak percaya yang memberitahu dia bahwa “mereka tidak mau ada Yesus atau Allah atau Alkitab atau agama dibicarakan,” tetapi mereka mau dia membuat pernikahan itu “sangat rohani” (hal. 76). Bell setuju dengan permintaan yang konyol ini dan mengatakan bahwa teman-teman tidka berimannya itu “ber-resonansi dengan Yesus, entah mereka mau mengakuinya atau tidak” (hal. 92).

Dalam bukunya Love Wins, 2011, Bell mengargumentasi universalisme, walaupun dia masih memberi ruang bagi sebagian orang untuk tetap mempertahankan semacam neraka untuk sementara waktu. Perhatikan dua kutipan dari banyak yang bisa dijadikan barang bukti:

“Penekanan ini bahwa Allah akan disatukan dan direkonsiliasikan dengan semua orang adalah suatu tema yang terus diulang dan diulang lagi oleh para Penulis dan Nabi. … Allah yang diajarkan oleh Yesus tidak menyerah sampai semua yang terhilang sudah ditemukan. Allah ini tidak pernah menyerah. Tidak pernah” (Love Wins, Kindle location 1259-1287).

“Kasih Allah akan meluluhkan setiap hati yang keras, dan bahkan “orang berdosa yang paling jahat” pun akan pada akhirnya menyerahkan perlawanan mereka dan berbalik pada Allah. Dan jadi, mulai dari gereja mula-mula, ada tradisi panjang orang-orang Kristen yang percaya bahwa Allah akan pada akhirnya memulihkan segala sesuatu dan semua orang” (Love Wins, location 1339-1365).
Bell bahkan mengklaim bahwa Sodom dan Gomora akan dipulihkan (location 1057-1071, 1071-1082).

Bell penuh dengan olokan terhadpa Injil bahwa Yesus mati bagi dosa-dosa manusia dan bahwa hanya mereka yang bertobat dan percaya yang akan diselamatkan.

“Apa yang terjadi ketika seorang atheis berusia 15 tahun meninggal? Apakah akan ada tenggang waktu tiga tahun bagi dia untuk membuat keputusan yang dapat mengubah nasib kekalnya? Apakah dia sudah kehilangan kesempatannya? … Apa persisnya yang harus terjadi dalam tenggang waktu tiga tahun itu untuk mengubah masa depannya? … Sebagian orang percaya dia harus mengucapkan suatu doa yang spesifik. Orang-orang Kristen tidak saling setuju persisnya apa doa ini, tetapi bagi banyak orang, ide utamanya adalah bahwa satu-satunya cara ke Surga adalah untuk berdoa dalam satu titik hidupnya, meminta Allah mengampunimu dan mengatakan kepada Allah bahwa kamu menerima Yesus, kamu percaya Yesus mati di kayu salib untuk membayar harga dosa-dosamu, dan kamu mau ke Surga ketika kamu mati. Sebagian orang menyebut ini ‘menerima Kristus,’ sementara yang lainnya menyebutnya ‘doa orang berdosa,’ dan yang lain lagi menyebutnya ‘diselamatkan,’ atau ‘dilahirbarukan,’ atau ‘ditobatkan’” (Love Wins, location 129-143).

Rivhard Mouw, Presiden dari Fuller Theological Seminary, memberitahu USA Today bahwa “Buku Rob Bell, Love Wins, adalah buku yang sangat bagus dan saya pada dasarnya setuju dengan theologi-nya” (“The Orthodoxy of Rob Bell,” Christian Post, 20 Mar. 2011). Ini memberitahu kita betapa jauhnya Fuller Seminary telah jatuh dari akar mereka, yaitu pelayanan penginjilan Charles Fuller yang “hanya melalui darah [Kristus].” Mouw setuju dengan Bell bahwa adalah salah untuk mengatakan, “Terimalah Yesus sekarang, karena jika sepuluh menit lagi kamu mati tanpa menerima tawaran ini, Allah akan menghukum kamu selamanya dalam api neraka.” Mouw berkomentar, “Allah seperti apa yang kita suguhkan kepada orang tersebut?” Jawabannya adalah Allah dalam Alkitab dan Allah yang diberitakan oleh pendiri dari Fuller Theological Seminary. Adalah Bell dan Mouw yang memiliki ilah yang baru. Mouw mengatakan bahwa setelah seorang rabi temannya meninggal, dia “berharap bahwa ketika dia melihat Yesus, dia akan mengakui bahwa memang adalah Dia dari awalnya, dan bahwa Yesus akan menyambut dia ke Surga.” Saya belum pernah membaca yang seperti itu dalam Alkitab, tetapi C.S. Lewis mengajarkan persis hal ini. Mouw mengatakan bahwa orang-orang yang meragukan keselamatan Bunda Teresa hanya karena dia mempercayai suatu injil yang palsu seharusnya malu dengan diri mereka. Mouw mengimplikasikan bahwa para pengritik Bell hanya mau menghalangi orang masuk Surga, yang adalah fitnahan yang konyol. Mouw mau kita percaya bahwa dia lebih bermurah hati dari pada Yesus, yang dengan tegas mengatakan, “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:3, 5).

Baik Bell maupun Mouw komplain tentang para “pengritik” mereka, tetapi mereka tidak segan-segan untuk menyerang keras para “fundamentalis.” Bell menyebut khotbah-khotbah tentang api neraka sebagai sesuatu yang ‘letal,’ ‘toksik,’ ‘tidak mengasihi,’ ‘aneh,’ dan ‘cara pandang tentang Allah yang murahan.’ Sama sekali tidak ada penghakiman dalam kata-kata itu! Itu semua kata-kata yang penuh kasih dan toleran!

BILLY GRAHAM

Sebagian Injili yang “konservatif” mengritik Rob Bell. John Piper mencuitkan, “Good bye, Rob Bell.” Albert Mohler, Jr. Dari Southern Baptist Seminary menggambarkan doktrin Bell sebagai “neraka beludru.” Tetapi mengapakah orang-orang ini tidak mengritik Billy Graham?

Selama puluhan tahun, dia telah mengatakan bahwa adalah mungkin bagi seseorang untuk diselamatkan tanpa iman pribadi dalam Yesus Kristus, tetapi tidak ada teriakan protes dari kalangan injili, termasuk dari denominasi Graham sendiri, yaitu Konvensi Baptis Selatan.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah McCall, Januari 1978, berjudul “I Can’t Play God Any More,” Graham mengatakan: “Saya dulu pernah percaya bahwa para penyembah berhala di negara-negara yang jauh, mereka terhilang – akan pergi ke neraka – jika mereka tidak mendengar Injil Yesus Kristus diberitakan kepada mereka. Saya tidak lagi percaya seperti itu. … Saya percaya bahwa ada cara-cara lain untuk menyadari eksistensi Allah – melalui alam, misalnya – dan banyak kesempatan lain, jadinya, untuk mengatakan ‘ya’ kepada Allah.” Pada tahun 1985, Graham mengukuhkan kepercayaannya bahwa orang-orang di luar Kristus dapat diselamatkan. Wartawan Los Angeles, David Colker, menanyai Graham: “Bagaimana dengan orang-orang agama lain yang hidup baik tetapi tidak menyatakan iman kepada Kristus?” Graham menjawab, “Saya akan membiarkan hal itu kepada Tuhan. Dia yang akan memutuskan” (Los Angeles Herald Examiner, 22 Juli 1985). Pada tahun 1993, Graham mengulangi doktrin ini dalam sebuah wawancara dengan David Frost. “Dan saya pikir ada suatu rasa lapar akan Allah dan orang-orang sedang hidup dengan cara terbaik yang mereka ketahui sesuai dengan terang yang mereka miliki. Ya, saya pikir mereka berada dalam kategori yang berbeda dengan orang-orang seperti Hitler dan orang-orang yang telah menantang Allah, dan mengacungkan tinju pada Allah. …Saya akan mengatakan bahwa Allah, karena Ia Allah penuh belas kasihan, kita harus membiarkan hal ini sampai di sana, dan mengatakan bahwa Allah adalah Allah belas kasihan dan kasih, dan bagaimana caranya, kita tidak tahu” (The Charlotte Observer, 16 Feb. 1993). Dalam sebuah wawancara dengan Robert Schuller pada bulan Mei 1997, Graham mengatakan lagi bahwa dia percaya orang-orang dalam agama lain dapat diselamatkan tanpa secara sadar mempercayai Yesus Kristus. “[Allah] memanggil suatu umat keluar dari dunia untuk namaNya, APAKAH MEREKA DATANG DARI DUNIA MUSLIM, ATAU DUNIA BUDDHA, ATAU DUNIA KRISTEN ATAU DUNIA YANG TIDAK PERCAYA, MEREKA ADALAH ANGGOTA-ANGGOTA TUBUH KRISTUS KARENA MEREKA TELAH DIPANGGIL OLEH ALLAH. MEREKA BAHKAN BISA SAJA TIDAK TAHU NAMA YESUS tetapi mereka tahu dalam hati mereka bahwa mereka memerlukan sesuatu yang tidak mereka miliki, dan mereka berpaling kepada satu-satunya terang yang mereka miliki, dan saya pikir mereka diselamatkan, dan mereka akan bersama dengan kita di Surga” (wawancara televisi Billy Graham oleh Robert Schuller, disiarkan dari California selatan, Sabtu, 31 Mei 1997).

PENGARUH C.S. LEWIS PADA PENURUNAN DOKTRIN INJILI TENTANG NERAKA

C.S. Lewis (1898-1963) telah dijuluki seorang “superstar” oleh Christianity Today. Sebuah jajak pendapat oleh CT tahun 1998, memperlihatkan Lewis sebagai penulis injili yang paling berpengaruh, dan dalam kondisi “injili” hari ini yang parah secara rohani-doktrinal-moral, ini adalah statistik yang sangat menyingkapkan, dan bukanlah pujian bagi C.S. Lewis.

Salah satu cara Lewis telah mempengaruhi gerakan Injili adalah dalam topik mendasar tentang neraka dan eksklusivitas keselamatan melalui nama Kristus. Lewis mengatakan bahwa tidaklah salah untuk berdoa kepada Apollo, karena melakukan hal ini sama saja dengan “berbicara kepada Kristus sub specie Apollonius” (C.S. Lewis kepada Chad Walsh, 23 Mei 1960, dikutip dari George Sayer, Jack: A Life of C.S. Lewis, 1994, hal. 378).

Lewis mengklaim bahwa para pengikut agama-agama kafir yang tulus, dapat diselamatkan tanpa iman pribadi kepada Yesus Kristus (C.S. Lewis, Mere Christianity, HarperSanFrancisco edition, 2001, hal. 64, 208, 209). Dalam seri Chronicles of Narnia yang populer, yang telah mempengaruhi tidak terhitung banyaknya anak-anak, Lewis mengajarkan bahwa orang-orang yang secara tulus melayani Iblis (disebut Tash), sebenarnya melayani Kristus (Aslan) dan pada akhirnya akan diterima oleh Allah. “Tetapi aku berkata, ‘Ah, Tuhan, aku bukanlah anakmu tetapi hamba Tash.’ Dia menjawab, ‘Anak, semua pelayananmu kepada Tash, saya hitung sebagai pelayanan kepadaku.’ … Jadi, jika seseorang bersumpah demi Tash dan melaksanakan sumpahnya itu karena sumpah, maka itu adalah demi aku bahwa ia telah sungguh bersumpah, walaupun ia tidak mengetahuinya, dan akulah yang akan memberinya hadiah’” (The Last Battle, pasal 15, “Further Up and Further In”).

Lewis juga menyangkal finalitas dari nasib seseorang pada saat kematian. Dia mengajarkan kemungkinan pertobatan setelah kehidupan ini. Ini adalah tema dari buku The Great Divorce. “Apakah penghakiman tidak bersifat final? Apakah sungguh ada suatu jalan keluar dari Neraka ke Surga? ‘Tergantung cara kalian memakai kata-kata itu. Jika mereka meninggalkan kota abu-abu itu, maka tidak akan menjadi neraka. Bagi siapapun yang meninggalkannya, ia menjadi Purgatori. Dan mungkin kalian sebaiknya jangan menyebut negara ini Surga. Yang jelas bukan Surga Penuh, kalian paham’” (The Great Divorce).

Dalam bukunya, Lewis mengajarkan bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti finalitas nasib manusia dan purgatori [api penyucian] dan kondisi kekal, tidaklah dapat dipahami dalam kehidupan yang sekarang ini dan kita tidak perlu mengkhawatirkannya.

“Kalian tidak bisa tahu apa-apa tentang akhir segala sesuatu, atau minimal tidak ada yang bisa dinyatakan dengan istilah-istilah ini. Bisa jadi, sebagaimana Tuhan katakan kepada Julian, bahwa semua akan berakhir baik, dan segala sesuatunya akan baik-baik saja. Tetapi adalah buruk untuk membicara pertanyaan seperti ini. ‘Apakah karena terlalu buruk, Sir?’ ‘Bukan. Karena semua jawaban menipu” (The Great Divorce, Kindle location 140-150).

Berdasarkan pandangan-pandangan ini, tidaklah heran jika Lewis telah disebut-sebut sebagai pengaruh besar oleh para Injili yang lunak tentang neraka dan hampir menjadi universalis.

Clark Pinnock mengatakan, “Ketika saya seorang percaya yang muda, tahun 1950an, C.S. Lewis membantu saya memahami hubungan antara kekristenan dengan agama-agama lain dengan cara yang inklusif” (More Than One Way? Zondervan, 1996, hal. 107).

Richard Mouw mengatakan, “Jika saya diberikan tugas menulis esai theologis yang mendetil tentang ‘Eskatologi Rob Bell,’ saya akan mulai dengan membeberkan dasar perspektif C.S. Lewis tentang surga dan neraka” (“The Orthodoxy of Rob Bell,” Christian Post, 20 Maret 2011).

Dalam bagian Ucapan Terima Kasih dari buku Love Wins, Rob Bell menulis, “… kepada kedua orang tuaku, Rob dan Helen, karena mengusulkan ketika aku SMA, agar aku membaca C.S. Lewis.” Hati-hatilah terhadap C.S. Lewis. Bahwa dia dicintai dengan sama kuatnya oleh “kaum Injili konservatif,” dan juga oleh para emergent yang menolak neraka, para rockers Kristen, orang Roma Katolik, Mormon, dan bahkan sebagian atheis, adalah fakta yang menyerukan peringatan keras bagi siapapun yang mau mendengar.

Sungguh tidak ada apapun yang Rob Bell ajarkan hari ini yang tidak pertama-tama diajarkan oleh C.S. Lewis.

KONDISI ORANG YANG TIDAK PERCAYA MENURUT SURAT EFESUS

Efesus pasal 2 tidak memberi ruang untuk keraguan tentang kondisi orang-orang di luar Yesus Kristus.

“Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain…. bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus” (Ef. 2:1-3, 12-13).

Ini adalah gambaran setiap individu yang belum dihidupkan kembali dalam Kristus. Ia:

1. Secara rohani mati (Ef. 2:1)

2. Di bawah kendali Iblis (Ef. 2:2)

3. Orang-orang durhaka (Ef. 2:2)

4. Hidup di dalam hawa nafsu daging (Ef. 2:3)

5. Harus dimurkai (Ef. 2:3)

6. Tanpa Kristus (Ef. 2:12)

7. Tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan (Ef. 2:12)

8. Tanpa pengharapan (Ef. 2:12)

9. Tanpa Allah (Ef. 2:12)

10. Jauh dari Allah (Ef. 2:13)

Perhatikan bahwa Kitab Suci sama sekali tidak mengajarkan bahwa mereka yang di luar Yesus Kristus dapat diselamatkan, kecuali melalui pengenal akan Injil dan pertobatan dan iman pribadi.

Inilah yang memotivasi usaha-usaha misioner Kristen sejati selama abad-abad. Paulus memberitakan Kristus kepada orang-orang kafir karena ia percaya mereka terhilang dan sedang menuju neraka yang kekal. Dia percaya bahwa Injil Yesus Kristus adalah satu-satunya kekuatan Allah untuk keselamatan (Roma 1:16).

UNIVERSALISME MENYANGKAL APA YANG ALKITAB AJARKAN TENTANG: (1) Kondisi manusia yang terhilang (Rom. 3:10-18; Ef. 2). (2) Keperluan kelahiran kembali (Yoh. 3:1-16). (3) Peringatan Kristus tentang neraka (misal. Mar. 9:43-48). (4) Penghakiman Tahkta Putih Besar (Wah. 20:11-15). (5) Pentingnya pemberitaan Injil (Mar. 16:15, 16).

Para modernis dan banyak kaum Injili mengejek posisi ini sebagai sesuatu yang simplistik dan tidak intelektual. Mereka benar. Pengajaran Alkitab yang sehat memang berlawanan dengan “intelektualisme.” Saya memuji Tuhan bahwa sungguh demikian, sehingga seseorang tidak pernah menjadi “sarjana” untuk memahami kebenaran.

Pendidikan Alkitab yang sehat adalah penting, tetapi “pendewaan gelar-gelar akademis” adalah sesuatu yang membinasakan.

This entry was posted in Keselamatan, Kesesatan Umum dan New Age, New Evangelical (Injili). Bookmark the permalink.

1 Response to Gerakan Injili dan Universalisme

  1. Terima kasih untuk tulisan yang bagus ini..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *