Ibu Menolak Tekanan untuk Mengaborsi Bayi dengan Sindrom Down

(Berita Mingguan GITS 11 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Ibu ditawarkan aborsi pada bayi cukup bulan karena putranya mengidap sindrom Down,” Right to Life UK, 24 Des. 2019: “Seorang ibu telah membeberkan tentang tekanan konsisten yang dia dapatkan dari dokter-dokter untuk mengaborsi bayi laki-lakinya, bahkan ketika bayi dalam kandungannya itu sudah cukup bulan, hanya karena dia mengidap sindrom Down. Cheryl Bilsborrow mau bersuara setelah angka-angka yang dipublikasikan minggu lalu menunjukkan bahwa jumlah bayi yang terlahir dengan sindrom Down telah menurun 30% di rumah-rumah sakit NHS, yang telah memperkenalkan tes-tes prenatal baru yang tidak invasif. Berbicara kepada koran The Sun tentang pengalamannya, ibu yang berprofesi sebagai refleksologis klinis tersebut mengatakan: ‘Tes-tes ini dan cara negatif dan menakutkan penyampaian hasilnya, membuat wanita-wanita yang hamil mengaborsikan bayi-bayi yang sangat mereka inginkan itu. Putra saya yang berusia 2 tahun sekarang, adalah bayi yang luar biasa. Dia memiliki rambut yang putih dan mata yang biru, dan dia selalu tersenyum dan tertawa, memberikan ciuman dan meminta pelukan. Tetapi ketika saya hamil, saya dibuat merasa bahwa hidupnya tidak memiliki nilai dan saya harus mengaborsi dia. Mengapa? Karena dia mengidap sindrom Down.’ … Cheryl berusia 43 tahun ketika dia hamil dengan anak keempatnya. Karena usianya, dia dianjurkan oleh dokter-dokter untuk melakukan tes skrining terhadap sindrom Down. …Cheryl berkata bahwa sejak awal, persepsi para dokter tentang kondisi tersebut adalah negatif dan bahwa dia didorong untuk aborsi setiap kali dia bertemu dengan bidan. ‘Tidak ada tawaran untuk konseling, tidak ada diskusi mengenai bagaimana hidup saya bisa diperkaya oleh bayi ini. Aborsi dan hilangkan seolah-olah menjadi satu-satunya jawaban.’ … ‘Bahkan, pada usia kehamilan 38 minggu, ketika saya datang untuk melakukan scan, petugas sonografer berkata: Kamu mestinya tahu bahwa kami mengaborsi bayi-bayi usia penuh yang mengidap sindrom Down… Pesannya jelas dan lantang: bayi-bayi dengan sindrom Down tidak memiliki nilai. Sekarang, setelah mempunyai Hector, saya tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan … Sungguh memilukan hati saya untuk berpikir bahwa begitu banyak bayi, seperti [dia], bisa dirampok hak untuk menjalani hidup yang bahagia.”

This entry was posted in Keluarga, Kesehatan / Medical. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *