Kamera Tercepat di Dunia Bisa Menangkap 70 Trilyun Frame per Detik, Membuktikan Alkitab Benar

(Berita Mingguan GITS 16 Mei 2020, sumber: www.wayoflife.org)

“Sebuah tim riset di Caltech telah mengembangkan (sekali lagi) sebuah kamera yang dapat menangkap lebih dari satu trilyun gambar setiap detiknya. Rekor ‘kamera tercepat di dunia’ sebelumnya dapat menangkap 10 trilyun fps; kamera baru ini dapat menangkap sampai 70 trilyun, menembus rekor yang lama. Terobosan yang paling baru ini adalah evolusi dari kamera-kamera ‘trilyun+ fps’ sebelumnya dari Caltech, dan semuanya menggunakan ‘Compressed Ultrafast Photography’ atau (CUP). Bentuk yang paling baru ini disebut CUSP, singkatan dari Compressed Ultrafast Spectral Photography, dan dikembangkan oleh otak-otak yang sama di Caltech yang baru-baru ini bisa menangkap 1 trilyun fps gambar dari fenomena transparan seperti denyut neuron dan shockwave. …Bagi orang-orang yang senang hitung matematika, kecepatan cahaya sedikit di bawah 300 milyar millimeter per detik. Nah, ambil 70 trilyun frame, dan bagi itu dengan 300 mm/detik, dan anda mendapat kira-kira 233 frame per milimeter pergerakan cahaya. Dengan kata lain: camera ini bisa menangkap sekitar 230 frame dalam waktu yang diperlukan cahaya untuk bergerak satu milimeter” (“New World’s Fastest Camera,” PetaPixel, 7 Mei 2020). CATATAN AKHIR: Kamera yang luar biasa ini menunjukkan persis apa yang Alkitab katakan tentang manusia: ia bukanlah binatang, ia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Jarak antara manusia dan kera hampir bisa dikatakan tak terhingga. David Berlinski, Ph.D. dalam filosofi dari Princeton University, bukanlah seorang yang percaya penciptaan. Dia adalah seorang “Yahudi sekuler dan agnostik,” tetapi dia cukup punya akal sehat untuk mengetahui bahwa manusia bukanlah kera yang canggih, dan dia cukup berani untuk mengatakan hal tersebut dengan cara dia yang khas. Berkomentar tentang upaya mengajarkan kera-kera bahasa isyarat, Berlinski mengobservasi, “Setelah bertahun-tahun melakukan percobaan-percobaan yang sulit, beberapa dari mereka sudah diajar dasar-dasar dari berbagai sistem simbol yang primitif. Setelah diberikan hadiah bahasa, mereka tidak memiliki apa-apa untuk dikatakan. Ketika dua kera ‘jenius’ bertemu, mereka saling melemparkan isyarat satu kepada yang lain. … Struktur kera sering sangat erat. Simpanse, bonobo, dan gorila, bisa berpikir; mereka membuat rencana, mereka punya kesukaan masing-masing; mereka licik; mereka punya keinginan dan hawa nafsu; dan mereka bisa menderita. Hal yang sama kita lihat pada kucing. Dalam semua ini, kita melihat kemiripan dengan diri kita. Tetapi selain dari semua ini, kita tidak memiliki apa-apa yang sama dengan mereka. Dan walaupun kemiripan-kemiripan ini menarik, perbedaan kita sangatlah mendalam” (The Devil’s Delusion, hal. 156). “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian. 1:27-28).

This entry was posted in Teknologi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *