Laporan Baru tentang Penganiayaan Berat di Korea Utara

(Berita Mingguan GITS 28 November 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “North Korea jails, executes anyone who owns a Bible,” Christian Headlines, 30 Okt. 2020: “Sebuah laporan baru dari seorang pengamat hak asasi manusia mendetilkan pelanggaran-pelanggaran kebebasan beragama yang mengerikan di dalam Korea Utara, termasuk warga yang secara brutal disiksa karena menjadi Kristen dan individu-individu yang dieksekusi di hadapan umum karena mempunyai Alkitab. Laporan sepanjang 98 halaman tersebut dibuat oleh Korea Future Initiative yang berbasis di London, dan diterbitkan bulan ini berdasarkan 117 wawancara dengan para penyintas, saksi dan pelaku dari kejahatan-kejahatan ini. Secara total, 273 korban pelanggaran hak beragama dapat diidentifikasi, termasuk 215 yang melibatkan orang Kristen, dan 56 orang pengikut shamanisme. Usia dari para korban terentang dari 3 tahun hingga 80an tahun. … Kekristenan tidaklah legal di Korea Utara. Warga diperintahkan untuk memperlakukan pemimpin besar mereka, Kim Jong-un, sebagai seorang dewa. Di antara pelanggaran-pelanggaran kebebasan beragama yang diceritakan dalam laporan tersebut: seorang pejabat pemerintah ditembak dan dibunuh di sebuah lapangan terbang, di hadapan orang ramai, karena mempunyai sebuah Alkitab. Eksekusi publik ‘didesain untuk menanamkan rasa takut kepada khalayak ramai yang sudah dikumpulkan’ dan dipaksa untuk hadir. Seorang Kristen diikat ke sebuah tiang kayu di pasar umum dan dieksekusi oleh regu penembak karena mempunyai sebuah Alkitab. …Individu-individu lain dalam laporan tersebut ditangkap karena mempunyai Alkitab. Orang-orang Kristen disiksa dengan memasukkan cairan yang dicampur dengan bubuk cabe merah ke dalam lubang hidung mereka. …Laporan itu juga mendaftarkan bentuk-bentuk siksaan lainnya bagi orang-orang Kristen dan penganut agama lain: ‘dipaksa untuk bergantung pada batangan baja sambil dipukuli dengan sebuah oseungogakja (semacam tongkat kayu); digantung dari kaki mereka; tubuh mereka diikat erat-erat dengan tongkat-tongkat; dipaksa untuk squat-jump dan duduk berdiri ratusan hingga ribuan kali sehari … dipaksa untuk berlutut dengan batang kayu ditaruh di antara lutut mereka; dicekik; dipaksa untuk menyaksikan eksekusi atau siksaan tahanan lainnya; kelaparan; dipaksa memakan makanan yang kotor; dimasukkan tahanan sunyi; tidak dibiarkan tidur, dan dipaksa tetap duduk melebihi 12 jam sehari.’”

This entry was posted in Penganiayaan / Persecution. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *