John Straton dan Semangat Perjuangan Fundamentalis

sumber: www.wayoflife.org
oleh Dr. David Cloud (diterjemahkan oleh Dr. Steven Liauw)

“Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci” (Maz. 119:128).

Bahkan sampai dengan hari ini, bertarung dan berjuang adalah apa yang membedakan kaum “fundamentalis” (Kristen) dari orang-orang Injili yang paling konservatif sekalipun. Kaum Injili bisa saja memakai sarung tangan, tetapi yang terbuat dari beludru, bukan sarung tangan untuk bertarung. Mereka bisa saja menunjukkan perbedaan theologis dengan seseorang, tetapi biasanya dengan menggunakan istilah-istilah yang lembut, intelektual, “ayo kita masih berteman” dan sama sekali tidak separatis. Mereka bukan petarung. Mereka mengatakan bahwa mereka menjunjung semua titah Tuhan mengenai segala sesuatu sebagai hal yang benar, sama seperti pemazmur; tetapi berbeda dengan sang pemazmur, mereka tidak membenci semua jalan dusta (Maz. 119:128). Membenci segala jalan dusta adalah hal yang membuat syok perasaan mereka. Bukan seperti itu kekristenan mereka.

Tetapi fundamentalis adalah petarung. Kita teringat akan W. L. Pettingill dalam peringatan yang dia sampaikan mengenai tokoh liberal Harry Emerson Fosdick: “Pertarung berlangsung dan semakin sengit. Mari kita memuji Tuhan untuk hal itu. Bertarung jauh lebih baik daripada menyerah secara memalukan, dan pertarungan dibutuhkan saat ini supaya kebenaran Injil dapat terus berlanjut bersama kita” (Serving and Waiting, Januari 1925, Philadelphia School of the Bible).

A. J. Gordon berkata, “Iblis adalah Paus yang sejati dan setan-setan adalah kardinal-kardinal sejati.” Itu jelas bukan sarung tangan beludru.

Kita teringat akan David Otis Fuller, yang sering mengakhiri surat-suratnya dengan kata-kata: “Pertempuran menjadi semakin sengit dan sengit lagi, dan saya semakin menyukainya.” Saya menerima banyak surat-surat tersebut.

Kita teringat akan John Roach Straton, gembala sidang dari Calvary Baptist Church di New York City dari 1918 hingga kematiannya tahun 1929, yang dijuluki dekade “Roaring Twenties.” Dia disebut seorang “crusader,” “seorang abdi Allah yang bertarung hebat dengan kedua tangannya, selalu mempertahankan kubu-kubu kekristenan.” Calvary Baptist didirikan tahun 1847 dan mempunyai gembala-gembala yang prominen, termasuk John Dowling, penulis dari buku The History of Romanism.

Straton adalah putra dari seorang pengkhotbah Baptis, tetapi ketika dia 18 tahun, dia masuk sekolah hukum dan menyambut paham humanisme dan evolusi dan masuk dalam spiral moral yang semakin menurun. Dia mengunjungi kebaktian di First Baptist Church di Atlanta, dan mendapatkan kelahiran kembali. Dia lalu masuk Mercer University dan Southern Seminary. Dia mulai berkhotbah, dan pada akhir dari Perang Dunia I tahun 1918, dia menolak paham post-millenialisme dan memegang pre-millenialisme. Pada tahun itulah dia terpanggil untuk menjadi gembala dari gereja Calvary Baptist.

Straton menerbitkan The American Fundamentalist (belakangan berubah nama menjadi The Calvary Call) untuk menyiarkan khotbah-khotbah dan peringatan-peringatannya. Koran New York Times melaporkan secara rutin khotbah-khotbahnya yang keras, kadang di halaman depan dan kadang-kadang mempublikasikan keseluruhan khotbahnya, yang mengingatkan kita seberapa drastis Amerika sudah berubah. Media tidak seluruhnya positif terhadap dia, tentunya. “Jurnalis-jurnalis dan kartunis yang bermusuhan menulis tentang dia dengan pedas dan mensatirkan Straton sebagai ‘Paus-nya kaum fundamentalis,’ dan ‘Dukun dari Gotham,’ dan ‘Meshuggah (bahasa Yiddish yang berarti orang gila) dari Manhattan’” (“John Roach Straton,” Baptist Bible Tribune, 25 Jan. 2013).

Dia seorang laki-laki yang tinggi dan berpenampilan khas, tetapi dia berkhotbah di jalan-jalan, dan berkhotbah menentang banyak hal. Dia mendesain dan mendirikan sebuah mimbar di atas mobil, dan dari sana dia berkhotbah kepada kerumunan orang di kota (David Beale, In Pursuit of Purity, hal. 213). Dia berusaha untuk memanggil Amerika kepada pertobatan. Dia berkhotbah melawan Unitarianisme, modernisme theologis, skeptikisme Jerman, injil sosial, denominasionalisme, dan komunisme. Dia berkhotbah melawan pers populer di zaman dia karena mereka “bersekongkol untuk merusak kekuatan-kekuatan moral dan merendahkannya secara nasional” (George Dollar, A History of Fundamentalism in America). Apa yang akan dia katakan hari ini, di zaman pers mempromosikan seks bebas, pornografi, hak homoseksual, pendidikan seks untuk anak-anak, dan aborsi bebas!

Gembala John Straton tidak takut menuding nama orang. Dia menyebut Harry Emerson Fosdick, seorang theolog liberal yang sangat populer, sebagai “penjahat rohani – Jesse James-nya dunia theologi” [Editor: Jesse James adalah seorang perampok bank yang terkenal di Amerika di abad 19]. Dia mengritik S. Parkes Cadman, presiden dari Federal Council of Churches, karena dia mengatakan tidak ada neraka. Straton berkata bahwa Cadman adalah seorang yang “menyemprotkan parfum kepada kebusukan dosa dari umat yang pemberontak.” Dia berkhotbah melawan sejarahwan Baptis yang liberal, H. C. Vedder dari Crozer Seminary. Dia berkhotbah melawan kecenderungan yang mulai bertumbuh pada pengadilan-pengadilan Amerika untuk menyerah kepada psikologi humanistik dan untuk menyayangi para kriminal, bukan menghukum mereka. Dia berkata bahwa Allah “bukanlah pribadi yang lembek … dan gelombang kejahatan dan kriminalitas yang terjadi sekarang ini dan menghancurkan Amerika adalah hasil langsung dari pengajaran yang palsu dan cetek ini.”

Straton juga berkhotbah melawan keduniawian. Buku-bukunya antara lain adalah The Menace of Immorality in Church and State (1920), The Scarlet Stainon the City and How to Wipe It Out (c. 1921), dan Satan in the Dance Hall (c. 1925). Judul dari pasal-pasal dalam buku-buku dia antara lain adalah: “Flappers and The Dance of Life” dan “The Devil’s Music and the Scopes Trial.” Ada 750 gedung dansa di New York City pada zaman Straton. Mengenai fashion wanita, dia berkata: “Mengenai pakaian wanita hari ini, terlalu sedikit bahan untuk bisa dibicarakan.” Apa yang akan dikatakan oleh gembala sidang petarung itu hari ini! Dia berkhotbah melawan dansa di dalam gereja, dan penggunaan bintang bioskop untuk menarik orang ke gereja. Dia menegur para orang tua yang membiarkan anak-anaknya memilih antara film atau sekolah minggu. Dia berkata bahwa hasil dari rumah tangga yang duniawi adalah “seorang anak laki-laki yang mengisap rokok yang akan bertumbuh menjadi seorang yang kerjaannya menatap perempuan terus dengan kepala kosong, yang tidak punya pemikiran sehat atau prinsip etis yang sehat sedikit pun; dan seorang perempuan pemberontak dan genit yang merasa tahu lebih banyak pada usia 16 daripada neneknya yang berusia 60 tahun, yang sama sekali tidak kenal dengan teknik menyapu, menjahit, atau memasak, tetapi adalah ahli dalam penggunaan lip-stick, bedak dan tas pesolek” (dari khotbah Straton “New York as Modern Babylon”).

Straton melayani para skeptis dan penyesat yang terkenal dalam debat-debat umum. Ketertarikan akan hal ini sedemikian besar sehingga diadakan di Madison Square Garden. Dia juga berdebat di Harvard, Dartmouth, Columbia, dan sekolah-sekolah besar lainnya.

Pada Northern Baptist Convention, tahun 1923, Straton berdiri dan menyerang W.H.P. Faunce dari Brown University sebagai seorang kafir yang tidak pantas untuk menyampaikan ceramah utama di sana.

Tidak ada satu orang pun dari kalangan “injili konservatif” yang prominen yang hidup hari ini yang memahami semangat perjuangan fundamentalis ini. Tidak ada orang-orang seperti A. J. Gordon, John Straton, William Bell Riley, J. Frank Norris, Bob Jones, Sr., Marion Reynolds, Robert Ketcham di kalangan mereka. Semangat dari para petarung kuno ini masih ada hari ini, tetapi tidak di kalangan injili konservatif.

Esensi dari fundamentalisme adalah semangat bertarungnya, dan ini adalah alkitabiah dan benar dan baik dan saleh, walaupun pertarungan tidak dilakukan dengan sempurna tanpa salah. Orang-orang berdosa yang sudah diselamatkan tidak melakukan apapun dengan sempurna sejak kejatuhan Adam.

Semangat pertarungan sudah benar, dan dari semangat bertarung ini mengalir sikap menguji, menegur, menyatakan kesalahan, memberi peringatan, dan melakukan separasi. Tetapi kaum injili konservatif tidak mau bertarung seperti ini. Mereka bahkan tidak suka dengan para petarung. Jika mereka menemukan seorang petarung yang sedang baku hantam dengan dosa dan kesalahan, jauh lebih mungkin mereka malah menyerang dia, bukan membantu dia.
Esensi dari fundamentalisme, dulu dan sekarang, adalah semangat bertarungnya, dan kiranya Tuhan melipatgandakan semangat itu puluhan ribu kali hari ini, tidak peduli dengan nama yang dipakai! Saat hidup di zaman yang sedemikian jahat dan sesat seperti hari ini, jika seorang pengkhotbah tidak berapi-api seperti Henokh di zaman dulu, dan mulai melancarkan serangan-serangan terarah kepada kaum “fasik,” maka ada yang salah dengan dia.

This entry was posted in Fundamentalisme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *