Metode Penafsiran Normal-Literal vs Alegorikalisme

Oleh: Dr. David Cloud

Berikut ini adalah saduran dari bahan pelajaran Memahami Nubuatan Alkitab, yang tersedia dari Way of Life Literature.

Metode penafsiran Alkitab “normal-literal” mengacu pada cara bahasa manusia biasanya ditafsirkan.

Ini disebut “aturan emas” dari penafsiran Alkitab: “Ketika pengertian yang apa adanya dari Kitab Suci masuk akal, jangan mencari arti lain, tetapi pahamilah setiap kata pada makna literal utamanya kecuali fakta-fakta dari konteks langsung secara jelas menunjukkan sebaliknya” (David Cooper).

“Tuhan mengatakan apa yang Dia maksudkan dan memaksudkan apa yang Dia katakan. Kita harus membaca Alkitab sama seperti membaca tulisan lainnya, tidak mencoba memaksakan arti alegoris, mistik, atau kiasan ke dalam pernyataannya yang sederhana” (Bible Explorers Guide, John Phillips).

Dr. Charles Feinberg berkata, “Kecuali kalau ada alasan-alasan intrinsik dalam teks itu sendiri yang memerlukan interpretasi simbolis atau kecuali ada bagian Kitab Suci lain yang menafsirkan nubuat paralel dalam arti simbolis, kita diharuskan menggunakan interpretasi literal yang alami” (Premilenialism or Amilenialism?, hlm. 212).

Kita menggunakan kiasan, seperti metafora, dalam pidato normal, tetapi kita memahami bahwa ini adalah kiasan berdasarkan konteksnya dan kita tahu bagaimana menafsirkannya. Jika saya berkata, “Saya akan lari pagi”, kita tahu bahwa ini berarti saya benar-benar akan berlari. Tetapi jika saya berkata, “Para pengungsi lari dari Ukraina,” kita tahu ini adalah kiasan, dan itu berarti mereka pergi dari Ukraina, baik dengan berjalan kaki, mengemudi, pesawat, kapal, dll.

Hal ini benar juga untuk nubuatan Alkitab. Nubuat ada berisi kiasan, tetapi Alkitab membuat jelas kiasan-kiasan tersebut dan mengajarkan kita bagaimana menafsirkannya baik menurut konteksnya sendiri atau dengan membandingkan Kitab Suci dengan Kitab Suci.

Kontraskan dengan metode interpretasi alegoris

Metode alegoris menafsirkan bagian-bagian nubuatan Kitab Suci secara simbolis daripada secara literal. Dengan metode ini, nubuatan Perjanjian Lama tentang kerajaan Israel yang agung di bumi ini ditafsirkan sebagai gambaran zaman gereja. Jadi “Sion” adalah gereja dan “seribu tahun” dalam Wahyu 20 adalah zaman gereja dan padang belantara yang berbunga mawar (Yes. 35:1-2) adalah kesuburan rohani di zaman gereja.

Perhatikan tiga contoh:

Alkitab Jenewa memberi catatan pada Wahyu 9:11 yang mengidentifikasi “malaikat jurang maut” sebagai ”Antikristus Paus, raja orang munafik dan utusan Setan”. Namun, tidak ada alasan untuk melihat malaikat ini sebagai apa pun selain malaikat yang jatuh secara harfiah di dalam lubang tanpa dasar yang sebenarnya.

Adam Clarke tentang Wahyu 20:2: “Dalam hal apa ikatan Setan ini, siapa yang tahu? … tidak mungkin angka itu, seribu tahun, dianggap secara harfiah di sini.”

Jamieson, Fausset, Brown tentang Wahyu 20:2: “Seribu melambangkan bahwa dunia sudah dikhamirkan ragi secara sempurna dan diliputi oleh yang ilahi; karena seribu adalah sepuluh pangkat tiga, dan tiga adalah angka Tuhan. ”

Sejarah alegorisisme

Orang-orang Kristen mula-mula menafsirkan nubuatan secara literal (Kis. 3:19-21; Rom. 11:25-27). Hal ini diakui oleh sebagian besar sejarawan gereja.

Sejarawan Lutheran Adolph Harnack menulis, “Iman bahwa Kedatangan Kristus yang Kedua dan penegakan pemerintahan kemuliaan-Nya di bumi sudah dekat, tidak diragukan lagi merupakan titik kuat dalam gereja Kristen primitif” (“Milenium,” Ensiklopedia Brittanica).

Perhatikan kembali pernyataan sejarawan Lutheran Philip Schaff: “Poin yang paling mencolok dalam eskatologi zaman pra-Nicea [sebelum 325 M] adalah chiliasme, atau milenarianisme yang menonjol, yaitu kepercayaan akan pemerintahan Kristus yang kelihatan dalam kemuliaan di bumi dengan orang-orang kudus yang bangkit selama seribu tahun, sebelum kebangkitan dan penghakiman umum. … Itu memang … pendapat dari guru-guru terkemuka, seperti Barnabas [akhir abad pertama], Papias [murid Yohanes], Justin Martyr [lahir sekitar 100 M], Irenaeus [120-202 M ] murid Polikarpus yang selanjutnya adalah murid Yohanes, Tertullian [150-220 M], Methodius [abad ketiga], dan Lactantius [akhir abad ketiga dan awal abad keempat]” (History of the Christian Church, 1884, II, hal. 614).

G. A. Simcox, yang menafsirkan Wahyu secara alegoris, mengakui bahwa “sejak zaman Tertullian dan Hippolytus – tidak usah bicara tentang Justin dan Irenaeus – kita mendapatkan harapan yang konsisten tentang jalannya peristiwa-peristiwa yang akan mendahului penghakiman terakhir” (Simcox, The Revelation St. John the Divine).

Louis Berkhof yang amillenialis berkata, “Selama abad-abad awal Kekristenan, pandangan tentang Kerajaan Allah yang dominan, meskipun tidak diakui secara resmi adalah eskatologis [masa depan], dan dalam beberapa kasus Chiliastic [milenium]” (The Kingdom of God, hal. 21).

Sarjana Yunani dan komentator Alkitab Dean Alford berkata, “Saya tidak setuju untuk mengubah kata-kata dari pengertian yang jelas dan tempat kronologisnya dalam nubuatan karena risiko penyalahgunaan yang mungkin dibawa oleh doktrin Milenium. Mereka yang hidup setelah para Rasul, dan seluruh Gereja selama 300 tahun, memahaminya dalam arti literal yang sederhana dan merupakan pemandangan yang aneh pada hari-hari ini untuk melihat para ekspositor yang biasanya paling menghormati pendapat dari zaman kuno, dengan puas mengesampingkan contoh yang paling meyakinkan tentang konsensus yang dapat ditemukan di zaman kuno. Mengenai teks itu sendiri, tidak ada perlakuan yang sah terhadapnya yang akan dapat menghasilkan apa yang dikenal sebagai interpretasi spiritual yang sekarang sedang populer” (The Greek Testament, IV, hlm. 732, dikutip dari Chester Tulga, Premilenial atau Amilenial: Sebuah Studi Pengantar).

Dr. John Walvoord berkata, “Ada bukti-bukti yang jelas dan tidak salah lagi tentang Premilenialisme di abad pertama. Berlawanan dengan bukti-bukti yang jelas ini, tidak ada satupun penganut, tidak ada satupun bukti hidup yang dihasilkan untuk mendukung gagasan bahwa setiap orang Kristen abad pertama menganut Amilenialisme Augustinian. Lebih jauh lagi, tidak ada bukti apapun bahwa Premilenialisme bahkan diperdebatkan. Itu adalah pandangan yang luar biasa dominan di dalam gereja mula-mula” (The Millennial Kingdom, hlm. 119).

George Ladd berkata, “Sebuah survei literatur mengarah pada kesimpulan berikut. Kerajaan itu dipahami secara eksklusif secara eskatologis [kerajaan literal masa depan] dan dengan satu pengecualian tidak ada bapa gereja sebelum Origen yang menentang interpretasi Milenarian, dan tidak ada seorang pun sebelum Agustinus yang tulisan-tulisannya masih ada yang menawarkan interpretasi yang berbeda tentang Wahyu 20 selain bahwa ini adalah tentang kerajaan duniawi di masa depan sesuai dengan interpretasi alami dari bahasa tersebut” (Crucial Questions about the Kingdom of God, hal.23)

Gereja-gereja di Asia Kecil, yang merupakan gereja-gereja pertama yang didirikan oleh rasul Paulus dan rekan-rekannya, berpegang pada penafsiran nubuatan secara literal selama berabad-abad. Amilenialis T. Francis Glasson mengatakan, “Pada abad-abad awal, terutama karena kitab Wahyulah Milenarianisme berkembang di beberapa tempat. … Bertahun-tahun yang lalu Neander, sejarawan gereja yang hebat itub, menunjukkan bahwa ‘Di mana pun kita bertemu dengan Chiliasme, di Papias, Irenaeus, Justin Martyr, semuanya menunjukkan bahwa ia menyebar dari satu negara dan dari satu sumber mata air’” (His Appearing and Kingdom, hal.122). “Sumber mata air” itu adalah tempat kitab Wahyu ditulis dan tempat gereja-gereja yang menerima kitab itu berada, dan tempat banyak surat Perjanjian Baru lainnya ditulis. Teolog Amilenialis Glasson dan Neander mengatakan bahwa gereja-gereja ini menafsirkan Wahyu dan nubuatan para rasul secara harfiah dan ini tetap menjadi sumber interpretasi literal sampai dihancurkan oleh kemurtadan pada abad keempat dan kelima. Papias adalah gembala gereja di Hierapolis, dekat Laodikia. Justin Martyr tinggal di Efesus. Iranaeus menghabiskan tahun-tahun awal kehidupan Kristennya di wilayah itu.

Penafsiran alegoris diciptakan oleh guru-guru palsu setelah zaman para rasul.

Sebuah sekolah didirikan di Alexandria, Mesir, yang menjadi markas bagi metode penafsiran alegoris. Mesir adalah tempat di mana pengajaran palsu berkembang biak pada abad-abad awal setelah Kristus. Clement mengepalai sekolah itu dari tahun 190 hingga 202. Dia merusak iman Kristen dengan mencampurnya dengan filsafat dunia Plato. Dia mengajarkan banyak doktrin palsu, termasuk api penyucian, dan percaya bahwa kebanyakan orang pada akhirnya akan diselamatkan meskipun Yesus berkata hanya sedikit yang akan diselamatkan (Mat. 7:14).

Origen (185-254) M adalah salah satu bapa pemimpin alegorikalisme. Louis Berkhof mengatakan, “Melalui gabungan pengaruh dari Origen dan Augustine, dan kristenisasi kekaisaran pada masa Konstantinus Agung, pandangan Chiliastic [milenium literal] Kerajaan secara bertahap dikalahkan oleh representasi Kerajaan sebagai realitas masa sekarang” (The Kingdom of God, hal.113). Origen berkata, “Kitab Suci tidak banyak berguna bagi mereka yang memahaminya secara harfiah.” Dia menggambarkan arti literal Kitab Suci sebagai “roti” dan mendorong siswa untuk melampaui tahap ini untuk mencapai “anggur” alegorisisme, di mana seseorang dapat menjadi terbuai dan dipindahkan ke alam surgawi. Komentar Origen berisi banyak interpretasi yang fantastis, berlimpah dalam “revisi sesat Kitab Suci” (Frederick Nolan, Inquiry into the Integrityof the Greek Vulgate, hal. 367). Origen memimpin sekolah di Alexandria dari tahun 202 hingga 232. Walaupun dia menderita penganiayaan dan siksaan demi Kristus di bawah Kaisar Decius pada tahun 250, Origen berpegang kepada banyak pengajaran sesat. Seperti Clement, dia mencampurkan kebenaran Alkitab dengan filosofi kafir. Berikut adalah beberapa dari kesesatannya: Dia mengajarkan kelahiran kembali melalui baptisan (baptismal regeneration), purgatori, pra-eksistensi dari jiwa manusia, dan universalisme (dan bahwa bahkan Iblis pun pada akhirnya akan diselamatkan). Dia mengajar bahwa Roh Kudus adalah makhluk pertama yang Allah ciptakan dan menyangkal bahwa Yesus sepenuhnya adalah Allah. Dia tidak percaya bahwa Kitab Suci sepenuhnya diilhamkan oleh Allah. Dia mengajar bahwa hidup selibasi adalah keadaan kudus yang mengatasi pernikahan.

Augustine sedemikian berpengaruh dalam mengubah penafsiran literal akan nubuat menjadi penafsiran alegoris, sehingga dia dijuluki “bapa amillenialisme.” Namun dia bersaksi bahwa ada banyak orang pada zamannya [abad kelima Masehi] yang percaya suatu milenium yang literal. Dia berkata, “Saya sendiri, juga, pernah berpegang pada pandangan ini. … Mereka yang mempercayainya dipanggil kaum Chilias, yang dapat secara literal kita sebut juga kaum Millenarian” (Augustine, City of God, buku 20, bab 7). Amilenialis Oswald T. Allis mengatakan, “Pandangan yang paling banyak dianut oleh para penentang Millenarianisme secara historis diasosiasikan dengan nama Agustinus. Dia mengajarkan bahwa Milenium harus ditafsirkan secara rohani, yaitu digenapi dalam Gereja Kristen. Dia berpendapat bahwa pengikatan Setan terjadi selama pelayanan duniawi Tuhan kita (Luk. 10:18), bahwa kebangkitan pertama adalah kelahiran baru orang percaya (Yoh. 5:25), dan bahwa karena itu Milenium pastilah mengacu kepada ke periode interadventual (di antara kedua kedatangan Tuhan) atau yang disebut zaman gereja. Pandangan ini mengharuskan penafsiran Wahyu 20:1-6 sebagai ‘rekapitulasi’ dari pasal-pasal sebelumnya dan bukannya menggambarkan zaman baru yang mengikuti secara kronologis peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam pasal 19” (Prophecy and the Church, hlm.2-3 ).

Gereja Katolik Roma menafsirkan nubuatan Alkitab secara alegoris sepanjang sejarahnya.

Denominasi-denominasi Protestan (misalnya, Anglikan, Presbiterian, Lutheran, Metodis) juga telah menafsirkan nubuatan secara alegoris, dengan beberapa pengecualian. Ini adalah salah satu kesalahan yang mereka bawa keluar dari Roma.

 

Mengapa kita menafsirkan nubuat secara literal

Pertama, Tuhan memberikan Kitab Suci untuk MENGUNGKAPKAN kebenaran kepada manusia, bukan untuk menyembunyikannya. Lihat Ulangan 29:29. Nubuatan diberikan untuk mengungkapkan rahasia, bukan menyembunyikannya. Nubuat adalah terang, bukan kegelapan (2 Pet. 1:19). Kitab nubuatan terakhir dalam Alkitab, Wahyu, dinamakan demikian karena diberikan untuk mengungkapkan kebenaran, bukan menyembunyikannya. Nubuat harus dipahami dengan cara yang normal seperti bahasa manusia dipahami karena itu adalah wahyu Tuhan kepada umat manusia dalam bahasa manusia. Tuhan menciptakan bahasa manusia, dan Dia telah mengkomunikasikan wahyu-Nya kepada manusia dalam bahasa manusia normal yang ditafsirkan dengan cara yang normal sehingga bahasa itu ditafsirkan.

Kedua, para rasul menafsirkan nubuatan secara harfiah.

Pertimbangkan dua bagian kunci:

Kisah Para Rasul 3:18-21 – Petrus berkhotbah bahwa karena ada penggenapan literal dari kedatangan Kristus yang pertama untuk menderita bagi dosa manusia, maka akan ada penggenapan literal dari nubuatan yang berkaitan dengan pertobatan dan kerajaan Israel. Kristus akan tinggal di surga sampai Dia datang kembali. Kemudian akan ada “waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabiNya yang kudus.” Kata-kata ini tidak bisa dibuat lebih jelas lagi. Nubuat tentang pengumpulan kembali Israel dan pertobatan dan berkat dan nubuat tentang Kristus yang duduk di atas takhta Daud akan digenapi secara harfiah.

Roma 11:25-27 – Paulus juga mengajarkan bahwa perjanjian-perjanjian Allah dengan Israel akan digenapi secara harfiah. Israel saat ini buta, kecuali beberapa orang, seperti Petrus dan Paulus, yang diselamatkan. Israel akan menjadi buta hanya sampai jumlah penuh bangsa-bangsa lain masuk, mengacu pada zaman gereja. Kemudian Israel akan diselamatkan dan perjanjiannya digenapi. Sekali lagi, kata-kata ini tidak bisa dibuat lebih jelas lagi.

Bahwa para rasul dan gereja-gereja apostolik menafsirkan nubuatan secara literal diakui oleh sebagian besar sejarawan gereja, seperti yang telah kita lihat.

Bahkan Agustinus, “bapak amilenialisme,” mengakui bahwa ada banyak orang pada zamannya [abad kelima] yang percaya akan penggenapan literal dari Wahyu 20. Dia berkata, “Saya sendiri juga pernah memegang pendapat ini. … Mereka yang percaya akan hal ini, disebut oleh kaum spiritual sebagai kaum Chiliasts, yang secara harfiah kita dapatkan dari nama Millenarians” (Augustine, City of God, buku 20, bab 7).

Gereja di Antiokhia terus menafsirkan nubuatan secara harfiah setelah metode alegoris diciptakan oleh para bidat seperti Origen (185-254). Antiokhia, tentu saja, adalah gereja penting yang didirikan oleh Barnabas dan Paulus, dan dari gereja inilah para misionaris ke negara asing pertama diutus (Kisah Rasul 11:19-26; 13:1-4; 15:39-41). Di Antiokhialah para murid pertama kali disebut Kristen. Beberapa pengkhotbah yang terkait dengan Antiokhia adalah Lucian (wafat 312), Diodorus dari Tarsus (wafat 390), Chrysostom (wafat 407), Theodore (wafat 428), dan Theodoret (wafat 458). Orang-orang ini tidak menerima metode interpretasi alegoris Aleksandria. Mereka menafsirkan nubuatan Alkitab secara literal atau harfiah. Farrar berkata, “Buku-buku Diodorus dari Tarsus berkomitment pada eksposisi Kitab Suci dalam arti literalnya, dan dia menulis sebuah risalah, yang disayangkan sekarang sudah hilang, ‘mengenai perbedaan antara alegori dan pemahaman spiritual’” (F.W. Farrar, History of Interpretation, hal 213-215).

Ketiga, nubuat-nubuat Alkitab selalu digenapi secara harfiah.

Nubuat-nubuat tentang Israel digenapi secara harfiah.

Seluruh sejarah Israel diberikan dalam nubuatan besar Ulangan 28 (lihat khususnya ayat 63-67). Nubuat ini menggambarkan kekalahan Israel di tangan kekuatan asing dan penyerakan mereka ke ujung bumi, dan hal-hal ini telah digenapi secara harfiah dan tepat selama 2.000 tahun terakhir, dimulai dengan Pembuangan Babilonia dan kemudian penghancuran Roma atas Yerusalem pada tahun 70 dan lagi pada tahun 135 M.

Nubuatan tentang bangsa-bangsa digenapi secara harfiah.

Nubuatan tentang bangsa-bangsa oleh Yesaya, Yehezkiel, dan Daniel begitu tepat sehingga para pengejek mengatakan bahwa itu pasti ditulis setelah peristiwa-peristiwanya.

TIRUS
Perhatikan nubuat tentang kota kuno Tirus dalam Yehezkiel 26:3-16. Tirus adalah ibu kota Kerajaan Fenisia yang agung. Kota itu terdiri dari dua bagian. Satu bagian kota berada di pantai dan bagian lain berada di sebuah pulau sekitar setengah mil dari pantai. Tirus adalah salah satu kota paling indah di zaman kuno.

– Nebukadnezar akan mengepung dan menjarah Tirus (Yeh. 26:7-11). Pada tahun 573 SM, Nebukadnezar menaklukkan Tirus setelah pengepungan selama 13 tahun. Saat itu bagian kota yang di pesisir dihancurkan, tetapi kota yang di pulau tidak ditaklukkan.

– Banyak negara akan berpartisipasi dalam menghancurkan Tirus (Yeh. 26:3). Tirus diserang dan dikalahkan oleh Asyur, Babilonia, Yunani, Siria, Romawi, dan akhirnya oleh kekuatan-kekuatan Muslim.
– Tembok dan menara Tirus akan dihancurkan (Yeh. 26:4). Ini pertama kali dilakukan oleh Nebukadnezar dan kemudian oleh Alexander Agung.

– Kota itu akan diratakan seperti puncak gunung batu yang gundul, bahkan debunya akan dibuang (ay. 4), dan batu serta kayunya akan ditenggelamkan ke dalam laut (Yeh. 26:12). Ini dilakukan pada 332 SM ketika Alexander menggunakan bahan dari reruntuhan kota di pantai untuk membangun jembatan darat ke bagian pulau.

– Tirus akan menjadi tempat penjemuran pukat (Yeh. 26:5, 14). Pusat perdagangan besar bangsa-bangsa itu akhirnya menjadi desa nelayan yang sederhana.

– Tirus adalah jarahan bagi bangsa-bangsa (Yeh. 26:12). Setelah kehancurannya oleh Alexander, Tirus tidak mendapatkan kembali posisinya sebagai kepala sebuah kerajaan; sebaliknya, dia menjadi bawahan dari kekuatan apa pun yang terjadi untuk mendominasi wilayah tersebut.

Nubuat-nubuat tentang kedatangan Kristus yang pertama digenapi secara harfiah.

Perhatikan nubuat tentang kedatangan Kristus yang pertama dalam Mazmur 22. Dalam Mazmur ini saja, ada banyak nubuatan khusus tentang kematian Kristus, dan itu benar-benar digenapi:

Mzm.22:1 – Kata-kata Yesus di kayu salib (Mat. 27:46)

Mzm. 22:6-8, 12-13 – Orang-orang mencela Yesus (Mat. 27:39-44)

Mzm. 22:11 – Tidak ada yang menolong Dia (Mrk. 14:50; Ibr. 1:3)

Mzm. 22:14-16 – Mereka menyalibkan Dia (Mat. 27:35)

Mzm. 22:14-15 – Kristus haus karena kehilangan darah (Yoh. 19:28)

Mzm. 22:17a – Mereka tidak mematahkan tulangnya (Yoh. 19:33)

Mzm. 22:17b – Mereka memandangi Dia (Mat. 27:36)

Mzm. 22:18 – Mereka membuang undi atas pakaiannya (Mat. 27:35; Yoh. 19:24)

Karena nubuatan Alkitab selalu digenapi secara harfiah, tidak ada alasan untuk percaya bahwa nubuatan masa depan akan digenapi dengan cara yang berbeda.

Keempat, Tuhan Yesus berkata bahwa peristiwa-peristiwa nubuatan besar masih akan terjadi di masa depan.


Dalam nubuat-Nya di Matius 24, Tuhan Yesus menggambarkan Kesukaran Besar dan pemerintahan Antikristus dan mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa ini akan terjadi di masa depan tepat sebelum kedatangan-Nya secara literal (Mat. 24:15-29). Maka, jelaslah bahwa Kesukaran Besar bukanlah sesuatu yang telah digenapi dalam sejarah atau sedang digenapi, dan jelaslah bahwa Antikristus adalah manusia literal yang akan menodai bait suci ketiga secara literal.

Kelima, Kristus menegur murid-murid-Nya karena tidak memercayai nubuatan dalam pemahaman yang literal (Luk. 24:25-27).

Keenam, panggung sudah siap hari ini untuk penggenapan literal dari nubuat-nubuat ini.

Semuanya sudah siap. Mesin untuk pemerintahan satu dunia dan agama satu dunia seperti yang dijelaskan dalam Wahyu 13 dan 17 sedang disiapkan di depan mata kita. Teknologinya sudah berada di tempat untuk mengontrol perdagangan dunia seperti yang dijelaskan dalam Wahyu 13:16-17, dan bagi orang-orang di dunia untuk mengamati peristiwa yang dijelaskan dalam Wahyu 11:8-10. Yang terpenting, bangsa Israel sudah kembali ke tanahnya dalam penggenapan dari Yehezkiel 37:1-14 (Yehezkiel mengatakan bahwa Israel akan kembali pertama dalam kondisi mati secara rohani, ayat 8) dan dalam persiapan untuk pemenuhan literal dari sisa nubuatannya. Israel sedang membuat persiapan untuk membangun Bait ketiga, yang akan dinodai oleh Antikristus. Israel mencari seorang Mesias yang menciptakan perdamaian dan membangun bait suci, persis yang akan Antikristus lakukan pada awal pemerintahannya ketika dia membuat perjanjian tujuh tahun dengan Israel sesuai dengan Daniel 9:27. Ini mendukung doktrin bahwa Tuhan tidak menolak bangsa Israel secara permanen atau menggantikan Israel dengan Gereja, tetapi hanya sementara mengesampingkan Israel sampai Dia siap untuk memenuhi perjanjian-Nya dengannya. Ini jelas diajarkan dalam Roma 11:25-29. Semuanya sudah siap.

Ketujuh, kebutuhan praktis menuntut penafsiran nubuatan secara literal.
Menafsirkan nubuatan Alkitab secara alegoris menghancurkan makna mutlak dari Firman Allah. Alkitab tidak lagi menjadi “firman yang pasti” (2 Ptr. 1:19, lihat ITR). Jika nubuatan tidak berarti persis seperti yang dikatakan, tidak ada cara untuk mengetahui apa artinya. Perhatikan Wahyu 20:1-3. Jika perikop ini tidak berarti bahwa seorang malaikat literal mengikat iblis literal dalam sebuah lubang tanpa dasar literal selama seribu tahun literal, kita tidak memiliki cara untuk mengetahui dengan pasti apa artinya. Jika itu tidak berarti apa yang dikatakan secara harfiah, itu bisa berarti apa pun yang dikatakan oleh penafsir mana pun.

Pertimbangkan pernyataan penting dari Paul Lee Tan ini: “Apakah itu penafsiran tentang nubuat ataupun non-nubuat, begitu literalitas dikorbankan, itu seperti berguling ke bawah dari suatu tanjakan. Momentum dengan cepat bergulung sehingga seseorang menyerah pada godaan untuk merohanikan satu demi satu perikop…. Selain itu, di bawah metode spiritualisasi, tidak ada cara bagi seorang penafsir untuk menguji validitas kesimpulannya, kecuali membandingkan karyanya dengan rekan kerjanya. Alih-alih ‘firman nubuatan yang lebih pasti’ (2 Pet. 1:19, ITR), penafsir berakhir dengan kata ‘tidak yakin’ dan kekacauan dalam barisan orang percaya” (Tan, The Interpretation of Prophecy, hlm. 73, 74).

Guru Alkitab Vernon McGee dilatih dalam metode interpretasi alegoris, tetapi ia menyadari sebagai seorang pemuda bahwa itu menghasilkan kebodohan: “Saya pergi ke sebuah seminari yang amilenial, di mana mereka berusaha untuk menyocokkan keseluruhan kitab Wahyu ke dalam pandangan historical atau amilenial. Sering sekali hal ini menghasilkan kekonyolan atau sesuatu yang lucu sekali. Misalnya, ketika kami sampai di tempat Kitab Suci mengatakan bahwa Setan dimasukkan ke dalam jurang maut, kami diajari bahwa peristiwa itu sudah terjadi. Saya bertanya kepada profesor, ‘Bagaimana Anda menjelaskan aktivitas setan yang terjadi hari ini?’ Dia menjawab, ‘Setan dirantai, tetapi rantai yang mengikatnya sangat panjang. Seperti ketika Anda membawa seekor sapi ke tempat kosong dan menambatkannya pada tali panjang dan membiarkannya merumput.’ Itu adalah penjelasan dia! Dan komentar saya adalah, ‘Doktor, kalau begitu rantai pada Setan pastilah sangat panjang saat ini, karena dia mampu merumput di seluruh dunia hari ini!’ Beberapa bagian Kitab Suci benar-benar tampak agak konyol ketika Anda mengikuti sudut pandang alegoris” (Thru the Bible dengan J. Vernon McGee).

Karena kegagalan menerapkan metode literal itulah kitab Wahyu begitu membingungkan para komentator Katolik dan Protestan. “Secara keseluruhan, tidak ada seorang pun di Abad-Abad Pertengahan yang menganggapnya lebih dari sekedar alegori moral yang membingungkan. Luther pada awalnya menolaknya; Calvin menolak berkomentar tentang kitab ini. Posisi Erasmus meragukan keasliannya. Kisah Para Rasul dan Wahyu adalah satu-satunya buku dalam Perjanjian Baru Tyndale tahun 1534 yang tidak disertai prolog … catatan pinggirnya untuk kitab Wahyu sangat minim, bahkan secara efektif tidak ada” (David Daniell, The Bible in English, hal. 348).

Kedelapan, nubuat sebagai alat apologetika menuntut interpretasi literal.

Dalam Yesaya, Tuhan Yehovah sendiri menggunakan nubuatan Alkitab sebagai bukti bahwa Dia adalah Penulisnya. Lihat Yesaya 41:22-23; 44:6-7; 45:21-22; 46:9-10. Alasan mengapa nubuatan Alkitab dapat digunakan sebagai bukti inspirasi ilahi dari Kitab Suci adalah karena nubuat itu tepat dan jelas. Charles Feinburg, yang memiliki gelar Ph.D. dalam Archaeology and Semitic Languages dari Johns Hopkins University, mengamati, “Meskipun suasana intelektual zaman kita menentangnya, penggenapan nubuatan Alkitab secara literal ini tetap merupakan apologetika yang kuat untuk karakter supernatural dari Kitab Suci” (Premillennialisme atau Amilenialisme?, hal. 212). Nubuatan Alkitab berisi rincian seperti nama, tanggal, dan tempat.

Misalnya, Mazmur 22 berisi rincian kematian Kristus, seperti yang telah kita lihat. Daud menulis ini 1.000 tahun sebelum Kristus. Mustahil bagi manusia untuk mengetahui hal-hal seperti itu tentang masa depan. Bahwa rincian seperti itu tentang kehidupan seseorang ditulis dalam sebuah buku ratusan tahun sebelum kelahirannya adalah bukti yang tak terbantahkan bahwa buku itu adalah dari Tuhan. Tetapi jika rincian nubuatan tidak ditafsirkan secara harfiah, nubuatan tidak dapat digunakan sebagai alat apologetika karena tidak akan jelas persis apa yang dinubuatkan. Jika penusukan di tangan dan kaki, misalnya, berarti sesuatu selain penusukan literal, maka kekuatan nubuatan sebagai alat apologetika dihancurkan.

Perhatikan nubuatan Israel yang diberikan dalam Ulangan 28 bahkan sebelum mereka memasuki Kanaan: tanah Israel akan dihabiskan oleh orang-orang asing (ay. 33); Kota-kota Israel akan dikepung dan dihancurkan oleh bangsa yang berwajah garang (ay.50-57); Israel akan tercerai-berai di antara bangsa-bangsa dan tidak menemukan istirahat atau keamanan (ay. 64-67); Israel akan menjadi keheranan, peribahasa, dan buah bibir di antara semua bangsa (ay. 37). Ini sangat tepat sehingga seolah-olah kita sedang membaca garis besar sejarah Israel selama 2.500 tahun terakhir. Ulangan 28 membuktikan bahwa kitab-kitab Pentatukh diilhami secara ilahi dan bukan produk redaksi manusia seperti yang diklaim oleh kaum modernis, dan bahkan banyak kaum Injili. Perikop ini memberikan rincian peristiwa dalam sejarah Israel yang terjadi setelah waktu ketika kaum modernis mengklaim kitab itu ditulis (di era kerajaan). Perikop ini menggambarkan kehancuran Yerusalem oleh Babilonia (abad ke-6 SM) dan Romawi (abad ke-1 M) dan penyebaran Yahudi di seluruh dunia dan kondisi mengerikan mereka selama dua milenium terakhir. Jelas berarti bahwa Ulangan adalah kitab supranatural, yang diilhami secara ilahi seperti yang diajarkan Yesus.

This entry was posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Alkitab, Hermeneutika / Penafsiran. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.