Perilaku Imoral dari Pendiri Hillsong, Brian Houston

Sumber: www.wayoflife.org

Brian Houston, mantan gembala senior dari asosiasi gereja-gereja Hillsong (Pantekosta) yang berkantor pusat di Hills Christian Life Centre, Sydney, Australia, telah diekspos oleh gerejanya sendiri karena “perilaku tidak pantas” dengan perempuan-perempuan. Sebuah surat yang dikirim ke para anggota gereja Jumat lalu, 18 Maret, mengakui bahwa dua wanita pernah mengeluh tentang perilaku Houston pada tahun 2013 dan 2019, tetapi baru sekarang masalah tersebut ditangani secara publik (“Pendiri Hillsong Melanggar Kode Etik,” Australian Broadcasting Corporation, 18 Mar. 2022). Dalam kasus pertama, Houston mengirim pesan teks seksual ke staf wanita. Dia menyalahkan masalah ini pada obat tidur! Dalam kasus terbaru, Houston menghabiskan waktu di kamar hotel seorang wanita yang dia temui selama konferensi gereja. Dia habis minum-minum. Setelah itu, Houston mengambil cuti tiga bulan dan berjanji untuk tidak minum alkohol, tetapi “dia tidak mematuhinya,” menurut surat gereja tersebut. “Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.” (Ams. 20:1). “Siapa mengaduh? Siapa mengeluh? Siapa bertengkar? Siapa berkeluh kesah? Siapa mendapat cidera tanpa sebab? Siapa merah matanya? Yakni mereka yang duduk dengan anggur sampai jauh malam, mereka yang datang mengecap anggur campuran. … Lalu matamu akan melihat wanita-wanita asing …” (Ams. 23:29-30, 33 lihat KJV).

Awal tahun ini, Houston mengundurkan diri sebagai direktur semua dewan Hillsong setelah didakwa karena menyembunyikan pelecehan seksual terhadap anak oleh ayahnya. Pada tahun 2003, istri Brian, Bobbie (yang saat itu adalah sesama gembala dari Hills Christian Life Center), menerbitkan satu set kaset berjudul Kingdom Women Love Sex. Pada Mei 2016, Hillsong New York City menjadi tuan rumah Konferensi Wanita Hillsong yang menampilkan, antara lain, ‘pemandu sorak’ berpakaian minim, peniru Elvis, dan “koboi telanjang” yang hanya mengenakan topi koboi, sepatu bot, dan gitar. Koboi itu adalah gembala muda Hillsong NYC sendiri, Diego Simla. Pada Agustus 2019, Marty Sampson, pemimpin penyembahan dan penulis lagu untuk Hillsong, mengatakan bahwa dia benar-benar memikirkan untuk memeluk ateisme dan “sangat bahagia sekarang, sangat damai dengan dunia.” Pada tahun 2020, Carl Lentz, gembala dari Hillsong New York City, dipecat karena perzinahan. Pada tahun 2021, Darnell Barrett, gembala Hillsong Montclair, New Jersey, mengundurkan diri setelah memposting foto-foto vulgar dirinya di media sosial. Tidak lama kemudian, Hillsong Dallas, Texas, ditutup karena keduniawian dari “tim gembala” suami-istri, Reed dan Jess Bogard. Dilaporkan bahwa mereka telah “menggunakan uang gereja untuk mendanai gaya hidup mewah mereka, termasuk pakaian desainer yang sangat mahal, sering menginap di penginapan Airbnb yang mahal, dan ribuan dolar untuk sekali makan” (“Hillsong Caving in on Itself,” Reformasi Charlotte, 12 April 2021).

Hillsong adalah salah satu produser musik penyembahan kontemporer yang paling berpengaruh, tetapi rock & roll duniawinya adalah cerminan dari keduniawian para pemimpin dan orang-orangnya. Pengamat perlu memahami bahwa gereja-gereja Hillsong bukanlah gereja-gereja Perjanjian Baru yang sejati dan Hillsong tidak mewakili Kekristenan yang alkitabiah. Mereka adalah kemurtadan yang dijelaskan dalam 2 Timotius 4:3 – “Karena waktunya akan datang ketika mereka tidak akan lagi menerima ajaran yang sehat; tetapi menurut nafsu mereka sendiri, mereka akan menumpuk guru bagi diri mereka sendiri, dengan telinga yang gatal.” Faktanya, pada tahun 2003, Brian Houston mengatakan kepada seorang reporter Sydney Morning Herald bahwa gereja itu sangat sukses karena “kami menggaruk orang di tempat mereka gatal” (“The Lord’s Profits,” Sydney Morning Herald, 30 Januari 2003). Gereja-gereja yang percaya Alkitab yang menggunakan musik pujian kontemporer sedang bermain api. Musik ini membawa serta filosofi yang akan mengubah karakter gereja “alkitabiah” mana pun. Keduniawian menghasilkan iklim di mana musik Kristen kontemporer dianut, dan memeluknya meningkatkan keduniawian dan mengarah pada kemurtadan.

This entry was posted in Emerging Church, Gereja, Kesesatan Umum dan New Age, Kharismatik/Pantekosta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.