Hashem, Yehovah, Yahweh, Yesus

Sumber: www.wayoflife.org
Oleh Dr. David Cloud

Tradisi Talmud Yahudi melarang penyebutan nama Tuhan baik Yehovah atau Yahweh, yang terdiri dari empat huruf Ibrani. Dalam tiga abad sebelum Kristus, tradisi para rabi menetapkan bahwa nama Allah terlalu suci untuk diucapkan. Diklaim bahwa nama Tuhan diucapkan di masa lalu hanya oleh imam besar pada Hari Pendamaian, tetapi ini bertentangan dengan ajaran Alkitab yang jelas. Nama Allah yang mulia telah diganti dalam tradisi Yahudi dengan sebutan hashem yang datar, yang berarti “nama itu”, dan karena itu tidak berarti apa-apa.

Tetapi Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah dengan penuh belas kasih dan ajaib telah menyatakan nama-Nya yang kudus untuk dikenal dan diucapkan oleh manusia, bukan untuk dikaburkan oleh tradisi yang sia-sia.

“Supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama YEHOVAH, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.” (Mazmur 83:19).

“Percayalah kepada YEHOVAH selama-lamanya, sebab TUHAN YEHOVAH adalah gunung batu yang kekal.” (Yesaya 26:4).

Nama Jehovah atau Yehovah muncul 6.519 kali dalam Alkitab Ibrani, dimulai dari Kejadian 2 dalam kaitannya dengan penciptaan pribadi Allah atas Adam dan Hawa.

Nama “Yehovah” mencakup segala sesuatu tentang Allah, tetapi secara khusus menekankan Allah sebagai Penebus, Juruselamat, Gembala. “Dari TUHAN [Yehovah] datang pertolongan” (Mzm. 3:9); ”TUHAN [Yehovah] adalah gembalaku” (Mzm 23:1); ”Aku, Akulah TUHAN [Yehovah] dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku” (Yes. 43:11); “Aku, TUHAN [Yehovah], adalah Juruselamatmu dan Penebusmu, Yang Mahakuat, Allah Yakub.” (Yes. 49:26; 60:16). Yehovah juga adalah Hakim. Dia adalah Penebus yang menepati perjanjian bagi orang percaya dan juga Allah kudus yang menghakimi penghakiman orang yang tidak percaya (Ul. 7:9-10).

Yehovah adalah Allah yang setia memelihara perjanjian. Yehovah-lah yang membuat perjanjian dengan Abraham (Kej 12:1-4; 15:8), Ishak (Kej 26:1-4), Yakub (Kej 28:11-15) dan Daud (2 Sam. 7:8-16). Yehovah adalah Penulis Perjanjian Baru dengan Israel (Yer. 31:31-34). Salomo menekankan bahwa Yehovah adalah Allah yang “menepati perjanjian dan menunjukkan belas kasihan” (2 Taw 6:14-15).

Kita melihat definisi Yehovah dalam penyebutan pertama nama itu di Kejadian 2-3. Tuhan disebut Yehovah 19 kali dalam pasal-pasal ini. Di sini kita melihat Yehovah sebagai Pencipta yang pengasih dan mahakuasa, menciptakan manusia dan menyediakan semua kebutuhannya, menjadikan alam semesta untuk tempat tinggalnya dan firdaus yang mulia untuk rumahnya. Kita melihat Yehovah sebagai Hakim yang adil, yang memberikan hukum pertama kepada manusia dan peringatan penghakiman atas ketidaktaatan (Kej. 2:16-17). Kita melihat Yehovah sebagai Hakim, menghukum manusia setelah kejatuhan. Tetapi kita juga melihat Dia sebagai Penebus, mencari orang berdosa, membawa mereka kepada pertobatan, bernubuat tentang Juruselamat yang akan datang, dan mengenakan jubah yang menandakan keselamatan yang akan disediakan oleh pengorbanan Anak Allah (Kej. 3:8, 15, 21 ).

Inilah definisi Yehovah yang ditekankan Salomo pada pentahbisan bait suci (2 Taw 6). Ia menyebut Allah sebagai TUHAN [Yehovah] 15 kali. Salomo berkata bahwa Allah Yehovah adalah satu-satunya Allah; Dia menepati perjanjian (ay. 4, 14), menunjukkan belas kasihan (v. 14), memenuhi janji-Nya (ay. 15), menjawab doa (ay. 20-21), mengampuni dosa orang yang bertobat (ay. 26-27 ), mengajarkan hal-hal yang baik kepada manusia (ay. 27), mengetahui isi hati semua orang (ay. 30), mendengar doa orang-orang bukan Yahudi yang berdoa dalam nama-Nya (ay. 32-33), memulihkan umat-Nya ketika mereka bertobat (ay. 36-39), adalah Allah yang ingat pada kasih setia kepada Daud (ay. 42). Yang terakhir ini mengacu pada kerajaan kekal yang Allah telah janjikan kepada Daud dalam Putra-Nya, Yesus Kristus. Ini mengacu pada kasih Allah terhadap dunia di mana Kristus membuat pengorbanan pengganti untuk dosa-dosa dunia dan di mana keselamatan kekal ditawarkan dalam Injil. Semua ini adalah belas kasihan Yehovah!

Ketika Kristus kembali, Israel akan disebut “Yehovah keadilan kita” (Yer. 33:16). Nama TUHAN akan dikenal dan dibicarakan di seluruh bumi. Tema nubuat Yehezkiel adalah “kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN [Yehovah]” (Yeh. 6:7, 10, 13, 14, dll.). Pernyataan ini muncul 63 kali. Tujuan dari penghakiman Tuhan dan urusanNya dengan Israel selama 2.600 tahun terakhir adalah bahwa Israel akan tahu bahwa Yehovah adalah Tuhan yang benar dan hidup.

Yehovah biasanya diterjemahkan TUHAN / LORD (semua huruf besar) dalam King James Bible dan Alkitab Indonesia, tetapi juga diterjemahkan ALLAH (semua huruf besar) 310 kali.

Beberapa sarjana modern mengklaim bahwa Yehovah adalah hasil rekayasa kaum Masoret, yang menambahkan titik vokal pada teks Ibrani yang dimulai pada abad keenam M, dan bahwa pengucapan yang benar haruslah Yahweh. Itu adalah pandangan humanistik tentang penerusan Firman Tuhan yang mengingkari pemeliharaan ilahi. Pengucapan nama Allah merupakan bagian integral dari wahyu ilahi dan kita diberitahu oleh Yesus Kristus bahwa tidak ada satu yod pun atau satu titik pun yang dapat hilang (Mat. 5:18). Maka, kita percaya bahwa kaum Masoret melestarikan nama Tuhan. Paulus mengatakan kepada kita bahwa Allah mempercayakan firman Allah kepada orang-orang Yahudi (Rm. 3:1-2).

Thomas Ross mengomentari ini sebagai berikut:

“Huruf hidup Tetragramaton, yaitu Yehowah atau Yehovah (Keluaran 6:3; Mazmur 83:18; Yesaya 12:2; 26:4) bukanlah hasil penambahan belakangan, tetapi mewakili pengucapan asli dan benar dari nama Ilahi yang sangat penting ini. Gagasan modern yang sering diulang-ulang bahwa pengucapan Yehovah adalah rekayasa yang belakangan dan tidak tepat, sedangkan Yahweh adalah pengucapan Nama yang sebenarnya, adalah salah. Tidak ada manuskrip Ibrani yang dikenal di bumi yang memuat vokalisasi Yahweh. Di sisi lain, bentuk Yehovah ditemukan di berbagai lokasi dalam salinan-salinan Ibrani tertua, seperti kodeks Aleppo dan berbagai fragmen Alkitab yang bertanggal antara 700 dan 900, serta menjadi vokalisasi universal dalam Tekstus Receptus Perjanjian Lama. Para ahli Yahudi seperti Maimonides (1138-1204) menegaskan bahwa Tetragramaton diucapkan menurut huruf-hurufnya sebagai YeHoWaH.

“Seandainya, seperti yang ditegaskan oleh gagasan modern yang umum, vokal Nama Ilahi hanya diangkat dari Adonai, yod dari Tetragram akan memiliki hateph pathach di bawahnya, bukan shewa. Lebih jauh lagi, semua nama dalam Kitab Suci yang dimulai dengan bagian Tetragramaton memiliki vokal Yehovah, bukan Yahweh.

“Jika seseorang ingin mempertahankan bahwa pengucapan Nama Tuhan telah dirusak dalam Kitab Suci, bertentangan dengan pernyataan-Nya bahwa hal semacam itu tidak akan terjadi (Mazmur 12:6-7; Matius 5:18), ia juga perlu mempertahankan bahwa setiap nama dalam Alkitab yang dimulai dengan bagian Tetragramaton juga telah dipalsukan. Yehoiada seharusnya adalah sesuatu seperti Yahwadah; Yehoahaz akan menjadi Yahwahaz; Yehoas akan menjadi Yahwahas, dan seterusnya.

“Selanjutnya, tidak ada nama teoforik di manapun dalam Kitab Suci yang diakhiri dengan eh, akhir yang diharapkan jika Nama tersebut diucapkan Yahweh. Demikian pula, kata Halleluyah dan bahasa Yunani Alleluia mengesahkan bunyi ah di akhir Nama Ilahi.

“Selanjutnya, Mishna menyatakan bahwa Nama itu diucapkan seperti yang tertulis, yaitu sebagai Yehovah. Pengucapan ini juga konsisten dengan bukti-bukti dari Talmud.

”Fakta-fakta yang jelas tentang apa sebenarnya vokal pada Nama itu dalam teks Ibrani, nama teoforik lainnya, Mishna, dan berbagai bukti lain menunjukkan bahwa Tetragramaton diucapkan dengan benar sebagai Yehovah.

“Berbeda dengan bukti kuat yang mendukung pengucapan Yehovah, sangat sedikit bukti yang mendukung pengucapan Yahweh. Karena pengucapan yang terakhir ini tidak didukung oleh bukti apapun dalam bahasa Ibrani dari Alkitab, atau dalam dokumen Yahudi kuno lainnya, para pendukungnya harus mencari di luar Kitab Suci dan teks-teks Yahudi untuk menggali bukti yang mendukungnya. Ini mereka temukan pada penulis patristik akhir Theodoret dan Epiphanius, yang mengusulkan Iabe sebagai pengucapan Tetragramaton, meskipun Theodoret membedakan vokalisasi ini sebagai pengucapan orang Samaria.

“Pernyataan-pernyataan ini merupakan argumen paling substantif dan terkuat yang mendukung pengucapan Yahweh. Juga, ada ditemukan papirus-papirus yang berisikan sihir pagan, yang mengandung berbagai penyebutan dewa yang mungkin dan tidak mungkin, dari Yunani, Mesir, dan Semit, ditemukan dalam berbagai variasi, mengandung sebutan-sebutan yang terdengar seperti kata Yahweh.

“Menggunakan spekulasi dari dua penulis patristik—salah satunya bahkan menyebutkan bahwa Yahweh adalah pengucapan Samaria, dan bahwa orang-orang Yahudi menggunakan sesuatu yang lain—untuk menggulingkan vokalisasi Nama dalam Tekstus Receptus PL, yaitu Yehovah, sepenuhnya tidak dapat dibenarkan.

”Menggunakan nama yang ditemukan di beberapa papirus kafir yang memanggil berhala dan setan yang tak terhitung jumlahnya untuk menolak Yehovah bahkan lebih buruk.

“Bukti pelafalan Yahweh sangat buruk, dan sama sekali tidak cukup untuk menggulingkan banyak bukti yang mendukung pelafalan Yehovah. …

“Selanjutnya, fakta bahwa Yehovah adalah pengucapan yang benar dari Tetragramaton adalah salah satu dari sejumlah alasan kuat untuk menolak teks Ibrani kritis (Leningrad MS) yang pada umumnya mendasari versi Alkitab bahasa Inggris modern. Sementara Tekstus Receptus Perjanjian Lama yang mendasari Authorized Version dengan benar dan sepenuhnya menyuarakan Tetragramaton, teks kritis Ibrani merusak Nama Ilahi dengan menghilangkan salah satu vokalnya dalam ribuan bagian. Korupsi serius lainnya juga ada di MS Leningrad.

“Akhirnya, Alkitab King James ditemukan benar dalam vokalisasi Nama Ilahi sebagai Yehovah [Kel. 6:3; Maz. 83:18; Yes. 12:2; 26:4], sementara itu dengan tepat menghilangkan pengucapan fiktif modern Yahweh. Umat Tuhan harus melakukan hal yang sama, dan memanggil, bukan Yahweh, tapi Yehovah Tritunggal.” (Thomas Ross, https://www.wayoflife.org/reports/jehovah_and_yahweh.html).

Beberapa orang Yahudi Karaite, seperti Nehemia Gordon, yang tidak menerima tradisi Talmud, berpegang pada pengucapan Yehovah.

Orang-orang Yahudi aliran Talmud tidak hanya melakukan kejahatan besar dalam menjauhkan nama Tuhan Yehovah dari orang-orang, mereka telah melakukan kejahatan yang lebih besar dalam menolak Yehovah yang datang sebagai Mesias, yang bernama Yesus.

Dalam Perjanjian Baru, kita memiliki penyingkapan Tuhan yang lebih tinggi daripada nama Yehovah, dan itu adalah nama Yesus. Malaikat itu berkata kepada Maria, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia YESUS.” (Luk. 1:31). Sementara nama Yehovah tidak muncul di mana pun dalam Perjanjian Baru, nama Yesus muncul 942 kali. Yesus adalah penyingkapan final dan penuh akan Allah. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:1-3).

Allah telah memberikan kepada Yesus “ nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Fil. 2:9-11).

Adalah kehendak Allah bahwa nama Yesus diberitakan ke semua bangsa. “dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Luk. 24:47).

This entry was posted in Alkitab, Theologi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.