Semangat Tempur Fundamentalisme

Oleh David Cloud

Disadur dari buku The History and Heritage of Fundamentalism and Fundamental Baptists, www.wayoflife.org

Fundamentalisme sebagai sebuah gerakan memiliki kelemahan-kelemahan yang serius, seperti yang telah kami dokumentasikan dalam buku ini, tetapi kekuatan Fundamentalisme adalah pendiriannya yang kokoh membela inspirasi yang sempurna dari Kitab Suci, pola pikirnya yang menguji segala sesuatu, semangatnya untuk kebenaran, kesediaannya untuk memperjuangkan kebenaran, untuk membela kebenaran, untuk berkhotbah melawan kesalahan sekaligus mendukung kebenaran, dan untuk memisahkan diri (separasi) dari kesalahan.

Hal-hal ini alkitabiah dan benar. Faktanya, tidak ada bentuk kekristenan yang bisa tidak memiliki hal-hal ini dan bisa bertahan alkitabiah dan benar.

“Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci.” (Maz. 119: 128).

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17).

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Kor. 6:14).

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” (Ef. 5:11).

“Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain.” (1 Tim. 1:3).

“Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka, di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.” (1 Tim. 1:19-20).

“Percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.” (1 Tim. 6:5).

“Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan” (1 Tim. 6:20).

“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.” (2 Tim. 2:16-18).

“Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Tim. 3:5).

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Tim. 4:7).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” (1 Yoh. 4:1).

“Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat. ” (2 Yoh. 1:9-11) .

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” (Yudas 1: 3).

Tumbuh besar sebagai seorang Baptis Selatan, saya tidak tahu apa-apa tentang Fundamentalisme. Tetapi setelah saya diselamatkan dan mulai mencintai dan mempelajari Alkitab, saya menemukan khotbah-khotbah fundamentalis, dan itu bergema dalam diri saya, karena ini adalah jenis kekristenan yang saya lihat dalam Kitab Suci. Di sana saya melihat pemuridan yang serius, keprajuritan, pertempuran, pendisiplinan, perjuangan yang sungguh-sungguh, teguran dan menyatakan kesalahan, menandai dan menghindari, menarik diri dari, keluar dari antara, tidak mau menyentuh apa yang najis, tidak menjadi satu kuk dengan tidak benar. Tentu saja ini bukanlah keseluruhan dari kekristenan Perjanjian Baru, tetapi hal-hal ini termasuk dalam elemen-elemen utama.

Ketika dunia menyerang Firman Tuhan, kaum fundamentalis mengambil sikap. Mereka berdiri dengan kaki belakang seperti beruang grizzly dan berkata, “Ayo!” Mereka menghadapi filosofi yang baru muncul di masyarakat Barat. Fakta bahwa mereka adalah minoritas ekstrem tidak menghentikan mereka. Mereka memiliki roh Athanasius yang, ketika dia diberitahu, “Seluruh dunia menentangmu,” menjawab, “Kalau begitu saya menentang seluruh dunia.” Ia dikenal sebagai Athanasius Contra Mundum (Athanasius melawan dunia). Setiap orang Kristen yang percaya Alkitab harus dikenal sebagai Contra Mundum. Catatan Alkitab dipenuhi dengan para Contra Mundum yang menyenangkan Tuhan. Yakobus adalah Contra Mundum! “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yak. 4:4). Yohanes adalah Contra Mundum. “Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” (1 Yoh. 5:19).

Para fundamentalis sejati mengikuti jejak para pejuang rohani dari segala zaman. Kita terbayang akan Abraham, yang mempersenjatai hamba-hambanya dan mengejar pasukan lima raja Mesopotamia ke Dan dan mengalahkan mereka. Sungguh seorang petarung!

Kita terbayang akan Henokh yang merupakan seorang petarung melawan dosa dan kesalahan, yang sedemikian berkobar-kobar mengkhotbahkan nubuat melawan kesesatan zaman sekarang ini, sehingga dia memakai kata “fasik” (ungodly, lihat KJV) empat kali dalam satu kalimat (Yudas 1:14-15).

Kita terbayang akan bani Lewi yang, menanggapi panggilan Musa, “Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!” mengikat pedang mereka dan membunuh 3.000 musuh Tuhan (Kel. 32:26-28). Tidak ada perdamaian dengan para pengkompromi bagi para pejuang itu! Bukan imam-imam yang lembut, mereka ini!

Kita terbayang akan Yosua dan Kaleb, yang merupakan satu-satunya dari 12 mata-mata, yang berkata, “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bil 13:30). Sementara 10 orang lainnya berkata, “Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.” Yosua dan Kaleb berkata, “Dengan Allah sebagai penolong kita, kita bisa menghadapi semua raksasa itu di kota-kota berbenteng mereka dan pasukan mereka yang diperlengkapi dengan baik. Ayo maju!” Sungguh petarung-petarung hebat!

Kita terbayang akan Caleb 45 tahun kemudian, pada usia 85, berkata, “Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN.” (Yos. 14 :12). Melewati setengah abad kehidupan dan perjuangan, semangat prajuritnya tidak pudar. Kita tahu bahwa imannya kepada Allah tidak mengecewakan, karena kita diberitahu, “Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.” (Yos. 14: 14). Tuhan senang dengan prajurit ini.

Setelah Yosua dan Kaleb, semangat juang sebagian besar menghilang dari Israel. Bangkitlah “sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN” (Hak. 2:10). Alih-alih pergi dan menaklukkan orang Kanaan yang tersisa dan merebut semua Tanah Perjanjian seperti yang diperintahkan Tuhan, generasi berikutnya menetap, puas hidup di antara musuh-musuh Tuhan. Sementara generasi fundamentalis Yosua dan Kaleb bernyanyi, “pertarungan sedang berlangsung,” anak-anak injili mereka yang suka kompromi bernyanyi, “pertempuran telah berakhir.”

Kita membayangkan Debora, hakim wanita Israel yang mendesak Barak untuk memimpin tentara Israel melawan orang Kanaan yang dipimpin Yabin. Dia memanggil Barak ke Gunung Efraim dan mengatakan kepadanya bahwa Tuhan telah memerintahkan mereka untuk melawan pasukan besar Yabin yang dipimpin oleh Sisera, tetapi Barak tidak bersemangat. Dia berkata, “Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.” Debora tidak ragu-ragu, “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” (Hak. 4:6-9). Barak mengumpulkan pasukan dari suku Zebulon dan Naftali dan pergi bersama Debora ke Gunung Tabor. Di sana mereka dapat melihat banyak tentara Kanaan dengan 900 kereta besi mereka berkumpul di lembah Yizreel di tepi sungai Kison. Ketika Barak masih ragu-ragu, Deborah berkata, “Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu. Bukankah TUHAN telah maju di depan engkau?” (Hak. 4:14). Barak dan orang-orangnya berperang, tetapi Debora-lah yang menjadi kepala prajurit pada hari itu. “Ayo maju! Bergerak, anak-anak!”

Kita terbayang akan Daud yang menerima tantangan Goliat, raksasa yang menghujat dan menyombongkan diri, “sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit,” juara musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang Filistin. Tingginya sekitar sembilan setengah kaki dan dipersenjatai dengan helm kuningan, pelindung kuningan yang menutupi bagian bawah kakinya, perisai kuningan yang menutupi punggung atasnya, tombak besar dengan ujung 15 pon, dan baju zirah (terbuat dari pelat kuningan yang disusun seperti sisik ikan) yang beratnya sekitar 125 pon. Daud memberi tahu Saul, “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” (1 Sam. 17:32). David telah memutuskan untuk menyelesaikan urusan ini. Dia memilih lima batu dari sungai Elah. Dia memakai beberapa saat untuk memberitahu raksasa itu, “aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah.” Kemudian David berlari ke arah raksasa itu, menancapkan sebuah batu di dahinya, dan memenggal kepala sang juara dengan pedangnya sendiri. Sungguh seorang petarung!

Kami terbayang akan Elia. Oh, kita tidak bisa melupakan Elia! Dia adalah seorang nabi pada masa kemurtadan total di Israel, dan dia memutuskan untuk bertarung dengan Baal: seorang nabi Allah Yehovah yang berhadapan dengan 850 nabi Baal. Dia menyuruh Ahab untuk membawa orang-orang Israel dan para nabi ke Gunung Karmel dan meminta dua mezbah dibangun, satu untuk Baal dan satu untuk Yehovah. Dia berkata, “Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!” Selama berjam-jam, para nabi Baal bertindak seperti maniak dalam upaya untuk mendapatkan perhatian dewa mereka, berteriak, melompat, memotong diri mereka sendiri ‘sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka,” tetapi Baal diam. Elia tidak menyaksikan pertunjukan itu dengan tenang; dia “mengejek mereka, katanya: “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.” Ketika liturgi Baal selesai, Elia memesan agar dua belas tong air dituangkan ke atas mezbahnya, lalu dengan tenang, tetapi dengan sungguh-sungguh, berdoa, “Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN,” dan “lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.” (1 Raj. 18:37-38 ). Supaya tidak tanggung, nabi Allah itu memerintahkan agar 850 nabi Baal tersebut dibawa ke sungai Kishon dan dibunuh. Sungguh pejuang kebenaran!

Kita memikirkan Yohanes Pembaptis yang berkata kepada Israel yang tidak mau bertobat, berhati keras, yang membunuh para nabi, “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang?” (Luk. 3:7), dan memberi tahu Herodes yang menakutkan, yang telah mengambil istri saudaranya sebagai miliknya, “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” (Mat. 14:4).

Kita terbayang akan Tuhan Yesus Kristus, yang bahkan dalam kerendahan hati-Nya (Flp. 2:8) di depan umum menyebut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat munafik, anak-anak neraka, penuntun buta, bodoh, ular, dan keturunan ular beludak (Mat. 23:1- 36), dan dua kali mengusir para penukar uang dari Bait Allah dengan cambuk (Mat. 21:12; Yoh. 1:13-17)! Betapa lebih lagi kita melihat semangat tempur Kristus ketika Dia akan muncul di atas kuda putih sebagai panglima tentara surga, dalam kebenaran menghakimi dan berperang, mata-Nya seperti nyala api, mengenakan jubah yang dicelupkan ke dalam darah, memukul bangsa-bangsa, dan memerintah dengan tongkat besi (Wah. 19:11-15). Sungguh “TUHAN itu pahlawan perang” (Kel. 15:3)!

Rasul Paulus adalah seorang petarung. Kehadiran tubuhnya mungkin lemah, seperti yang diklaim musuh-musuhnya (2 Kor. 10:10). Kita tidak tahu dan itu bukanlah masalah; dia kuat dalam hal memperjuangkan kebenaran. Pada perhentian pertama dari perjalanan misionaris bersejarahnya yang pertama, dia secara terbuka menyebut seorang anggota terkemuka kota Salamis dengan kata-kata yang mengejutkan ini, “Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?” dan memukulnya dengan kebutaan sampai taraf tertentu (Kis. 13:10-11)! Wow sungguh kepribadian yang berapi-api! Adapun dua pengkhotbah pada hari itu, Himeneus dan Alexander, Paulus serahkan mereka kepada iblis “supaya jera mereka menghujat” (1 Tim. 1:20). Dalam sebuah surat yang dimaksudkan untuk dibaca oleh semua gereja-gereja, Paulus memanggil nama dua pengkhotbah lain, Himeneus dan Filetus, menyebut pengajaran mereka “omongan yang kosong dan yang tak suci” (2 Ti. 2:16-18), tanpa peduli sedikit pun jika dia menyakiti perasaan mereka. Dalam surat yang sama, Paulus secara terbuka membeberkan kejahatan Alexander si tukang tembaga (2 Tim. 4:14-15) dan menyebut nama pengkhotbah Demas, mantan rekan kerjanya, sebagai seorang yang “mencintai dunia ini,” menganggapnya sebagai contoh yang buruk di hadapan semua gereja-gereja. Paulus menegur Petrus di depan umum karena kemunafikan (Gal 2:11-14). Rasul bagi orang-orang bukan Yahudi mengajarkan banyak sekali “kebenaran positif” yang sangat dalam, tetapi dia tidak berhenti di sana. Dia menjadi sangat “negatif” ketika dia berperang melawan para penganut Yudais Galatia dan penganut spiritualis Korintus dan gnostik Kolose. Paulus menentang kristus palsu dan Injil palsu dan roh palsu dalam bentuk apa pun, tetapi dia tidak berhenti di situ. Dia berdiri melawan kedagingan, keduniawian, pemusatan pada manusia, kesombongan akademis, gembala yang tidak memenuhi syarat, dan setiap jenis dosa di gereja-gereja. Dia adalah seorang pendisiplin yang teguh (1 Kor. 5). Dia keras dalam menegur (2Tim 4:2; Tit. 1:13; 2:15). Tidak seperti banyak pejuang sejak saat itu, Paul tidak pernah mundur, tidak pernah melunakkan pendiriannya, tidak pernah menyesal berjuang demi kebenaran. Pada akhirnya, Paulus merangkum kehidupan Kristennya dengan kata-kata ini, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik” (2 Tim. 4:7). Memang! Setiap pengkhotbah yang bukan seorang pejuang tidak mengikuti jejak Paulus.

Fundamentalis sejati adalah musafir dan orang asing, tentara, orang-orang yang berangkat keluar, berjalan sendiri, jika memang perlu. Dalam membela iman mereka, kaum fundamentalis telah menyinggung kerabat dan teman, kehilangan gaji, tunjangan pensiun, polis asuransi, posisi, properti gereja, dan prestise. Mereka telah mengalami kesalahpahaman yang disengaja, penggambaran yang salah, fitnah, cemoohan, dan penghinaan. Mereka telah berpaling dari denominasi dan institusionalisme yang nyaman untuk mendirikan gereja-gereja dan pelayanan-pelayanan yang independen hanya dengan iman kepada Tuhan, seringkali tanpa janji dukungan manusia. Mereka benar-benar telah menjadi sampah dunia di mata masyarakat sekuler dan Kekristenan pada umumnya.

Fundamentalis Bob Schuler berkata, “Saya telah tiba, terima kasih Tuhan, ke posisi di mana saya percaya saya dapat berdiri dan memilih keyakinan saya jika saya adalah satu-satunya orang yang berada di pihak saya dalam topik itu. … Itulah saat-saat ketika manusia perlu mengetahui jiwa mereka sendiri dan dibentengi dengan kesetiaan yang hanya kepada Tuhan. Jika ketika berdiri teguh dan berani di tengah badai yang sekarang menyerang, mereka dapat melihat ke atas dan maju, tidak masalah apakah orang lain adalah teman atau musuh mereka” (dikutip dari Richard Clearwaters, The Great Conservative Baptist Compromise).

William Ashbrook, penulis Evangelicalism The New Neutralism, meninggalkan denominasi Presbiterian utara yang liberal dan kehilangan “mimbar dan uang pensiunnya.” Dia mengidentifikasi kurangnya keberanian sebagai karakteristik zaman itu. “Pertanyaannya memang adalah apakah kita dari generasi ini memiliki keberanian untuk membela keyakinan kita dan mempertahankan kesaksian yang berani dalam menghadapi ketidakpercayaan dan kompromi yang melanggar batas. … Banyak orang, karena kelemahan atau ketakutan akan celaan, berhenti dari pertarungan. Sungguh menyedihkan melihat mereka yang beberapa tahun lalu berbicara dengan berani, sekarang tetap diam, tampaknya lelah dengan konflik. … Tantangan Tuhan tidak pernah lebih dibutuhkan daripada hari ini. ‘Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!’ (1 Kor. 16:13).”

J.C. Ryle berkata, “Kami menginginkan lebih banyak keberanian di antara teman-teman kebenaran. Terlalu banyak kecenderungan untuk duduk diam, menunggu komite, dan menghitung jumlah pengikut kita. Kami ingin lebih banyak pria yang tidak takut untuk berdiri sendiri. Kebenaran, bukan jumlah banyak, yang pada akhirnya akan selalu menang. Kami memiliki kebenaran, dan kami tidak perlu malu untuk mengatakannya. Hari penghakiman akan membuktikan siapa yang benar, dan sampai hari itu kami akan dengan berani berseru” (dikutip dari Iain Murray, J.C. Ryle: Prepared to Stand Alone, hlm. ii).

Kita terbayang akan tulisan-tulisan kaum fundamentalis lama, seperti Christian Fundamentals karya W. B. Riley dan Calvary Call karya John Straton dan Watchword karya A. J. Gordon dan Searchlight karya J. Frank Norris dan Baptist Temple News karya Oliver Van Osdel dan Foundation karya Marion Reynolds serta Gospel Witness karya T.T. Shields dan Defender karya Gerald Winrod serta Blue Print karya G. Archer Weniger dan Fundamentalist Journal karya Don Jasmin. Mereka berani dan terus terang tentang para bidat dan tukang kompromi. Tidak ada bicara berputar-putar, tidak ada mencari suasana hati “netral” yang lembut dan lembut! Tidak ada hanya boleh bicara secara umum tanpa contoh spesifik. Majalah-majalah fundamentalis ini lebih beraroma asap pertempuran daripada wewangian positivisme.

Dalam buku-buku fundamentalis seperti Evangelicalism The New Neutralism oleh William Ashbrook dan New Neutralism II: Exposing the Grey of Compromise oleh John Ashbrook dan The New Evangelical Experiment oleh Rolland Starr dan The New Evangelicalism oleh Charles Woodbridge dan The Challenge of a New Religion oleh Carlton Helgerson , kaum modernis teologis disebut “jahat”; mereka disebut “bidat”; teologi mereka disebut “racun”, “terkutuk”; Kaum Injili Baru disebut kompromistis, berbahaya, pragmatis, pengikut hal-hal populer saja, lembek, netralis. Injili Baru disebut sebagai “virus,” “tragedi,” “ancaman,” “mematikan,” “menyimpang,” “isme paling mematikan dari semuanya,” “kompromi teologis dan moral yang paling mematikan.”

Para fundamentalis lama menyebutkan nama orang — banyak nama! Mereka menyebutkan nama orang saat berkhotbah, dan mereka menyebutkan nama orang saat menulis. Kesesattan dan kompromi adalah masalah publik, dan mereka menyingkapkannya secara publik untuk mengatasinya.

Mereka tahu bahwa mereka akan disalahpahami dan dituduh menyebarkan kebencian; mereka tahu bahwa mereka adalah minoritas dan dengan berbicara demikian mereka menutup pintu persekutuan dan pelayanan. Mereka tahu bahwa mereka memilih persekutuan yang terbatas dengan menolak untuk membatasi pesan mereka. Mereka tahu bahwa “untuk memihak pada kebenaran adalah menempatkan diri di tengah badai yang darinya tidak ada jalan keluar untuk kehidupan.” Tetapi mereka tetap melakukannya, karena inilah teladan dalam Alkitab dan karena itu adalah kehendak Tuhan, dan karena mereka mengasihi Tuhan dan memiliki semangat untuk kebenaran Tuhan di dalam hati dan jiwa mereka. Seperti Yeremia yang kesepian, mereka dapat berkata, “maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup. ” (Yer. 20:9).

Sampai hari ini, pertempuran adalah hal yang membedakan kaum fundamentalis dari kaum injili yang paling konservatif sekalipun. Kelompok yang disebut terakhir ini bisa jadi memakai sarung tangan, tetapi itu adalah sarung tangan beludru. Mereka mungkin menunjukkan perbedaan theologis dengan seseorang, tetapi biasanya dalam bahasa yang lembut, intelektual, “ayo tetap berteman,” dan istilah-istilah non-separatis. Mereka bukan petarung. Mereka mengatakan bahwa mereka menghargai semua perintah Tuhan tentang segala sesuatu sebagai benar, seperti Pemazmur, tetapi tidak seperti Pemazmur, mereka tidak membenci setiap jalan dusta (Mazmur 119: 128). Membenci jalan-jalan dusta mengejutkan kepekaan mereka. Ini bukan jenis kekristenan mereka.

Tapi fundamentalis adalah petarung. Kita terbayang akan W. L. Pettingill dalam peringatannya tentang Harry Emerson Fosdick yang liberal: “Pertarungan sedang berlangsung dan semakin panas. Mari kita memuji Tuhan untuk itu. Pertarungan jauh lebih baik daripada menyerah secara memalukan dan pertarungan diperlukan saat ini agar kebenaran Injil dapat terus bersama kita” (Serving and Waiting, Januari 1925, Philadelphia School of the Bible).

A.J. Gordon berkata, “Setan adalah Paus yang sebenarnya [dan] setan adalah para kardinal yang sebenarnya.”

Tidak ada sarung tangan beludru di sana.

Kita terbayang akan David Otis Fuller yang sering mengakhiri suratnya dengan kata-kata, “Pertempuran semakin panas, dan saya semakin menyukainya.” Saya menerima banyak dari surat-surat itu.

Kita terbayang akan JOHN ROACH STRATON (1875-1929), gembala dari Calvary Baptist Church di New York City dari tahun 1918 sampai kematiannya pada tahun 1929, selama dekade “Roaring Twenties.” Dia disebut “seorang tentara salib, seorang hamba Allah yang memukul keras dengan kedua tinju-nya, selalu menjadi pembela di benteng-benteng Kekristenan.” Calvary Baptist didirikan pada tahun 1847 dan memiliki gembala-gembala terkemuka, termasuk John Dowling, penulis The History of Romanism.

Straton adalah putra seorang pengkhotbah Baptis, tetapi ketika ia berusia 18 tahun ia menghadiri sekolah hukum dan memeluk humanisme dan evolusi dan berada di spiral moral ke bawah. Dia mengunjungi kebaktian di First Baptist Church di Atlanta dan dilahirkan kembali. Dia kuliah di Universitas Mercer dan Southern Seminary. Dia mulai berkhotbah, dan pada akhir Perang Dunia I pada tahun 1918, dia menolak postmilenialisme dan memeluk premilenialisme. Itu adalah tahun dia dipanggil ke penggembalaan Calvary Baptist.

Straton menerbitkan The American Fundamentalist (belakangan disebut The Calvary Call) untuk menyiarkan khotbah-khotbah dan peringatannya. The New York Times secara teratur melaporkan khotbah-khotbahnya yang keras, kadang-kadang di halaman depan dan kadang-kadang menerbitkan seluruh khotbah Minggunya, yang mengingatkan kita betapa dramatisnya Amerika telah berubah. Tentu saja media tidak secara universal positif. “Para wartawan dan kartunis yang bermusuhan mencelupkan pena mereka ke dalam asam dan menyindir Straton sebagai ‘Paus Kaum mFundamentalis,’ ‘Dukun Penyihir Gotham,’ dan ‘Meshuggah (Yiddish untuk orang gila) Manhattan’” (“John Roach Straton,” Baptist Bible Tribune, 25 Januari 2013).

Dia adalah pria yang jangkung dan terlihat terhormat, tetapi dia berkhotbah di jalanan, dan dia berkhotbah menentang hal-hal. Dia merancang dan membangun mimbar di atas mobil dari mana dia berkhotbah kepada orang banyak di kota (David Beale, In Pursuit of Purity, hlm. 213). Dia bertujuan untuk memanggil Amerika untuk bertobat. Dia berkhotbah menentang Unitarianisme, modernisme teologis, skeptisisme Jerman, Injil sosial, denominasi-denominasi, dan komunisme. Dia berkhotbah menentang pers populer pada zamannya karena “terlibat dalam rencana untuk menghancurkan kekuatan moral dan membawa mereka ke dalam penghinaan nasional” (George Dollar, A History of Fundamentalism in America). Apa yang akan dia katakan hari ini ketika pers mempromosikan seks bebas, pornografi, hak homoseksual, pendidikan seks untuk anak-anak, dan aborsi sesuai permintaan!

Gemmbala John Straton tidak takut menyebut nama-nama orang. Dia menyebut Harry Emerson Fosdick yang sangat populer dan sangat liberal sebagai “penjahat agama—Jesse James dari dunia teologi.” Dia menegur S. Parkes Cadman, presiden Dewan Gereja Federal, karena mengatakan tidak ada neraka. Straton mengatakan bahwa Cadman adalah salah satu dari mereka yang “menyemprotkan parfum pada kejahatan busuk dari ras pemberontak.” Dia berkhotbah menentang sejarawan Baptis liberal H. C. Vedder dari Semminari Crozer. Dia berkhotbah menentang kecenderungan pengadilan Amerika untuk menyerah pada psikologi humanistik dan memanjakan penjahat daripada menghukum mereka. Dia mengatakan Tuhan “bukan seorang yang baik terhadap kejahatan … dan gelombang kejahatan dan kedurjanaan saat ini yang menghancurkan Amerika adalah akibat langsung dari pengajaran yang salah dan lemah ini.”

Straton juga berkhotbah menentang keduniawian. Buku-bukunya termasuk The Menace of Immorality in Church and State (1920), The Scarlet Stain on the City and How to Wipe It Out (c. 1921), dan Satan in the Dance Hall (c. 1925). Judul-judul bab dalam buku yang terakhir ini termasuk “Flappers and the Dance of Life” dan “The Devil’s Music and the Scopes Trial.” Ada 750 ruang dansa di New York City pada zaman Straton. Mengenai fashion wanita, dia berkata, “Ketika berbicara tentang pakaian wanita, topik ini tidak cukup dibicarakan hari ini.” Apa yang akan dikatakan gembala petarung ini hari ini! Dia berkhotbah menentang dansa di gereja dan penggunaan bintang teater dan bintang-bintang muda untuk menarik orang banyak. Dia menegur orang tua yang membiarkan anak-anak mereka memilih antara pertunjukan gambar dan Sekolah Minggu. Dia berkata bahwa akibat dari rumah-rumah duniawi adalah “anak laki-laki perokok yang berkembang menjadi laki-laki lemot yang melirik-lirik gadis-gadis yang tidak akan mengenali pikiran yang sehat atau prinsip etika yang sehat jika dia bertemu dengannya di jalan; dan anak perempuan dangkal dan penggoda yang tahu lebih banyak pada usia 16 tahun daripada yang diketahui neneknya pada usia 60 tahun, yang tidak memiliki pengetahuan tentang seni menyapu kamar, menjahit gaun, atau membuat biskuit, tetapi telah sangat fasih dengan lipstick, bedak, dan tas kelinci” (dari khotbah Straton “New York sebagai Babel Modern”). (Tas kelinci adalah tas kecil untuk kosmetik dan perlengkapan wanita lainnya.)

Straton menghadapi para skeptis dan bidat terkemuka dalam debat publik. Peminatnya begitu besar sehingga diadakan di Madison Square Garden. Dia juga berdebat di Harvard, Dartmouth, Columbia, dan sekolah-sekolah terkemuka lainnya.

Pada Konvensi Baptis Utara tahun 1923, Straton berdiri dari lantai dan mencela W. H. P. Faunce dari Brown University sebagai seorang kafir yang tidak layak untuk menyampaikan pidato utama.

Tidak ada seorangpun “injili konservatif” terkemuka yang hidup hari ini yang tahu apa pun tentang semangat pemberita-petarung fundamentalis. Tidak ada orang-orang seperti A. J. Gordons, John Straton, ataupun William Bell Rileys, J. Frank Norrises, atau Bob Jones, Sr.; tidak ada seperti Marion Reynoldses, Robert Ketchams. Semangat para pejuang tua ini memang masih ada hari ini, tetapi tidak ada di manapun dalam gerakan injili konservatif.

Inti dari Fundamentalisme adalah semangat peperangannya, dan itu alkitabiah dan benar dan baik dan saleh, meskipun pertempuran itu tidak dilakukan dengan sempurna. Orang-orang berdosa malang yang telah ditebus tidak pernah melakukan apapun dengan sempurna sejak kejatuhan Adam.

Semangat pertempuran itu benar, dan dari semangat peperangan itu mengalir ujian, teguran, teguran, peringatan, dan separasi.

Tetapi para injili konservatif tidak percaya pada pertempuran dengan cara ini. Mereka bahkan tidak menyukai petarung. Jika mereka menemukan seorang petarung berperang melawan dosa dan kesalahan, kemungkinan besar mereka akan menyerangnya daripada bergabung dengannya.

Inti dari Fundamentalisme dari dulu sampai sekarang adalah semangat peperangannya, dan semoga Tuhan melipatgandakan semangat itu sepuluh ribu kali lipat hari ini, terlepas dari labelnya! Ketika hidup di zaman yang jahat dan murtad, jika seorang pengkhotbah tidak bekerja seperti Henokh di masa lalu dan mulai menegur kelompok-kelompok “orang fasik,” ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

This entry was posted in Fundamentalisme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.