Syuting Seri “The Chosen” Selesai Setelah Delapan Tahun

Sumber: www.wayoflife.org

Syuting seri The Chosen (sebuah film-seri tentang Yesus) telah rampung setelah berjalan selama delapan tahun. Musim ke-6 dijadwalkan untuk dirilis pada bulan November, sedangkan Musim ke-7 (musim terakhir) dijadwalkan tayang perdana pada musim semi tahun 2028. Serial yang sangat populer ini — yang telah ditonton oleh lebih dari 280 juta orang di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 125 bahasa — dianggap oleh sebagian besar media populer sebagai serial Kristen yang alkitabiah, padahal sebenarnya serial ini merupakan percampuran berbahaya antara kebenaran dan kekeliruan. Ini merupakan satu lagi contoh penyimpangan besar dalam kalangan “Injili.”

Dallas Jenkins, selaku penulis bersama dan sutradara, adalah putra dari Jerry B. Jenkins; nama terakhir ini merupakan penulis bersama seri *Left Behind* (bersama Tim LaHaye) dan memiliki hubungan erat dengan Moody Bible Institute. Namun, “pengaruh Mormon terhadap The Chosen cukup besar: produser eksekutifnya adalah seorang Mormon, distributornya adalah Mormon, episode-episode tertentu direkam di lokasi syuting khusus Mormon di Utah, serta keahlian dalam penggalangan dana publik (crowdfunding) dan media disediakan oleh kaum Mormon. … Dallas Jenkins mengatakan kepada seorang pewawancara bahwa ‘95% konten [*The Chosen*] bukan berasal dari Alkitab.’ Ini berarti The Chosen hampir sepenuhnya merupakan perkataan manusia — bukan Firman Allah. … Sebagai contoh, kisah Maria Magdalena yang mengalami kemunduran rohani setelah bertobat tidak ada dalam Alkitab; Matius digambarkan sebagai penyandang autisme — tidak ada dalam Alkitab; Yesus berlatih menyampaikan Khotbah di Bukit — tidak ada dalam Alkitab (Yohanes 12:49-50; Yohanes 17:8). … Rasul Petrus memiliki utang judi yang mendesaknya untuk bekerja menangkap ikan melampaui waktu pada hari Sabat demi melunasi utangnya [tidak ada dalam Alkitab]…

Jonathan Roumie, aktor yang memerankan Yesus dalam The Chosen, adalah seorang Katolik yang taat dengan ketertarikan kuat terhadap gerakan New Age. … ia mengaku pernah mengalami ‘interaksi pribadi’ dengan seorang ‘santo’ Katolik yang telah meninggal dunia. … Daftar bacaan yang direkomendasikan Roumie di Amazon mencakup buku The Jesuit Guide to Almost Everything karya imam Yesuit dan simpatisan New Age, James Martin. Buku tersebut secara terbuka mengajarkan doktrin New Age yang bersifat panenteistik mengenai Allah yang berada ‘di dalam’ setiap orang dan segala sesuatu, sebagaimana diilustrasikan oleh kutipan-kutipan berikut dari buku tersebut: ‘Allah dapat ditemukan dalam segala hal. Dan juga dalam diri setiap orang’; ‘Kita akan melihat bagaimana menemukan Allah dalam segala hal dan segala hal di dalam Allah'” (The Chosen Series – 10 Critical Concerns, Lighthousetrails.com). Mormonisme adalah bentuk Kekristenan yang keliru, dengan injil perbuatan yang palsu serta sosok Kristus palsu yang tidak kekal, merupakan saudara roh Lucifer, dan mencapai status keilahian melalui usahanya sendiri.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Pekerjaan Arkeologis di bawah Gereja Makam Kudus (Church Of The Holy Sepulchre) Mengonfirmasi Keberadaan Sebuah Taman dari Abad Pertama

Sumber: www.wayoflife.org

“Dan di tempat Ia disalibkan itu ada sebuah taman, dan dalam taman itu ada sebuah kubur yang baru, yang di dalamnya belum pernah seorang pun diletakkan” (Yohanes 19:41). Berikut ini adalah kutipan dari “Ancient Seeds and Pollen Beneath Jerusalem’s Church of the Holy Sepulchre,” Political.org, 2 September 2026: “Para arkeolog yang melakukan penggalian di bawah salah satu situs paling suci umat Kristen telah menemukan bukti botani kuno — berupa biji dan serbuk sari dari pohon zaitun dan tanaman anggur — yang memperkuat deskripsi dalam Perjanjian Baru mengenai keberadaan sebuah taman di lokasi tempat Yesus Kristus disalibkan dan dimakamkan. Temuan ini, yang dipimpin oleh Profesor Francesca Romana Stasolla dari Universitas Sapienza Roma, sangat selaras dengan Yohanes 19:41, yang menyatakan bahwa terdapat sebuah taman di dekat tempat penyaliban, yang di dalamnya terdapat sebuah makam baru tempat jenazah belum pernah dibaringkan sebelumnya. Analisis arkeobotani terhadap sampel tanah yang diambil dari bawah lantai batu gereja tersebut mengungkap adanya biji dan serbuk sari kuno yang sesuai dengan pohon zaitun dan tanaman anggur — tanaman khas kebun budidaya di Yudea pada abad pertama — yang berasal dari sekitar 2.000 tahun yang lalu. …

Gereja tersebut telah lama diyakini berdiri di atas lokasi penyaliban sekaligus pemakaman Yesus, namun hingga saat ini belum ada bukti arkeologis mengenai kebun yang digambarkan dalam kitab suci tersebut. … Seorang ahli mencatat bahwa para akademisi sebelumnya banyak yang meragukan apakah Yesus dimakamkan di lingkungan suatu perkebunan, namun ia mengatakan, ‘sebaliknya, kita justru mendapati konfirmasi bahwa memang ada sebuah taman di sana — dan dengan demikian, Injil Yohanes terbukti akurat kembali dalam hal perinciannya.’”

Berikut ini adalah kutipan dari “Site where Jesus was crucified and buried,” Fox News, 2 September 2026: “Temuan ini memberikan dukungan arkeologis terhadap perincian yang digambarkan dalam Injil Yohanes, ujar Douglas Estes, profesor madya bidang agama di New College of Florida. Estes, yang memiliki spesialisasi dalam sejarah Kekristenan awal dan tidak terlibat dalam penelitian tersebut. Dia mengatakan kepada Fox News Digital bahwa Kitab Yohanes sering kali dianggap berlebihan oleh kaum skeptis. Arkeologi telah ‘seiring berjalannya waktu, berulang kali mengonfirmasi perincian-perincian dari Injil Yohanes.’ … Ia menambahkan, ‘Sebagai contoh, pada abad ke-19, para akademisi mempertanyakan apakah mungkin terdapat lima serambi bertiang [di Kolam Bethesda di Yerusalem], sebagaimana yang disebutkan Yohanes pasal 5.’ Penemuan arkeologis di kemudian hari mendapati bahwa, ya, memang terdapat lima deretan tiang di sana.”

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Museum Smithsonian, Tur Federal di D.C., dan Sejarah Amerika

Berikut ini oleh Dr. David Cloud dari www.wayoflife.org

Pada bulan Agustus, saya menghabiskan waktu seminggu untuk melakukan penelitian di Washington D.C. Museum-museum Smithsonian sungguh luar biasa—mulai dari arsitektur, infrastruktur, artefak, hingga kedai kopi dan kafeterianya — dan saya telah menghabiskan banyak hari di sana pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, hal yang paling mencolok bagi saya kali ini adalah apa yang justru tidak ada di sana. Bahkan di museum sejarah Amerika dan Galeri Seni Amerika, sama sekali tidak ada informasi mengenai kaum Pilgrim, kaum Puritan, maupun peran penting Kekristenan dan Alkitab dalam sejarah Amerika. Pada dasarnya, tidak ada sama sekali.

Saya berbicara dengan para pemandu museum (docent) yang dianggap sebagai ahli — para sukarelawan yang bertugas di berbagai titik — dan mereka tidak tahu apa-apa mengenai hal itu. Museum Nasional Sejarah dan Budaya Afrika-Amerika sama sekali tidak menampilkan peran Alkitab atau Kekristenan. Fokusnya adalah pada perbudakan, penghapusan perbudakan, dan budaya populer yang bobrok, padahal sejarah warga kulit hitam mencakup jauh lebih banyak hal daripada hal-hal itu. Dalam perjalanan baru-baru ini, saya mengunjungi Museum Universitas Hampton di Virginia, tempat Booker T. Washington menempuh pendidikan dan mengajar. Ia adalah lulusan paling terkemuka dari sekolah tersebut dan tokoh penting dalam sejarah warga kulit hitam, namun tidak ada satu pun informasi mengenai dirinya di Museum Hampton. Ia telah dihapuskan dari catatan sejarah di sana. Saya diberi tahu bahwa artefak-artefaknya disimpan di gudang. Saya tidak terkejut, karena filosofi Booker bertentangan dengan pandangan yang kini digembar-gemborkan, yang berfokus pada narasi sebagai korban (victimization), rasisme sistemik, tuntutan ganti rugi tanpa akhir, dan kemarahan yang terus-menerus.

Distorsi sejarah merupakan salah satu cara utama kehancuran Amerika. Saya melihat hal ini dalam tur federal di gedung Capitol dan gedung pengadilan. Para pemandu wisatanya adalah pegawai pemerintah federal. Di ruang rotunda Gedung Capitol, terdapat dua lukisan besar yang menggambarkan peran Kekristenan dalam sejarah Amerika — pembaptisan Pocahontas di Jamestown pada tahun 1613 dan keberangkatan kaum Pilgrim dari Belanda pada tahun 1620. Pemandu wisata hanya menyinggung lukisan-lukisan tersebut secara sepintas tanpa memberikan penjelasan berarti mengenai makna sesungguhnya yang terkandung di dalamnya. Hal ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dalam sistem pendidikan umum untuk menghancurkan Amerika yang lama. Akar dari upaya ini dapat ditelusuri kembali ke sosok John Dewey (1859–1952) — seorang ateis, globalis, dan penentang Kekristenan yang juga merupakan salah satu penyusun Humanist Manifesto. Saya bersyukur karena banyak sekolah swasta, sekolah berbasis gereja, dan sekolah rumah (homeschooling) yang berani mengambil langkah berbeda demi melestarikan sejarah yang akurat, serta karena Tuhan terus menjawab doa demi kebebasan dalam hal-hal tersebut.

Posted in Amerika Serikat, Sejarah Umum | Leave a comment

Pria-Pria Biologis Telah Memenangkan Lebih Dari 2.000 Medali Emas Saat Berkompetisi Melawan Wanita

Sumber: www.wayoflife.org

Berikut ini adalah kutipan dari artikel “2,000 gold medals later” (Setelah 2.000 medali emas), The Washington Times, 23 September 2026:

“Sebuah studi baru dari organisasi konservatif menemukan bahwa para pria yang mengidentifikasi diri sebagai wanita telah memenangkan setidaknya 2.293 medali emas (atau juara 1) saat berpartisipasi dalam cabang olahraga wanita dan remaja putri di AS. Concerned Women for Research mengumpulkan data dari organisasi He Cheated, yang melacak kemenangan atlet pria dalam olahraga wanita. Data tersebut menunjukkan bahwa para lelaki yang mengidentifikasi diri sebagai wanita ini tidak hanya memenangkan sejumlah besar medali emas, tetapi juga telah mengumpulkan uang hadiah sebesar $501.498 yang seharusnya menjadi hak para wanita dalam olahraga profesional sejak pertengahan tahun 1980-an. Dalam semua kasus tersebut, para pria menggeser posisi wanita ke peringkat kedua, sehingga mereka kehilangan medali juara dan uang hadiah, ungkap organisasi itu. … Studi tersebut menemukan bahwa pria mengungguli wanita di puluhan tim olahraga, mulai dari cabang renang, bowling, bola voli, dan atletik di AS hingga Ladies Professional Golf Association. Pria yang mengidentifikasi diri sebagai wanita telah berkompetisi dalam lebih dari 10.000 ajang olahraga wanita, baik tingkat amatir maupun profesional.”

Posted in LGBT | Leave a comment

Gereja Katolik di Amerika Masih Terus Membayar Jutaan Dolar untuk Menyelesaikan Gugatan Hukum terhadap Para Imamnya

Sumber: www.wayoflife.org

Total pembayaran untuk gugatan hukum terkait pelecehan seksual oleh Gereja Katolik Roma di Amerika selama 20 tahun terakhir telah melampaui $5 miliar dan kemungkinan besar melebihi $6 miliar (bishop-accountability.org). Sebuah organisasi Katolik konservatif mendokumentasikan masalah memprihatinkan ini dalam majalah Ad Majorem Dei Gloriam edisi musim gugur/dingin tahun 2002, dengan catatan: “[S]ebagian besar kasus pelecehan seksual di Gereja Katolik — sekitar 90% — melibatkan imam homoseksual yang memangsa remaja laki-laki. Media arus utama dan budaya AS secara umum ingin menyangkal atau membelokkan isu faktor homoseksual dari skandal tersebut.”

Meskipun kami tidak menaruh simpati kepada Gereja Katolik Roma dalam perkara tercela ini, kami juga ingin berkomentar bahwa sistem peradilan di Amerika pun korup. Jika seorang “pelayan” agama —dari aliran mana pun — bersalah melakukan kejahatan keji, ia harus dimintai pertanggungjawaban dan menanggung akibat perbuatannya; dan jika rekan sesama “rohaniwan” terbukti berkontribusi pada kejahatan tersebut dengan mencoba menutup-nutupinya, maka ia pun harus dimintai pertanggungjawaban. Namun, satu kelompok gereja secara keseluruhan — bahkan yang ajarannya tidak sesuai Alkitab sekalipun — seharusnya tidak menghadapi ancaman kebangkrutan akibat ulah pengacara yang serakah, sebagaimana yang secara tidak adil dimungkinkan oleh sistem saat ini.

Sistem peradilan Amerika tidak lagi mengutamakan keadilan bagi mereka yang telah dizalimi; sistem ini berorientasi pada uang, yang dikuras dari setiap korban yang jatuh ke dalam cengkeramannya yang tanpa empati. Berikut adalah kasus-kasus penyelesaian hukum terkini sebagaimana dilaporkan oleh EWTN News: Pada tahun 2026, Keuskupan Camden, New Jersey, menyepakati penyelesaian senilai $180 juta bagi lebih dari 300 “korban pelecehan oleh rohaniwan”; Keuskupan Agung Chicago sepakat membayar $5,5 juta kepada “sembilan penyintas pelecehan”; …dan Ordo Fransiskan California mengumumkan penyelesaian senilai $20 juta untuk “94 klaim pelecehan seksual terhadap anak,” langkah yang diambil setelah pihak Ordo mengajukan kebangkrutan beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, Keuskupan Syracuse (New York) sepakat membayar $176 juta untuk menyelesaikan kasus-kasus pelecehan ($76 juta di antaranya ditanggung oleh perusahaan asuransi); Keuskupan Rochester (New York) sepakat membayar $246 juta kepada “para penyintas pelecehan oleh rohaniwan”; dan Keuskupan Buffalo sepakat membayar $150 juta. Pada tahun 2024, Keuskupan Agung Chicago menyelesaikan sebuah kasus pelecehan dengan nilai $950.000; Keuskupan Rockville Centre (New York) sepakat membayar $323 juta; dan Keuskupan Agung Los Angeles menyepakati pembayaran yang mendekati angka $1 miliar kepada “para korban pelecehan.” Pada tahun 2022, Keuskupan Agung Chicago membayar hampir $3 juta.

Posted in Hukum, Katolik | Leave a comment

Kutipan Perjanjian Baru dari Perjanjian Lama

Sumber: www.wayoflife.org
oleh: Dr. David Cloud

Kami tidak meyakini bahwa para penulis Perjanjian Baru, saat mengutip Perjanjian Lama, mengambil kutipan dari Septuaginta atau terjemahan bahasa Yunani.

Perhatikan contoh saat Matius mengutip Yesaya 9:1-2 dalam Matius 4:13-16.

“Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan menuju laut, seberang sungai Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa, umat yang tinggal dalam gelap telah melihat terang yang besar dan bagi orang-orang yang tinggal di wilayah dan bayang-bayang maut, terang telah terbit bagi mereka” (Mat. 4:15-16, ITR).

“Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain. Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Teks Ibrani, Yes. 9:1-2).

“Bertindaklah segera, hai tanah Zebulon, tanah Naftali, dan penduduk pesisir laut lainnya, serta tanah di seberang Sungai Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa lain. Hai bangsa yang berjalan dalam kegelapan, lihatlah terang yang besar: kamu yang diam di wilayah dan bayang-bayang maut, terang akan bersinar atasmu” (Teks Yunani Septuaginta, Yes. 9:1-2).

Sebagaimana sering terjadi dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus — Sang Penulis Kitab Suci — mengutip secara selektif dan memodifikasi nubuat tersebut demi tujuan-Nya sendiri dalam konteks Perjanjian Baru. Ia tidak sedang mengutip dari versi bahasa Yunani. Ketika Matius, Paulus, atau Petrus mengutip bagian dari tulisan Musa, Daud, atau Yesaya, hal itu “ibarat seseorang yang mengutip dan mengubah kata-katanya sendiri, yang telah ia ucapkan jauh sebelumnya dan dalam situasi yang sangat berbeda.” Hal ini dijelaskan sebagai berikut oleh Eldridge Hatcher dalam bukunya, The Young Professor:

“Kata-kata dalam Perjanjian Lama diilhamkan oleh Allah, namun kata-kata baru yang digunakan oleh para rasul juga diilhamkan oleh-Nya. Jika Allah dapat mengilhami Daud untuk mengungkapkan suatu kebenaran dengan kata-kata tertentu kepada orang-orang Ibrani pada masa itu, tidakkah Allah juga dapat mengilhami para rasul untuk mengambil gagasan yang sama — yang pernah diucapkan Daud kepada orang-orang Ibrani — lalu mengungkapkannya dengan kata-kata lain kepada orang-orang yang hidup ratusan tahun kemudian? Apakah Allah hanya bisa mengungkapkan suatu kebenaran dengan satu cara saja? Anda dan saya tidak bisa mengubah kata-kata dalam Perjanjian Lama karena kita mungkin tidak menggunakan kata-kata yang tepat saat melakukan perubahan itu, namun Allah bisa saja mengilhami kita untuk menggunakan rangkaian kata yang berbeda. … Anda dapat melihat bahwa ketika Paulus mengutip bagian dari tulisan Daud dan mengubah kata-kata Daud, hal itu bukanlah seperti seseorang yang mengubah kata-kata orang lain, melainkan ibarat seseorang yang mengutip dan mengubah kata-katanya sendiri, yang telah ia ucapkan jauh sebelumnya dan dalam situasi yang sangat berbeda. Roh Kudus adalah satu-satunya penulis seluruh Alkitab. Dalam satu kitab Ia berfirman melalui Musa, dalam kitab lain melalui Petrus, dan dalam kitab lainnya lagi melalui Yohanes; jadi, ketika dalam Kisah Para Rasul Roh Kudus — melalui para rasul — mengutip perkataan Daud, itu sebenarnya hanyalah Roh Kudus yang sedang mengutip perkataan-Nya sendiri” (Hatcher, The Young Professor, bab 39 “Alteration of Old Testament Words by New Testament Writers,” 1901).

Posted in Alkitab | Leave a comment

Darlene Zschech Mengatakan “Gereja” Sedang Memasuki “Masa Kebangunan Rohani Lagi”

Sumber: www.wayoflife.org

Darlene Zschech, mantan pemimpin pujian di Hills Christian Life Centre di Sydney, Australia, dan rekan Hillsong Music, “meyakini bahwa Gereja sedang memasuki masa kebangunan rohani lainnya, dengan munculnya generasi baru lagu-lagu pujian yang menyertainya.” Ia berkata, “Lagu baru selalu hadir bersamaan dengan kebangunan rohani yang baru di bumi, di mana pun hal itu terjadi. Selalu ada lagu baru yang mengiringi kebangunan rohani dalam sejarah, dan kini kita berada di titik itu lagi. … Saya rasa kita sedang berada di ambang sesuatu yang begitu luar biasa” (Darlene Zschech, Christianity Daily, 7 September 2026).

Hillsong memiliki pengaruh yang sangat besar dan telah merambah banyak gereja Baptis independen. Lagu-lagu Hillsong yang populer antara lain “Oceans,” “Shout to the Lord,” “Stronger,” “This Is Our God,” dan “Mighty to Save.” Namun, tidak ada kebangunan rohani dalam musik Kristen kontemporer. Musik yang demikian itu merupakan perpaduan yang tidak sah antara Kristus dan dunia. Itu adalah musik bagi gereja-esa-sedunia (one-world church), bukan gereja Perjanjian Baru. Dalam sebuah wawancara tahun 2004, Zschech mengungkapkan filosofinya yang tidak sesuai dengan Alkitab: “Saya pernah berada di Gereja Katolik, United Church, Gereja Anglikan, dan banyak gereja lainnya, dan ketika penyembahan dipersembahkan dalam kebenaran, suara ini muncul—terlepas dari gayanya.” “Itu adalah suara hati manusia yang terhubung dengan Penciptanya” (Michael Herman, “Zschech, Please,” *Christianity Today*, 4 Juni 2004).

Ia tidak menjelaskan bagaimana penyembahan bisa dilakukan “dalam kebenaran” di tengah konteks kesatuan ekumenis yang melibatkan berbagai denominasi yang mengajarkan kesesatan dan injil palsu. Zschech dan Hillsong tampil dalam acara Hari Orang Muda Sedunia (World Youth Day) Gereja Katolik Roma di Sydney pada 18 Juli 2008. Paus Benediktus XVI hadir dan memimpin misa kepausan dalam acara akbar tersebut. Pada 3-4 Juli 2015, Darlene Zschech dan Hillsong bergabung dengan Paus dalam acara Pertemuan Pembaruan Roh Kudus di Vatikan. Di halaman Facebook-nya, Zschech berkata, “Merupakan suatu kehormatan bisa bernyanyi minggu ini bersama Andrea Bocelli, Don Moen, Noa [penyanyi Israel], serta Paus Fransiskus dan ribuan umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Ini adalah perayaan kesatuan dan damai sejahtera dalam Pembaruan Roh Kudus. Hari-hari yang luar biasa bagi Tubuh Kristus.”

Misa Katolik yang dipimpin oleh Kardinal Angelo Comastri diselenggarakan dalam acara tersebut. Menurut dogma Katolik yang menghujat, imam memiliki kuasa untuk mengubah roti menjadi tubuh dan darah Yesus yang sesungguhnya, yang kemudian disembah dalam wujud hosti yang telah dikuduskan. Kita bertanya-tanya apakah rombongan Hillsong sempat mengunjungi basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa kepada Maria Sang Ratu Damai dan Maria Sang Ratu Surga, serta merenungkan patung yang terletak tepat di luar gereja tersebut—patung yang menggambarkan Maria sedang bergantung di kayu salib bersama Yesus?

Posted in Katolik, musik | Leave a comment

Kemungkinan Gambaran Yerusalem dan Hizkia yang Berusia 2.700 Tahun

Sumber: www.wayoflife.org

Berikut ini adalah kutipan dari tulisan Brent Nagtegaal, “Revealed: A 2,700-Year-Old Depiction” (Terungkap: Sebuah Gambaran Berusia 2.700 Tahun), dalam Let the Stones Speak, Desember 2025: “Ketika peneliti Stephen Compton memperlihatkan kepada saya gambar Lempengan 28 dari ruang takhta Sanherib di Niniwe, saya sangat takjub. Saat mengamati pemandangan pada relief tersebut, identitas kota yang digambarkan itu menjadi semakin jelas: Ini adalah Yerusalem! … Dia mungkin benar! pikir saya. Ini adalah karya seni tertua yang menggambarkan Yerusalem yang pernah ditemukan! Bukti-bukti pun segera bermunculan. Terdapat tiga jenis pohon buah-buahan — anggur, ara, dan delima — yang semuanya merupakan tanaman asli Israel dan Yehuda. Hal yang juga patut dicatat adalah, tidak seperti beberapa penggambaran pohon pada relief lain, pohon-pohon ini tidak ditebang, yang mengisyaratkan bahwa kota ini tidak ditaklukkan. Di atas pohon-pohon buah tersebut, terdapat tembok kota yang sangat besar, menara pertahanan, dan dua gerbang. Pada menara pertahanan itu tergambar parapet (dinding pelindung) dengan struktur corbel (penopang menonjol) bertingkat dua. Meskipun saat itu saya belum mengetahuinya, bentuk ini hampir identik dengan yang ada pada relief tembok Lakhis, yang mengisyaratkan bahwa ini adalah kota di daerah Yehuda. Di atas parapet berstruktur corbel tersebut terdapat deretan perisai, yang mengingatkan pada pemandangan yang dijelaskan dalam beberapa bagian Alkitab mulai dari zaman Raja Daud dan seterusnya. Di bagian lebih atas lempengan itu, terdapat deretan tembok dan menara kedua. Hal ini menarik. Apakah ini menunjukkan bahwa kota tersebut menempati dua bukit atau punggung bukit, persis seperti Yerusalem? Akhirnya, berdiri sendiri di menara tertinggi adalah sesosok figur tunggal. Dia adalah satu-satunya individu di seluruh kota itu. Dan dia memegang panji, yang mengisyaratkan status rajani. Jika Lempengan 28 menggambarkan peristiwa invasi Raja Sanherib ke Yehuda, dan… Jika kota yang digambarkan itu adalah Yerusalem, maka sosok raja yang tampak seorang diri itu pastilah Raja Hizkia! … Panel 28 [berada] di ruang takhta, pusat keagungan Sanherib. Sayangnya, ruang takhta Sanherib — beserta relief-reliefnya yang membentang lebih dari 100 meter (330 kaki) — dihancurkan oleh Islamic State pada tahun 2015–2016. … Untunglah, [Henry] Layard dan timnya mendokumentasikan ruang takhta Sanherib (serta sebagian besar Niniwe) dalam laporan-laporan terperinci, yang mencakup sejumlah gambar dan ilustrasi.

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Ignaz Philipp Semmelweis Melawan Arus Utama Sains

Sumber: www.wayoflife.org
Berikut ini adalah kutipan dari “When Science Errs: The Oft Times Lonely Stand for Truth” (Ketika Sains Keliru: Pendirian yang Sering Kali Sepi demi Kebenaran), ChristianAnswers.net:

Dalam kiprahnya di Rumah Sakit Umum Wina, Ignaz menyaksikan banyak korban demam nifas (setelah persalinan) yang sangat menular dan sering kali mematikan. Perlahan-lahan, ia mulai mencurigai adanya peningkatan risiko bagi siapa pun yang melakukan kontak dengan para penderita demam tersebut. Seiring berjalannya waktu, kecurigaannya berubah menjadi keyakinan yang teguh. Ia berpendapat bahwa para dokter di rumah sakit itu secara tidak sadar membawa penyakit tersebut dari ruang autopsi mayat dan menularkannya kepada para wanita di bangsal bersalin. Oleh karena itu, Ignaz memerintahkan semua dokter untuk mencuci tangan secara menyeluruh menggunakan larutan kapur klorin sebelum memeriksa pasien. Ini adalah langkah yang radikal dan kontroversial, yang berujung pada masalah besar bagi Ignaz, sang dokter muda tersebut. Perlu diingat bahwa Ignaz mengambil sikap ini bertahun-tahun sebelum Louis Pasteur, dengan mikroskopnya, mendokumentasikan secara ilmiah bahaya bakteri menular. Pada masa hidup Ignaz, sikap radikal semacam itu tidak dapat diterima oleh dunia medis. Akibatnya, tekanan hebat ditimpakan kepada pria muda itu. Ia diejek. Karakternya diserang. Namun, ia tetap teguh pada pendiriannya — benar-benar seorang diri — melawan seluruh aparatus ilmiah pada zamannya. Tidak ada seorang pun yang sependapat dengannya. Namun pada akhirnya, tekanan itu mengalahkannya. Ignaz mengalami gangguan jiwa dan meninggal dunia pada tanggal 1 Agustus 1865 dalam usia 47 tahun. Tak lama kemudian, Joseph Lister melakukan operasi antiseptik pertamanya, dan Ignaz — yang baru meninggal kurang dari setahun — pun mulai mendapatkan pembenaran penuh atas pandangannya.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Perempuan-Perempuan Lemah yang Sarat dengan Dosa

Sumber: www.wayoflife.org

“Sebab dari antara mereka terdapat orang-orang yang menyusup masuk ke rumah-rumah, dan menawan perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa, yang terseret oleh berbagai-bagai nafsu” (2 Timotius 3:6-7). Hal ini memiliki berbagai penerapan. Ayat ini berlaku bagi perempuan di dalam jemaat yang menjadi sasaran empuk para pemimpin laki-laki, bagi sekte-sekte yang dipimpin oleh perempuan (misalnya: Ann Lee, Mary Baker Eddy, Ellen G. White, Joanna Southcott), bagi denominasi Pentakosta dan lainnya yang menahbiskan perempuan, serta bagi denominasi Protestan modernis yang menarik minat perempuan-perempuan lemah, dan sebagainya.

Berikut ini adalah kutipan dari The World Council of Churches (2013), yang tersedia sebagai e-book gratis di www.wayofllife.org:

Pada konferensi *Re-imagining* di Minneapolis, Minnesota, tahun 1993, sekitar 2.000 perempuan yang ‘berupaya mengubah Kekristenan’ turut hadir. Denominasi yang menjadi sponsor dan peserta antara lain United Methodist Church, United Presbyterian Church, Evangelical Lutheran Church in America, United Church of Christ, United Church of Canada, Church of the Brethren, American Baptist Convention, Episkopal, dan Mennonit. Terdapat 234 peserta dari kalangan Katolik Roma.

Para pembicara meliputi Virginia Mollenkott, seorang lesbian yang secara terbuka mendukung aborsi; Elizabeth Bettenhausen, profesor di Harvard Divinity School; dan Jose Hobday, seorang biarawati Katolik Roma. Para hadirin mendengar para pembicara mengecam doktrin penebusan dosa melalui darah Kristus sebagai pengganti umat manusia (substitutionary blood atonement). Delores Williams dari Union Theological Seminary berkata, ‘Menurut saya, kita sama sekali tidak membutuhkan teori penebusan dosa. Saya berpendapat bahwa Yesus datang demi kehidupan dan untuk menunjukkan sesuatu tentang kehidupan kepada kita. Saya rasa kita tidak butuh orang-orang yang tergantung di kayu salib, darah yang menetes, dan hal-hal aneh semacam itu… kita hanya perlu mendengarkan Allah yang ada di dalam diri kita’ (AFA Journal, Feb. 1994).

Mereka menyapa sesosok dewi bernama ‘Sophia’ dengan doa ini: ‘Pembimbing kami, Sophia, kami adalah perempuan yang diciptakan menurut citra-Mu.’ Sue Seid-Martin dari University of St. Thomas School of Divinity di St. Paul, Minnesota, menyatakan bahwa Sophia ini adalah ‘bagian yang ditekankan dalam tradisi Alkitabiah, dan jelas merupakan sisi feminin dari jiwa manusia.’ Para hadirin diajarkan untuk berdoa kepada pohon demi mendapatkan ‘energi kehidupan.’ Mereka diajarkan bahwa ‘Alkitab pada dasarnya adalah buku terbuka’ yang pasal-pasal baru dapat ditambahkan melalui teologi feminis (AFA Journal, Feb. 1994). Chung Hyung Kyung dari Korea, seorang profesor di Ewha Women’s University—universitas khusus perempuan terbesar di dunia dengan 20.000 mahasiswa—berkata, ‘Perut saya adalah perut Buddhis, hati saya adalah hati Buddhis, otak kanan saya adalah otak Konfusianis, dan otak kiri saya adalah otak Kristen.’ Sekitar 100 ‘perempuan lesbian, biseksual, dan transeksual’ berkumpul di atas panggung dan diberi…” …tepuk tangan meriah sambil berdiri. Mereka ‘merayakan keajaiban menjadi seorang lesbian, yang terbuka akan identitasnya, sekaligus seorang Kristen.’

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Wanita | Leave a comment