Tokoh-Tokoh “Injili” Melepaskan Iman Mereka

(Berita Mingguan GITS 1 Mei 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Gerakan Injili modern (yaitu Injili Baru atau New Evangelicalism) adalah penggenapan dari 2 Timotius 4:3-4, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” Gerakan Injili yang populer ini tidak menginginkan doktrin yang sehat; mereka menyukai dongeng; mereka mengejar keinginan sendiri, lebih peduli tentang “kebebasan” daripada kekudusan dan ketaatan. Musik Penyembahan Kontemporer adalah salah satu jalur menuju “gereja besar” gerakan Injili Baru, dan sekali kamu masuk ke dalam perairan rohani yang berbahaya ini, tidak dapat diprediksi akan sampai ke mana kamu nanti. Banyak yang berakhir pada atheisme. Perhatikan beberapa contoh: Pada bulan Mei 2019, DAVID GASS, dengan 20 tahun pengalaman menggembalakan gereja-gereja Injili, termasuk Grace Family Fellowship di Pleasant Hill, Missouri, membuat pengumuman berikut di Twitter: “Saya melangkah pergi dari iman. Walaupun ini bagaikan jatuhnya bom besar dalam hidup saya, sebenarnya langkah merupakan hasil pemikiran puluhan tahun.” Dia mengakui bahwa dia tidak pernah percaya dengan kuat kepada Kristus, dan selalu mempunyai keragu-raguan. Lebi lanjut lagi, dia berkata, “pernikahan saya adalah suatu tipuan, doa tidak pernah dijawab, mujizat tidak pernah terjadi.” Pada bulan Juli 2019, JOSHUA HARRIS, penulis dari buku terlaris I Kissed Dating Goodbye, yang dianggap sebagai seorang ahli dalam hal pernikahan dan pendidikan anak, melepaskan iman kepada Kristus, mengatakan bahwa dia akan menceraikan istrinya, dan mengumumkan bahwa dia bahagia dan damai dalam mengikuti “hati”nya. Pada bulan Agustus 2019, MARTY SAMPSON, salah satu pemimpin penyembahan dan penulis lagu untuk Hillsong, mengumumkan bahwa iman Kristianinya “berada pada dasar yang sangat rapuh.” Dia sedang serius memikirkan atheisme, dan dia “sangat bahagia sekarang, begitu damai dengan dunia.” Pada Mei 2020, JON STEINGARD, penyanyi dan pemain gitar untuk rock band Kristen Hawk Nelson, dan juga seorang anak gembala sidang, mengumumkan di Instagram bahwa dia sekarang seorang agnostik. “Saya sekarang menemukan bahwa saya tidak lagi percaya akan Allah. … Proses menuju kalimat tersebut sudah berlangsung beberapa tahun. …Itu seperti menarik benang pada sebuah baju sweater, dan suatu hari menemukan bahwa sudah tidak ada sisa sweater lagi.” Steingard mengatakan bahwa dia menikmati “kebebasan” barunya. Pada bulan April 2021, PAUL MAXWELL, seorang penulis terkenal, mengumumkan pelepasan imannya di Instagram. “Saya rasa sangatlah penting untuk mengatakan bahwa saya bukan seorang Kristen lagi, dan ini rasanya hebat. Saya sangat bahagia.” CATATAN KESIMPULAN: Saya memiliki pengalaman yang sebaliknya dari orang-orang ini. Saya tidak pernah meragukan Allah sejak saya bertobat pada tahun 1973, dan iman saya pada Alkitab sebagai Firman Allah yang tidak ada salah dan pada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat telah bertumbuh semakin kuat dengan berlalunya setiap tahun. Saya memiliki ribuan alasan untuk percaya bahwa Allah eksis dan bahwa Alkitab adalah pewahyuanNya yang ilahi kepada manusia. Saya telah terus menerus menyaksikan jawaban terhadap doa. Bagi yang ingin memahami mengapa “gerakan Injili” berada dalam kerusakan yang begitu mendalam, kami merekomendasikan buku New Evangelicalism: Its History, Characteristics, and Fruit, yang tersedia sebagai eBook gratis di www.wayoflife.org. “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1:20).

Posted in New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Hillsong Dallas Tutup

(Berita Mingguan GITS 1 Mei 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Hillsong Dallas sudah ditutup karena keduniawian para pemimpinnya, yaitu “tim gembala sidang” suami istri Reed dan Jess Bogard. Dilaporkan bahwa para pemimpin ini “memakai uang gereja untuk membiayai gaya hidup mereka yang mewah, termasuk baju-baju desainer yang sangat mahal, menginap di rumah-rumah Airbnb yang mahal-mahal, dan pemakaian ribuan dolar untuk sekali makan” (“Hillsong Caving in on Itself,” Reformation Charlotte, 12 Apr. 2021). Ini adalah berita paling akhir dari daftar panjang skandal-skandal Hillsong. Berikut ini hanyalah bagian atas dari karang es: Menurut New York Times tanggal 17 Oktober 2014, sepasang homoseksual, Josh Canfield dan Reed Kelly, menyanyi di paduan suara di Hillsong New York City, dan Canfield adalah seorang pemimpin sukarela untuk paduan suara tersebut. Canfield dan Kelly dijuluki sebagai “Broadway Boyfriends” di pertunjukan realitas Survivor: San Juan del Sur.” Pada bulan Mei 2016, Hillsong New York City mengadakan Konferensi Wanita Hillsong, yang berisikan, antara lain, pemandu-pemandu sorak yang berpakaian minim, seorang peniru Elvis, dan seorang koboi telanjang yang hanya memakai topi koboi, sepatu, dan sebuah gitar. Koboi tersebut adalah gembala sidang muda di Hillsong NYC itu sendiri, yaitu Diego Simla. Pada tahun 2017, gembala Hillsong NYC, Carl Lentz dan bintang pop Justin Bieber, tertangkap foto di New Zealand sedang minum-minum berat dan berpesta di sebuah bar. Lentz membaptis Bieber pada tahun 2014 di bak mandi seorang pemain basketball profesional. Pada tahun 2019, Yelp mengidentifikasi Hillsong Los Angeles sebagai salah satu dari sepuluh besar “gereja yang bersahabat dengan gay” di kota tersebut. Pada November 2020, Lentz dipecat sebagai gembala sidang dari Hillsong NYC karena tertangkap selingkuh dengan seorang desainer fashion Muslim. Menurut Religion News Service (RNS), banyak laporan juga menggambarkan penyalahgunaan uang di Hillsong NYC. Para pengamat perlu memahami bahwa Hillsong bukanlah kekristenan yang sejati alkitabiah. Mereka adalah bentuk palsu.

Posted in Gereja | Leave a comment

Paus Menyebut Maria “Jembatan yang Menghubungkan Kita kepada Allah”

(Berita Mingguan GITS 3 April 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah tweet pada tanggal 25 Maret 2021, Paus Fransiskus mengatakan, “Maria bukan hanya adalah jembatan yang menghubungkan kita kepada Allah; dia lebih lagi dari itu. Dia adalah jalan yang Allah lalui untuk menggapai kita, dan jalan yang harus kita tempuh untuk mencapai Dia.” Ini bukan hanya kesesatan, tetapi juga penghujatan. “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan” (1 Tim. 2:5-6). Paus Yohanes Paulus II, yang dipuji-puji oleh pemimpin-pemimpin Protestan Injili dan Baptis, juga adalah seorang pemuja Maria yang gigih. Terpatri pada peti matinya, yang disaksikan pada saat dia meninggal dalam apa yang disebut “upacara penguburan terbesar di dunia,” adalah huruf M yang besar yang adalah singkatan untuk Maria (The Evening Standard, London, 8 Apr. 2005). Demikianlah karir kepausannya berakhir dengan cara yang sama ia mulai. Ketika terpilih sebagai Paus pada tahun 1978, Karol Wojtyla mendedikasikan kepausannya kepada Maria, dan dia memilih frase Latin, “Totus Tuus” (berarti: sepenuhnya milikmu), sebagai moto gerejawinya (“John Paul II’s Devotion to Mary,” Inside the Vatican, special insert, Mei 1996). Dia menyulamkan kata-kata ini ke jubah kepausannya. Yohanes Paulus II menyembah di berbagai kuil Maria di seluruh dunia, termasuk kuil Madonna Hitam di Jasna Gora, Polandia, kuil Our Lady of Fatima di Portugal, dan kuil Our Lady of Guadalupe di Meksiko. Dalam pidato umumnya tanggal 3 Desember 1995, paus tersebut mengobservasi bahwa Konsili Vatikan Kedua memberikan gelar Mediatrix kepada Maria dan berbicara tentang “peran sebagai mediator” yang dimiliki Maria dan “bagaimana dia membantu dengan cara yang sangat unik pekerjaan pemulihan hidup supranatural kepada jiwa-jiwa” dan “peran dia yang luar biasa dalam pekerjaan penyelamatan” (“Council’s Teaching on Mary Is Rich and Positive,” 13 Dec. 1995, L’Osservatore Romano). Dalam pidato umumnya pada tanggal 7 Mei 1997, paus mengatakan: “MARIA ADALAH JALAN YANG MENUJU KEPADA KRISTUS…” (Vatican Information Service, 7 Mei 1997).

Posted in Katolik | Leave a comment

Perang Amazon Melawan Allah

(Berita Mingguan GITS 27 Maret 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab bernubuat bahwa pada akhir zaman seluruh bumi akan memberontak melawan hukum-hukum Allah dengan cara-cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, terutama para penguasa dunia ini. “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!” (Maz. 2:1-3). Kita melihat hal ini digenapi di segala tempat, yang menjadi bukti kedekatan kembalinya Kristus. Yang bisa disebut “raja-raja” hari ini termasuk para pemimpin perusahaan-perusahaan raksasa trans-nasional, yang memiliki kekayaan dan kuasa yang belum ada para generasi sebelumnya, dan mereka memang sedang bermufakat untuk melawan TUHAN dan KristusNya dan hukum-hukumNya. Salah satu dari hukum-hukum Allah yang paling mendasar tercatat dalam pasal paling pertama dari Kitab Suci: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Agenda LGBT, yang sekarang didukung secara universal oleh perusahaan-perusahaan global dan juga entitas-entitas media sosial yang paling berkuasa, adalah perlawanan yang langsung dan tidak malu-malu terhadap hukum Allah. Pemberontakan ini sudah masuk ke tahap mensensor suara-suara yang bertentangan dengan agenda mereka. Sebagai contoh, tahun ini Amazon melarang buku Ryan Anderson, yang berjudul When Harry Became Sally: Responding to the Transgender Moment, dan melarang iklan untuk buku Abigail Shrier, yang berjudul Irreversible Damage: The Transgender Craze Seducing Our Daughters. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh umat Allah mengenai hal-hal ini secara politik dan judisial, tetapi bukan berarti kita sama sekali tidak punya kekuatan. Doa dapat menghambat rahasia kedurhakaan, yang adalah roh dibalik ketidakberhukuman dan anarki ini, karena Allah sedang bekerja untuk menghambatnya, dan Dia menjawab doa. “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan” (2 Tes. 2:7). Beberapa ayat setelah itu, Paulus meminta jemaat-jemaat unguk berdoa “supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat” (2 Tes. 3:2), dan dia tidak akan mengajarkan doa demikian jika Allah tidak tertarik untuk menjawabnya. Kami meminta orang-orang tebusan Allah untuk berdoa setiap hari untuk melawan agenda antikristusnya Iblis. Pada akhirnya, Allah akan membiarkan rahasia kedurhakaan itu untuk menang selama waktu yang singkat, tetapi itu tidak akan terjadi sebelum Rapture. Mengenai apa yang Allah pikirkan tentang peperangan perusahaan-perusahaan raksasa ini melawan hukum-hukumNya, kita tidak perlu bertanya-tanya. “Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya” (Maz. 2:4-5). Ini mengacu kepada haru Tuhan yang selalu “sudah dekat.”

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Doa | Leave a comment

Gembala Sidang di Kanada Dibebaskan dari Penjara

(Berita Mingguan GITS 27 Maret 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Pada tanggal 22 Maret, James Coates, gembala sidang dari GraceLife Church di Edmonton, Alberta, dilepaskan dari penjara tanpa syarat, setelah penahanan selama 35 hari. Hakim mendenda dia $1500, dan menghilangkan denda itu sebagai ganti waktu pemenjaraan yang sudah dijalani. Gembala Coates ditangkap pada tanggal 16 Februari karena melaksanakan kebaktian jemaat, berlawanan dengan restriksi Covid-19 (yaitu tidak boleh melewati 15% kapasitas). Coates memberitahu hakim, “Saya bukan seorang revolusionis politik, saya ada di sini hanya karena ketaatan kepada Yesus Kristus, dan ketaatan inilah yang membuat saya bertentangan dengan hukum.” Coates percaya bahwa seluruh anggota jemaat harus berkumpul bersama, dan jemaatnya terus melakukan itu sementara dia dipenjarakan. Satu laporan menemukan bahwa “gereja-gereja lain juga melanggar aturan kesehatan itu setelah penangkapan Gembala Coates, tanpa terkena hukuman yang sama terhadap mereka” (The Gospel Coalition Canadian Edition, 23 Mar. 2021). Pada tanggal 26 Februari, John MacArthur dan para penatua dari Grace Community Church di California, mengeluarkan pernyataan mendukung Coates, yang adalah seorang lulusan dari Masters Seminary yang dikepalai oleh MacArthur. Pada tanggal 18 Maret, Ny. Erin Coates, muncul dalam program Tucker Carlson di Fox News dan membagikan Injil kepada para penonton.

Posted in Gereja, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Wheaton Menurunkan Plakat yang Mengenang Para Misionari yang Dibunuh Karena Ada Kata “Savage” (Biadab/Buas)

(Berita Mingguan GITS 27 Maret 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Muncul lagi suatu contoh terbaru akan orang-orang “Injili” yang sekarang lebih mengikuti pemikiran sekuler yang sia-sia daripada firman Allah, yaitu Wheaton College yang menurunkan sebuat plakat yang mengenang kemartiran lima orang lulusan mereka pada tahun 1956, hanya karena ada kata “savage” (Indonesia: biadab atau buas) di plakat tersebut, yang sekarang dianggap ofensif (“Wheaton College scrubs ‘savage,’ The Spectator, 17 Mar. 2021). Plakat tersebut, yang diberikan pada tahun 1957 oleh alumni angkatan 1949, menyatakan, “Pergi dan Beritakan Injil … Karena Kasih Kristus Menguasai. Didedikasikan untuk kemuliaan Allah dan dalam kenangan penuh kasih akan Edward McCully, presiden dari angkatan 1949, dan James Elliot, juga seorang atlit dan pemimpin yang luar biasa. Karena Amanat Agung, Ed dan Jim, bersama-sama dengan Nathanael Saint, Roger Youderian, dan Peter Fleming, pergi ke ladang misi. Rela untuk melakukan ‘apa saja – di mana saja tanpa peduli harganya,’ mereka memilih hutan belantara Ekuador yang didiami oleh suku Indian Auca. Selama banyak generasi, semua orang luar dibunuh oleh orang-orang Indian yang biadab (Inggris: savage) ini. Setelah banyak hari melakukan persiapan dengan sabar dan doa-doa yang saleh, para misionari ini membuat kontak bersahabat pertama yang tercatat dalam sejarah dengan orang-orang Auca. Pada tanggal 8 Januari 1956, lima orang misionari itu dibunuh secara brutal – mereka martir karena kasih Allah.”

Wheaton College versi “woke” yang baru sekarang ini, terlalu bijak duniawi untuk menggunakan istilah “biadab” untuk menggambarkan para pembunuh bercabang lidah yang membunuh para misionari yang penuh damai tersebut, walaupun ini adalah istilah yang cocok sekali untuk menggambarkan situasi yangt terjadi, sekalipun menurut definisi kamus modern. Kata “savage” dalam bahasa Inggris berarti “tidak mempunyai pengekangan yang biasanya ada pada manusia yang beradab, buas, ganas, liar, tidak berbudaya, jahat” (Merriam-Webster). Presiden Wheaton, Philip Ryken, mengatakan, “Baru-baru ini, para mahasiswa, fakultas, dan staf, menyatakan keprihatinan tentang kata-kata yang ada pada plakat ini, yang sekarang dipahami sebagai sesuatu yang menyinggung. Terutama, kata ‘savage’ dianggap sebagai hinaan dan secara historis telah dipakai untuk menurunkan kemanusiaan dan memperlakukan salah orang-orang pribumi di berbagai belahan dunia.” Tetapi para misionari tersebut bukan sedang menurunkan nilai manusia atau memperlakukan salah orang-orang Auca; mereka mengasihi orang-orang tersebut dengan penuh pengorbanan, dan mencoba untuk memperingatkan mereka tentang penghakiman kekal dan menyampaikan kabar baik Yesus Kristus kepada mereka. Mengenai orang-orang Auca yang terlibat pada hari itu, Alkitab sendiri menggunakan istila-istilah seperti “pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan … tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan … lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka … rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu … orang-orang durhaka … orang-orang yang harus dimurkai … tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Roma 1:29-31; 3:13-16, 18; Ef. 2:2-3, 12). Kabar baiknya adalah bahwa sekolah Alkitab tersebut sudah menunjuk suatu “komite untuk me-review kata-kata dalam plakat tersebut, dan akan membuat rekomendasi yang spesifik sebelum 1 Mei untuk mengganti kata-kata itu dengan hati-hati.” Akan menarik untuk melihat bagaimana mereka akan menggambarkan pembunuhan oleh orang-orang biadab tanpa menyinggung siapa-siapa.

Posted in Misi / Pekabaran Injil, Penganiayaan / Persecution, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Sampah Okultik Komik Marvel Dilahap oleh Anak-Anak Gereja

(Berita Mingguan GITS 20 Maret 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Minggu ini saya diberitahu tentang posting Facebook berikut: “Saya terus mendapatkan iklan tentang seri Marvel WandaVision dan mendengar bahwa sejumlah besar anak-anak muda sedang menontonnya. Cerita-cerita ini didasarkan pada materi yang demonic (berhubungan dengan roh-roh jahat), dan tidaklah cocok untuk anak-anak Kristen. Materi ini secara eksplisit berhubungan dengan kuasa kegelapan dan persihiran. Jika, sebagai seorang Kristen, anda bisa merasa sangat terhibur / ter-entertain oleh roh-roh jahat dan persihiran, anda sungguh-sungguh perlu melakukan pemeriksaan diri.” Ketika saya menggali lebih lanjut tentang hal ini, penulis tersebut (seorang Baptis independen) menjawab, “Ya, memang ada banyak anak-anak gereja yang menonton hal ini dan semua komik-komik Marvel.” Ini mengacu kepada komik-komik, buku-buku, dan video-video okultik yang dibuat oleh Marvel Comics. Sebuah buku fiktif yang disebut Darkhold, yang juga dikenal sebagai The Book of Sins, merupakan fokus dari seri buku Marvel Comic, seri televisi Marvel Agents of S.H.I.E.L.D, dan Runways, dan mini-seri live-action WandaVision (2021). Penulis dari Darkhold ditenggarai adalah Chthon, “seorang Elder God demonic yang adalah praktisi black magic pertama di bumi.” Halaman-halaman dari Darkhold katanya tersebar di seluruh bumi dan dapat memanggil kekuatan kegelapan yang besar. Mitologi Darkhold penuh dengan juru tenung dan tukang sihir, jampi-jampi, pengucapan mantera, kutuk, setan-setan, vampir, werewolves, zombie, necromancy (memanggil kembali orang yang mati), super power, penyembuhan magis, proyeksi astral, teleportasi, perjalanan dimensi, “evolusi tingkat tinggi,” penipuan, pencurian, penyiksaan, pembunuhan, dan tidak usah disebut lagi, ketelanjangan. Salah satu karakter di dalamnya bahkan mengorbankan jiwanya kepada Chthon. Satu lagi karakter okultik yang populer di Marvel Comic adalah Scarlet Witch. Muncul di komik-komik Marvel sejak 1964, ciri-ciri superhumannya adalah hasil perpaduan dari eksperimen magic dan sains. Dia adalah anggota dari tim superhero Avengers. Dengan menggunakan magic, dia membuat dirinya sendiri hamil dan melahirkan dua putra kembar, Wiccan dan Speed. Dari tahun 2015 hingga 2017, Scarlet Witch menjadi bintang dari seri komik dia sendiri. Dia juga muncul dari film-film animasi Marvel, seri televisi, dan berbagai video game, termasuk Captain America. Dia adalah tokoh utama dalam WandaVision dan dijadwalkan untuk muncul dalam film yang akan datang, Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022).

Hal-hal ini bukanlah sesuatu yang sekedar main-main dan innocent. Muda-mudi gereja yang terlibat dalam okultisme dan tidak bertobat dengan sungguh-sungguh, patut mendapat disiplin. Keselamatan mereka perlu dipertanyakan dengan serius. “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran” (1 Yoh. 2:4). Tidak mungkin membayangkan Rasul Paulus mengabaikan kejahatan rohani yang sedemikian besar dalam rumah Allah. Di manakah para gembala? Di manakah para guru rohani? Di manakah orang-orang tua? Di manakah para kakek nenek? Seorang teman berkomentar sebagai berikut: “Kebanyakan gembala sidang [bahkan di Baptis Independen sekalipun] tidak tahu hal-hal ini sedang berlangsung, atau juga menontonnya untuk diri mereka sendiri.” Mengapakah institusi yang menyambut baik hal-hal seperti ini berani menyebut dirinya sebuah gereja Perjanjian Baru? Apa gunanya memiliki label gereja “King James” [atau “alkitabiah”], jika kita terang-terangan mengabaikan Alkitab? Apakah yang dipentingkan hanyalah ada orang duduk di kursi gereja dan ada persembahan yang masuk? Apakah sudah sedemikian sesatnya? Berikut adalah tiga perikop saja dari Alkitab yang berbicara langsung mengenai isu ini: “Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu” (Ul. 18:10-12). “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (Ef. 5:11-15). “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa” (2 Kor. 6:14-18).

Posted in Okultisme, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

168 Tahun Penahbisan Perempuan

(Berita Mingguan GITS 20 Maret 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Pada tahun 1853, United Church of Christ menjadi denominasi pertama di AS yang menahbiskan seorang perempuan kepada posisi kepemimpinan dalam jemaat. Antoinette Brown Blackwell, seorang pejuang suffragette [hak voting bagi perempuan] yang terkenal, ditahbiskan menjadi gembala sidang dari Congregational Church di South Butler, New York. Seorang Rev. Luther Lee menyampaikan khotbah penahbisan dari perikop Galaia 3:28 – “tidak ada laki-laki atau perempuan … di dalam Kristus Yesus” (“Women’s History Month,” The Christian Post, 7 Mar. 2021). Dia melupakan perintah Allah yang jelas dalam 1 Timotius 2:12. Pada tahun 1875, Pauline Martindale ditahbiskan menjadi penatua di Methodist Protestant Church. Pada tahun 1888, Disciples of Christ menahbiskan Clara Babcock sebagai gembala sidang. Pada tahun 1889, Ella Niswonger menjadi perempuan pertama yang ditahbiskan oleh United Brethren Church. Assemblies of God (Sidang Jemaat Allah) menahbiskan perempuan mulai dari berdirinya mereka pada tahun 1914, dan pada tahun 2018 memilih Donna Barrett sebagai sekretaris jenderal perempuan yang pertama. Pada tahun 1956, Presbyterian Church USA menahbiskan “clergyperson” perempuan pertama mereka, yaitu Margaret Towner. United Methodist Church, yang dibentuk tahun 1968, memberikan “hak penuh kependetaan” kepada perempuan sejak berdirinya mereka. Pada tahun 1970, Association of Evangelical Lutheran Churches yang baru terbentuk mem-voting untuk mengizinkan penahbisan perempuan. Dua tahun sebelumnya, Church of the Advocate di Philadelphia, sebuah gereja Episkopal, telah menahbiskan 11 perempuan, bertentangan dengan aturan denominasi mereka. Charles Willie, yang berkhotbah dalam kebaktian tersebut, mendeklarasikan bahwa “adalah tugas kristiani untuk melanggar hukum yang tidak adil” (“11 Women Ordained,” New York Times, 30 Juli 1974). Dia salah. Adalah tugas kristiani untuk “mematuhi Allah lebih dari manusia” (Kis. 5:29), tetapi Allah menentang penahbisan perempuan. Rasul Paulus menyatakan, “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Tim. 2:12). Penahbisan perempuan adalah kesesatan akhir zaman.

Posted in Gereja, Wanita | Leave a comment

Agensi Adopsi Kristen Terbesar di Amerika Mendukung Orang Tua LGBT

(Berita Mingguan GITS 13 Maret 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Bethany Christian Services, agensi Kristen untuk pengadopsian anak terbesar di Amerika, telah mengumumkan bahwa mereka sekarang terbuka untuk menempatkan anak-anak pada orang tua sesama jenis. Empat tahun lalu, negara bagian tempat markas Bethany, yaitu Michigan, menuntut agar agensi tersebut menempatkan anak-anak pada orang tua LGBT untuk pemeliharaan dan adopsi. Ini adalah hasil dari serangkaian gugatan hukum yang diajukan pada tahun 2017 oleh American Civil Liberties Union (ACLU), untuk memaksa “agensi-agensi yang berbasiskan agama” untuk melayani keluarga LGBT. Bethany memilih untuk tunduk kepada pemerintah daripada kepada Firman Allah. Sekarang agensi tersebut telah melebarkan keputusan tersebut ke semua dari 35 negara bagian di mana mereka beroperasi. Presiden Bethany, Chris Pulasky, memberitahu para pekerja mereka bahwa “Bethany tetap teguh pada iman Kristiani” (“Bethany Christian,” Christianity Today, 1 Mar. 2021). Tetapi itu tidak mungkin. Dalam Roma 1:26-28, iman Kristen menyebut homoseksualitas sebagai sesuatu yang keji bagi Allah, dan dalam 1 Korintus 6:9-11, menyebutnya dosa yang harus ditinggalkan dalam keselamatan. Ketika diharuskan untuk memilih apakah akan menaati hukum manusia atau hukum Allah, para Rasul Kristus “menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis. 5:29). Itu baru kesetiaan sejati kepada “iman Kristen.”

Editor: Banyak orang Kristen berkata bahwa kita harus tunduk kepada pemerintah. Itu adalah benar, karena pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah kepada para penjahat. Oleh sebab itulah orang Kristen taat peraturan lalu lintas, membayar pajak, tidak melakukan kriminalitas, menuruti undang-undang, dan banyak lainnya. Tetapi, ingat bahwa orang Kristen menaati pemerintah karena Allah, yaitu karena pemerintah adalah “hamba Allah.” Ketika pemerintah memaksa sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip Allah, maka ia bukan lagi hamba Allah, dan setiap orang percaya harus memilih untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Jika pemerintah memaksa orang Kristen untuk menormalkan LGBT, kita harus menolak. Jika pemerintah melarang untuk menginjil, kita harus menolak. Jika pemerintah melarang untuk berjemaat, kita harus menolaknya. Kesetiaan orang Kristen adalah kepada Allah, dan dari sana mengalir juga ketundukan kepada otoritas lainnya, seperti rakyat kepada pemerintah, anak kepada orang tua, hamba kepada tuan, dan istri kepada suami. Ketundukan kepada otoritas-otoritas lain ini tidak boleh mengatasi ketundukan kita kepada Allah sendiri.

Posted in LGBT, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Hati-Hati terhadap Pikiran yang Gelap

(Berita Mingguan GITS 13 Maret 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam Roma pasal 1, rasul Paulus menggambarkan kejatuhan rohani dan moral dari umat manusia. Berawal dari penolakan akan Allah dan berpusat pada pikiran-pikiran, imajinasi-imajinasi jahat dari hati. “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap” (Rom. 1:21). Hasilnya adalah penyembahan berhala dari kebengkokan moral (Rom. 1:23-28). Jalan menurun ini berpusat pada “hawa nafsu yang memalukan” dan “pikiran-pikiran terkutuk” (Rom. 1:26, 28). Ini adalah hasil akhir jika kita membiarkan pikiran untuk bermain-main dengan hal-hal yang kotor dan jahat. Ketika seseorang membiarkan pikirannya terus berdiam pada kejahatan, membiarkan dirinya menyenangi dan mengejar kejahatan dalam imajinasinya, maka ia membuka pintu kepada segala hal jahat. Petugas FBI bagian profil penjahat, Robert Kessler, yang telah mempelajari banyak pembunuh serial, mengatakan, “Riset saya meyakinkan saya bahwa kuncinya bukanlah pada trauma masa kecil, tetapi pada berkembangnya pola pikir yang bengkok. Orang-orang ini termotivasi untuk membunuh oleh karena fantasi mereka. Hal ini terjadi secara bertahap, kata seorang pembunuh. Karena sudah bosan akan level fantasi tertentu, maka akan dibuat fantasi yang semakin hebat dan aneh. … Semua pembunuh yang kami wawancarai mempunyai fantasi yang kuat; mereka membunuh untuk membuat terjadi di dunia nyata apa yang telah mereka lihat berulang kali dan berulang kali dalam pikiran mereka sejak masa anak-anak dan pemuda. Sebagai pemuda remaja, bukannya mengembangkan ketertarikan dan aktivitas yang normal dengan sesama, di dunia nyata tempat mereka tidak bisa mengontrol penuh apa yang terjadi, para pembunuh melarikan diri ke fantasi-fantasi seksual yang penuh kekerasan, di mana mereka bisa mengontrol dunia mereka” (Kessler, Whoever Fights Monsters, hal. 110). Ini adalah peringatan yang nyaring dalam zaman internet dan zaman video game ini, ketika setiap imajinasi gelap yang diinginkan bisa tersedia dengan beberapa klik mouse atau swipe jari. Kita tidak bisa mengontrol apa yang muncul di pikiran, tetapi kita bisa mengontrol apa yang kita sengaja masukkan ke dalam pikiran kita, dan kita bisa mengontrol pikiran kita mau berfokus pada hal apa. Ada pepatah, “Kamu tidak bisa mencegah burung hinggap di kepala mu, tetapi kamu bisa mencegah dia membuat sarang di sana.” Jauh lebih baik untuk terlalu berhati-hati daripada kurang berhati-hati.

Posted in Renungan | Leave a comment