Feminis yang Tidak Konsisten dari Swedia

(Berita Mingguan GITS 25 Maret 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Frontpagemag.com, 17 Feb. 2017: “Jadi, seperti inilah gambaran ringkas feminisme dunia barat di abad 21 ini. Pada awal bulan ini, ketika Gedung Putih (AS) merilis sebuah foto Donald Trump menandatangani sebuah dekrit kepresidenan di hadapan beberapa pejabat laki-laki, Isabella Lovin, Wakil Perdana Menteri Swedia, mengeluarkan foto dirinya sendiri sedang menandatangani sebuah undang-undang tentang perubahan iklim di hadapan beberapa pejabat tinggi wanita. Jelas sekali, foto itu dimaksudkan sebagai suatu pernyataan bangga penuh tantangan dari kaum wanita untuk menghadapi yang mereka anggap ancaman terbesar dunia terhadap kesetaraan dan kehormatan wanita – yaitu orang baru di Oval Office [Editor: Donald Trump maksudnya]. Memang, pemerintah Swedia yang sekarang ini, yang kabinetnya terdiri dari dua belas lelaki dan dua belas wanita, telah memproklamirkan diri sebagai ‘pemerintah feminis pertama di dunia.’ Artikel Buzzfeed tentang momen kemenangan ini diberi judul: ‘Apakah Pemerintah Swedia Baru Saja Melakukan Trolling Luar Biasa Terhadap Donald Trump dengan Foto yang Berisi Semua Wanita Ini?’ Tetapi betapa drastis perubahan yang terjadi dalam beberapa minggu. Beberapa hari lalu, sebuah delegasi Swedia yang terdiri dari empat lelaki dan sebelas wanita berperjalanan ke Tehran, untuk membuat kesepakatan dengan para mullah Iran. Selama kunjungan mereka itu, para wanita tersebut, yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan Ann Linde, memakai hijab dengan jubah-jubah panjang tak berbentuk yang jelas dipilih untuk memberikan ‘kesopanan’ maksimum. Dalam satu foto, nampak para anggota wanita dari delegasi Swedia tersebut melewati Presiden Iran, Hassan Rouhani, dan apa yang terjadi sangatlah menarik: dalam postur mereka, dalam raut wajah mereka, tidak terlihat sama sekali gambaran menantang yang mereka berikan kepada Trump yang digambarkan sebagai serigala besar dan jahat. Mereka semua memakai celana panjang gelap. Wajah wanita yang paling terlihat jelas dalam foto itu terlihat sangat taat dan menerima. Tampangnya bisa saja cocok pada wajah seorang biarawati desa yang akan bertemu Paus. Tangan kanannya ada pada dada, sebuah sinyal bahwa Rouhani tidak perlu takut dia akan mencoba menyalami tangannya. Ada foto lain yang memperlihatkan Linde sendiri dengan jelas sedang menunduk di hadapan seorang pejabat Iran. ‘Pemerintah feminis pertama di dunia,’ yang me-ngetroll Trump secara luar biasa, ternyata secara efektif mengkomunikasikan kepada Iran sebuah pesan ketundukan diri yang hampir tidak dapat ditambah lagi.”

This entry was posted in Wanita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *