Zaman yang Terseksualisasi

Oleh David Cloud, cuplikan dari buku Spiritual Safety in the Age of Facebook

Belum pernah ada zaman yang diseksualisasikan sedemikian rupa. Kerajaan-kerajaan kuno mempunyai patung-patung dewi yang telanjang dan pelacur-pelacur di kuil Aphrodite dan pesta seks Bacchus, tetapi mereka belum mempunyai percetakan berwarna, film, televisi, MTV, dan internet.

Sifat manusia yang sudah jatuh dalam dosa mempunyai selera yang tak terpuaskan untuk seks yang tidak benar. Empat karakter pertama dari kedagingan adalah “perzinahan, percabulan, kecemaran, hawa nafsu” (Gal. 5:19, lihat KJV), yang semuanya berhubungan dengan seksualitas yang tidak benar. Untuk sifat kedagingan yang sudah jatuh, “air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya” (Ams. 9:17). Selera dosa tidak bisa dipuaskan. “Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas” (Ams. 27:20). Inilah mengapa kebejatan bertambah ketika daging dipuaskan. Ini menjelaskan munculnya biseksualitas, homoseksualitas, sadomasokisme, pedofilia dan bestiality. Ini mengapa legalisasi prostitusi adalah ide yang buruk. Alkitab mengatakan bahwa “perempuan jalan . . . memperbanyak pengkhianat di antara manusia” (Ams. 23:27-28).

Amsal menggambarkan perempuan yang immoral (asing) pada abad 11 SM. Dia mengenakan pakaian sundal dan mempunyai mulut yang sangat licin (Ams. 7:10-21). Matanya dipermak (Ams. 6:25). Dia keluar “pada waktu senja, pada petang hari, di malam yang gelap,” menemukan seorang pemuda dan berkata “Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara” (Ams. 7:18).

Pada zaman Salomo, perempuan asing perlu beroperasi di dalam kegelapan untuk menemukan seorang laki-laki, dan seorang laki-laki harus berusaha mencari dia.

Hari ini, “perempuan asing” ini muncul di milyaran foto, film, video YouTube, dan siapapun bisa berkomunikasi dengan dia hanya dengan meng-klik mouse atau menyentuh layar. Dewi ini ada di mana-mana; perempuan asing ini ada di segala tempat!

 

Industri musik sudah diseksualisasi sedemikian rupa. “…. itulah inti dari rock – seks dengan bom 100 megaton, yaitu beat-nya” (Gene Simmons dari KISS, Entertainment Tonight, ABC, 10 Des. 1987).

Industri fashion sudah diseksualisasi.

Industri periklanan sudah diseksualisasi.

Industri film sudah diseksualisasi.

Media sosial sudah diseksualisasi.

Media berita sudah diseksualisasi, sudah penuh dengan “soft porn” yang berdasarkan standar hari ini sangat ringan, tetapi adalah penuh percabulan berdasarkan standar Allah bahwa “setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:28).

National Center on Sexual Exploitation (NCOSE) memberi peringatan, “Porn-ifikasi dari kebudayaan (misal: porno softcore, gambar-gambar yang hiperseksual) sudah tersebar di mana-mana, dari lorong kasir supermarket hingga iklan-iklan, entertainment populer, email-email yang tidak diminta, dan lebih lagi. …. Pornografi sudah menjadi krisis kesehatan publik.”

Seksualisasi ini menargetkan kelompok umur yang semakin muda. Pada tahun 1990an, yang menjadi target adalah anak-anak remaja. “Majalah Seventeen adalah contoh baik proses normalisasi dari hiper-seksualisasi. Jika kamu melihat kit media mereka, kamu akan menemukan bahwa mereka ‘menjual’ bagi para sponsor iklan mereka akses kepada pangsa pasar remaja mulai dari usia 12. …Banyak dari konten mereka berfokus pada topik-topik seperti: bagaimana menggoda lawan jenis dengan cara yang benar, bagaimana punya ciuman yang hebat, dan mengetahui kapan kamu siap untuk seks” (Weinberger, The Boogeyman Exists).

Smartphone dan media sosial terlebih lagi menurunkan usia seksualisasi ini. Sebuah penelitian oleh app khusus orang tua, Jiminy, yang diterbitkan pada Desember 2019, menemukan bahwa 15% dari anak perempuan 8 tahun yang punya handphone, sudah terpapar kepada sexting, 24% pada usia 10 tahun, 37% pada usia 13 tahun, dan 44% pada usia 16 tahun. Hampir 25% dari anak-anak 13 tahun pernah diminta untuk mengirimkan foto bugil diri mereka sendiri (blog.jiminy.me). Laporan itu memperingatkan, “Sexting dengan cepat menjadi bentuk normatif dari eksplorasi seksual di antara anak-anak pra-remaja dan remaja. Dengan demikian, orang tua harus mengantisipasi kemungkinan riil bahwa anak-anak mereka akan didekati oleh orang lain, yang dikenal ataupun tidak, atau mendekati anak lain secara seksual.”

Sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa di antara mahasiswa laki-laki, 49% bertemu dengan pornografi sebelum umur 13 tahun (“Pornography and Public Health,” National Center on Sexual Exploitation).

Sebuah studi tahun 2020 oleh British Board of Film Classification (BBFC) menemukan bahwa “melihat pornografi sudah dinormalisasi di antara anak-anak sejak pertengahan umur belasan dan seterusnya, dan lebih banyak ditemukan di jaringan-jaringan seperti Snapchat dan WhatsApp daripada situs pornografi yang dikhususkan” (“Porn survey reveals extent of UK teenagers’ viewing habits,” The Guardian, 31 Jan. 2020).

Zaman yang terseksualisasi ini sudah menghasilkan gerakan uniseks dan LGBT, yang semuanya adalah mengenai melakukan apapun yang saya inginkan dengan siapapun yang saya inginkan kapanpun saya inginkan.

Jelas ini adalah zaman untuk super waspada terhadap bahaya moral, lebih dari zaman-zaman lain dalam sejarah, baik untuk individu maupun untuk pemimpin gereja dan orang tua.

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age, Separasi dari Dunia / Keduniawian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *