{"id":1617,"date":"2013-04-27T12:08:11","date_gmt":"2013-04-27T05:08:11","guid":{"rendered":"http:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/?p=1617"},"modified":"2013-04-27T12:08:11","modified_gmt":"2013-04-27T05:08:11","slug":"apakah-iman-pemberian-allah-atau-tanggung-jawab-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/2013\/04\/apakah-iman-pemberian-allah-atau-tanggung-jawab-manusia\/","title":{"rendered":"Apakah Iman Pemberian Allah atau Tanggung Jawab Manusia?"},"content":{"rendered":"<p align=\"JUSTIFY\">Orang Kristen yang percaya Alkitab mempercayai apa yang Paulus katakan dan ajarkan, bahwa \u201ckeselamatan\u201d adalah \u201coleh iman kepada Kristus Yesus\u201d (2 Tim. 3:15). Kebenaran ini bukan hanya satu dua kali diserukan, tetapi berulang kali diajarkan dan ditekankan oleh penulis-penulis yang terinspirasi. Jadi, iman adalah komponen yang sangat penting dalam keselamatan, yaitu menjadi syarat keselamatan. Oleh karena pentingnya iman dalam keselamatan, sangatlah penting bagi orang percaya untuk memahami secara persis tentang iman itu sendiri.<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Dalam artikel pendek ini, isu yang dibahas adalah mengenai asal usul iman. Apakah iman berasal dari Allah sebagai suatu pemberian, ataukah iman adalah respons manusia, suatu tanggung jawab individu? Isu ini adalah sesuatu yang memisahkan antara Kalvinis dan non-Kalvinis.<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><!--more--><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Kalvinisme mengusung konsep bahwa keselamatan seseorang sebenarnya ditentukan oleh Allah dalam kekekalan melalui dekrit rahasia. Penentuan Allah atas keselamatan seseorang ini bersifat <i>tidak bersyarat <\/i>(unconditional election). Jadi, dalam Kalvinisme, seseorang yang dipilih untuk diselamatkan, akan dilahirbarukan (tanpa dapat ditolak, <i>irresistible grace<\/i>), dan kemudian <i>pasti<\/i> akan menjadi percaya, atau dengan kata lain <i>dibuat<\/i> menjadi percaya. Dengan demikian, posisi Kalvinis secara alami adalah bahwa iman, atau percayanya seseorang, itu sebenarnya tergantung kepada Allah. Kalau Allah memilih seseorang, maka Allah akan melahirbarukannya, dan ia akan percaya. Percaya atau iman adalah salah satu dari mata rantai tindakan Allah pada diri orang pilihan. Oleh karena itu, Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">G. J. Baan adalah tipikal Kalvinis ketika ia menulis: \u201cIman ini dikerjakan oleh Roh Kudus, yang adalah <i>Pekerja <\/i>dan <i>Penanam <\/i>iman. Melalui Panggilan dan kelahiran kembali, Roh Kudus telah menanamkan iman di dalam hati.\u201d<a href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>1<\/sup><\/a> Perhatikan kata \u201cmenanamkan\u201d yang dipakai. Dalam skema Kalvinis, manusia sama sekali pasif, tidak bertanggung jawab untuk ada atau tidak adanya iman di dalam dirinya. Roh Kuduslah yang \u201cmenanam,\u201d yang mengerjakan melalui \u201cpanggilan\u201d dan \u201ckelahiran kembali.\u201d<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Sebaliknya, non-Kalvinis melihat bahwa iman adalah tanggung jawab dan respons manusia terhadap Injil keselamatan. Iman adalah sikap percaya dan menerima karya keselamatan yang lengkap diselesaikan oleh Yesus Kristus. Ada banyak ayat Alkitab yang mengajarkan hal ini, yang akan dipaparkan nanti, tetapi artikel ini ingin mengemukakan bahwa sebenarnya non-Kalvinis (yang Alkitabiah) tidak menentang konsep bahwa iman adalah karunia Allah. Ini mungkin mengejutkan, tetapi dapat ditegaskan bahwa non-Kalvinis juga bisa melihat iman sebagai karunia atau pemberian Allah! Tentu paham \u201ckarunia\u201d atau \u201cpemberian\u201d di sini berbeda dengan paham Kalvinis.<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah, tetapi dalam pengertian yang tidak bertentangan dengan konsep bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Artinya, non-Kalvinis dapat mengakui kedua kebenaran ini: iman adalah karunia\/pemberian Allah, sekaligus juga adalah tanggung jawab manusia.<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Secara lebih mendetil, bisa dikatakan bahwa iman adalah karunia Allah bagi manusia karena beberapa hal. Pertama, manusia tidak mungkin bisa beriman kepada Allah tanpa dimampukan oleh Roh Kudus. Sebagian Kalvinis mengira bahwa non-Kalvinis percaya manusia bisa percaya kepada Yesus dengan kemampuannya sendiri. Hal ini sama sekali tidak benar untuk non-Kalvinis yang Alkitabiah.<a href=\"#sdfootnote2sym\" name=\"sdfootnote2anc\"><sup>2<\/sup><\/a> Alkitab tegas mengatakan bahwa \u201c<span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.\u201d <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">A<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">yat ini tidak perlu dibaca dengan pengertian Kalvinistik, tetapi ayat ini menegaskan bahwa kemampuan untuk datang kepada Yesus adalah suatu karunia.<a href=\"#sdfootnote3sym\" name=\"sdfootnote3anc\"><sup>3<\/sup><\/a> <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Tanpa tindakan Allah menarik manusia, ia tidak mungkin beriman.<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Kedua, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">iman adalah karunia Allah karena Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk beriman. Allah bisa saja memusnahkan manusia sebelum ada kesempatan untuk beriman. Tetapi setiap orang <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">percaya <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">haruslah mengucap syukur bahwa Allah memberikannya <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">waktu dan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">kesempatan untuk beriman. Itu adalah suatu karunia. Selain itu, iman juga bisa dikatakan karunia Tuhan karena Tuhan-lah yang menyediakan objek iman, yaitu Yesus Kristus. Jika Yesus Kristus tidak datang ke dalam dunia, tidak ada yang dapat kita imani untuk keselamatan kita. Dari ini semua, cukup jelas bahwa iman adalah karunia Allah.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Tetapi, penjelasan tentang karunia iman di atas tidaklah bertentangan dengan konsep alkitabiah bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Artinya, walaupun Allah memampukan seseorang untuk beriman (melalui kerja Roh Kudus dalam hatinya), dan memberikan kesempatan dia untuk beriman, dan menunjukkan kepadanya Yesus Kristus sebagai objek iman, orang yang bersangkutan itu sendirilah yang harus beriman. Tidak mungkin juga Tuhan yang beriman untuk orang tersebut. Dan ada kemungkinan bahwa walaupun Roh Kudus sudah bekerja dalam hati seseorang untuk menarik dia kepada Yesus, orang itu tetap menolak untuk beriman. Keputusan untuk beiman atau tidak beriman tetap merupakan tanggung jawab individu. <\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Jadi, iman adalah karunia, karena Allah memampukan manusia beriman (dan hal-hal lain), tetapi iman juga tanggung jawab karena keputusan untuk beriman atau tidak tetap adalah respons individu, bukan ditentukan oleh Allah. Konsep karunia seperti ini cocok dengan konsep karunia pada umumnya. Jikalau seseorang memberikan kepada temannya suatu karunia, atau hadiah, orang itu tetap dapat merespon, menerima atau menolak hadiah tersebut. Sekalipun seseorang tidak perlu membayar, atau bekerja, tetap saja ia harus memilih untuk menerima suatu hadiah. Kalau ia tidak menerimanya, maka hadiah yang sudah disediakan baginya itu tidak akan dapat ia nikmati. Ini paralel dengan keselamatan atau iman yang adalah karunia, namun tanpa menghilangkan adanya tanggung jawab untuk menerima karunia itu.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Jika demikian, apakah konsep non-Kalvinis ini menjadi sama dengan Kalvinis? Bukankah keduanya mengakui bahwa iman adalah karunia Allah? Tidak juga. Pertama, Kalvinis tidak mau menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">atau respons <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">manusia. Dan, mereka memiliki konsep yang berbeda tentang iman sebagai \u201ckarunia Allah.\u201d Konsep Kalvinis adalah bahwa <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">kalau seseorang dipilih, maka ia pasti beriman. Iman <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">dalam Kalvinisme <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">adalah salah satu hasil pemilihan. Dengan demikian, sebenarnya posisi Kalvinis adalah bahwa iman adalah karunia <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, selaras dengan pengajaran mereka tentang <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>irresistible grace<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Terkadang, dalam perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis, ada non-Kalvinis yang menentang konsep \u201ciman adalah pemberian Allah.\u201d Tetapi, yang ditentang sebenarnya adalah \u201ckarunia\u201d dalam pengertian \u201ctidak dapat ditolak.\u201d Non-Kalvinis tidak menentang konsep iman sebagai karunia yang tetap harus diterima, tetapi bisa juga ditolak, oleh manusia.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Jadi<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah tanggung jawab manusia, dan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">JUGA <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">karunia Allah. Tanpa kerja Roh Kudus, kesempatan yang Allah berikan, dan objek iman Yesus Kristus, manusia berdosa tidak mungkin bisa beriman. Namun, setiap individu tetap harus bertanggung jawab untuk beriman. Ia bisa menolak tarikan Allah. Sebaliknya, Kalvinis mengajarkan iman sebagai suatu pemberian\/karunia yang tidak dapat ditolak. Pembaca sekalian bisa memutuskan, apakah sesuatu cocok untuk disebut karunia jika tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia tetap harus diterima. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Bagian berikut artikel ini akan membahas yang mana dari kedua model ini yang benar, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">berdasarkan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">ayat-ayat Alkitab, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">dan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">argumentasi lainnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: large;\"><b><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\">A. Iman <\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\">A<\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\">dalah Karunia <\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\">Allah<\/span><\/b><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Kalvinis terkadang menunjuk kepada ayat-ayat Alkitab yang mengindikasikan bahwa iman adalah suatu karunia, dan mereka berpikir bahwa hal ini membenarkan Kalvinisme. Tetapi, sebenarnya, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">seperti yang sudah dibahas di atas, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">non-Kalvinis yang alkitabiah juga percaya bahwa iman adalah karunia, jadi ayat-ayat ini tidaklah mendukung Kalvinisme. Kalvinisme baru akan terbukti <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">benar<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> jika ada ayat yang <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">mengajarkan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">bahwa iman adalah karunia <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Tetapi tidak ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>karunia yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Berikut adalah beberapa ayat yang <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">terkadang <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">disalahgunakan.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Filipi 1:29<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> \u201c<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia\u201d<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Ayat ini sering dipakai untuk membuktikan bahwa \u201ciman adalah karunia.\u201d Tetapi <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">sekali lagi<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, konsep demikian tidaklah membahayakan bagi non-Kalvinis. Sebaliknya, kita bertanya, apakah ayat ini membicarakan karunia<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i> yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, ataukah suatu karunia dalam pengertian normal, yaitu sesuatu yang bisa ditolak dan bisa diterima?<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Poin ayat ini sebenarnya adalah untuk menegarkan orang percaya terhadap penderitaan yang akan datang dalam perjuangan hidup Kristiani. Karunia untuk percaya diparalelkan dengan karunia untuk menderita bagi Kristus. Bagaimanakah \u201cmenderita bagi Kristus\u201d bisa dianggap karunia? Apakah hal itu terjadi tanpa tanggung jawab manusia. Apakah seseorang ditentukan untuk menderita bagi Kristus secara sepihak oleh Tuhan, ataukah ada respons manusia yang dituntut?<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Ada banyak ayat yang menegaskan tanggung jawab manusia untuk ikut menderita dalam perjuangan Kristiani. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Misalnya, Paulus berkata <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">\u201cIkutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus\u201d (2 Tim. 2:3). <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Penderitaan bukanlah sesuatu tanpa tanggung jawab manusia. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Ada ajakan untuk ikut menderita, ada respons manusia yang diminta oleh Tuhan.<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Namun demikian, menderita juga <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">disebut karunia karena kemuliaan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Tuhan janjikan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">menyertai penderitaan itu. Jadi, ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep iman sebagai <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>karunia yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, tetapi cocok dengan konsep iman sebagai karunia dalam pengertian non-Kalvinis, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">yaitu karunia yang tetap menuntut respons manusia.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Efesus 2:8<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> \u201cSebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah\u201d<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Kalvinis terkadang memakai ayat ini untuk mengatakan bahwa \u201ciman\u201d adalah pemberian Allah, dan lebih lanjut lagi, bukanlah \u201chasil usahamu,\u201d sehingga bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi pengertian seperti ini sangatlah salah dan asing bagi ayat ini. Pertama, iman memang bukan usaha atau pekerjaan, melainkan suatu sikap menerima pemberian Allah. Jadi, iman bisa saja memang \u201cbukan usaha\u201d tetapi adalah \u201ctanggung jawab\u201d manusia. Tidak semua \u201ctanggung jawab\u201d adalah \u201cusaha.\u201d<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">Kedua, Kalvinis salah me<span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">nafsirkan frase \u201cit<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">u<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> bukan hasil usahamu.\u201d Mereka melihat kata \u201citu\u201d mengacu kepada iman. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Gill, berkomentar tentang Efesus 2:8 dengan berkata, \u201c&#8230;dan iman ini bukanlah hasil kehendak bebas dan kuasa manusia, tetapi adalah pemberian bebas dari Allah.\u201d<a href=\"#sdfootnote4sym\" name=\"sdfootnote4anc\"><sup>4<\/sup><\/a> <\/span><\/span>Padahal, frase \u201citu bukan hasil usahamu\u201d tidak mungkin mengacu kepada iman jika ditilik dari bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani, \u201ciman\u201d berasal dari kata <i>pistis<\/i>, suatu kata benda feminim. Sedangkan, kata \u201citu\u201d dalam ayat ini adalah kata <i>touto<\/i>, suatu kata penunjuk netral. Jadi, secara grammatis, tidak mungkin suatu kata penunjuk netral mengacu kepada kata benda feminim. Sebenarnya, \u201citu\u201d yang dimaksud adalah konsep keselamatan yang dibahas Paulus dalam perikop ini. \u201cKeselamatan\u201d bukan hasil usaha manusia, tetapi pemberian Allah. Tentu non-Kalvinis sangat setuju bahwa keselamatan adalah pemberian Allah. Justru hal ini membuat kita kembali kepada pertanyaan, bukankah suatu \u201cpemberian\u201d seharusnya bisa ditolak dan bisa diterima? Ayat ini sama sekali tidak mendukung iman sebagai karunia <i>yang tidak bisa ditolak<\/i>.<\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><b>2 Tesalonika 3:2<\/b> \u201c<span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat, sebab bukan semua orang beroleh iman.\u201d<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Ayat ini sekilas tampak mengajarkan bahwa orang-orang jahat adalah orang-orang yang tidak \u201cberoleh\u201d iman. Jadi, mereka tidak diberikan iman (oleh Tuhan), sehingga mereka tetap orang jahat. Tetapi penafsiran seperti in tentu sangat berbahaya, karena ujung-ujungnya mempersalahkan si pemberi iman (kenapa tidak memberikan iman kepada mereka). Selain itu, penafsiran ini didasarkan kepada penerjemahan yang salah. LAI melakukan kesalahan besar dalam penerjemahan ayat ini dengan memakai kata \u201cberoleh.\u201d<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Pengertian sebenarnya ayat ini tercermin dalam terjemahan yang lebih baik. KJV misalnya, berbunyi, \u201cAnd that we may be delivered from unreasonable and wicked men: for all <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>men <\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">have not faith.<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">\u201d Jadi, \u201ctidak semua orang <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i><b>memiliki<\/b><\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">iman.\u201d Itulah sebabnya mereka jahat, karena mereka tidak memiliki iman. Ayat ini sama sekali tidak berbicara mengenai asal usul iman itu, tetapi mempersalahkan orang-orang itu sendiri, mereka jahat karena tidak beriman. <\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Roma 12:3<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> \u201c&#8230; tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.\u201d<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Ayat ini berbicara mengenai iman yang dikaruniakan Allah. Tetapi, ada beberapa alasan mengapa ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep Kalvinis tentang iman sebagai <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>karunia yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">. Terutama adalah fakta bahwa perikop ini sama sekali bukan berbicara mengenai iman keselamatan. Perikop ini berbicara mengenai iman sebagai salah satu karunia rohani, yang diberikan kepada seseorang yang sudah percaya Yesus. Karunia rohani yang sama disinggung Paulus dalam 1 Korintus 12:9, \u201cKepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.\u201d Tidak mungkin ini mengacu kepada iman keselamatan, karena tidak semua orang yang selamat mendapatkan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">karunia ini<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">. Karunia rohani ini mengacu kepada kemampuan yang Tuhan berikan kepada orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal besar bagi Tuhan berdasarkan iman. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Iman dalam Roma 12:3 dan 1 Korintus12:9 berkenaan dengan iman dalam pelayanan khusus.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>2 Petrus 1:1<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> \u201cDari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.\u201d<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Ayat ini juga terkadang dipakai Kalvinis untuk mengajarkan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah. Tetapi, sekali lagi perlu ditekankan, sistem non-Kalvinis tidaklah anti dengan konsep iman sebagai karunia, bahkan non-Kalvinis mengajarkan bahwa iman adalah karunia sekaligus tanggung jawab. Yang tidak dipercayai non-Kalvinis, adalah implikasi Kalvinisme bahwa iman adalah <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>karunia yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, dan yang tidak melibatkan tanggung jawab manusia.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa iman adalah <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>karunia yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, itu harus dibaca oleh Kalvinis ke dalam teks. Orang percaya memperoleh iman dari Tuhan, itu benar! Apakah ini menghilangkan tanggung jawab manusia? Sama sekali tidak! Jika seseorang berkata bahwa ia memperoleh ilmu dari gurunya, apakah itu berarti ia tidak bertanggung jawab untuk belajar? Iman adalah karunia Tuhan, tetapi manusia bertanggung jawab untuk menerima karunia itu. Bagian berikut akan mempertegas hal ini.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Apakah Iman itu Usaha atau Jasa?<\/b><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Kalvinis sering mengatakan, bahwa jika iman itu bukan kasih karunia (yang tidak dapat ditolak), melainkan respons manusia, maka iman menjadi semacam jasa yang dapat dibanggakan oleh manusia. Dengan kata lain, mereka menuduh iman versi non-Kalvinis sebagai \u201cusaha manusia\u201d atau \u201cjasa.\u201d Tetapi, ini adalah logika mereka sendiri. Iman itu tidak lain dari sikap menerima. Apakah menerima suatu hadiah bisa dikatakan suatu jasa? Apakah menerima hadiah berarti ikut bekerja untuk hadiah itu? Sama sekali tidak! Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tuduhan Kalvinis bahwa iman (non-Kalvinis) adalah jasa\/usaha, silakan llihat artikel lain di <\/span><\/span><a href=\"http:\/\/graphe-ministry.org\/downloads\/Perbedaan_Kalvinis_dengan_non-Kalvinis(1).pdf\">http:\/\/www.graphe-ministry.org\/downloads\/Perbedaan_Kalvinis_dengan_non-Kalvinis(1).pdf<\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>B. Iman Adalah Tanggung Jawab Manusia<\/b><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Manusia diperintahkan untuk percaya!<\/b><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Ketika kepala penjara Filipi bertanya tentang apa yang harus ia <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>lakukan<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> untuk diselamatkan, Paulus tidak berkata, \u201cTidak ada apa-apa <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">yang bisa kamu lakukan<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">. Silakan menantikan pemberian iman, jika memang engkau orang pilihan.\u201d Tidak, sebaliknya, Paulus berkata, \u201cPercayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu\u201d (Kis. 16:31). Ada sesuatu yang harus ia lakukan, bukan dalam pengertian suatu usaha atau pekerjaan, atau jasa, tetapi ada tanggung jawab untuk beriman.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Perintah untuk beriman kepada Yesus merupakan inti dari Injil, dan sudah dikumandangkan sejak semula. Tuhan Yesus sendiri memulai pelayananNya dengan menekankan tanggung jawab ini: \u201cWaktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!\u201d (Mar. 1:15). Belakangan Ia juga berkata, \u201cJanganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.\u201d Ini adalah perintah.<a href=\"#sdfootnote5sym\" name=\"sdfootnote5anc\"><sup>5<\/sup><\/a> Manusia diperintahkan untuk percaya! Jelas ini menunjuk kepada suatu tanggung jawab! Jika iman adalah suatu <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>pemberian yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, maka sama sekali tidak ada gunanya untuk memerintahkan hal ini. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Lebih masuk akal untuk meminta Allah memberikan iman, daripada memerintahkan manusia untuk percaya!<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Posisi Kalvinis bagaikan seorang guru yang secara rahasia menyelipkan pita-pita biru ke dalam tas sebagian murid-muridnya pada saat mereka beristirahat. Lalu guru ini memberikan perintah kepada semua murid untuk memiliki pita biru, padahal tidak ada cara untuk memperoleh pita biru itu kecuali melalui \u201cpemberian\u201d guru tadi. Apakah tanggapan kita tentang perintah guru demikian? Tentunya ini adalah suatu perintah yang aneh. Guru itu tahu bahwa yang tidak dia berikan pita biru tidak mungkin memiliki pita biru. Lebih lagi, yang sudah dia berikan pita biru (secara rahasia) tidak perlu diperintah. Perintah ini menjadi sesuatu yang sama sekali tidak berguna, dan boleh dikategorikan sebagai suatu sandiwara.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Demikian juga jika iman dikonsepkan sebagai suatu <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>pemberian<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, maka semua perintah Tuhan agar manusia percaya dan bertobat kepadaNya menjadi tidak berguna, dan tidak lebih dari suatu sandiwara.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Ketidakpercayaan adalah pilihan manusia<\/b><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Ibrani 3:12 berbunyi, \u201cWaspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.\u201d Ayat ini dengan jelas mengajarkan bahwa sikap tidak percaya adalah pilihan manusia, dan suatu pilihan yang dapat dihindari. Oleh sebab itu, penulis menghimbau audiensnya untuk jangan menjadi tidak percaya. Tetapi ini berarti audiens kitab Ibrani bisa memilih untuk percaya! Itu berarti percaya adalah tanggung jawab manusia yang bisa ia pilih.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Manusia dipuji Tuhan berdasarkan imannya<\/b><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Ada beberapa perikop yang memperlihatkan pujian Tuhan (atau sejenisnya) atas iman manusia. Matius mencatat: \u201c<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: &#8220;<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Hai ibu, besar imanmu<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.&#8221; Dan seketika itu juga anaknya sembuh\u201d (Mat. 15:28). Lukas mencatat, \u201cSetelah Yesus mendengar perkataan itu, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Ia heran akan dia<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: &#8216;Aku berkata kepadamu, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, sekalipun di antara orang Israel!&#8217;\u201d (Luk. 7:9). Jika memang iman adalah pemberian yang tidak dapat ditolak, untuk apa Yesus heran akan iman perwira yang dicatat dalam Lukas pasal 7? Bukankah iman itu diberikan oleh Yesus sendiri (oleh Allah) secara tidak dapat ditolak? Jika saya memberikan sebuah rumah besar kepada seseorang, lalu mengunjungi rumah orang tersebut, akankah saya heran bahwa rumahnya besar? Ini hal yang sangat konyol. Tetapi, jika iman tetap menyertakan porsi tanggung jawab manusia, maka pujian Tuhan terhadap iman ibu di Matius, atau perwira di Lukas, adalah pujian yang tulus, bukan sandiwara murahan.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Manusia dituntut tanggung jawabnya untuk percaya<\/b><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Pertanyaan mendasar adalah: jika iman bukan tanggung jawab manusia, bagaimana bisa Tuhan menuntut pertanggungan jawab manusia untuk percaya? Tetapi jelas Allah menuntut tanggung jawab dari manusia yang tidak percaya! \u201cBarangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>sebab ia tidak percaya<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> dalam nama Anak Tunggal Allah\u201d (Yoh. 3:18). \u201csupaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan\u201d (2 Tes. 2:12). <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Markus mencatat bagaimana Tuhan Yesus mencela ketidakpercayaan sebagian muridNya, \u201cAkhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya\u201d (Mar. 16:14). <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Masih banyak lagi ayat lain yang memperlihatkan bagaimana Tuhan akan menuntut pertanggungan jawab dari orang yang tidak percaya!<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Dalam konsep Kalvinis, iman bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi bagaimana mungkin Allah menuntut manusia bertanggung jawab untuk percaya kalau begitu? <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Bagaimana Tuhan bisa mencela ketidakpercayaan seseorang jika orang itu tidak bisa percaya tanpa disetel untuik percaya oleh Tuhan? <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Lebih lanjut lagi, dalam Kalvinisme, jika seseorang tidak beriman, apakah sebabnya? Tidak lain dan tidak bukan, karena Allah tidak memberikan dia iman. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Jadi, j<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">ika ditarik kepada kesimpulan logisnya, Kalvinisme secara tidak langsung membuat Allah bertanggung jawab atas ketidakberimanan seseorang. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Betapa berbahayanya konsep Kalvinisme ini. <\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Coba kita ganti Yohanes 3:18 menjadi berikut: \u201cBarangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>ia tidak memperoleh iman<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> dalam nama Tunggal Allah.\u201d Tentu saya yakin semua orang Kristen akan protes dengan bunyi ayat yang demikian! Tetapi dalam Kalvinisme, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>tidak memiliki iman<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">sama dengan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>tidak dikaruniakan iman oleh Tuhan<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">. Sebaliknya, konsep non-Kalvinis adalah bahwa Allah memberikan kasih karunia, memampukan seseorang beriman, dan menarik dia, tetapi orang itu bisa menolak atau menerima kasih karunia Allah. Jadi, jika seseorang beriman, itu adalah kasih karunia Allah dan respons manusia. Jika seseorang tidak beriman, itu adalah tanggung jawab dia yang telah menolak karunia Allah. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Ini adalah model yang alkitabiah.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Manusia Dituntut untuk Tetap Percaya<\/b><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Hal lain lagi yang dengan tegas menggarisbawahi tanggung jawab manusia dalam hal iman\/percaya adalah fakta bahwa manusia dituntut Tuhan untuk \u201ctetap percaya.\u201d Jika \u201ctetap percaya\u201d adalah tanggung jawab manusia, maka dapat dipastikan bahwa iman\/percaya itu memang sejak awalnya adalah tanggung jawab manusia.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Banyak ayat yang menyatakan tanggung jawab manusia untuk \u201ctetap percaya.\u201d \u201c<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Sebab itu <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, karena besar upah yang menantinya\u201d (Ibr. 10:35). \u201cDan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>asal kamu teguh berpegang padanya<\/b><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya\u201d <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">(1 Kor. 15:1-2). Masih banyak lagi yang lain. Intinya adalah bahwa hal ini menegaskan iman sebagai tanggung jawab manusia.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>C. Kesimpulan<\/b><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian. Ini adalah deskripsi yang kurang lengkap. Non-Kalvinis juga bisa mengatakan bahwa iman adalah karunia dan pemberian. Gambaran yang lebih tepat adalah bahwa Kalvinis mengajarkan iman sebagai <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>karunia yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">. Non-Kalvinis melihat iman sebagai karunia sekaligus tanggung jawab manusia. Dengan kata lain, iman bisa dilihat sebagai karunia, namun manusia tetap punya tanggung jawab untuk menerima atau menolak suatu karunia. Iman bisa disebut karunia dalam beberapa pengertian, misalnya: Allah memungkinkan manusia untuk beriman; Allah memberi manusia kesempatan untuk beriman; Allah memberikan objek iman (Yesus Kristus) kepada manusia. Pada umumnya manusia mengerti bahwa suatu karunia bisa ditolak dan bisa juga diterima.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Ayat-ayat Alkitab yang diteliti memperlihatkan bahwa memang Allah mengaruniakan iman, tetapi tidak ada ayat yang mengatakan bahwa iman adalah <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>kasih karunia yang tidak dapat ditolak<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">, atau mengindikasikan hal tersebut. Sebaliknya, banyak ayat Alkitab lain yang menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Sebagai kesimpulan, posisi Non-Kalvinis, bahwa iman adalah karunia (yang bisa diterima\/ditolak) sekaligus tanggung jawab manusia, adalah posisi yang Alkitabiah, sedangkan posisi Kalvinis tidak Alkitabiah, tidak logis, dan pada ujungnya mempersalahkan Allah atas ketidakpercayaan manusia.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\">\n<div id=\"sdfootnote1\">\n<p><a href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">1<\/a>G. J. Baan, <i>TULIP<\/i> (Surabaya: Penerbit Momentum, 2009), hal. 130.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote2\">\n<p><a href=\"#sdfootnote2anc\" name=\"sdfootnote2sym\">2<\/a>Bisa saja ada kelompok-kelompok non-Kalvinis yang percaya demikian, tetapi tidak untuk banyak kelompok non-Kalvinis.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote3\">\n<p><a href=\"#sdfootnote3anc\" name=\"sdfootnote3sym\">3<\/a>Kalvinis melihat \u201ctarikan\u201d di ayat ini sebagai irresistible grace, tetapi itu adalah eisegesis. Sebaliknya, Yohanes 12:32 berbunyi, \u201cdan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.\u201d<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote4\">\n<p><a href=\"#sdfootnote4anc\" name=\"sdfootnote4sym\">4<\/a>John Gill, <i>John Gill&#8217;s Exposition of the Entire Bible<\/i>, s.v. Efesus 2:8, diakses dari program <i>The Word<\/i>.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote5\">\n<p><a href=\"#sdfootnote5anc\" name=\"sdfootnote5sym\">5<\/a>Kata \u201cpercaya\u201d (<i>pisteuo<\/i>), muncul 13 kali dalam Perjanjian Baru dalam bentuk perintah (Imperative).<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Kristen yang percaya Alkitab mempercayai apa yang Paulus katakan dan ajarkan, bahwa \u201ckeselamatan\u201d adalah \u201coleh iman kepada Kristus Yesus\u201d (2 Tim. 3:15). Kebenaran ini bukan hanya satu dua kali diserukan, tetapi berulang kali diajarkan dan ditekankan oleh penulis-penulis yang &hellip; <a href=\"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/2013\/04\/apakah-iman-pemberian-allah-atau-tanggung-jawab-manusia\/\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":223,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-1617","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kalvinisme"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1617","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/223"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1617"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1617\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1619,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1617\/revisions\/1619"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1617"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1617"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1617"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}