{"id":2330,"date":"2015-09-05T10:38:25","date_gmt":"2015-09-05T03:38:25","guid":{"rendered":"http:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/?p=2330"},"modified":"2015-09-05T10:38:25","modified_gmt":"2015-09-05T03:38:25","slug":"filosofi-hollywood-yang-menggoda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/2015\/09\/filosofi-hollywood-yang-menggoda\/","title":{"rendered":"Filosofi Hollywood yang Menggoda"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: Liberation Serif,serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><strong><span lang=\"en-US\">(Berita Mingguan GITS <\/span><\/strong><strong><span lang=\"en-US\">5<\/span><\/strong> <strong><span lang=\"en-US\">September<\/span><\/strong><strong><span lang=\"en-US\"> 2015, sumber: <\/span><\/strong><strong><a href=\"http:\/\/www.wayoflife.org\/\">www.wayoflife.org<\/a><\/strong><strong><span lang=\"en-US\">)<\/span><\/strong><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Liberation Serif,serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Ada bahaya moral dan rohani dalam film-film dan program televisi yang bahkan diberikan rating G atau PG yang tidak memiliki adegan seks atau bahasa yang kotor, karena hal-hal berikut ini, yang adalah hal-hal yang palsu dan fasik, terus menerus ditekankan dengan cara yang halus dan menggoda: Orang-orang Kristen digambarkan sebagai congkak, munafik, tidak bersahabat, egois, tidak berhikmat, aneh, bodoh, dan penakut. Orang-orang immoral, agnostik, dan para atheis digambarkan sebagai orang yang simpatik, baik, berpengertian, masuk akal, dan bijaksana. Kekristenan digambarkan sebagai suatu agama yang mengajarkan keselamatan melalui perbuatan baik dan kebenaran diri. (Sedihnya, mayoritas kekristenan hari ini memang bisa digambarkan seperti itu, karena kebanyakan kekristenan hari ini sesat, tetapi perbedaan antara kekristenan yang palsu dengan yang sejati tidak pernah dijelaskan oleh Hollywood). Menurut Hollywood, tujuan hidup adalah pemenuhan diri \/ aktualisasi diri, dan bersenang-senang (fun) (\u201cmakan, minum, dan bersuka ria\u201d). Pengejaran pemenuhan diri membenarkan segala sesuatu. Kematian digambarkan sebagai akhir segalanya. Jika kematian bukan akhir segalanya, maka Sorga digambarkan sebagai tempat untuk semua orang. Neraka, jika pun ada, hanyalah untuk yang paling jahat saja. Keselamatan, jika memang hal seperti ini diperlukan, adalah melalui perbuatan baik, \u201cketulusan,\u201d dan \u201chati yang baik.\u201d Tidak ada yang bisa tahu pasti tentang Allah, makna hidup yang sejati, atau apa yang tersedia setelah kematian, jadi kita tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal itu (agnostikisme). Hidup dalam masa kini dan jangan pedulikan hari esok. Allah yang menghakimi bukanlah Allah yang baik. Alkitab tidak selalu benar, dan orang-orang paling bijak tidak mempercayai Alkitab. Moralitas bersifat relatif dan situasional. Manusia pada dasarnya baik. Menginginkan sesuatu memiliki kuasa yang besar. Pembalasan dendam adalah hal yang baik. Ada yang disebut sihir baik. Evolusi itu benar. \u201cKasih\u201d memurnikan dan membenarkan hubungan seksual apapun. Salah satu bagian penting dalam pemuridan orang-orang muda dalam keluarga-keluarga Kristen adalah untuk berhenti menonton Hollywood. \u201c<span lang=\"en-US\">Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus<\/span>\u201d (Kol. 2:8). <\/span><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Berita Mingguan GITS 5 September 2015, sumber: www.wayoflife.org) Ada bahaya moral dan rohani dalam film-film dan program televisi yang bahkan diberikan rating G atau PG yang tidak memiliki adegan seks atau bahasa yang kotor, karena hal-hal berikut ini, yang adalah &hellip; <a href=\"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/2015\/09\/filosofi-hollywood-yang-menggoda\/\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":223,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[91],"tags":[],"class_list":["post-2330","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-separasi-dari-dunia-keduniawian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/223"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2330"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2330\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2331,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2330\/revisions\/2331"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}