{"id":8,"date":"2011-05-02T11:15:52","date_gmt":"2011-05-02T04:15:52","guid":{"rendered":"http:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/?p=8"},"modified":"2011-05-03T22:15:14","modified_gmt":"2011-05-03T15:15:14","slug":"menghakimi-atau-tidak-menghakimi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/2011\/05\/menghakimi-atau-tidak-menghakimi\/","title":{"rendered":"MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Steven E. Liauw<br \/>\nPurek Akademis GITS<br \/>\nSalah satu hal yang sering saya dengar dari orang-orang Kristen, ketika saya sedang berdiskusi Alkitab dengan mereka, terutama ketika saya menunjukkan kesalahan mereka, adalah seruan: \u201cJangan menghakimi!\u201d Gereja-gereja Alkitabiah, seperti Graphe, sering dicap sebagai gereja yang \u201cmenghakimi gereja lain.\u201d Tuduhan ini akhirnya menjadi sesuatu yang klise, dan menjadi jalan lari bagi mereka yang sudah merasa doktrin mereka tersudutkan oleh ayat-ayat Alkitab, atau yang tidak berminat sama sekali untuk menyelidiki kebenaran dari Kitab Suci. Demikianlah ketika kita mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik salah dalam pengajaran keselamatan mereka, kita dituduh sebagai orang yang \u201csok menghakimi.\u201d Atau ketika menunjukkan kepada seorang \u201chamba Tuhan\u201d wanita, bahwa sesuai dengan 1 Tim. 2:11dst, ia tidak dipanggil oleh Tuhan untuk berkhotbah di kebaktian umum, apalagi menjadi \u201cpendeta,\u201d maka kita diberitahu untuk \u201cjangan menghakimi orang lain!\u201d<\/p>\n<p>Karena hal ini muncul dengan begitu kerapnya, maka sungguh penting bagi setiap orang percaya untuk mengerti benar mengenai masalah \u201cmenghakimi\u201d dalam Alkitab. Benarkah bahwa orang Kristen tidak boleh menghakimi? Apakah ini sama dengan tidak boleh menyatakan kesalahan orang lain? Kesalahpahaman mengenai masalah ini begitu besar, sehingga banyak orang yang akan kaget jika diberitahu:<\/p>\n<p><a name=\"more-8\"><\/a>1. Tuhan Menyuruh Orang Percaya untuk Menghakimi<\/p>\n<p>Banyak orang Kristen tidak pernah membaca Yohanes 7:24, yang berisi perintah Yesus: \u201cJanganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.\u201d Walaupun Tuhan Yesus tidak merincikan tentang cara menghakimi yang benar, tetapi jelas sekali bahwa Tuhan mengizinkan, dan bahkan mengharapkan, bahwa orang percaya menghakimi dengan adil. Bertentangan dengan opini umum, orang percaya bukan tidak boleh menghakimi! Sebaliknya, ORANG PERCAYA DIHARAPKAN UNTUK MENGHAKIMI DENGAN ADIL.<\/p>\n<p>2. Arti Kata \u201cMenghakimi\u201d<\/p>\n<p>Di dalam benak banyak orang, kata \u201cmenghakimi\u201d memiliki konotasi yang negatif. Bahkan, ada orang mengidentikkan \u201cmenghakimi\u201d dengan \u201cmenghukum.\u201d Seorang Kristen pernah bertanya kepada saya demikian: \u201cSaya sudah percaya Yesus Kristus, lalu kenapa setelah saya mati, saya masih akan dihakimi lagi oleh Tuhan.\u201d Pertanyaan ini muncul ketika saya menerangkan bahwa setelah Hari Pengangkatan (Rapture), akan ada Pengadilan Kristus (1 Kor. 3:10-15; 2 Kor. 5:10). Bapak tersebut menyamakan \u201cpenghakiman\u201d dengan \u201cpenghukuman\u201d sehingga merasa kaget akan \u201cdihukum\u201d lagi di Surga.<\/p>\n<p>Persoalan menjadi jelas ketika kita mengerti arti kata \u201cmenghakimi\u201d yang sesungguhnya. Untuk itu, kita harus menyelidiki kata apa yang dipakai oleh Roh Kudus dalam Kitab Suci bahasa asli (Yunani untuk Perjanjian Baru).  Kata krino (Yunani) adalah kata utama yang diterjemahkan \u201cmenghakimi\u201d dalam bahasa Indonesia. Kata krino ini muncul 114 kali dalam 98 ayat Perjanjian Baru, dan 88 kali diterjemahkan \u201cjudge\u201d dalam King James Version. Selain diterjemahkan \u201cjudge\u201d (menghakimi dalam bahasa Indonesia), krino terkadang diterjemahkan \u201cmemutuskan\u201d (Luk. 12:57; Kis. 20:16; 25:25; 1 Kor. 2:2), \u201cberpendapat\u201d (Kis. 3:13; Luk. 7:43), \u201cmenganggap\u201d (Roma 14:5), atau \u201cmempertimbangkan\u201d (1 Kor. 10:15). Jadi kita lihat bahwa \u201cmenghakimi\u201d (krino) dapat memiliki beberapa konotasi arti.<\/p>\n<p>Selain kata krino, ada juga turunan dari krino. Dua kata turunan krino yang paling signifikan adalah anakrino dan katakrino.<a name=\"sdfootnote1anc\" href=\"#sdfootnote1sym\"><sup>1<\/sup><\/a> Anakrino berasal dari gabungan krino dan preposisi ana, dipakai sebanyak 16 kali dalam Perjanjian Baru, Anakrino diterjemahkan \u201cmenghakimi\u201d sebanyak tiga kali (1 Kor. 4:3 [2]; 4:4), dan paling sering diterjemahkan \u201cmemeriksa\u201d atau \u201cdiperiksa\u201d (Luk. 23:14; Kis. 4:9; 12:19; 24:8; 18:18; 1 Kor. 10:25, 27). Selain itu, anakrino juga diterjemahkan \u201cmenyelidiki\u201d (Kis. 17:11; 1 Kor. 14:24), \u201cmenilai\u201d (1 Kor. 2:14, 15 [2]), dan \u201cmengeritik\u201d (1 Kor. 9:3).<\/p>\n<p>Katakrino (gabungan dari krino dan preposisi kata) dipakai 19 kali dalam Perjanjian Baru, dan LAI menerjemahkannya menjadi \u201cmenghukum\u201d atau \u201cmemberi hukuman.\u201d Hanya satu kali saja katakrino diterjemahkan \u201cmenghakimi\u201d (Roma 2:1).<\/p>\n<p>Jadi, dari riset kata di atas, kita mendapatkan bahwa kata \u201cmenghakimi\u201d dalam Alkitab bahasa Indonesia berasal dari kata krino (sebagian besar) atau turunannya anakrino dan katakrino (sebagian kecil). Kita mengetahui pula bahwa kata krino dan turunannya memiliki rentang arti yang cukup luas, antara lain \u201cmemutuskan,\u201d \u201cberpendapat,\u201d \u201cmenganggap,\u201d \u201cmempertimbangkan,\u201d \u201cmemeriksa,\u201d \u201cmenilai,\u201d dan \u201cmenghukum.\u201d Semua definisi ini memiliki persamaan dan berpusar pada satu poros inti. Dapat disimpulkan bahwa kata krino, memiliki pengertian dasar \u201cmemutuskan atau membuat penilaian tentang sesuatu.\u201d Itulah inti dari \u201cmenghakimi,\u201d yaitu membuat penilaian akan sesuatu. Pengertian ini muncul dalam berbagai bentuk, apakah \u201cmenilai,\u201d \u201cmemeriksa,\u201d atau \u201cmempertimbangkan.\u201d Semua ini adalah krino. Ketika Paulus mengajarkan bahwa \u201cmanusia rohani menilai segala sesuatu,\u201d (1 Kor. 2:15) ia sama saja berkata bahwa \u201cMANUSIA ROHANI MENGHAKIMI SEGALA SESUATU.\u201d<\/p>\n<p>Orang-orang yang berkata bahwa \u201corang Kristen tidak boleh menghakimi,\u201d sama sekali tidak mengerti arti kata \u201cmenghakimi.\u201d Kita bisa bertanya balik, apa maksud anda \u201ctidak boleh menghakimi.\u201d Apakah orang Kristen tidak boleh punya penilaian tentang apapun juga? Apakah orang Kristen tidak boleh berpendapat? Apakah orang Kristen tidak boleh memeriksa? Mereka yang dengan buta berkata \u201cjangan menghakimi\u201d sama saja berkata: \u201corang Kristen tidak boleh menilai apa-apa,\u201d atau \u201corang Kristen tidak boleh memiliki pendapat tentang apapun.\u201d Ketika seseorang berpendapat tentang sesuatu hal, maka ia sudah melakukan penghakiman! Adalah sesuatu yang sangat konyol, jika ada yang secara universal melarang untuk \u201cmenghakimi.\u201d<\/p>\n<p>Sekali lagi kita lihat, kata \u201cpenghakiman\u201d sebenarnya berbeda dengan kata \u201cpenghukuman.\u201d Walaupun demikian, dalam konteks tertentu, \u201cpenghakiman\u201d dapat disamakan dengan \u201cpenghukuman.\u201d Misalnya, pernyataan bahwa Allah akan \u201cmenghakimi\u201d dunia. Menghakimi di sini dapat disamakan dengan \u201cmenghukum,\u201d karena Allah akan menilai dunia, dan mendapatkannya jahat, dan tentu akan menghukumnya.<\/p>\n<p>Jadi, apakah seseorang senang dihakimi atau tidak, tergantung kepada status dirinya. Orang percaya akan menghadap takhta pengadilan Kristus suatu hari, untuk dihakimi Tuhan mengenai pekerjaannya (bukan masalah keselamatan). Orang yang sudah bekerja sekuat tenaga bagi Tuhan sesuai FirmanNya, akan mendapat sukacita pada hari itu, ketika Tuhan berkata: \u201cBaik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.\u201d Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan hidupnya, atau yang \u201cmelayani\u201d bertentangan dengan Firman Tuhan, justru akan malu pada hari itu. Jadi, penghakiman tidaklah selalu hal yang buruk! Itu tergantung pada orang atau hal yang dihakimi atau dinilai!<\/p>\n<p>3. Alkitab Melarang Menghakimi Hanya Dalam Konteks Tertentu<\/p>\n<p>Ayat yang paling sering disalahgunakan dalam hal \u201cmenghakimi\u201d adalah Matius 7:1, \u201cJangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.\u201d Terlalu banyak orang, yang tanpa pengertian dan sekedar membeo, memakai ayat ini untuk bersembunyi dari kebenaran, seolah-olah ayat ini memberi mereka hak untuk mengabaikan teguran-teguran dan nasihat-nasihat yang menyatakan kesalahan mereka.<\/p>\n<p>Dalam menafsir Alkitab, salah satu prinsip yang paling penting adalah bahwa penafsir harus selalu memperhatikan konteks. Apakah Matius 7:1 melarang segala jenis penghakiman? Prinsip lain dalam penafsiran Alkitab adalah bahwa Alkitab konsisten secara internal. Tidak ada ayat-ayat yang bertentangan. Oleh karena itu, jika Tuhan memerintahkan, mengharapkan, dan mengizinkan orang percaya untuk menghakimi di bagian Firman Tuhan lain, maka ayat ini tidak mungkin melarang semua jenis penghakiman. Dan setelah meneliti konteks Matius 7:1-5, maka jelaslah bahwa dalam perikop ini TUHAN MELARANG PENGHAKIMAN YANG MUNAFIK. Hal ini terlihat jelas dari nasihat Tuhan: \u201ckeluarkanlah dahulu balok dari matamu.\u201d Tuhan tidak ingin orang yang hanya ingin mengorek kesalahan orang lain sebagai suatu serangan, padahal dirinya melakukan kesalahan yang sama dan yang lebih besar lagi.<\/p>\n<p>Prinsip yang sama (internal consistency dan konteks) dapat kita terapkan pada perikop-perikop lain yang melarang orang percaya untuk menghakimi. Sekilas Paulus sepertinya tidak mau orang Korintus menghakimi sebelum kedatangan kedua Kristus (1 Kor. 4:5). \u201cKarena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.\u201d Tetapi, jika kita cocokkan dengan pernyataan Paulus lainnya tentang menghakimi, dan kita lihat lebih teliti ayat ini lebih cermat lagi, kita dapatkan bahwa di sini Paulus mengajarkan untuk TIDAK MENGHAKIMI HAL-HAL YANG TERSEMBUNYI. Maksudnya, orang percaya janganlah sok menghakimi hal-hal yang tidak mungkin ia ketahui, melainkan hanya ia duga-duga saja, yaitu hati orang lain. Banyak orang sok menghakimi hati dan motivasi orang lain yang terdalam. Sikap seperti ini tidak benar. Kita bisa menilai kelakuan orang, karena memang terlihat; tetapi mengenai hal-hal yang berada dalam hati seseorang yang tidak ia nyatakan, jangan kita terburu-buru untuk memastikannya.<\/p>\n<p>Prinsip ini dipraktekkan sendiri oleh Rasul Paulus. Dalam 1 Korintus 4:5, dia mengatakan \u201cjangan menghakimi.\u201d Tetapi tidak lama kemudian masih dalam surat yang sama kepada jemaat Korintus, Paulus berkomentar tentang seorang anggota jemaat di sana yang berbuat dosa zinah: \u201cSebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku sama seperti aku hadir telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu\u201d (1 Kor. 5:3). Kata \u201cmenjatuhkan hukuman\u201d dalam bahasa Yunaninya berasal dari kata krino, kata yang persis sama diterjemahkan \u201cmenghakimi\u201d di 1 Kor. 4:5. Bagaimana ini? Apakah Paulus sedemikian tidak konsisten? Baru saja dia mengajarkan \u201cjangan menghakimi\u201d (1 Kor. 4:5), kenapa malah dia sendiri \u201cmenghakimi\u201d (menjatuhkan hukuman, 1 Kor. 5:3)? Jawabannya sederhana. Dalam 1 Kor. 4:5, Paulus mengajar orang percaya untuk tidak menghakimi hati orang (sesuatu yang tidak dapat diketahui dari luar), tetapi dalam 5:3, Paulus menghakimi perbuatan orang yang memang nyata. Ada anggota jemaat Korintus yang melakukan zinah (1 Kor. 5:1-2), dan ini adalah yang hal yang nyata, yang dapat segera dibandingkan dengan pengajaran Alkitab. Rupanya untuk hal seperti ini Paulus tidak segan-segan menghakimi, bahkan memberi hukuman!<\/p>\n<p>Jadi prinsip ini harus diulang lagi. Untuk hal yang tidak dapat diketahui, misalnya isi hati orang, janganlah menghakimi. Kalau kita melihat seseorang memberi persembahan, janganlah kita menghakimi hatinya, \u201cah, pasti dia tidak tulus.\u201d Itu adalah penghakiman yang dilarang, karena kita tidak bisa tahu hati orang tersebut. Tunggulah hingga Tuhan datang kembali. \u201cIa akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati\u201d (1 Kor. 4:5). Tetapi, kalau ada seseorang mencuri uang persembahan gereja, apakah kita boleh berkata, \u201citu salah\u201d? Jelas! Bukan hanya boleh, bahkan harus ditegur dan bila perlu dikenakan disiplin jemaat. Itu karena hal ini bukan barang tersembunyi, melainkan barang yang jelas dan dapat langsung dicek dan diperbandingkan dengan Firman Tuhan. Prinsip yang sama berlaku untuk doktrin. Ketika ada pengajaran yang salah, yang tidak sesuai Firman Tuhan, bolehkah kita menyerukan: \u201citu salah,\u201d atau \u201citu sesat\u201d? Jelas! Bukan hanya boleh, malah harus ditegur. \u201cBeritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran\u201d (2 Tim. 4:2). 1 Korintus 4:5 tidak dapat dipakai untuk melarang orang Kristen menyelidiki doktrin yang diajarkan seseorang dan menyatakannya benar atau salah!<\/p>\n<p>Sayangnya, ketika ditegur mengenai doktrin yang salah, banyak orang lari ke Roma 14:4-14. Mereka bersembunyi dibalik kalimat: \u201cKarena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!\u201d (ay. 13). Mereka tidak mau menyelidiki lebih lanjut, \u201cmenghakimi\u201d seperti apa yang dilarang oleh Paulus. Mereka tidak mau peduli bahwa Tuhan tidak mungkin melarang orang percaya untuk saling bersaksi tentang kebenaran, saling menegur kesalahan sesamanya.<\/p>\n<p>Pada kenyataannya, dalam Roma 14, PAULUS TIDAK INGIN ORANG PERCAYA SALING MENGHAKIMI DALAM HAL-HAL YANG TIDAK DIATUR OLEH ALKITAB. Paulus memberi contoh 2 hal, yaitu dalam hal makanan dan hari-hari raya. Alkitab tidak mengatur bahwa orang percaya harus makan suatu jenis makanan, atau tidak boleh makan makanan lain. Alkitab mengatakan bahwa semua makanan halal, tetapi tidak mengharuskan orang untuk makan semua makanan. Oleh karena itu, orang percaya jangan saling menghakimi jika ada sesamanya yang memilih untuk makan sesuatu atau jika ia memilih untuk tidak makan sesuatu. Mengenai hari-hari raya, Alkitab juga tidak melarang atau menganjurkan orang percaya untuk ikut dalam berbagai hari raya. Kita melihat aplikasinya dalam kebebasan orang percaya untuk ikut atau tidak ikut merayakan hari Ibu, hari Bapa, bahkan hari Natal. Tentu untuk hari-hari yang mengandung makna menentang Tuhan (misal hari Homoseksual), orang Kristen tidak boleh ikut mendukung, karena melanggar prinsip-prinsip Alkitab lainnya.<\/p>\n<p>Yang terakhir, kita lihat dalam Yohanes 7:24, bahwa ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH MENGHAKIMI HANYA DARI SUDUT LAHIRIAH, MELAINKAN SECARA ADIL. Ini berarti penghakiman kita haruslah didasarkan pada Firman Tuhan yang maha adil.<\/p>\n<p>4. Orang Kristen Perlu Melakukan Penghakiman<\/p>\n<p>Jika kita mengerti bahwa arti dasar kata \u201cmenghakimi\u201d adalah \u201cmemutuskan atau membuat penilaian tentang suatu hal,\u201d maka jelaslah bahwa bukan saja orang percaya boleh menghakimi, bahkan ORANG PERCAYA HARUS MENGHAKIMI. Dalam hal-hal apa saja orang percaya harus menghakimi?<\/p>\n<p>Orang percaya harus menghakimi pengajaran. Tuhan menyuruh kita untuk berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu (Mat. 7:15). Bagaimanakah kita dapat waspada terhadap mereka, jika kita tidak menilai mereka? Paulus berkata, \u201cTetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!\u201d (Rom. 16:17). Bagaimana kita dapat waspada dan menghindari orang-orang ini jika kita tidak menghakimi mereka? Alkitab mengharuskan setiap orang hamba Tuhan yang setia untuk \u201cmenyatakan kesalahan,\u201d dan \u201cmenegor\u201d (2 Tim. 4:2). Ini tidak dapat dilakukan tanpa menghakimi. Sangat penting sekali untuk memperhatikan juga di sini, bahwa Tuhan ingin agar orang yang mengenal kebenaran, memberitahukan kesalahan orang lain yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya, setiap orang Kristen yang ditegur kesalahannya, tidak marah, melainkan merenung, dan menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui kebenarannya. Ketahuilah, bahwa orang yang menegur anda, sebenarnya sangat mengasihi anda. Bahkan ia rela mengambil resiko dibenci oleh anda, agar anda bisa sampai kepada kebenaran.<\/p>\n<p>Selain itu, orang percaya harus menghakimi perbuatan anggota-anggota gereja. Salah satu fungsi gereja adalah untuk menjadi tempat orang-orang percaya bertumbuh. Dalam proses pertumbuhan, ada proses pendisiplinan. Anggota-anggota gereja yang berbuat dosa, harus ditertibkan. Hal ini diajarkan oleh Paulus dalam 1 Korintus 5. Ada anggota jemaat Korintus yang berbuat zinah, dan Paulus menekankan bahwa orang itu harus dikeluarkan dari jemaat. \u201cSebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? 1 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu\u201d (1 Kor. 5:12-13).<br \/>\nMasih banyak lagi hal-hal lain yang harus dihakimi\/dinilai oleh orang percaya, karena \u201cmanusia rohani menilai segala sesuatu\u201d (1 Kor. 2:15). Jangankan penghakiman berbagai hal di dunia ini, orang percaya bahkan akan menghakimi dunia dan malaikat (1 Kor. 6:2-3). Sungguh aneh jika ada orang yang berkata bahwa \u201corang Kristen tidak boleh menghakimi.\u201d Saya harap, dengan pembahasan singkat Firman Tuhan ini, anda dapat menentukan, MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?<\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\">\n<p><a name=\"sdfootnote1sym\" href=\"#sdfootnote1anc\">1<\/a>Kedua \tkata ini termasuk golongan compound verb, \tyaitu kata kerja yang menggabungkan kata kerja dasar dengan \tpreposisi. Selain anakrino dan katakrino, ada \tbeberapa turunan krino lainnya, \tyaitu egkrino, epikrino, dan sugkrino, \ttetapi ketiga kata ini hanya muncul total 4 kali dalam PB.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Benarkah orang Kristen tidak boleh menghakimi? Apakah ini berarti tidak boleh menyatakan pihak lain salah? <a href=\"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/2011\/05\/menghakimi-atau-tidak-menghakimi\/\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":223,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,4],"tags":[199,198,201,197,200],"class_list":["post-8","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-fundamentalisme","category-general-umum","tag-adil","tag-doktrin","tag-judge","tag-menghakimi","tag-munafik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/223"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":835,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8\/revisions\/835"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/graphe-ministry.org\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}