Astronot yang Percaya Penciptaan Alkitab

(Berita Mingguan GITS 4 Juni 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Kolonel Jeffrey Williams (lahir 1958), astronot AS yang telah menghabiskan banyak bulan di International Space Station (ISS), adalah seorang yang percaya penciptaan dalam Alkitab tanpa malu-malu. Dia telah merekam lebih banyak foto daripada astronot lain mana pun dalam sejarah dan telah menerbitkan sebagiannya dalam buku The Work of His Hands: A View of God’s Creation from Space. Sang penulis mengatakan bahwa dalam buku itu dia merenungkan “pelajaran hidup tentang kebaikan providensia ilahi yang mendetil, kepeduliaan Allah terhadap ciptaanNya, dan hikmatNya dalam menata alam semesta.” Dalam misinya saat ini, Williams dijadwalkan untuk melampaui rekor 520 hari berturut-turut di luar angkasa yang dibuat oleh Scott Kelly. Dalam sebuah wawancara tahun 2015 dengan Institute for Creation Research, Kol. Williams mengatakan, “Saya percaya Kristus tahun 80an akhir. Saya telah mempelajari Firman Tuhan sejak 1988. Saya tidak mau ikut-ikutan saja; saya tidak mau hanya menjadi pengikut suatu organisasi agama. Saya mau memahami apa itu iman, dan seluruh hidup saya, sejak 1988, setiap hari saya mempelajari Kitab Suci untuk mencoba memahaminya, dan salah satu hal yang saya temukan adalah adanya kekonsistenan internal yang komplit di dalam Kitab Suci dan bahwa kebenaran Alkitab didukung oleh semua bukti-bukti luar Alkitab. …Saya tidak menemukan konflik antara ilmu pengetahuan yang sejati – sains yang sejati yang berintegritas – dengan Kitab Suci. Saya telah menemukan bahwa dalam semua kasus adanya konflik, maka itu bukanlah konflik dengan sains, tetapi konflik dengan presuposisi di baliknya. Jadi ini hal yang filosofis. Jika anda mempelajari hal-hal itu, filosofi, sains, dan agama, selalu bersinggungan. Garis-garis yang memisahkan mereka tidak pernah jelas, dan seringkali kabur. Jika seseorang merasa bahwa sains bertentangan dengan, misalnya, pasal-pasal awal kitab Kejadian, maka bukan sains-nya, tetapi presuposisi yang ada di dalam itu. Jika anda memiliki presuposisi yang mengatakan tidak ada Allah, maka berarti dalam pemikiran anda tidak mungkin ada tindakan supranatural, dan anda percaya bahwa segala sesuatu harus dijelaskan hanya dengan proses natural. Maka, anda telah membatasi diri dalam hal informasi apa yang bisa anda dapatkan dari pengamatan objektif di hadapan anda. Inilah isu sebenarnya. Saya mempresuposisikan Allah. Dan saya mempresuposisikan kebenaran Kitab Suci”(www.icr.org/article/above-all-earth/).

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *