Video Game dan Kecanduan

(Berita Mingguan GITS 29 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Video game online multiplayer memiliki potensi besar untuk menjadi suatu kecanduan. Telah diperkirakan bahwa sekitar 10% gamer di seluruh dunia, adalah orang-orang yang kecanduan. Sedikitnya 10 gamer telah meninggal karena gejala-gejala yang berkaitan dengan sistem jantung-paru, di berbagai kafe-kafe internet, setelah sesi-sesi gaming marathon. Ada satu orang muda yang meracuni orang tuanya karena mereka memberikan batasan pada aktivitas gaming-nya (“Gaming Addiction a Serious Problem in Asia,” 7 Mar. 2014, www.thecabinchiangmai.com). Sepasang suami istri menelantarkan putri mereka yang berusia tiga bulan hingga meninggal, sambil mereka main game-game online. Para gamer juga ada yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan, bahkan pembunuhan, sebagai balas dendam atas “pembunuhan karakter online sang pemain.” Di beberapa negara Asia, kecanduan gaming dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan publik yang besar. Di Korea Selatan, rata-rata anak di antara usia 10-18 tahun, menghabiskan lebih dari 20 jam seminggu, bermain video game secara online. Pemerintah telah menetapkan jam malam di kafe-kafe cyber bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun, dan juga membuat pusat-pusat pengobatan. Raksasa internet Cina, Tencent, memberikan batasan waktu dalam sehari seorang pemain bisa memainkan game King of Glory. Beberapa game yang paling berpotensi membuat kecanduan di tahun 2015 adalah Madden, Dota 2, Grand Theft Auto, Tetris, Candy Crush Saga (perusahan ini dinilai $7.5 milyar), Minecraft, EverQuest (dijuluki “never rest” dan “ever crack” karena sering membuat kecanduan), The Sims, World of Warcraft (dijuluki World of War Crack), Call of Duty (dua game terakhir ini dimainkan oleh lebih dari 100 juta pemain), Halo 3 (disebut juga Halodiction), Total War, Pong, Civilization, Diablo 3, Super Meat Boy, Team Fortress 2, Dark Souls 2, Counter Strike, Starcraft 2, Persona 4 Golden, Monster Hunter 3, Elder Scrolls, Angry Birds, Faster Than Light, Peggle, League of Legends (LOL), Civilization V, and Pokemon. Berhati-hatilah terutama terhadap game-game yang disebut MMORPG (massively multiplayer online role-playing games, atau disingkat MMO pendeknya). Internet penuh dengan kesaksian menyedihkan dan mengenaskan akan orang-orang yang telah merusak hidup mereka dengan game-game online ini. Perhatikan satu contoh: “Cerita panjang berakhir dengan cepat, saya menjadi lvl 50 cukup cepat di server. Bahkan saya peringkat 5 dari keseluruhan, dan adalah half elf pertama. Saya hebat. Saya memiliki pedang yang berkilauan dan semua peralatan hebat saya. . . . Saya akan masuk ke kota dan semua newbs [pemain baru] akan kagum. Saya memerintah dunia, atau yang virtual ini setidaknya. Sementara kehidupan sejati saya telah kacau balau. Saya kehilangan pekerjaan saya, dan masuk dalam hutang, ditelpon terus oleh penagih, belum lagi saya gemuk, lebih dari 150 kg. Saya tidak bisa mengurus hidup saya yang sebenarnya. Saya membenci setiap waktu saya harus keluar dari waktu Everquest saya. Saya adalah penguasa di dunia itu. Tetapi satu hari, listri saya mati. … Saya begitu depresi. Bukan saja dunia online saya kini mati, tetapi saya harus berhadapan dengan kehidupan sejati saya yang telah saya telantarkan selama 2 tahun terakhir. Sepertinya tidak ada harapan, jadi saya memutuskan untuk pindah keluar dari apartemen saya, yang membuat saya tambah berhutang, dan mungkin saya akan tinggal bersama orang tua saya” (shoemoney.com/2008). “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan ” (Amsal 4:23).

This entry was posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian, Teknologi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *