Nietzsche yang Menghujat

(Berita Mingguan GITS 29 Oktober 2011, sumber: www.wayoflife.org)

Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, sangatlah berpengaruh dalam masyarakat modern, walaupun dia adalah orang yang gila selama sebelas tahun terakhir hidupnya, sampai-sampai dia mengklaim dokter-dokter Jerman menyalibkan dia dan memerintahkan kaisar Jerman untuk pergi ke Roma agar dapat ditembak. Tulisan-tulisan Nietzsche aneh, bodoh, dan kontradiktif, dan ada banyak penafsirannya, dan tiap-tiap ahli Nietzsche mengklaim memiliki yang paling benar tetapi saling bertentangan satu sama lain. Satu hal yang pasti. Orang ini membenci Allah Alkitab dan moralitas Alkitab. Dia mengejek darah Kristus, kebenaran absolut, hukum-hukum Tuhan, dan hidup yang kekal. Dia meninggikan berbohong, kebencian, keegoisan, pembalasan dendam. Dia adalah bapa dari filosofi “Allah sudah mati” (God is dead) dan gerakan self-esteem. Dia mengajar bahwa manusia bisa mengevolusikan dirinya menuju ruang lingkup yang lebih tinggi sebagai overman atau superman, tuan atas takdirnya sendiri. Walaupun Nietzsche menolak rasisme biologis, Hitler sangat suka dengan konsep filsuf ini tentang superman dan menyimpang patungnya yang dipertunjukkan dengan mentereng. Nietzsche juga disukai oleh antara lain Herman Hesse, Sigmund Freud, Carl Jung, George Bernard Shaw, Paul Tillich, Jean Paul Sartre, dan Clarence Darrow (pengacara yang membela evolusi dalam persidangan Scopes). Baru-baru ini saya dengan susah payah membaca tulisannya yang sangat berlebih-lebihan, Thus Spoke Zarathustra, yang diselesaikan tahun 1885, tetapi diterbitkan setelah Nietzsche menjadi gila tiga tahun kemudian. Berikut ini adalah beberapa kutipan: “Pernah suatu ketika dosa melawan Allah adalah dosa terbesar; tetapi Allah mati, dan orang-orang berdosa ini mati bersama dia. Berdosa melawan bumi kini adalah hal yang paling menakutkan. …tidak ada Iblis dan tidak ada neraka. Jiwamu akan mati bahkan sebelum tubuhmu; jangan takut apa-apa lagi. …Ego-ku mengajarkan suatu kesombongan baru, dan hal ini saya ajarkan kepada orang-orang: jangan lagi membenamkan kepala di dalam pasir hal-hal surgawi, tetapi biarkanlah bebas, suatu kepala yang duniawi, yang menciptakan suatu arti bagi bumi. …Kini saya adalah terang, kini saya terbang, kini saya melihat diri sendiri di bawah diri sendiri, kini suatu dewa menari melalui saya. ….Sungguh, Yesus Ibrani itu mati terlalu cepat. …Kiranya dia tetap di padang gurun dan jauh dari yang baik dan yang saleh! Mungkin dia bisa belajar hidup dan mencintai bumi – dan tertawa juga. Percayalah, saudara-saudara! Dia mati terlalu cepat; dia sendiri pasti menyangkali pengajarannya sendiri kalau dia sudah sampai umur saya” (The Portable Nietzsche, diedit dan diterjemahkan oleh Walter Kaufman).

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *