(Berita Mingguan GITS 25 Mei2013, sumber: www.wayoflife.org)
Gereja esa sedunia yang digambarkan dalam Wahyu 17 melingkupi semua kesesatan dan kejijikan berhala di bumi. Hal ini bisa terlihat hari ini melalui dialog antar-agama. Almarhum paus Yohanes Paulus II adalah seorang pemimpin dalam bidang ini, mendatangkan semua denominasi dan agama secara bersama ke acara Hari Doa untuk Perdamaian Dunia di Assisi, Italia. Gerakan tersebut berlanjut di seluruh dunia. Lebih awal bulan ini, Vatikan menjadi tuan rumah bagi Buddhist-Christian Colloquium yang keempat, dengan tema “Damai Internal, Damai Antara Umat.” Pengumumannya berbunyi, “Para partisipan mengekspresikan agar dialog antara orang-orang Buddha dan Kristen diperkuat guna menghadapi tantangan-tantangan baru seperti ancaman terhadap kehidupan manusia, kemiskinan, kelaparan, penyakit-penyakit endemik, kekerasan, perang, dll., yang mengecilkan kekudusan hidup manusia dan meracuni perdamaian di dalam masyarakat manusia.” Dialog antar-agama dengan demikian dilihat sebagai suatu jalan menuju “zaman baru” (new age). Pada tanggal 27-31 Mei, World Council of Churches (WCC), yang meliputi 340 denominasi dan kelompok, akan menjadi tuan rumah acara “pertemuan Buddha-Kristen” di Bangkok. Para partisipan akan menginap di Rumah Tamu Kristen Bangkok dan akan bersama-sama mengunjungi sebuah kuil Buddha. Wesley Ariarajah, mantan Direktur dari dialog Antar-agama dalam WCC, mengatakan bahwa semua agama itu satu dengan Allah. Pada Sidang Umum Ketujuh WCC di Canberra, Australia, 1991, Ariarajah mengatakan bahwa “tidak dapat dipahami oleh saya bahwa seorang Hindu atau seorang Buddha, atau siapapun, berada di luar Allah. Pengertian saya akan kasih Allah terlalu luas sehingga saya tidak bisa percaya bahwa hanya segmen sempit yang disebut gereja Kristen ini yang akan diselamatkan. Jika kamu orang Kristen, kamu harus terbuka dan melebar, bukan menyempit dan eksklusif” (The Australian, 11 Feb. 1991).