(Berita Mingguan GITS 1Juni2013, sumber: www.wayoflife.org)
“Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita bahkan hingga kematian” (Maz. 48:15, kata-kata miring ada dalam bahasa asli). Karena kematian adalah realita dalam dunia ini oleh sebab dosa, janji bahwa Allah memimpin kita hingga kematian adalah janji yang amat berharga. Dia bersama dengan kita ketika kita berjalan melalui lembah bayang-bayang maut (Maz. 23:4). Pikiran tentang kematian, biasanya, adalah menakutkan dan membuat resah, dan manusia melakukan segala hal untuk menghindarinya, terutama mereka yang tidak mengenal Kristus. Tetapi bagi orang percaya, proses kematian hanyalah suatu bayang-bayang yang untuk sementara menutupi sang Matahari, dan bayang-bayang adalah hal yang sementara. Sebagai kontras, bagi orang tidak percaya kematian adalah masuk ke dalam “kelamnya kegelapan untuk selamanya.”
Lebih jauh lagi, bayang-bayang tidaklah berbahaya. Bagi orang percaya kematian tidak berbahaya karena Yesus telah menanggung bahaya itu pada diriNya sendiri di atas kayu salib. Arti dasar dari kematian adalah perpisahan. Kematian pertama adalah kematian fisik, yang adalah perpisahan roh dari tubuh (Yak. 2:26). Tetapi aspek yang paling menakutkan dari kematian adalah kematian kedua, saat jiwa terpisah secara kekal dari Allah Pencipta di dalam lautan api (Wah. 20:14-15; 21:8).
Tetapi Anak Allah terpisah dari Bapa menggantikan kita, ketika Ia berseru, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Maz. 22:2). “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5). Orang-orang yang bersandar padaNya tidak akan mendapat mau pada saat kematian. Bayang-bayang maut yang sementara itu akan berubah menjadi terang kemuliaan kekekalan yang “nikmat senantiasa” bersama Juruselamat (Maz. 16:11).
Baru-baru ini, seorang lelaki bujang, berusia 22 tahun dengan nama Sharan, meninggal. Dia anggota sebuah gereja yang digembalakan oleh seorang teman. Dia mendadak kolaps saat mengikuti konferensi Alkitab, saat saya (David Cloud) sedang berkhotbah pada bulan April, dan harus dibawa ke rumah sakit. Dalam waktu tiga minggu, murid Kristus yang bersemangat ini meninggal karena leukemia. Dia menderita kesusahan dan kesakitan jasmani yang hebat, tetapi dia terus bersaksi bahwa Allah menolong dia. Dia berkat, “Saya tidak memiliki komplain terhadap Tuhan; Allah telah memberikan saya sukacita.” Memandang ke semua orang-orang tidak percaya di rumah sakit itu yang menderita berbagai penyakit, dia berkata, “Saya satu-satunya di sini yang tidak sakit.” Maksud dia, tentunya, adalah bahwa dalam kasusnya penyakit mematikan itu hanyalah pintu menuju berkat yang kekal.