(Berita Mingguan GITS 2 April 2016, sumber: www.wayoflife.org)
Sang Kumari (dewi perawan yang sedang hidup) di Bhaktapur, Nepal, telah pensiun (mengundurkan diri) sebelum dia mencapai umur 10 tahun. Junisha Shakya dipilih sebagai Kumari di Bhaktapur ketika dia berumur enam tahun. Dia mengatakan, “Saya menikmati masa-masa saya sebagai seorang Dewi dan akan selalu mengingat baik tiga setengah tahun ini” (“Ex-Kumari of Bhaktapur,” The Kathmandu Post, 26 Mar. 2016). Nepal memiliki tiga Kumari, satu di setiap kota tua di Lembah Kathmandu, yang sebelum penyatuan negara ini di abad 18 adalah pusat dari tiga kerajaan Hindu. Kumari dikatakan adalah inkarnasi dari Dewi Taleju. Dia juga dikenal sebagai Durga atau Kali, yang semuanya adalah emanasi dari Ibu Dewi. Dewi-dewi yang hidup dalam daging sudah menjadi bagian dari Hinduisme sejak sebelum Kristus dan adalah bagian dari penyembahan berhala sejak Menara Babel di milenium ketiga SM. Tetapi Kumari sebagai suatu posisi kerajaan resmi di Nepal itu berasal dari zaman raja-raja Malla di abad 13 Masehi.
“Bukan! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat” (1 Kor. 10:20). Menurut legenda, sang Dewi menampakkan diri kepada Raja Jaya Prakash Malla sebagai seekor ular merah, dan ketika ia berpakaian resmi, seorang Kumari memakai gambar ular di lehernya. Dewi ini katanya memeliki kekuatan shakti wanita atau devi alam semesta, dan penyembahan Dewi adalah usaha untuk menggabungkan kekuatan dan hikmat alam semesta, menyalurkannya untuk kepentingan sendiri, dan untuk menyadari keilahian diri sendiri. Pada akhirnya, ini adalah penyembahan diri sendiri. Ini adalah bagian prominen dari pemikiran New Age dan hal ini membantu dalam menciptakan kondisi global yang siap untuk kedatangan antikristus.