Sumber: www.wayoflife.org
Pada tahun 2019, Museum Victoria & Albert di London mengadakan pameran besar tentang Mary Quant (1930-2023), perancang busana revolusioner era Beatles. Mary Quant inilah yang menciptakan trend rok mini dan celana pendek ketat. Fokus pameran tersebut adalah revolusi, suatu pembebasan dari nilai-nilai seksual yang alkitabiah, dan meruntuhkan batasan alkitabiah antara laki-laki dan perempuan (dengan pakaian yang uniseks dan androgini). Tidak ada upaya dalam pameran tersebut untuk menyembunyikan hal-hal ini.
Berikut adalah beberapa kutipan dari pameran tersebut: “menggunakan mode pakaian untuk mempertanyakan hierarki dan aturan gender”; “pendekatan penuh pemberontakan terhadap norma gender yang mapan”; “mengejek agama”; “menghilangkan pakaian yang khas pria”; “celana panjang dianggap tidak pantas untuk wanita [tetapi] Quant memakainya di mana pun ia mau”; “gaya androgini”; “gaya independen”; “ekspresi diri”; “kebebasan”; “rok mini menjadi simbol internasional pembebasan perempuan.”
Pameran tersebut mengakui bahwa pakaian uniseks merupakan aspek utama hak-hak homoseksual. “Gaya provokatif [Quant] mencerminkan sikap masyarakat yang semakin longgar terhadap seksualitas dalam segala bentuknya, yang diperkuat secara hukum oleh dekriminalisasi homoseksualitas pada tahun 1967.” Sayangnya, busana Mary Quant lebih sopan daripada beberapa busana yang terlihat di berbagai gereja pada umumnya saat ini.