Sumber: www.wayoflife.org
Celana pada perempuan di masyarakat Barat modern melanggar tiga prinsip Alkitab yang jelas:
Pertama, celana pada perempuan meruntuhkan perbedaan gender. Para perancang busana dunia membuat celana sebagai suatu mode unisex. Setelan celana diciptakan oleh perancang busana homoseksual Yves Saint Laurent pada tahun 1966. Ia dijuluki “pria yang membuat perempuan mengenakan celana panjang” (“Celebrating Yves Saint Laurent,” Daily Mail, 2 Juni 2008). Gaya yang dia ciptakan itu digambarkan sebagai “menantang,” “tidak sopan,” “berani,” dan “androgini” (“How Yves Saint Laurent Revolutionized Women’s Fashion,” Business Insider, 8 Agustus 2011). Para model mempopulerkan mode tersebut dengan tampil dengan “rambut disisir ke belakang dan postur maskulin.” Feminis Linda Grant mengamati bahwa setelan celana “menempatkan wanita pada pijakan busana yang setara dengan pria” dan “adalah sumbangsih dunia fashion bagi feminisme” (“Feminism Was Built on the Trouser Suit,” The Guardian, 3 Juni 2008).
Kedua, celana pada wanita sering tidak senonoh secara seksual, menonjolkan bentuk tubuh wanita dengan cara yang sensual. Celana ketat diciptakan oleh Calvin Klein, seorang perancang busana biseksual. Ketika celananya muncul pada tahun 1974, terjual 200.000 pasang dalam minggu pertama (“Calvin Klein: A Stylish Obsession,” Entrepreneur, 10 Oktober 2008). Celana ketat yang dikenakan sebagai celana (legging) diciptakan oleh perancang busana homoseksual Gianni Versace.
Ketiga, celana pada wanita bertentangan dengan kesopanan. “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana…” (1 Tim. 2:9). Di sini kita melihat bahwa elemen dasar dari pakaian yang kristiani adalah karakter batin, takut akan Tuhan, kekudusan, kerendahan hati, feminitas saleh. “Sopan” di ayat ini adalah kata Yunani aidos, yang “memiliki gagasan tentang mata yang tertunduk” dan berarti “rasa malu, yaitu (terhadap pria) atau (terhadap Tuhan) kagum” (Strong). Kata ini menyiratkan “menjauhi pelanggaran terhadap batas-batas kesopanan” (William Hendrickson). Rasa malu adalah kebalikan dari sikap kurang ajar, pongah, sembrono, dan tidak patuh yang dunia coba ajarkan kepada wanita saat ini. Konsep sopan atau merasakan malu itu sendiri diolok-olok. Bayangkan membaca 1 Timotius 2:9 di depan umum di mana pun dalam masyarakat modern (misalnya, di mal, pertandingan sepak bola, konser rock, forum sekolah negeri, bahkan dari mimbar sebagian besar gereja).