Charles Spurgeon, Perbudakan, dan Wilayah Selatan AS di Masa Lampau

Sumber: www.wayoflife.org

Berikut ini adalah kutipan dari artikel “The Lion of Anacostia and the Prince of Preachers,” majalah World, 13 Agustus 2026:
Spurgeon tidak pernah mengunjungi Amerika Serikat, meskipun ada banyak undangan dan ia sempat mempertimbangkan perjalanan ke sana pada tahun 1859. Sikapnya yang vokal menentang perbudakan membuat kunjungan itu terlalu berbahaya. ‘Dari lubuk hati terdalam, saya membenci perbudakan… dan meskipun saya bersekutu dalam Perjamuan Tuhan dengan orang-orang dari berbagai keyakinan, namun dengan seorang pemilik budak, saya tidak memiliki persekutuan dalam bentuk apa pun,’ tulisnya. ‘Setiap kali ada pemilik budak yang menemui saya, saya menganggapnya sebagai kewajiban saya untuk menyatakan kebencian saya terhadap kejahatannya… sebagai pencuri manusia.’ Sikap Spurgeon ini mendapat perhatian dan penentangan. ‘Jika penulis yang bersikap seperti orang Farisi itu sampai menampakkan diri di wilayah ini, kami berharap seutas tali yang kuat akan segera melilit lehernya yang pandai berorasi itu,’ demikian seruan keras surat kabar The Southern Reporter and Daily Commercial Courier pada tahun 1860. Surat kabar The North Carolinian mencatat bahwa banyak orang ‘menginginkan kesempatan untuk melampiaskan kemarahan pada pengkhotbah munafik ini.’ The Weekly Raleigh Register menyatakan bahwa siapa pun yang menjual khotbah-khotbahnya [Spurgeon] harus ditangkap dan didakwa karena ‘menyebarkan publikasi yang memicu hasutan.’ Sebuah surat kabar Florida menuduhnya sebagai ‘orang Inggris yang banyak bicara, pemakan daging sapi, sombong, angkuh, merasa paling benar sendiri, dan bersikap seperti orang Farisi.’ Khotbah-khotbah Spurgeon dilarang dan dibakar. Beberapa surat kabar di wilayah Selatan bahkan menyerukan agar orang-orang ikut menyumbang dalam acara pembakaran massal karya-karya Spurgeon yang telah dijadwalkan. ‘Karakter Spurgeon dihancurkan (dipermalukan secara kejam) di seluruh wilayah Konfederasi,’ catat The Spurgeon Center di Midwestern Seminary. ‘Khotbah-khotbahnya, yang pada tahun 1862-1863 terjual satu juta eksemplar setiap tahunnya, dikecam keras. Buku-bukunya, yang terjual 1.000 eksemplar per menit di pameran dagang, dimusnahkan di depan umum. Api unggun pembakaran khotbah menerangi halaman penjara, perkebunan, dan toko buku di seluruh negara bagian Selatan.’”

Editor: Dalam hidup ini, jika kita mau berdiri untuk kebenaran, tidak mungkin semua orang suka dan menyenangi kita. Kita tidak perlu terlalu khawatir tentang itu. Yang perlu kita puaskan hanyalah Tuhan yang menjadi komandan kita.

This entry was posted in General (Umum). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *